Makan di Warung Badak, serasa ada di desa tradisional yang damai. Restoran yang terletak di Jalan Badak I No.15, Desa Dauh Puri Klod, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar – Bali itu menawarkan konsep Mula Bali yang sangat ramah. Halaman luas, tanaman asri, dan bangunannya sangat tradisional dengan menggunakan bedeg, alang-alang, kayu bekas (sisa) dan bahan ramah lainnya yang memang jarang ditemukan di jaman ini.
Saat memasuki areal warung, halaman depan tergolong luas, dan tanpa batas. Apalagi, setelah menginjakan kaki di warung itu, berbagai hidangan tersedia di atas meja dengan wadah yang masih tradisonal dan bersih. Sementara di pojok arah tenggara terdapat dapur, bangunan tempat untuk mengolah menu yang bisa disaksikan secara langsung, seperti di dapur sendiri. Sementara di halaman tengah, terdapat play ground, tempat anak-anak bermain riang.

Menu-menu yang ada ditata rapi dan disajikan di atas meja, bagai lapak-lapak di Pasar Badung jaman dulu. Orang-orang yang datang, dilayani seperti keluarga sendiri. Bisa memilih, meminta sesuai kesukaan, dan bahkan mengambil sendiri. Meja, tempat menikmati hidangan itu diatur sangat nyaman. Para tamu dapat menyantap makanan di tempat yang berbeda, seperti serasa di bale dangin, bale daja, bale dauh, di paon atau di natah (halaman) dengan suasana sejuk.
“Sejak dibangun pada tahun 2015, Warung Badak memang menyajikan konsep Mula Bali. Jadi, kalau orang kangen kuliner Bali tradisional bisa mencarinya di sini. Kami menyajikan makanan tempo dulu yang ada di tengah kota dan tetap hygienist,” kata I.W.A. Siddhanta Karidhana, disela-sela re grand opening Warung Badak, Sabtu 13 September 2025.
Berbagai menu tradisional yang disajikan itu, tak hanya sebagai obat rindu masa lalu, tetapi juga sebagai bukti kalau Warung Badak memiliki semangat untuk menjaga warisan dan budaya Bali yang kaya akan makna. “Sejak awal, restoran tradisional ini, tak hanya menawarkan hidangan dengan cita rasa otentik, namun juga membawa misi pelestarian kehidupan Bali yang berkelanjutan, yakni harmonisasi antara manusia, alam dan spiritualitas sesuai konsep Tri Hita Karana,” terang Siddhanta senang.

Menu-menu yang disajikan Warung Badak, diantaranya; nasi ayam warung badak, ayam guling base genep, nasi cumi, tipat cantok, tipat plecing, tipat ayam kuah. Sementara untuk makanan ringan berupa rujak, diantaranya; rujak gula pasir, rujak kuah pindang, rujak gula Bali, rujak colek, rujak kacang, rujak cuka dan lainnya.

Sedangkan untuk sanganan (makanan ringan) dan minuman, seperti godoh biu, bubur campur (injin, sumsum dan kolek), serta berbagai minuman seperti es gula, es daluman, es teh sereh, es jeruk, es tape, es cincau, es susu, kopi bali, kopi susu, jamu kunyit, es kuwud, dan es campur. “Kami benar-benar ingin memberikan pengalaman bersantap dalam setiap aspek,” tekad Siddhanta yang alumni Ciputra University-Surabaya itu.
Pengalaman bersantap di Warung Badak bukan hanya dinikmati di lidah, tetapi juga dalam indera yang lain. Mulai dari olahan masakan, desain interior bernuansa etnik, hingga pendekatan edukatif yang menghubungkan tamu dengan nilai nilai lokal yang luhur. Alunan music tradisional akan memperkuat rasa tradisional itu. “Warung Badak yang berada di pusat kota itu, terinspirasi dari kehidupan Bali tempo dulu yang dipadu dengan modern yang harmonis, sehingga ada interaksi sosial, pertukaran budaya dan kegiatan ekonomi yang menyatu,” ungkapnya.

Warung Badak, tak hanya untuk menyantap menu-menu unggul, tetapi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan lain. Mulai dari arisan, meeting kantor, acara keluarga, dan acara ulang tahun. Selain dari perkantoran, keluarga pejabat kerap kali memilih tempat ini untuk menggelar acara syukuran ataupun perayaan ulang tahun. Artinya, warung dengan suasana tenang itu bisa dijadikan berbagai macan jenis kegiatan. “Orang tuanya meeting, anak-anaknya bisa bermain. Kami siapkan seorang petugas khusus untuk menjaga anak yang bermain,” imbuhnya.
Warung Badak dibangun sebagai ruang untuk menghidupakan kembali esensi kumunitas dan kebersamaan dengan menyajikan olahan masa lalu yang dibawa kerasa masa kini. Warung Badak menjadi tempat kuliner orang menengah ke atas dan menengah ke bawah karena harga yang sangat terjangkau. “Kami berkomitmen menjadi bagian dari kuliner masa depan Bali, tempat dimana budaya tak hanya dilestarikan, tetapi juga dirayakan setiap harinya,” harapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























