23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
September 14, 2025
in Ulas Buku
Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Buku cerpen Cubang karya Geg Ary Suharsani

CUBANG adalah salah satu buku kumpulan cerpen karya Geg Ary Suharsani yang diterbitkan oleh Mahmima Institute Indonesia pada Oktober 2019, dan merupakan sebuah karya sastra yang menyajikan 11 cerita pendek dengan tema universal yang dikemas dalam latar budaya Bali yang kuat.

Karya ini merupakan hasil dari dorongan rasa rindu penulis terhadap kegiatan menulis setelah vakum selama belasan tahun. Buku ini juga menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Bali dengan segala pergulatannya, misalnya dari segi cinta, keluarga, tradisi, kehilangan, hingga perlawanan terhadap modernisasi.

Melalui gaya bertutur yang sederhana namun emosional, penulis membawa pembaca menelusuri berbagai sudut kehidupan yang terasa akrab namun tetap menyisakan ruang refleksi yang mendalam.

Salah satu kekuatan buku ini adalah dalam pemilihan tema. Hampir semua cerita berputar pada persoalan identitas, keluarga, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya. Misalnya dalam cerpen “Cubang”, tokoh Pan Sanu digambarkan sebagai seorang lelaki tua yang dengan keras kepala mempertahankan tanah warisan keluarganya dari tekanan enam saudaranya yang ingin menjual tanah tersebut kepada seorang investor asing.

Cubang—sebuah sumur tradisional di Bali—menjadi simbol kekuatan, ketekunan, dan warisan yang hendak dijaga. Pan Sanu tidak hanya mempertahankan tanah sebagai harta benda, melainkan mempertahankannya sebagai bagian dari harga diri dan identitasnya. Ia melawan godaan modernisasi yang seringkali membutakan manusia terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyangnya.

Cerpen lain seperti “Agatha Tak Ingin Benci Setengah Mati” menawarkan pandangan tentang bagaimana seseorang belajar mengelola emosi negatif di usia muda. Agatha, sebagai tokoh utama, mengalami pergolakan batin terhadap seorang laki-laki yang selalu hadir dalam hidupnya tanpa ia kehendaki. Melalui nasihat bijak dari Bibi Lucia, Agatha belajar bahwa membenci hanya akan menumbuhkan keterikatan emosional yang tidak sehat. Cerita ini menggambarkan perjalanan kedewasaan emosional seorang remaja dengan penuh kelembutan dan nuansa reflektif yang kuat.

Geg Ary Suharsani juga menulis cerpen-cerpen yang bernuansa nostalgia dan kesedihan, seperti dalam “Bapak”, di mana seorang anak mengenang almarhum ayahnya saat bersembahyang di Pura Besakih. Sentuhan emosi dalam cerpen ini begitu dalam, tanpa perlu mengumbar kesedihan berlebihan. Kekuatan cerpen ini justru pada keheningan, pada kenangan kecil yang terus hidup dalam diri sang anak, serta pada peristiwa sederhana yang membangkitkan rindu terhadap orang tua yang telah tiada.

Dari segi alur, Suharsani menggunakan struktur yang sederhana namun efektif. Cerita-ceritanya mayoritas menggunakan alur maju, tetapi kerap diselingi dengan kilas balik yang lembut dan wajar, memperkaya latar belakang cerita tanpa membuatnya terasa membingungkan. Gaya bahasa yang digunakan juga sangat bersahaja. Tidak ada kalimat-kalimat metaforis yang berlebihan atau kosakata bombastis; sebaliknya, Suharsani menulis dengan kejujuran rasa, membiarkan emosi tokoh-tokohnya mengalir dengan alami. Dialog-dialog yang ditulis juga terasa luwes dan membumi, mencerminkan keaslian karakter Bali yang sederhana dan bersahaja.

Latar tempat dalam setiap cerpen menjadi salah satu kekuatan besar buku ini. Bali bukan hanya sekedar latar geografis, melainkan menjadi jiwa dari setiap cerita. Pembaca diajak masuk ke dalam suasana kehidupan masyarakat Bali: tradisi odalan, suara gemuruh Tukad Bindu, cubang-cubang tua di desa, hingga upacara keluarga di pura.

Tradisi Bali dijaga dengan kuat, seperti dalam cerpen “Gemuruh Tukad Bindu” yang berlatar di sebuah jalur pejalan kaki di tepi sungai, menghadirkan suasana yang sangat hidup. Namun demikian, salah satu kekurangan yang terasa adalah penggunaan banyak istilah lokal Bali yang kadang tidak diberi penjelasan yang cukup rinci. Bagi pembaca di luar Bali, beberapa istilah seperti “Tukad”, “Pura”, “Hyang Widhi”, atau “Jeg”  bisa terasa asing dan mengganggu pemahaman konteks.

 Dari segi karakterisasi, Suharsani berhasil membangun tokoh-tokoh yang manusiawi, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tokoh Pan Sanu adalah contoh keberhasilan Suharsani membangun karakter dengan kompleksitas emosi: keras kepala namun penuh cinta terhadap tanahnya. Agatha adalah gambaran remaja yang sedang berjuang memahami perasaan-perasaannya. Bahkan tokoh-tokoh pendukung seperti Bibi Lucia, Made dan Gede (anak-anak kecil dalam “Bapak”) pun ditulis dengan cukup mendalam untuk memberikan warna yang kuat dalam cerita.

Meski secara keseluruhan buku ini kuat, ada beberapa bagian yang terasa repetitif, khususnya dalam tema besar tentang mempertahankan warisan keluarga dan rasa bersalah yang berulang muncul di beberapa cerita. Juga, tidak semua cerita memiliki klimaks yang tajam; beberapa berakhir datar, lebih sebagai sketsa kehidupan daripada cerita dengan resolusi dramatis. Namun justru dalam kesederhanaan ini tersimpan kekuatan: Suharsani tidak berusaha memaksakan dramatisasi, melainkan membiarkan kehidupan berjalan sebagaimana adanya.

Secara umum, Cubang adalah sebuah karya yang intim dan penuh ketulusan. Buku ini bukan hanya sebuah koleksi cerita pendek, tetapi juga sebuah refleksi tentang bagaimana manusia berusaha berdamai dengan waktu, perubahan, dan diri sendiri. Pembaca akan menemukan bahwa setiap cerpen, meski sederhana dalam penyampaian, meninggalkan jejak emosional yang kuat setelah dibaca.

Melalui Cubang, Geg Ary Suharsani mengajak kita untuk lebih menghargai nilai-nilai tradisi, keluarga, dan ketulusan dalam menjaga identitas di tengah dunia yang terus berubah. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang mencintai cerita-cerita berjiwa, penuh perenungan, dan terikat erat dengan budaya lokal. [T]

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku cerpenCerpenresensisastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gelis Diksi” Dibedah dengan “Gelis”

Next Post

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co