13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 22, 2025
in Ulas Rupa
Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025

DI tengah riuhnya pangung utama Buleleng Festival (Bulfest) 2025, terlihat dua sosok wajah besar berada di latar belakang: Topeng Rama dan Laksmana. Tingginya mencapai tujuh meter, menandingi gagahnya Tugu Singa Ambara Raja yang juga menjadi ikon Kabupaten Buleleng. Backdrop topeng itu seolah menjadi magnet visual, keberadaannya mampu menyedot perhatian para pengunjung yang datang.

Setiap pagi hingga sore hari, saat siapa pun yang berkunjung, dua topeng besar itu selalu dijadikan latar untuk foto bersama, atau swafoto. Orang-orang saling menunggu giliran, baik itu anak-anak dari kalangan pelajar, orang-orang dewasa, pengunjung biasa, para pedagang hingga para pegawai pemerintah, semua bergantian berpose di depan panggung, menjadikan momen itu sebagai kenang-kenangan yang berharga.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Saat siang hari, suasana terik matahari menyengat, tak menyurutkan semangat mereka untuk berfoto di depan dua topeng besar itu. Kesempatan untuk berswafoto hanya terbuka dari pagi hingga menjelang senja, karena selepas itu, panggung sudah milik artis atau seniman yang pentas, dan lautan manusia akan membanjiri kawasan festival hingga malam tiba.

Di tengah orang-orang yang menonton di malam hari, tak sedikit yang kagum pada keindahan topeng-topeng besar tersebut.

“Luar biasa bagus, makanya saya foto di sini,” ujar seorang ibu muda yang saya temui ketika saya ikut antre untuk berswafoto.

Sementara Kirana Putri, dari SMP Negeri 1 Singaraja, mengungkapkan kekagumannya, “Bagus sekali, terlihat begitu realistis.” jelas pelajar berusia 13 tahun itu.

Sementera lelaki muda yang tak mau menyebutkan nama ketika saya tanya tentang topeng itu  dengan singkat padat menjawab, “Keren”, seraya menunjukkan jempol tangannya.

Namun menariknya, ketika ditanya lebih dalam—terbuat dari apakah topeng-topeng itu?—tak satu pun dari mereka bisa menjawab dengan tepat.

“Dari kardus atau kertas, ya?” jawab salah satu pengunjung.

Kemudian yang lainnya menebak, “Mungkin dari kayu, tapi nggak tahu juga, soalnya nggak bisa disentuh langsung.” terangnya.

Lalu ada yang dengan ragu menjawab, “Dari sampah kali ya, sampah plastik mungkin?” sambil orang itu tersenyum tak yakin.

Raut wajah mereka sedikit berubah saat saya sampaikan bahwa topeng-topeng itu benar-benar terbuat dari sampah plastik.

“Masak?” demikian respons spontan yang saya dengar. Lebih terkejut lagi ketika mereka tahu bahwa itu dibuat dari 1,7 ton sampah plastik, dan dikerjakan oleh orang Buleleng yang berkolaborasi di Rumah Plastik Mandiri.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Banyak yang terkagum, namum belum banyak yang tahu kisah di baliknya. Lebih sedikit lagi yang memahami lebih dalam pemilihan kedua tokoh epik itu dan penggunaan daur ulang sampah plastik.

Topeng Rama dan Laksmana ini memang tidak dibuat untuk bisa berbicara secara harfiah. Namun senyapnya mereka dalam menyampaikan pesan, nampak menjadi ironi di tengah hiruk-pikuk festival.

Rama sebagai simbol kebijaksanaan lalu Laksmana sebagai lambang kesetiaan—yang dihadirkan melalui medium yang nyaris tak bernilai yakni sampah plastik.

Karya monumental ini sendiri dikerjakan oleh Eka Darmawan dan timnya di Rumah Plastik bermingu-minggu, dari pagi hingga malam, dibuat secara kolektif, menyatukan tenaga dan ide dari banyak pihak. Mulai dari menentukan desain, mengumpulkan sampah plastik lalu merangkainya hingga membawa ke panggung utama Bulfest di depan Tugu Singa. Itu semua dilalui dengan penuh perjuangan.

Memanfaatkan sampah plastik ini saya yakini bukanlah keputusan karena alasan ekonomis. Justru sebaliknya, sebagai orang yang juga mengelola sampah, saya tahu betul mengumpulkan sampah plastik terpilah yang layak dipakai sangatlah sulit. Bahkan jika dihitung dari segi biaya, proses ini bisa jadi lebih mahal dibanding menggunakan bahan seperti styrofoam.

Namun saya melihat pilihan ini diambil sebagai bentuk bahwa seni dan kesadaran lingkungan bisa berpadu, menjadi cara baru untuk merawat bumi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Sayangnya, saya merasakan pesan tersebut nyaris tenggelam dalam keriuhan festival. Di tengah kemilau lampu panggung, gemuruh suara gamelan mebarung antara Institut Mpu Kuturan dan Universitas Pendidikan Ganesha, serta teriakan histeris remaja perempuan yang menyambut penampilan Nyoman Paul hingga keriuhan anak-anak muda mendengar lagu dari  Band Lolot.

Keberadaan topeng Rama dan Laksama seperti hanya jadi latar paggung untuk berfoto. Suaranya tak terdengar, pesannya tak terbaca. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, karya ini mampu membawa dua lapis makna sekaligus: pengingat akan ancaman ekologis akibat sampah plastik dan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai luhur melalui topeng sebagai representasi identitas, spiritual dan warisan budaya.

Namun bagi saya Buleleng Festival 2025 tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Perubahan positif terlihat di banyak lini. Panitia terlihat lebih matang dalam perencanaan. Seperti pengelolaan sampah semakin terorganisir. Bak-bak sampah lebih mudah ditemukan di area festival, meskipun kesadaran pengunjung masih menjadi pekerjaan rumah. Beruntung, para relawan dengan cekatan membantu mengatasi masalah tersebut, tak segan memungut sampah demi menjaga kebersihan dan kenyamanan bersama.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

nisiatif menghadirkan karya dari sampah plastik ini menjadi langkah awal menuju pemahaman baru. Memang masih banyak yang belum paham makna di balik topeng-topeng tersebut. Tetapi namanya juga  proses perubahan, pasti butuh waktu dan usaha berkelanjutan. Sehingga makna mendalam itu dapat terbaca oleh masyarakat.

Barangkali juga ini jadi saat yang tepat bagi pemerintah daerah dan panitia festival untuk memikirkan strategi lanjutan pasca acara. Bisa jadi melalui diskusi terbuka, lokakarya, hingga pameran edukatif atau festival kecil yang lebih mengkhusus. Untuk menjadi sarana membedah makna karya semacam ini. Bahwa seni yang dihadirkan bukan hanya soal estetika, tetapi juga jadi upaya untuk menggugah kesadaran.

Bagaimana topeng-topeng itu sebagai simbol yang menyimpan cerita—tentang sampah yang merusak lingkungan atau tentang pengetahuan-pengetahuan leluhur yang perlahan terlupakan. Topeng Rama dan Laksmana dari sampah plastik itu memang belum bisa berbicara. Tapi bukan berarti mereka tak punya suara. Sepertinya kita-lah yang harus belajar mendengar. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025daur ulang sampah plastikRumah Plastiktopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Next Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co