6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
September 14, 2025
in Ulas Buku
Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Buku cerpen Cubang karya Geg Ary Suharsani

CUBANG adalah salah satu buku kumpulan cerpen karya Geg Ary Suharsani yang diterbitkan oleh Mahmima Institute Indonesia pada Oktober 2019, dan merupakan sebuah karya sastra yang menyajikan 11 cerita pendek dengan tema universal yang dikemas dalam latar budaya Bali yang kuat.

Karya ini merupakan hasil dari dorongan rasa rindu penulis terhadap kegiatan menulis setelah vakum selama belasan tahun. Buku ini juga menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Bali dengan segala pergulatannya, misalnya dari segi cinta, keluarga, tradisi, kehilangan, hingga perlawanan terhadap modernisasi.

Melalui gaya bertutur yang sederhana namun emosional, penulis membawa pembaca menelusuri berbagai sudut kehidupan yang terasa akrab namun tetap menyisakan ruang refleksi yang mendalam.

Salah satu kekuatan buku ini adalah dalam pemilihan tema. Hampir semua cerita berputar pada persoalan identitas, keluarga, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya. Misalnya dalam cerpen “Cubang”, tokoh Pan Sanu digambarkan sebagai seorang lelaki tua yang dengan keras kepala mempertahankan tanah warisan keluarganya dari tekanan enam saudaranya yang ingin menjual tanah tersebut kepada seorang investor asing.

Cubang—sebuah sumur tradisional di Bali—menjadi simbol kekuatan, ketekunan, dan warisan yang hendak dijaga. Pan Sanu tidak hanya mempertahankan tanah sebagai harta benda, melainkan mempertahankannya sebagai bagian dari harga diri dan identitasnya. Ia melawan godaan modernisasi yang seringkali membutakan manusia terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyangnya.

Cerpen lain seperti “Agatha Tak Ingin Benci Setengah Mati” menawarkan pandangan tentang bagaimana seseorang belajar mengelola emosi negatif di usia muda. Agatha, sebagai tokoh utama, mengalami pergolakan batin terhadap seorang laki-laki yang selalu hadir dalam hidupnya tanpa ia kehendaki. Melalui nasihat bijak dari Bibi Lucia, Agatha belajar bahwa membenci hanya akan menumbuhkan keterikatan emosional yang tidak sehat. Cerita ini menggambarkan perjalanan kedewasaan emosional seorang remaja dengan penuh kelembutan dan nuansa reflektif yang kuat.

Geg Ary Suharsani juga menulis cerpen-cerpen yang bernuansa nostalgia dan kesedihan, seperti dalam “Bapak”, di mana seorang anak mengenang almarhum ayahnya saat bersembahyang di Pura Besakih. Sentuhan emosi dalam cerpen ini begitu dalam, tanpa perlu mengumbar kesedihan berlebihan. Kekuatan cerpen ini justru pada keheningan, pada kenangan kecil yang terus hidup dalam diri sang anak, serta pada peristiwa sederhana yang membangkitkan rindu terhadap orang tua yang telah tiada.

Dari segi alur, Suharsani menggunakan struktur yang sederhana namun efektif. Cerita-ceritanya mayoritas menggunakan alur maju, tetapi kerap diselingi dengan kilas balik yang lembut dan wajar, memperkaya latar belakang cerita tanpa membuatnya terasa membingungkan. Gaya bahasa yang digunakan juga sangat bersahaja. Tidak ada kalimat-kalimat metaforis yang berlebihan atau kosakata bombastis; sebaliknya, Suharsani menulis dengan kejujuran rasa, membiarkan emosi tokoh-tokohnya mengalir dengan alami. Dialog-dialog yang ditulis juga terasa luwes dan membumi, mencerminkan keaslian karakter Bali yang sederhana dan bersahaja.

Latar tempat dalam setiap cerpen menjadi salah satu kekuatan besar buku ini. Bali bukan hanya sekedar latar geografis, melainkan menjadi jiwa dari setiap cerita. Pembaca diajak masuk ke dalam suasana kehidupan masyarakat Bali: tradisi odalan, suara gemuruh Tukad Bindu, cubang-cubang tua di desa, hingga upacara keluarga di pura.

Tradisi Bali dijaga dengan kuat, seperti dalam cerpen “Gemuruh Tukad Bindu” yang berlatar di sebuah jalur pejalan kaki di tepi sungai, menghadirkan suasana yang sangat hidup. Namun demikian, salah satu kekurangan yang terasa adalah penggunaan banyak istilah lokal Bali yang kadang tidak diberi penjelasan yang cukup rinci. Bagi pembaca di luar Bali, beberapa istilah seperti “Tukad”, “Pura”, “Hyang Widhi”, atau “Jeg”  bisa terasa asing dan mengganggu pemahaman konteks.

 Dari segi karakterisasi, Suharsani berhasil membangun tokoh-tokoh yang manusiawi, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tokoh Pan Sanu adalah contoh keberhasilan Suharsani membangun karakter dengan kompleksitas emosi: keras kepala namun penuh cinta terhadap tanahnya. Agatha adalah gambaran remaja yang sedang berjuang memahami perasaan-perasaannya. Bahkan tokoh-tokoh pendukung seperti Bibi Lucia, Made dan Gede (anak-anak kecil dalam “Bapak”) pun ditulis dengan cukup mendalam untuk memberikan warna yang kuat dalam cerita.

Meski secara keseluruhan buku ini kuat, ada beberapa bagian yang terasa repetitif, khususnya dalam tema besar tentang mempertahankan warisan keluarga dan rasa bersalah yang berulang muncul di beberapa cerita. Juga, tidak semua cerita memiliki klimaks yang tajam; beberapa berakhir datar, lebih sebagai sketsa kehidupan daripada cerita dengan resolusi dramatis. Namun justru dalam kesederhanaan ini tersimpan kekuatan: Suharsani tidak berusaha memaksakan dramatisasi, melainkan membiarkan kehidupan berjalan sebagaimana adanya.

Secara umum, Cubang adalah sebuah karya yang intim dan penuh ketulusan. Buku ini bukan hanya sebuah koleksi cerita pendek, tetapi juga sebuah refleksi tentang bagaimana manusia berusaha berdamai dengan waktu, perubahan, dan diri sendiri. Pembaca akan menemukan bahwa setiap cerpen, meski sederhana dalam penyampaian, meninggalkan jejak emosional yang kuat setelah dibaca.

Melalui Cubang, Geg Ary Suharsani mengajak kita untuk lebih menghargai nilai-nilai tradisi, keluarga, dan ketulusan dalam menjaga identitas di tengah dunia yang terus berubah. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang mencintai cerita-cerita berjiwa, penuh perenungan, dan terikat erat dengan budaya lokal. [T]

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku cerpenCerpenresensisastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gelis Diksi” Dibedah dengan “Gelis”

Next Post

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co