2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Satu adegan dalam film “The First 9 Months of Loving You” | Foto: Dian

MEMBUAT film pendek dalam waktu 34 jam bukan sekadar lomba adu kreativitas, tetapi juga adu stamina, strategi, dan ketepatan eksekusi. Begadang Filmmaking Competition, yang tahun ini memasuki edisi ke-9, kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang paling ekstrem sekaligus menantang di ajang Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival, yang diselenggarakan oleh Minikino, Denpasar.

Tantangan yang diberikan pun bukan main-main. Setiap film wajib memasukkan elemen-elemen khusus. Ada 4 elemen yang harus ada dalam film yang diproduksi. Di antaranya, garis komposisi yang membelah layar dalam tiap adegan, sunyi sebagai konsep suara, hubungan tokoh dengan angka 9, serta alur cerita yang bergerak mundur—dimulai dari akhir menuju awal. Hanya dengan syarat-syarat itu, peserta ditantang menembus batas imajinasi sekaligus disiplin teknis.

Dari 53 tim produksi yang mendaftar, 43 tim berhasil menyelesaikan film mereka tepat waktu. Delapan karya kemudian dipilih sebagai hasil terbaik tahun ini, dengan empat di antaranya masuk nominasi utama. Deretan film ini tidak hanya menampilkan kreativitas di bawah tekanan, tetapi juga mencerminkan wajah sinema eksperimental Indonesia yang sedang mencari ruang baru untuk berbicara.

Suasana menonton di Kedai DeKakiang Singaraja | Foto: Dian

Film-film terpilih itu diputar serangkaian ajang Minikino Film Week 11 di Kedai DeKakiang, Singaraja, Minggu malam, 14 September 2025. Pemutaran di Kedai DeKakiang ini terselenggara atas kerjasama Minikino dan Komunitas Singaraja Menonton.

“Sepuluh” – Ivan Padak Demon

Film “Sepuluh” karya Ivan Padak Demon dengan durasi 2 menit 47 detik, memiliki premis sederhana, namun menyimpan ironi. Film ini menyoal seorang anak bernama Titan yang besok akan merayakan ulang tahunnya ke-10, justru ingin menyelesaikan “daftar keinginan sembilan tahun”-nya yang belum tercapai.

Film ini mengangkat isu eksistensial dengan bahasa visual minimalis. Penggunaan garis komposisi dalam tiap adegan terasa presisi, membelah layar seolah menunjukkan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Meski durasinya singkat, “Sepuluh” sukses memadatkan keresahan seorang anak yang beranjak dewasa terlalu cepat.

“Perihal Jam Kosong” – Jevi Adhi Nugraha

Dari Yogyakarta, hadir “Perihal Jam Kosong” karya Jevi Adhi Nugraha. Film ini membawa kita ke 9 September pukul 09.00, waktu yang menjadi luka paling traumatis bagi tokoh Nava. Keterlambatan menstruasi selama tiga bulan lebih menjadi simbol tekanan, ketakutan, dan stigma sosial yang masih menghantui perempuan muda. Narasi ini begitu lugas menyorot persoalan tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan.

Di tengah keterbatasan waktu produksi, Jevi berani mengeksekusi isu sensitif dengan pendekatan visual yang dingin, senyap, dan menghantam perasaan. Sunyi sebagai konsep suara benar-benar dimanfaatkan untuk menekankan rasa yang disembunyikan oleh tokoh Nava. Jika diterjemahkan secara sederhana, film ini menceritakan seorang gadis yang (mungkin) hamil 3 bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

“We Are Okay?” – Dwi S. Kadarusman & Agus Marwan

Berbeda dengan dua film sebelumnya, “We Are Okay?” karya Dwi S. Kadarusman bersama Agus Marwan bermain di ranah kontemporer digital. Ceritanya tentang Irul, seorang streamer yang terdampak setelah perayaan live stream mencapai 190 ribu subscribers.

Dengan durasi 3 menit 51 detik, film ini menyelipkan kritik terhadap obsesi validasi sosial di era media digital. Angka 9 muncul sebagai simbol pencapaian sekaligus kehampaan. Namun, meski premisnya relevan, eksekusi film ini terasa agak tergesa. Unsur garis komposisi memang hadir, tetapi tidak sekuat penggunaan senyap yang justru memberi tekanan emosional.

