2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Satu adegan dalam film “The First 9 Months of Loving You” | Foto: Dian

MEMBUAT film pendek dalam waktu 34 jam bukan sekadar lomba adu kreativitas, tetapi juga adu stamina, strategi, dan ketepatan eksekusi. Begadang Filmmaking Competition, yang tahun ini memasuki edisi ke-9, kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang paling ekstrem sekaligus menantang di ajang Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival, yang diselenggarakan oleh Minikino, Denpasar.

Tantangan yang diberikan pun bukan main-main. Setiap film wajib memasukkan elemen-elemen khusus. Ada 4 elemen yang harus ada dalam film yang diproduksi. Di antaranya, garis komposisi yang membelah layar dalam tiap adegan, sunyi sebagai konsep suara, hubungan tokoh dengan angka 9, serta alur cerita yang bergerak mundur—dimulai dari akhir menuju awal. Hanya dengan syarat-syarat itu, peserta ditantang menembus batas imajinasi sekaligus disiplin teknis.

Dari 53 tim produksi yang mendaftar, 43 tim berhasil menyelesaikan film mereka tepat waktu. Delapan karya kemudian dipilih sebagai hasil terbaik tahun ini, dengan empat di antaranya masuk nominasi utama. Deretan film ini tidak hanya menampilkan kreativitas di bawah tekanan, tetapi juga mencerminkan wajah sinema eksperimental Indonesia yang sedang mencari ruang baru untuk berbicara.

Suasana menonton di Kedai DeKakiang Singaraja | Foto: Dian

Film-film terpilih itu diputar serangkaian ajang Minikino Film Week 11 di Kedai DeKakiang, Singaraja, Minggu malam, 14 September 2025. Pemutaran di Kedai DeKakiang ini terselenggara atas kerjasama Minikino dan Komunitas Singaraja Menonton.

“Sepuluh” – Ivan Padak Demon

Film “Sepuluh” karya Ivan Padak Demon dengan durasi 2 menit 47 detik, memiliki premis sederhana, namun menyimpan ironi. Film ini menyoal seorang anak bernama Titan yang besok akan merayakan ulang tahunnya ke-10, justru ingin menyelesaikan “daftar keinginan sembilan tahun”-nya yang belum tercapai.

Film ini mengangkat isu eksistensial dengan bahasa visual minimalis. Penggunaan garis komposisi dalam tiap adegan terasa presisi, membelah layar seolah menunjukkan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Meski durasinya singkat, “Sepuluh” sukses memadatkan keresahan seorang anak yang beranjak dewasa terlalu cepat.

“Perihal Jam Kosong” – Jevi Adhi Nugraha

Dari Yogyakarta, hadir “Perihal Jam Kosong” karya Jevi Adhi Nugraha. Film ini membawa kita ke 9 September pukul 09.00, waktu yang menjadi luka paling traumatis bagi tokoh Nava. Keterlambatan menstruasi selama tiga bulan lebih menjadi simbol tekanan, ketakutan, dan stigma sosial yang masih menghantui perempuan muda. Narasi ini begitu lugas menyorot persoalan tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan.

Di tengah keterbatasan waktu produksi, Jevi berani mengeksekusi isu sensitif dengan pendekatan visual yang dingin, senyap, dan menghantam perasaan. Sunyi sebagai konsep suara benar-benar dimanfaatkan untuk menekankan rasa yang disembunyikan oleh tokoh Nava. Jika diterjemahkan secara sederhana, film ini menceritakan seorang gadis yang (mungkin) hamil 3 bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

“We Are Okay?” – Dwi S. Kadarusman & Agus Marwan

Berbeda dengan dua film sebelumnya, “We Are Okay?” karya Dwi S. Kadarusman bersama Agus Marwan bermain di ranah kontemporer digital. Ceritanya tentang Irul, seorang streamer yang terdampak setelah perayaan live stream mencapai 190 ribu subscribers.

Dengan durasi 3 menit 51 detik, film ini menyelipkan kritik terhadap obsesi validasi sosial di era media digital. Angka 9 muncul sebagai simbol pencapaian sekaligus kehampaan. Namun, meski premisnya relevan, eksekusi film ini terasa agak tergesa. Unsur garis komposisi memang hadir, tetapi tidak sekuat penggunaan senyap yang justru memberi tekanan emosional.

