14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Satu adegan dalam film “The First 9 Months of Loving You” | Foto: Dian

MEMBUAT film pendek dalam waktu 34 jam bukan sekadar lomba adu kreativitas, tetapi juga adu stamina, strategi, dan ketepatan eksekusi. Begadang Filmmaking Competition, yang tahun ini memasuki edisi ke-9, kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang paling ekstrem sekaligus menantang di ajang Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival, yang diselenggarakan oleh Minikino, Denpasar.

Tantangan yang diberikan pun bukan main-main. Setiap film wajib memasukkan elemen-elemen khusus. Ada 4 elemen yang harus ada dalam film yang diproduksi. Di antaranya, garis komposisi yang membelah layar dalam tiap adegan, sunyi sebagai konsep suara, hubungan tokoh dengan angka 9, serta alur cerita yang bergerak mundur—dimulai dari akhir menuju awal. Hanya dengan syarat-syarat itu, peserta ditantang menembus batas imajinasi sekaligus disiplin teknis.

Dari 53 tim produksi yang mendaftar, 43 tim berhasil menyelesaikan film mereka tepat waktu. Delapan karya kemudian dipilih sebagai hasil terbaik tahun ini, dengan empat di antaranya masuk nominasi utama. Deretan film ini tidak hanya menampilkan kreativitas di bawah tekanan, tetapi juga mencerminkan wajah sinema eksperimental Indonesia yang sedang mencari ruang baru untuk berbicara.

Suasana menonton di Kedai DeKakiang Singaraja | Foto: Dian

Film-film terpilih itu diputar serangkaian ajang Minikino Film Week 11 di Kedai DeKakiang, Singaraja, Minggu malam, 14 September 2025. Pemutaran di Kedai DeKakiang ini terselenggara atas kerjasama Minikino dan Komunitas Singaraja Menonton.

“Sepuluh” – Ivan Padak Demon

Film “Sepuluh” karya Ivan Padak Demon dengan durasi 2 menit 47 detik, memiliki premis sederhana, namun menyimpan ironi. Film ini menyoal seorang anak bernama Titan yang besok akan merayakan ulang tahunnya ke-10, justru ingin menyelesaikan “daftar keinginan sembilan tahun”-nya yang belum tercapai.

Film ini mengangkat isu eksistensial dengan bahasa visual minimalis. Penggunaan garis komposisi dalam tiap adegan terasa presisi, membelah layar seolah menunjukkan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Meski durasinya singkat, “Sepuluh” sukses memadatkan keresahan seorang anak yang beranjak dewasa terlalu cepat.

“Perihal Jam Kosong” – Jevi Adhi Nugraha

Dari Yogyakarta, hadir “Perihal Jam Kosong” karya Jevi Adhi Nugraha. Film ini membawa kita ke 9 September pukul 09.00, waktu yang menjadi luka paling traumatis bagi tokoh Nava. Keterlambatan menstruasi selama tiga bulan lebih menjadi simbol tekanan, ketakutan, dan stigma sosial yang masih menghantui perempuan muda. Narasi ini begitu lugas menyorot persoalan tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan.

Di tengah keterbatasan waktu produksi, Jevi berani mengeksekusi isu sensitif dengan pendekatan visual yang dingin, senyap, dan menghantam perasaan. Sunyi sebagai konsep suara benar-benar dimanfaatkan untuk menekankan rasa yang disembunyikan oleh tokoh Nava. Jika diterjemahkan secara sederhana, film ini menceritakan seorang gadis yang (mungkin) hamil 3 bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

“We Are Okay?” – Dwi S. Kadarusman & Agus Marwan

Berbeda dengan dua film sebelumnya, “We Are Okay?” karya Dwi S. Kadarusman bersama Agus Marwan bermain di ranah kontemporer digital. Ceritanya tentang Irul, seorang streamer yang terdampak setelah perayaan live stream mencapai 190 ribu subscribers.

Dengan durasi 3 menit 51 detik, film ini menyelipkan kritik terhadap obsesi validasi sosial di era media digital. Angka 9 muncul sebagai simbol pencapaian sekaligus kehampaan. Namun, meski premisnya relevan, eksekusi film ini terasa agak tergesa. Unsur garis komposisi memang hadir, tetapi tidak sekuat penggunaan senyap yang justru memberi tekanan emosional.