“Judecca” – Laurent Sindhu & Rae Fadilah

Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah “Judecca” karya Laurent Sindhu dan Rae Fadilah dari Banten. Dengan latar mall terbengkalai, film ini menampilkan seorang pria yang perlahan “pecah” dalam ruang kosong yang bergema.

Imaji visualnya tajam, atmosfer mencekam, dan eksekusi teknis terasa matang meski lahir dari tekanan waktu 34 jam. Film ini masuk nominasi 4 besar, dan tidak mengherankan. “Judecca” berhasil membuktikan bahwa horor eksistensial bisa lahir dari ruang sunyi, dengan angka 9 sebagai simbol perjalanan batin yang menuju kehancuran.

“Imam and His 9 Friends” – Deru Ibnu Ghifari

Dari Lampung, Deru Ibnu Ghifari menghadirkan “Imam and His 9 Friends” berdurasi 3 menit 20 detik. Film ini mengisahkan seorang bocah kecil yang mempertaruhkan nyawanya demi sembilan teman imajiner.

Cerita ini seolah metafora tentang kesepian anak-anak, yang menciptakan dunia khayalan untuk bertahan hidup. Sentuhan dramatis terasa kuat, dan penggunaan sunyi benar-benar menekan rasa kehilangan. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi 4 besar.

“9entayangan” – Salman Maulana & Jovan Ardiansyah

Film berikutnya, “9entayangan” dari Jawa Tengah, dengan durasi 5 menit 2 detik, menghadirkan pertanyaan filosofis. Bagaimana jika yang gentayangan bukan orang mati, melainkan orang hidup yang ditinggalkan semua orang yang dicintai?

Satu adegan dalam film 9entayangan | Foto: Dian

Pertanyaan itu menjelma dalam atmosfer horor eksistensial yang menggetarkan. Sunyi di sini menjadi medium ketakutan paling efektif. Film ini berhasil masuk nominasi 4 besar, membuktikan bahwa horor bisa lebih menakutkan ketika berbicara tentang keterasingan manusia, bukan sekadar hantu.

“The First 9 Months of Loving You” – Azalia Muchransyah

Azalia Muchransyah dari Banten hadir dengan karya puitis berjudul “The First 9 Months of Loving You”, berdurasi 2 menit 45 detik. Film ini lebih seperti puisi visual tentang perjalanan melalui momen-momen tak terlihat dari proses mencintai. Kesederhanaan dan keberanian memilih nada berbeda, film ini lolos ke nominasi 4 besar.

“The Second Plate” – Fata Hayan & Dimas Rahmaddika

Film terakhir adalah “The Second Plate” dari Jawa Timur dengan durasi 5 menit 21 detik. Ceritanya tentang ayah dan anak yang terjebak dalam ilusi cinta yang dibangun atas dasar kontrol, dipicu ideologi NKKBS.

Premisnya kuat, menyodorkan kritik sosial-politik yang tajam. Namun sayang, meski memiliki durasi paling panjang, film ini gagal masuk nominasi 4 besar. Bisa jadi karena pengolahan alur mundurnya terasa kurang padat, sehingga tensi dramatis tidak setajam kandidat lainnya.

Bermain dengan Konsep Ekstrem

Dari delapan film ini, terlihat para sineas muda Indonesia berani bermain dengan konsep ekstrem, mengeksplorasi angka 9 sebagai simbol yang lentur—bisa berarti usia, waktu, kesepian, hingga keruntuhan eksistensial. Penggunaan sunyi sebagai konsep suara justru memperkaya lapisan emosional, menghadirkan intensitas yang tak bisa dihadirkan lewat musik atau dialog berlebihan.

Satu adegan dalam film 9entayangan

Empat film yang masuk nominasi utama—“Judecca,” “Imam and His 9 Friends,” “9entayangan,” dan “The First 9 Months of Loving You”— layak mendapatkan tempat itu karena keberanian mereka mengeksekusi ide dengan ketepatan teknis dan kedalaman emosional.

Pada akhirnya, Begadang Filmmaking Competition bukan hanya soal siapa yang menang. Begadang Filmmaking Competition bisa dikatakan sebagai laboratorium kolektif yang membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru bisa menjadi mesin pendorong kreativitas. Dalam sunyi, garis komposisi, dan angka 9, para sineas muda ini sedang menulis bab baru dalam eksperimen sinema. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025Singaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MENGALAMI STROKE

Next Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co