“Judecca” – Laurent Sindhu & Rae Fadilah

Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah “Judecca” karya Laurent Sindhu dan Rae Fadilah dari Banten. Dengan latar mall terbengkalai, film ini menampilkan seorang pria yang perlahan “pecah” dalam ruang kosong yang bergema.

Imaji visualnya tajam, atmosfer mencekam, dan eksekusi teknis terasa matang meski lahir dari tekanan waktu 34 jam. Film ini masuk nominasi 4 besar, dan tidak mengherankan. “Judecca” berhasil membuktikan bahwa horor eksistensial bisa lahir dari ruang sunyi, dengan angka 9 sebagai simbol perjalanan batin yang menuju kehancuran.

“Imam and His 9 Friends” – Deru Ibnu Ghifari

Dari Lampung, Deru Ibnu Ghifari menghadirkan “Imam and His 9 Friends” berdurasi 3 menit 20 detik. Film ini mengisahkan seorang bocah kecil yang mempertaruhkan nyawanya demi sembilan teman imajiner.

Cerita ini seolah metafora tentang kesepian anak-anak, yang menciptakan dunia khayalan untuk bertahan hidup. Sentuhan dramatis terasa kuat, dan penggunaan sunyi benar-benar menekan rasa kehilangan. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi 4 besar.

“9entayangan” – Salman Maulana & Jovan Ardiansyah

Film berikutnya, “9entayangan” dari Jawa Tengah, dengan durasi 5 menit 2 detik, menghadirkan pertanyaan filosofis. Bagaimana jika yang gentayangan bukan orang mati, melainkan orang hidup yang ditinggalkan semua orang yang dicintai?

Satu adegan dalam film 9entayangan | Foto: Dian

Pertanyaan itu menjelma dalam atmosfer horor eksistensial yang menggetarkan. Sunyi di sini menjadi medium ketakutan paling efektif. Film ini berhasil masuk nominasi 4 besar, membuktikan bahwa horor bisa lebih menakutkan ketika berbicara tentang keterasingan manusia, bukan sekadar hantu.

“The First 9 Months of Loving You” – Azalia Muchransyah

Azalia Muchransyah dari Banten hadir dengan karya puitis berjudul “The First 9 Months of Loving You”, berdurasi 2 menit 45 detik. Film ini lebih seperti puisi visual tentang perjalanan melalui momen-momen tak terlihat dari proses mencintai. Kesederhanaan dan keberanian memilih nada berbeda, film ini lolos ke nominasi 4 besar.

“The Second Plate” – Fata Hayan & Dimas Rahmaddika

Film terakhir adalah “The Second Plate” dari Jawa Timur dengan durasi 5 menit 21 detik. Ceritanya tentang ayah dan anak yang terjebak dalam ilusi cinta yang dibangun atas dasar kontrol, dipicu ideologi NKKBS.

Premisnya kuat, menyodorkan kritik sosial-politik yang tajam. Namun sayang, meski memiliki durasi paling panjang, film ini gagal masuk nominasi 4 besar. Bisa jadi karena pengolahan alur mundurnya terasa kurang padat, sehingga tensi dramatis tidak setajam kandidat lainnya.

Bermain dengan Konsep Ekstrem

Dari delapan film ini, terlihat para sineas muda Indonesia berani bermain dengan konsep ekstrem, mengeksplorasi angka 9 sebagai simbol yang lentur—bisa berarti usia, waktu, kesepian, hingga keruntuhan eksistensial. Penggunaan sunyi sebagai konsep suara justru memperkaya lapisan emosional, menghadirkan intensitas yang tak bisa dihadirkan lewat musik atau dialog berlebihan.

Satu adegan dalam film 9entayangan

Empat film yang masuk nominasi utama—“Judecca,” “Imam and His 9 Friends,” “9entayangan,” dan “The First 9 Months of Loving You”— layak mendapatkan tempat itu karena keberanian mereka mengeksekusi ide dengan ketepatan teknis dan kedalaman emosional.

Pada akhirnya, Begadang Filmmaking Competition bukan hanya soal siapa yang menang. Begadang Filmmaking Competition bisa dikatakan sebagai laboratorium kolektif yang membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru bisa menjadi mesin pendorong kreativitas. Dalam sunyi, garis komposisi, dan angka 9, para sineas muda ini sedang menulis bab baru dalam eksperimen sinema. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025Singaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MENGALAMI STROKE

Next Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co