“Judecca” – Laurent Sindhu & Rae Fadilah

Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah “Judecca” karya Laurent Sindhu dan Rae Fadilah dari Banten. Dengan latar mall terbengkalai, film ini menampilkan seorang pria yang perlahan “pecah” dalam ruang kosong yang bergema.

Imaji visualnya tajam, atmosfer mencekam, dan eksekusi teknis terasa matang meski lahir dari tekanan waktu 34 jam. Film ini masuk nominasi 4 besar, dan tidak mengherankan. “Judecca” berhasil membuktikan bahwa horor eksistensial bisa lahir dari ruang sunyi, dengan angka 9 sebagai simbol perjalanan batin yang menuju kehancuran.

“Imam and His 9 Friends” – Deru Ibnu Ghifari

Dari Lampung, Deru Ibnu Ghifari menghadirkan “Imam and His 9 Friends” berdurasi 3 menit 20 detik. Film ini mengisahkan seorang bocah kecil yang mempertaruhkan nyawanya demi sembilan teman imajiner.

Cerita ini seolah metafora tentang kesepian anak-anak, yang menciptakan dunia khayalan untuk bertahan hidup. Sentuhan dramatis terasa kuat, dan penggunaan sunyi benar-benar menekan rasa kehilangan. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi 4 besar.

“9entayangan” – Salman Maulana & Jovan Ardiansyah

Film berikutnya, “9entayangan” dari Jawa Tengah, dengan durasi 5 menit 2 detik, menghadirkan pertanyaan filosofis. Bagaimana jika yang gentayangan bukan orang mati, melainkan orang hidup yang ditinggalkan semua orang yang dicintai?

Satu adegan dalam film 9entayangan | Foto: Dian

Pertanyaan itu menjelma dalam atmosfer horor eksistensial yang menggetarkan. Sunyi di sini menjadi medium ketakutan paling efektif. Film ini berhasil masuk nominasi 4 besar, membuktikan bahwa horor bisa lebih menakutkan ketika berbicara tentang keterasingan manusia, bukan sekadar hantu.

“The First 9 Months of Loving You” – Azalia Muchransyah

Azalia Muchransyah dari Banten hadir dengan karya puitis berjudul “The First 9 Months of Loving You”, berdurasi 2 menit 45 detik. Film ini lebih seperti puisi visual tentang perjalanan melalui momen-momen tak terlihat dari proses mencintai. Kesederhanaan dan keberanian memilih nada berbeda, film ini lolos ke nominasi 4 besar.

“The Second Plate” – Fata Hayan & Dimas Rahmaddika

Film terakhir adalah “The Second Plate” dari Jawa Timur dengan durasi 5 menit 21 detik. Ceritanya tentang ayah dan anak yang terjebak dalam ilusi cinta yang dibangun atas dasar kontrol, dipicu ideologi NKKBS.

Premisnya kuat, menyodorkan kritik sosial-politik yang tajam. Namun sayang, meski memiliki durasi paling panjang, film ini gagal masuk nominasi 4 besar. Bisa jadi karena pengolahan alur mundurnya terasa kurang padat, sehingga tensi dramatis tidak setajam kandidat lainnya.

Bermain dengan Konsep Ekstrem

Dari delapan film ini, terlihat para sineas muda Indonesia berani bermain dengan konsep ekstrem, mengeksplorasi angka 9 sebagai simbol yang lentur—bisa berarti usia, waktu, kesepian, hingga keruntuhan eksistensial. Penggunaan sunyi sebagai konsep suara justru memperkaya lapisan emosional, menghadirkan intensitas yang tak bisa dihadirkan lewat musik atau dialog berlebihan.

Satu adegan dalam film 9entayangan

Empat film yang masuk nominasi utama—“Judecca,” “Imam and His 9 Friends,” “9entayangan,” dan “The First 9 Months of Loving You”— layak mendapatkan tempat itu karena keberanian mereka mengeksekusi ide dengan ketepatan teknis dan kedalaman emosional.

Pada akhirnya, Begadang Filmmaking Competition bukan hanya soal siapa yang menang. Begadang Filmmaking Competition bisa dikatakan sebagai laboratorium kolektif yang membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru bisa menjadi mesin pendorong kreativitas. Dalam sunyi, garis komposisi, dan angka 9, para sineas muda ini sedang menulis bab baru dalam eksperimen sinema. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025Singaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MENGALAMI STROKE

Next Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co