14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 14, 2025
in Esai
Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Wiji Thukul

MUNGKIN kita lupa, bahwa Denpasar sebagai ibu kota provinsi Bali kini telah banyak berubah. Penduduk yang padat dan terus tumbuh, permasalahan klasik kota seperti sampah, seiring angka pertumbuhan penduduk yang tinggi. Juga, tata kelola kota yang kurang diperhatikan oleh pemerintah lokal, kebiasaan buruk warga membuang sampah di sungai—menjadi akumulasi dan konsekuensi terjadinya banjir, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Kota Denpasar, bergerak menuju kota metropolitan.

Ciri kota metropolitan biasanya terlihat dari kepadatan penduduknya yang tinggi, lalu lintas kendaraan yang macet, munculnya gedung-gedung tinggi (meski di Bali tak ada, “diselamatkan” oleh peraturan pemerintah Bali di masa lalu), pusat perdagangan modern, hingga kawasan permukiman baru yang terus berkembang.

Dengan jumlah penduduk terkini sekitar 725 ribu jiwa (BPS Kota Denpasar, 2024), Denpasar seakan menjadi kota yang menahan beban berat. Kota ini bukan lagi kota kecil berwajah tradisional, melainkan urban space yang menanggung paradoks, yakni modern tetapi rapuh, maju tetapi tidak siap menghadapi dampak ekologisnya.

Dalam perspektif antropologi perkotaan, Henri Lefebvre menekankan bahwa ruang kota tidak pernah netral. Kota adalah arena perebutan antara kekuasaan, modal, dan rakyat kecil. Ketika pembangunan lebih banyak memihak kepentingan kapital—perumahan mewah, pusat perbelanjaan, hotel—ruang hidup rakyat kecil terdesak ke tempat-tempat paling rapuh, seperti bantaran sungai, lahan bekas sawah, kawasan tanpa drainase. Clifford Geertz dalam kajiannya tentang kota di Jawa juga menunjukkan bahwa “urbanisasi” bukan hanya perpindahan penduduk, tetapi perubahan relasi sosial, munculnya stratifikasi baru, dan semakin tajamnya kesenjangan.

Denpasar tidak berbeda. Banjir di kota ini bukan semata-mata urusan teknis yakni soal drainase, curah hujan, atau sampah. Ia adalah cermin dari bagaimana kota dikelola, siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan. Maka, menjadi sebuah keniscayaan jika kemudian saat hujan tiba, banjir melanda.

Banjir bukan hanya urusan air yang meluap. Ia adalah peristiwa sosial yang menyimpan penderitaan. Karena itu banjir kerap hadir dalam sastra, termasuk dalam puisi. Para penyair melihatnya bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga metafora tentang kekuasaan, kelalaian, dan penderitaan rakyat kecil.

Salah satu penyair yang menulis dengan lantang soal kehidupan kota—termasuk banjir—adalah Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis buruh yang lahir dan besar di Solo, Jawa Tengah. Dalam kumpulan puisinya Aku Ingin Jadi Peluru (IndonesiaTera, cetakan pertama tahun 2000), kita bisa menemukan sejumlah puisi yang secara langsung atau implisit berbicara tentang banjir.

Dalam puisi berjudul Hujan, misalnya, Thukul menggambarkan keseharian keluarga kecil di tengah derasnya hujan. Bukan tentang heroisme, melainkan keruwetan rumah tangga biasa yang tiba-tiba harus berjibaku dengan alam. “Mendung hitam tebal / masukkan itu jemuran / dan bantal-bantal / periksa lagi genting-genting / barangkali bocornya pindah.”.

Kekhawatiran sederhana itu terus berlanjut, seperti listrik padam, udara gerah, ruangan gelap, anak yang belum kelihatan pulang. Lalu ada burung-burung parkit dalam kandang yang tetap berkicau meski rumah manusia resah. Puisi ini memperlihatkan bahwa banjir bukan peristiwa spektakuler, melainkan hadir dalam ruang domestik: genteng bocor, rumah gelap, hati gelisah. Ia menyingkap bagaimana kaum miskin kota selalu paling rapuh ketika berhadapan dengan bencana.

Sementara itu, dalam puisi Lumut, banjir hadir sebagai metafora. Wiji Thukul menyamakan manusia dengan lumut yang hidup di pinggir selokan dan tembok bangunan. “Kita ini lumut / menempel di tembok-tembok bangunan / berkembang di pinggir-pinggir selokan / di musim kemarau kering / diterjang banjir / tetap hidup.” Lumut tetap bertahan meskipun diterjang banjir. Begitu pula rakyat kecil yang meski digilas pembangunan, tetap mencari cara untuk hidup. Banjir di sini bukan hanya peristiwa alam, melainkan lambang dari gempuran hidup perkotaan—penggusuran, kemiskinan, dan arus modernisasi yang tak terbendung. Puisi ini menegaskan daya tahan orang-orang bawah, meski harus hidup dalam kondisi terpinggirkan.

