2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 14, 2025
in Esai
Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Wiji Thukul

MUNGKIN kita lupa, bahwa Denpasar sebagai ibu kota provinsi Bali kini telah banyak berubah. Penduduk yang padat dan terus tumbuh, permasalahan klasik kota seperti sampah, seiring angka pertumbuhan penduduk yang tinggi. Juga, tata kelola kota yang kurang diperhatikan oleh pemerintah lokal, kebiasaan buruk warga membuang sampah di sungai—menjadi akumulasi dan konsekuensi terjadinya banjir, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Kota Denpasar, bergerak menuju kota metropolitan.

Ciri kota metropolitan biasanya terlihat dari kepadatan penduduknya yang tinggi, lalu lintas kendaraan yang macet, munculnya gedung-gedung tinggi (meski di Bali tak ada, “diselamatkan” oleh peraturan pemerintah Bali di masa lalu), pusat perdagangan modern, hingga kawasan permukiman baru yang terus berkembang.

Dengan jumlah penduduk terkini sekitar 725 ribu jiwa (BPS Kota Denpasar, 2024), Denpasar seakan menjadi kota yang menahan beban berat. Kota ini bukan lagi kota kecil berwajah tradisional, melainkan urban space yang menanggung paradoks, yakni modern tetapi rapuh, maju tetapi tidak siap menghadapi dampak ekologisnya.

Dalam perspektif antropologi perkotaan, Henri Lefebvre menekankan bahwa ruang kota tidak pernah netral. Kota adalah arena perebutan antara kekuasaan, modal, dan rakyat kecil. Ketika pembangunan lebih banyak memihak kepentingan kapital—perumahan mewah, pusat perbelanjaan, hotel—ruang hidup rakyat kecil terdesak ke tempat-tempat paling rapuh, seperti bantaran sungai, lahan bekas sawah, kawasan tanpa drainase. Clifford Geertz dalam kajiannya tentang kota di Jawa juga menunjukkan bahwa “urbanisasi” bukan hanya perpindahan penduduk, tetapi perubahan relasi sosial, munculnya stratifikasi baru, dan semakin tajamnya kesenjangan.

Denpasar tidak berbeda. Banjir di kota ini bukan semata-mata urusan teknis yakni soal drainase, curah hujan, atau sampah. Ia adalah cermin dari bagaimana kota dikelola, siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan. Maka, menjadi sebuah keniscayaan jika kemudian saat hujan tiba, banjir melanda.

Banjir bukan hanya urusan air yang meluap. Ia adalah peristiwa sosial yang menyimpan penderitaan. Karena itu banjir kerap hadir dalam sastra, termasuk dalam puisi. Para penyair melihatnya bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga metafora tentang kekuasaan, kelalaian, dan penderitaan rakyat kecil.

Salah satu penyair yang menulis dengan lantang soal kehidupan kota—termasuk banjir—adalah Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis buruh yang lahir dan besar di Solo, Jawa Tengah. Dalam kumpulan puisinya Aku Ingin Jadi Peluru (IndonesiaTera, cetakan pertama tahun 2000), kita bisa menemukan sejumlah puisi yang secara langsung atau implisit berbicara tentang banjir.

Dalam puisi berjudul Hujan, misalnya, Thukul menggambarkan keseharian keluarga kecil di tengah derasnya hujan. Bukan tentang heroisme, melainkan keruwetan rumah tangga biasa yang tiba-tiba harus berjibaku dengan alam. “Mendung hitam tebal / masukkan itu jemuran / dan bantal-bantal / periksa lagi genting-genting / barangkali bocornya pindah.”.

Kekhawatiran sederhana itu terus berlanjut, seperti listrik padam, udara gerah, ruangan gelap, anak yang belum kelihatan pulang. Lalu ada burung-burung parkit dalam kandang yang tetap berkicau meski rumah manusia resah. Puisi ini memperlihatkan bahwa banjir bukan peristiwa spektakuler, melainkan hadir dalam ruang domestik: genteng bocor, rumah gelap, hati gelisah. Ia menyingkap bagaimana kaum miskin kota selalu paling rapuh ketika berhadapan dengan bencana.

Sementara itu, dalam puisi Lumut, banjir hadir sebagai metafora. Wiji Thukul menyamakan manusia dengan lumut yang hidup di pinggir selokan dan tembok bangunan. “Kita ini lumut / menempel di tembok-tembok bangunan / berkembang di pinggir-pinggir selokan / di musim kemarau kering / diterjang banjir / tetap hidup.” Lumut tetap bertahan meskipun diterjang banjir. Begitu pula rakyat kecil yang meski digilas pembangunan, tetap mencari cara untuk hidup. Banjir di sini bukan hanya peristiwa alam, melainkan lambang dari gempuran hidup perkotaan—penggusuran, kemiskinan, dan arus modernisasi yang tak terbendung. Puisi ini menegaskan daya tahan orang-orang bawah, meski harus hidup dalam kondisi terpinggirkan.

