13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
September 14, 2025
in Ulas Buku
Bayangan yang Tak Pernah Pergi — Membaca Buku Cerpen “Cubang” karya Geg Ary Suharsani

Buku cerpen Cubang karya Geg Ary Suharsani

CUBANG adalah salah satu buku kumpulan cerpen karya Geg Ary Suharsani yang diterbitkan oleh Mahmima Institute Indonesia pada Oktober 2019, dan merupakan sebuah karya sastra yang menyajikan 11 cerita pendek dengan tema universal yang dikemas dalam latar budaya Bali yang kuat.

Karya ini merupakan hasil dari dorongan rasa rindu penulis terhadap kegiatan menulis setelah vakum selama belasan tahun. Buku ini juga menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Bali dengan segala pergulatannya, misalnya dari segi cinta, keluarga, tradisi, kehilangan, hingga perlawanan terhadap modernisasi.

Melalui gaya bertutur yang sederhana namun emosional, penulis membawa pembaca menelusuri berbagai sudut kehidupan yang terasa akrab namun tetap menyisakan ruang refleksi yang mendalam.

Salah satu kekuatan buku ini adalah dalam pemilihan tema. Hampir semua cerita berputar pada persoalan identitas, keluarga, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya. Misalnya dalam cerpen “Cubang”, tokoh Pan Sanu digambarkan sebagai seorang lelaki tua yang dengan keras kepala mempertahankan tanah warisan keluarganya dari tekanan enam saudaranya yang ingin menjual tanah tersebut kepada seorang investor asing.

Cubang—sebuah sumur tradisional di Bali—menjadi simbol kekuatan, ketekunan, dan warisan yang hendak dijaga. Pan Sanu tidak hanya mempertahankan tanah sebagai harta benda, melainkan mempertahankannya sebagai bagian dari harga diri dan identitasnya. Ia melawan godaan modernisasi yang seringkali membutakan manusia terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyangnya.

Cerpen lain seperti “Agatha Tak Ingin Benci Setengah Mati” menawarkan pandangan tentang bagaimana seseorang belajar mengelola emosi negatif di usia muda. Agatha, sebagai tokoh utama, mengalami pergolakan batin terhadap seorang laki-laki yang selalu hadir dalam hidupnya tanpa ia kehendaki. Melalui nasihat bijak dari Bibi Lucia, Agatha belajar bahwa membenci hanya akan menumbuhkan keterikatan emosional yang tidak sehat. Cerita ini menggambarkan perjalanan kedewasaan emosional seorang remaja dengan penuh kelembutan dan nuansa reflektif yang kuat.

Geg Ary Suharsani juga menulis cerpen-cerpen yang bernuansa nostalgia dan kesedihan, seperti dalam “Bapak”, di mana seorang anak mengenang almarhum ayahnya saat bersembahyang di Pura Besakih. Sentuhan emosi dalam cerpen ini begitu dalam, tanpa perlu mengumbar kesedihan berlebihan. Kekuatan cerpen ini justru pada keheningan, pada kenangan kecil yang terus hidup dalam diri sang anak, serta pada peristiwa sederhana yang membangkitkan rindu terhadap orang tua yang telah tiada.

Dari segi alur, Suharsani menggunakan struktur yang sederhana namun efektif. Cerita-ceritanya mayoritas menggunakan alur maju, tetapi kerap diselingi dengan kilas balik yang lembut dan wajar, memperkaya latar belakang cerita tanpa membuatnya terasa membingungkan. Gaya bahasa yang digunakan juga sangat bersahaja. Tidak ada kalimat-kalimat metaforis yang berlebihan atau kosakata bombastis; sebaliknya, Suharsani menulis dengan kejujuran rasa, membiarkan emosi tokoh-tokohnya mengalir dengan alami. Dialog-dialog yang ditulis juga terasa luwes dan membumi, mencerminkan keaslian karakter Bali yang sederhana dan bersahaja.

Latar tempat dalam setiap cerpen menjadi salah satu kekuatan besar buku ini. Bali bukan hanya sekedar latar geografis, melainkan menjadi jiwa dari setiap cerita. Pembaca diajak masuk ke dalam suasana kehidupan masyarakat Bali: tradisi odalan, suara gemuruh Tukad Bindu, cubang-cubang tua di desa, hingga upacara keluarga di pura.

Tradisi Bali dijaga dengan kuat, seperti dalam cerpen “Gemuruh Tukad Bindu” yang berlatar di sebuah jalur pejalan kaki di tepi sungai, menghadirkan suasana yang sangat hidup. Namun demikian, salah satu kekurangan yang terasa adalah penggunaan banyak istilah lokal Bali yang kadang tidak diberi penjelasan yang cukup rinci. Bagi pembaca di luar Bali, beberapa istilah seperti “Tukad”, “Pura”, “Hyang Widhi”, atau “Jeg”  bisa terasa asing dan mengganggu pemahaman konteks.

 Dari segi karakterisasi, Suharsani berhasil membangun tokoh-tokoh yang manusiawi, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tokoh Pan Sanu adalah contoh keberhasilan Suharsani membangun karakter dengan kompleksitas emosi: keras kepala namun penuh cinta terhadap tanahnya. Agatha adalah gambaran remaja yang sedang berjuang memahami perasaan-perasaannya. Bahkan tokoh-tokoh pendukung seperti Bibi Lucia, Made dan Gede (anak-anak kecil dalam “Bapak”) pun ditulis dengan cukup mendalam untuk memberikan warna yang kuat dalam cerita.

Meski secara keseluruhan buku ini kuat, ada beberapa bagian yang terasa repetitif, khususnya dalam tema besar tentang mempertahankan warisan keluarga dan rasa bersalah yang berulang muncul di beberapa cerita. Juga, tidak semua cerita memiliki klimaks yang tajam; beberapa berakhir datar, lebih sebagai sketsa kehidupan daripada cerita dengan resolusi dramatis. Namun justru dalam kesederhanaan ini tersimpan kekuatan: Suharsani tidak berusaha memaksakan dramatisasi, melainkan membiarkan kehidupan berjalan sebagaimana adanya.

Secara umum, Cubang adalah sebuah karya yang intim dan penuh ketulusan. Buku ini bukan hanya sebuah koleksi cerita pendek, tetapi juga sebuah refleksi tentang bagaimana manusia berusaha berdamai dengan waktu, perubahan, dan diri sendiri. Pembaca akan menemukan bahwa setiap cerpen, meski sederhana dalam penyampaian, meninggalkan jejak emosional yang kuat setelah dibaca.

Melalui Cubang, Geg Ary Suharsani mengajak kita untuk lebih menghargai nilai-nilai tradisi, keluarga, dan ketulusan dalam menjaga identitas di tengah dunia yang terus berubah. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang mencintai cerita-cerita berjiwa, penuh perenungan, dan terikat erat dengan budaya lokal. [T]

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku cerpenCerpenresensisastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gelis Diksi” Dibedah dengan “Gelis”

Next Post

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Banjir dalam Puisi-puisi Wiji Thukul dan Denpasar yang Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co