ADA pemandangan menarik ketika para undangan dan pengunjung The Amazing Taman Safari Bali dipersilakan mencicipi sambal serangkaian dengan Bali Royal Chili Festival 2025. Ada yang tampak kebingungan harus memilih jenis sambal yang mana; ada yang langsung mencoba dari satu deret ke deret berikutnya; ada yang hanya memilih jenis sambal yang diketahuinya; dan ada pula yang melihat-lihat tanpa mencoba sama sekali.
Sambal yang disajikan memang bukan satu atau dua jenis. Jumlah sambal yang dipamerkan sebanyak 70 jenis dan merupakan sambal khas kerajaan dari 9 puri di Pulau Dewata. Sambal ini disajikan dalam 4 stand yang ditata dengan nuansa tradisional Bali. Setiap sambal diisi nama dan bahan yang digunakan. Bagi mereka yang lahir di tahun 70-90an, mencicipi berbagai jenis sambal tempo dulu itu sebagai ajang untuk bernostalgia.
“Kami berupaya menciptakan sebuah festival yang bukan sekadar tempat menikmati makanan, tetapi juga ruang edukasi dan apresiasi terhadap kearifan lokal. Kami berharap, Bali Royal Chili ini dapat menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat citra Bali, tidak hanya sebagai destinasi wisata alam dan budaya, tetapi juga sebagai destinasi kuliner kelas dunia,” kata Alexander Zulkarnain selaku ACT Chief Marketing Officer Taman Safari Indonesia Group.

Sambal pangi di Bali Royal Chili Festival 2025 | Foto: Budarsana
Sambal-sambal itu tak semuanya lumrah. Artinya, tidak banyak dikenal oleh masyarakat kini. Mereka lebih banyak mencicipi sambal yang biasa ditemui sehari-hari, seperti sambal goring, sambal bongkot, sambal kecicang megoreng, dan lainnya. Berbeda halnya dengan para orang tua, lebih banyak mencoba sambal yang jarang ditemukan, seperti sambal pangi, sambak encal metunu, dan lainnya. Mereka mencicipi sambal itu untuk mengenang masa lalunya.
Bali Royal Chili Festival 2025 merupakan inisiatif Taman Safari Indonesia yang menjadi festival kuliner dan budaya. Festival ini berlangsung mulai 28 Agustus hingga 7 September 2025 bertempat di UMA Restaurant dan bertujuan untuk mempromosikan sekaligus melestarikan berbagai resep tradisional—sambal dari dapur istana Kerajaan Bali. “Tahun ini kami menampilkan kurang lebih 70 jenis sambal autentik dari 9 puri di Bali,” tegas Alexander Zulkarnain.
Festival ini mengajak pengunjung menjelajahi kekayaan budaya Bali melalui pameran kuliner budaya yang interaktif di Bale Banjar. Pameran ini akan menampilkan keindahan kain kerajaan dengan motif dan teknik tenun tradisional, musik kerajaan yang dimainkan dengan instrumen tradisional Bali, dan pengalaman mencicipi kopi kerajaan, di mana varian kopi pilihan akan disajikan secara istimewa.

Sambal encak matunu di Bali Royal Chili Festival 2025 | Foto: Budarsana
Selain itu, akan ada layanan kopi oleh barista profesional serta lokakarya bagi mereka yang ingin belajar membuat kopi sendiri. Kain kerajaan, kopi kerajaan, dan musik kerajaan masing-masing akan memiliki area ‘istana’ khusus mereka sendiri, menciptakan tampilan yang istimewa dan imersif.
“Melalui Bali Royal Chili 2025, kami ingin menghadirkan pengalaman kuliner yang tidak hanya unik tetapi juga sarat makna budaya adiluhung Indonesia,” ucapnya.
Festival ini merupakan wujud komitmen Taman Safari Indonesia dalam mendukung pelestarian warisan kuliner nusantara, khususnya resep sambal kerajaan yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi. Festival ini melibatkan berbagai elemen budaya seperti tarian, musik, kain tradisional, hingga kopi Bali.
“Kami berupaya menciptakan sebuah festival yang bukan sekadar tempat menikmati makanan, tetapi juga ruang edukasi dan apresiasi terhadap kearifan lokal,” ujar Alexander Zulkarnain.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarjaya yang mewakili Gubernur Bali pada pembukaan festival tersebut mengatakan, Bali Royal Chili Festival 2025 ini wujud pengingatan terhadap warisan rasa dan tradisi Bali, khususnya budaya Bali. Festival ini mengangkat warisan nilai dari segi teknik memasak maupum hidangan.

Sambal bongkot di Bali Royal Chili Festival 2025 | Foto: Budarsana
“Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur khususnya bidang kuliner yang sudah dilakukan secara turun-temurin. “Budaya tak hanya untuk dikenal, tetapi diwarisakan dan dikembangkan,” imbuhnya.
Perwakilan Puri Karangasem, Anak Agung Made Dewandra Jelantik mengatakan, sambal salah satu jenis makanan ini hampir ada di seluruh nusantara. Kalau makan mesti ada sambal untuk memberikan rasa yang autentik. Pada festival sebelumnya hanya menyajikan 30 sambal, namun kali ini jumlahnya meningkat setelah melakukan kurasi di beberap puri di Bali.
“Terima kasih Bali Safari yang menjaga dan melestarikan sambal luluhur kami. Kami berharap festival ini bisa dikembangkan di daerah lain, sehingga sambal ini bisa menjadi budaya mempersatukan nusantara,” harap Dewandra Jelantik.

Bondres gedebong goyang mencicipi sambal di Bali Royal Chili Festival 2025 | Foto: Budarsana
Perwakilan Puri Karangasem ini menyampaikan, festival ini bukan sekadar perayaan kuliner, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya Bali. Resep sambal kerajaan yang diwariskan turun-temurun kini dapat dinikmati masyarakat luas dalam suasana penuh kearifan lokal.
Dengan semangat pelestarian dan perayaan kuliner kerajaan, Bali Royal Chili 2025 mengajak masyarakat, wisatawan domestik maupun mancanegara untuk merasakan keunikan sambal Kerajaan Bali.
Festival ini harus memberikan kontribusi positif kepada Bali. Even tahunan berbasis kearifan lokal ini dapat mendorong keterlibatan aktif usaha lokal. Festival ini menjadi atraksi budaya yang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Legendari kuliner puri I Gusti Nyoman Darta demo buat sambal di Bali Royal Chili Festival 2025 | Foto: Budarsana
“Lebih dari sekadar festival makanan, acara ini menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi, budaya, dan pengalaman wisata, menghadirkan Bali sebagai destinasi yang kaya rasa, penuh makna, dan tak terlupakan,” ungkap Dewandra Jelantik.
Sebelum Bali Royal Chili Festival 2025 ini dibuka secara resmi, Bondres Gedebong Goyang memaparkan sambal sebagai kearifan lokal yang patut dilestarikan. Pemaparannya itu tentu dilakukan melalui “gegonjakan” di atas panggung, lucu, menarik dan sarat pesan. Meski mereka berdua merupakan bule, tetapi mereka menggunakan bahasa Bali lumbrah—bahkan bahasa Bali halus.
Acara pembukaan kemudian diakhir dengan demo masak oleh legendari kuliner I Gusti Nyoman Darta yang membuat sambal kukus dan sambal paya.[T]
Penulis/Reporter: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