Ada pula puisi Kota Ini Milik Kalian, yang tidak menyebut banjir secara eksplisit, tetapi menyinggung kehidupan warga miskin kota yang tinggal di bantaran sungai. “Kalian bisa mandi kapan saja / sungai itu milik kalian / kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri.” Sungai adalah paradoks. Di satu sisi sumber kehidupan, di sisi lain tempat limbah industri dibuang. Banjir menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari hidup di pinggiran sungai yang kotor. Lagi-lagi, warga miskinlah yang menanggung dampak paling besar.

Lalu dalam Lingkungan Kita Si Mulut Besar, Thukul menampilkan potret lingkungan kota yang sakit, penuh pencemaran. “Lingkungan kita si mulut besar / sakit perut dan terus berak / mencret oli dan logam / busa dan plastik / dan zat-zat pewarna yang merangsang.” Meski tidak menyebut banjir, pencemaran ini jelas berhubungan dengan krisis ekologis kota: sungai-sungai yang berubah menjadi tempat pembuangan limbah. Jika hujan datang, banjir adalah akibat langsung dari keserakahan kota yang mengabaikan keseimbangan alam.

Wiji Thukul bukan satu-satunya penyair yang mengangkat banjir. Rendra, dalam banyak puisinya, menyinggung kota yang “sakit” akibat kerakusan pembangunan. Dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, ia menulis kota yang macet, penuh gedung, dan kehilangan ruang bagi manusia. Sutardji Calzoum Bachri menggunakan metafora air dalam gaya mantranya untuk menyingkap kekacauan hidup modern.

Bahkan penyair Bali seperti Oka Rusmini, Made Adnyana Ole, dan Wayan Jengki Sunarta sering memotret Bali yang kehilangan keseimbangan ekologis karena pembangunan yang berlebihan. Dengan demikian, banjir dalam sastra Indonesia selalu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah sumber kritik sosial. Dan Wiji Thukul, dengan gaya lugas dan humor getirnya, membuat banjir tampil begitu dekat dengan kehidupan rakyat kecil.

Membaca puisi-puisi Wiji Thukul memberi kita sudut pandang lain tentang banjir. Ia tidak menulis banjir sebagai “bencana alam” belaka, melainkan sebagai fenomena sosial: akumulasi dari tata kota yang buruk, kesenjangan sosial, dan nasib rakyat miskin yang selalu menjadi korban.

Di Denpasar, kita menyaksikan hal serupa. Banjir datang bukan semata karena hujan deras, tetapi juga akibat sampah yang menyumbat sungai, pembangunan yang mengabaikan tata ruang, dan lemahnya pengelolaan lingkungan. Perspektif antropologi perkotaan membantu kita memahami bahwa banjir adalah produk sosial. Ia lahir dari relasi kuasa; bagaimana pemerintah kota merencanakan tata ruang, bagaimana investor menguasai lahan, dan bagaimana rakyat kecil terpinggirkan.

Di Bali sendiri, banjir bukan peristiwa baru. Denpasar beberapa kali lumpuh akibat hujan deras. Pada 10 September 2025 misalnya, banjir besar melanda sejumlah titik kota pada hari raya Pagerwesi. Banyak warga menafsirkan peristiwa itu sebagai semacam “teguran”, meski tentu banjir tetaplah soal tata ruang yang buruk. Namun simbolisme ini menarik: ketika masyarakat sibuk berdoa menjaga benteng diri, justru banjir menyingkap rapuhnya benteng kota.

Jika menoleh ke belakang, arsip berita menyebutkan banjir Denpasar sudah terjadi sejak dekade 1970-an. Bedanya, saat itu penyebabnya sederhana, yakni hujan deras dan saluran air yang dangkal. Kini persoalannya lebih kompleks, yaitu alih fungsi lahan, sampah menumpuk di sungai, dan pembangunan yang tak terkendali. Sungai Badung, Tukad Mati, dan Tukad Ayung kerap menjadi saksi bagaimana air meluap tak terbendung.

Masyarakat pun menanggapinya dengan cara beragam. Ada yang pasrah, ada yang marah, ada yang membuat lelucon di media sosial: “banjir gratis kolam renang.” Di sinilah puisi memainkan peran dengan menyimpan kritik, tawa getir, sekaligus kesaksian.

Wiji Thukul berada dalam tradisi itu. Puisinya tentang banjir bukan sekadar curhat personal, tetapi juga rekaman sosial. Banjir dalam puisinya menegaskan satu hal, bahwa kota yang tidak adil pasti akan selalu banjir, entah oleh air, entah oleh ketidakpuasan rakyatnya. Maka, ketika membaca puisi-puisi Wiji Thukul hari ini, seakan kita sedang bercermin pada wajah Denpasar sendiri; sebuah kota yang menuju metropolitan, tetapi rapuh menahan derasnya arus banjir. Banjir adalah cermin ketidakadilan, sekaligus peringatan bahwa kota tidak bisa hanya dibangun dengan beton dan gedung, melainkan juga dengan keadilan ekologis dan sosial. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirdenpasarPuisisastrawiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Next Post

Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co