Ada pula puisi Kota Ini Milik Kalian, yang tidak menyebut banjir secara eksplisit, tetapi menyinggung kehidupan warga miskin kota yang tinggal di bantaran sungai. “Kalian bisa mandi kapan saja / sungai itu milik kalian / kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri.” Sungai adalah paradoks. Di satu sisi sumber kehidupan, di sisi lain tempat limbah industri dibuang. Banjir menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari hidup di pinggiran sungai yang kotor. Lagi-lagi, warga miskinlah yang menanggung dampak paling besar.

Lalu dalam Lingkungan Kita Si Mulut Besar, Thukul menampilkan potret lingkungan kota yang sakit, penuh pencemaran. “Lingkungan kita si mulut besar / sakit perut dan terus berak / mencret oli dan logam / busa dan plastik / dan zat-zat pewarna yang merangsang.” Meski tidak menyebut banjir, pencemaran ini jelas berhubungan dengan krisis ekologis kota: sungai-sungai yang berubah menjadi tempat pembuangan limbah. Jika hujan datang, banjir adalah akibat langsung dari keserakahan kota yang mengabaikan keseimbangan alam.

Wiji Thukul bukan satu-satunya penyair yang mengangkat banjir. Rendra, dalam banyak puisinya, menyinggung kota yang “sakit” akibat kerakusan pembangunan. Dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, ia menulis kota yang macet, penuh gedung, dan kehilangan ruang bagi manusia. Sutardji Calzoum Bachri menggunakan metafora air dalam gaya mantranya untuk menyingkap kekacauan hidup modern.

Bahkan penyair Bali seperti Oka Rusmini, Made Adnyana Ole, dan Wayan Jengki Sunarta sering memotret Bali yang kehilangan keseimbangan ekologis karena pembangunan yang berlebihan. Dengan demikian, banjir dalam sastra Indonesia selalu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah sumber kritik sosial. Dan Wiji Thukul, dengan gaya lugas dan humor getirnya, membuat banjir tampil begitu dekat dengan kehidupan rakyat kecil.

Membaca puisi-puisi Wiji Thukul memberi kita sudut pandang lain tentang banjir. Ia tidak menulis banjir sebagai “bencana alam” belaka, melainkan sebagai fenomena sosial: akumulasi dari tata kota yang buruk, kesenjangan sosial, dan nasib rakyat miskin yang selalu menjadi korban.

Di Denpasar, kita menyaksikan hal serupa. Banjir datang bukan semata karena hujan deras, tetapi juga akibat sampah yang menyumbat sungai, pembangunan yang mengabaikan tata ruang, dan lemahnya pengelolaan lingkungan. Perspektif antropologi perkotaan membantu kita memahami bahwa banjir adalah produk sosial. Ia lahir dari relasi kuasa; bagaimana pemerintah kota merencanakan tata ruang, bagaimana investor menguasai lahan, dan bagaimana rakyat kecil terpinggirkan.

Di Bali sendiri, banjir bukan peristiwa baru. Denpasar beberapa kali lumpuh akibat hujan deras. Pada 10 September 2025 misalnya, banjir besar melanda sejumlah titik kota pada hari raya Pagerwesi. Banyak warga menafsirkan peristiwa itu sebagai semacam “teguran”, meski tentu banjir tetaplah soal tata ruang yang buruk. Namun simbolisme ini menarik: ketika masyarakat sibuk berdoa menjaga benteng diri, justru banjir menyingkap rapuhnya benteng kota.

Jika menoleh ke belakang, arsip berita menyebutkan banjir Denpasar sudah terjadi sejak dekade 1970-an. Bedanya, saat itu penyebabnya sederhana, yakni hujan deras dan saluran air yang dangkal. Kini persoalannya lebih kompleks, yaitu alih fungsi lahan, sampah menumpuk di sungai, dan pembangunan yang tak terkendali. Sungai Badung, Tukad Mati, dan Tukad Ayung kerap menjadi saksi bagaimana air meluap tak terbendung.

Masyarakat pun menanggapinya dengan cara beragam. Ada yang pasrah, ada yang marah, ada yang membuat lelucon di media sosial: “banjir gratis kolam renang.” Di sinilah puisi memainkan peran dengan menyimpan kritik, tawa getir, sekaligus kesaksian.

Wiji Thukul berada dalam tradisi itu. Puisinya tentang banjir bukan sekadar curhat personal, tetapi juga rekaman sosial. Banjir dalam puisinya menegaskan satu hal, bahwa kota yang tidak adil pasti akan selalu banjir, entah oleh air, entah oleh ketidakpuasan rakyatnya. Maka, ketika membaca puisi-puisi Wiji Thukul hari ini, seakan kita sedang bercermin pada wajah Denpasar sendiri; sebuah kota yang menuju metropolitan, tetapi rapuh menahan derasnya arus banjir. Banjir adalah cermin ketidakadilan, sekaligus peringatan bahwa kota tidak bisa hanya dibangun dengan beton dan gedung, melainkan juga dengan keadilan ekologis dan sosial. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirdenpasarPuisisastrawiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Next Post

Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Tata Maharani, Jegeg Blahkiuh, dan Cara Mempromosikan Pariwisata Desa Blahkiuh ke Seantero Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co