4 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 22, 2025
in Ulas Rupa
Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025

DI tengah riuhnya pangung utama Buleleng Festival (Bulfest) 2025, terlihat dua sosok wajah besar berada di latar belakang: Topeng Rama dan Laksmana. Tingginya mencapai tujuh meter, menandingi gagahnya Tugu Singa Ambara Raja yang juga menjadi ikon Kabupaten Buleleng. Backdrop topeng itu seolah menjadi magnet visual, keberadaannya mampu menyedot perhatian para pengunjung yang datang.

Setiap pagi hingga sore hari, saat siapa pun yang berkunjung, dua topeng besar itu selalu dijadikan latar untuk foto bersama, atau swafoto. Orang-orang saling menunggu giliran, baik itu anak-anak dari kalangan pelajar, orang-orang dewasa, pengunjung biasa, para pedagang hingga para pegawai pemerintah, semua bergantian berpose di depan panggung, menjadikan momen itu sebagai kenang-kenangan yang berharga.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Saat siang hari, suasana terik matahari menyengat, tak menyurutkan semangat mereka untuk berfoto di depan dua topeng besar itu. Kesempatan untuk berswafoto hanya terbuka dari pagi hingga menjelang senja, karena selepas itu, panggung sudah milik artis atau seniman yang pentas, dan lautan manusia akan membanjiri kawasan festival hingga malam tiba.

Di tengah orang-orang yang menonton di malam hari, tak sedikit yang kagum pada keindahan topeng-topeng besar tersebut.

“Luar biasa bagus, makanya saya foto di sini,” ujar seorang ibu muda yang saya temui ketika saya ikut antre untuk berswafoto.

Sementara Kirana Putri, dari SMP Negeri 1 Singaraja, mengungkapkan kekagumannya, “Bagus sekali, terlihat begitu realistis.” jelas pelajar berusia 13 tahun itu.

Sementera lelaki muda yang tak mau menyebutkan nama ketika saya tanya tentang topeng itu  dengan singkat padat menjawab, “Keren”, seraya menunjukkan jempol tangannya.

Namun menariknya, ketika ditanya lebih dalam—terbuat dari apakah topeng-topeng itu?—tak satu pun dari mereka bisa menjawab dengan tepat.

“Dari kardus atau kertas, ya?” jawab salah satu pengunjung.

Kemudian yang lainnya menebak, “Mungkin dari kayu, tapi nggak tahu juga, soalnya nggak bisa disentuh langsung.” terangnya.

Lalu ada yang dengan ragu menjawab, “Dari sampah kali ya, sampah plastik mungkin?” sambil orang itu tersenyum tak yakin.

Raut wajah mereka sedikit berubah saat saya sampaikan bahwa topeng-topeng itu benar-benar terbuat dari sampah plastik.

“Masak?” demikian respons spontan yang saya dengar. Lebih terkejut lagi ketika mereka tahu bahwa itu dibuat dari 1,7 ton sampah plastik, dan dikerjakan oleh orang Buleleng yang berkolaborasi di Rumah Plastik Mandiri.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Banyak yang terkagum, namum belum banyak yang tahu kisah di baliknya. Lebih sedikit lagi yang memahami lebih dalam pemilihan kedua tokoh epik itu dan penggunaan daur ulang sampah plastik.

Topeng Rama dan Laksmana ini memang tidak dibuat untuk bisa berbicara secara harfiah. Namun senyapnya mereka dalam menyampaikan pesan, nampak menjadi ironi di tengah hiruk-pikuk festival.

Rama sebagai simbol kebijaksanaan lalu Laksmana sebagai lambang kesetiaan—yang dihadirkan melalui medium yang nyaris tak bernilai yakni sampah plastik.

Karya monumental ini sendiri dikerjakan oleh Eka Darmawan dan timnya di Rumah Plastik bermingu-minggu, dari pagi hingga malam, dibuat secara kolektif, menyatukan tenaga dan ide dari banyak pihak. Mulai dari menentukan desain, mengumpulkan sampah plastik lalu merangkainya hingga membawa ke panggung utama Bulfest di depan Tugu Singa. Itu semua dilalui dengan penuh perjuangan.

Memanfaatkan sampah plastik ini saya yakini bukanlah keputusan karena alasan ekonomis. Justru sebaliknya, sebagai orang yang juga mengelola sampah, saya tahu betul mengumpulkan sampah plastik terpilah yang layak dipakai sangatlah sulit. Bahkan jika dihitung dari segi biaya, proses ini bisa jadi lebih mahal dibanding menggunakan bahan seperti styrofoam.

Namun saya melihat pilihan ini diambil sebagai bentuk bahwa seni dan kesadaran lingkungan bisa berpadu, menjadi cara baru untuk merawat bumi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Sayangnya, saya merasakan pesan tersebut nyaris tenggelam dalam keriuhan festival. Di tengah kemilau lampu panggung, gemuruh suara gamelan mebarung antara Institut Mpu Kuturan dan Universitas Pendidikan Ganesha, serta teriakan histeris remaja perempuan yang menyambut penampilan Nyoman Paul hingga keriuhan anak-anak muda mendengar lagu dari  Band Lolot.

Keberadaan topeng Rama dan Laksama seperti hanya jadi latar paggung untuk berfoto. Suaranya tak terdengar, pesannya tak terbaca. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, karya ini mampu membawa dua lapis makna sekaligus: pengingat akan ancaman ekologis akibat sampah plastik dan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai luhur melalui topeng sebagai representasi identitas, spiritual dan warisan budaya.

Namun bagi saya Buleleng Festival 2025 tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Perubahan positif terlihat di banyak lini. Panitia terlihat lebih matang dalam perencanaan. Seperti pengelolaan sampah semakin terorganisir. Bak-bak sampah lebih mudah ditemukan di area festival, meskipun kesadaran pengunjung masih menjadi pekerjaan rumah. Beruntung, para relawan dengan cekatan membantu mengatasi masalah tersebut, tak segan memungut sampah demi menjaga kebersihan dan kenyamanan bersama.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

nisiatif menghadirkan karya dari sampah plastik ini menjadi langkah awal menuju pemahaman baru. Memang masih banyak yang belum paham makna di balik topeng-topeng tersebut. Tetapi namanya juga  proses perubahan, pasti butuh waktu dan usaha berkelanjutan. Sehingga makna mendalam itu dapat terbaca oleh masyarakat.

Barangkali juga ini jadi saat yang tepat bagi pemerintah daerah dan panitia festival untuk memikirkan strategi lanjutan pasca acara. Bisa jadi melalui diskusi terbuka, lokakarya, hingga pameran edukatif atau festival kecil yang lebih mengkhusus. Untuk menjadi sarana membedah makna karya semacam ini. Bahwa seni yang dihadirkan bukan hanya soal estetika, tetapi juga jadi upaya untuk menggugah kesadaran.

Bagaimana topeng-topeng itu sebagai simbol yang menyimpan cerita—tentang sampah yang merusak lingkungan atau tentang pengetahuan-pengetahuan leluhur yang perlahan terlupakan. Topeng Rama dan Laksmana dari sampah plastik itu memang belum bisa berbicara. Tapi bukan berarti mereka tak punya suara. Sepertinya kita-lah yang harus belajar mendengar. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025daur ulang sampah plastikRumah Plastiktopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Next Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 3, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co