3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 22, 2025
in Ulas Rupa
Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025

DI tengah riuhnya pangung utama Buleleng Festival (Bulfest) 2025, terlihat dua sosok wajah besar berada di latar belakang: Topeng Rama dan Laksmana. Tingginya mencapai tujuh meter, menandingi gagahnya Tugu Singa Ambara Raja yang juga menjadi ikon Kabupaten Buleleng. Backdrop topeng itu seolah menjadi magnet visual, keberadaannya mampu menyedot perhatian para pengunjung yang datang.

Setiap pagi hingga sore hari, saat siapa pun yang berkunjung, dua topeng besar itu selalu dijadikan latar untuk foto bersama, atau swafoto. Orang-orang saling menunggu giliran, baik itu anak-anak dari kalangan pelajar, orang-orang dewasa, pengunjung biasa, para pedagang hingga para pegawai pemerintah, semua bergantian berpose di depan panggung, menjadikan momen itu sebagai kenang-kenangan yang berharga.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Saat siang hari, suasana terik matahari menyengat, tak menyurutkan semangat mereka untuk berfoto di depan dua topeng besar itu. Kesempatan untuk berswafoto hanya terbuka dari pagi hingga menjelang senja, karena selepas itu, panggung sudah milik artis atau seniman yang pentas, dan lautan manusia akan membanjiri kawasan festival hingga malam tiba.

Di tengah orang-orang yang menonton di malam hari, tak sedikit yang kagum pada keindahan topeng-topeng besar tersebut.

“Luar biasa bagus, makanya saya foto di sini,” ujar seorang ibu muda yang saya temui ketika saya ikut antre untuk berswafoto.

Sementara Kirana Putri, dari SMP Negeri 1 Singaraja, mengungkapkan kekagumannya, “Bagus sekali, terlihat begitu realistis.” jelas pelajar berusia 13 tahun itu.

Sementera lelaki muda yang tak mau menyebutkan nama ketika saya tanya tentang topeng itu  dengan singkat padat menjawab, “Keren”, seraya menunjukkan jempol tangannya.

Namun menariknya, ketika ditanya lebih dalam—terbuat dari apakah topeng-topeng itu?—tak satu pun dari mereka bisa menjawab dengan tepat.

“Dari kardus atau kertas, ya?” jawab salah satu pengunjung.

Kemudian yang lainnya menebak, “Mungkin dari kayu, tapi nggak tahu juga, soalnya nggak bisa disentuh langsung.” terangnya.

Lalu ada yang dengan ragu menjawab, “Dari sampah kali ya, sampah plastik mungkin?” sambil orang itu tersenyum tak yakin.

Raut wajah mereka sedikit berubah saat saya sampaikan bahwa topeng-topeng itu benar-benar terbuat dari sampah plastik.

“Masak?” demikian respons spontan yang saya dengar. Lebih terkejut lagi ketika mereka tahu bahwa itu dibuat dari 1,7 ton sampah plastik, dan dikerjakan oleh orang Buleleng yang berkolaborasi di Rumah Plastik Mandiri.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Banyak yang terkagum, namum belum banyak yang tahu kisah di baliknya. Lebih sedikit lagi yang memahami lebih dalam pemilihan kedua tokoh epik itu dan penggunaan daur ulang sampah plastik.

Topeng Rama dan Laksmana ini memang tidak dibuat untuk bisa berbicara secara harfiah. Namun senyapnya mereka dalam menyampaikan pesan, nampak menjadi ironi di tengah hiruk-pikuk festival.

Rama sebagai simbol kebijaksanaan lalu Laksmana sebagai lambang kesetiaan—yang dihadirkan melalui medium yang nyaris tak bernilai yakni sampah plastik.

Karya monumental ini sendiri dikerjakan oleh Eka Darmawan dan timnya di Rumah Plastik bermingu-minggu, dari pagi hingga malam, dibuat secara kolektif, menyatukan tenaga dan ide dari banyak pihak. Mulai dari menentukan desain, mengumpulkan sampah plastik lalu merangkainya hingga membawa ke panggung utama Bulfest di depan Tugu Singa. Itu semua dilalui dengan penuh perjuangan.

Memanfaatkan sampah plastik ini saya yakini bukanlah keputusan karena alasan ekonomis. Justru sebaliknya, sebagai orang yang juga mengelola sampah, saya tahu betul mengumpulkan sampah plastik terpilah yang layak dipakai sangatlah sulit. Bahkan jika dihitung dari segi biaya, proses ini bisa jadi lebih mahal dibanding menggunakan bahan seperti styrofoam.

Namun saya melihat pilihan ini diambil sebagai bentuk bahwa seni dan kesadaran lingkungan bisa berpadu, menjadi cara baru untuk merawat bumi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Sayangnya, saya merasakan pesan tersebut nyaris tenggelam dalam keriuhan festival. Di tengah kemilau lampu panggung, gemuruh suara gamelan mebarung antara Institut Mpu Kuturan dan Universitas Pendidikan Ganesha, serta teriakan histeris remaja perempuan yang menyambut penampilan Nyoman Paul hingga keriuhan anak-anak muda mendengar lagu dari  Band Lolot.

Keberadaan topeng Rama dan Laksama seperti hanya jadi latar paggung untuk berfoto. Suaranya tak terdengar, pesannya tak terbaca. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, karya ini mampu membawa dua lapis makna sekaligus: pengingat akan ancaman ekologis akibat sampah plastik dan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai luhur melalui topeng sebagai representasi identitas, spiritual dan warisan budaya.

Namun bagi saya Buleleng Festival 2025 tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Perubahan positif terlihat di banyak lini. Panitia terlihat lebih matang dalam perencanaan. Seperti pengelolaan sampah semakin terorganisir. Bak-bak sampah lebih mudah ditemukan di area festival, meskipun kesadaran pengunjung masih menjadi pekerjaan rumah. Beruntung, para relawan dengan cekatan membantu mengatasi masalah tersebut, tak segan memungut sampah demi menjaga kebersihan dan kenyamanan bersama.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

nisiatif menghadirkan karya dari sampah plastik ini menjadi langkah awal menuju pemahaman baru. Memang masih banyak yang belum paham makna di balik topeng-topeng tersebut. Tetapi namanya juga  proses perubahan, pasti butuh waktu dan usaha berkelanjutan. Sehingga makna mendalam itu dapat terbaca oleh masyarakat.

Barangkali juga ini jadi saat yang tepat bagi pemerintah daerah dan panitia festival untuk memikirkan strategi lanjutan pasca acara. Bisa jadi melalui diskusi terbuka, lokakarya, hingga pameran edukatif atau festival kecil yang lebih mengkhusus. Untuk menjadi sarana membedah makna karya semacam ini. Bahwa seni yang dihadirkan bukan hanya soal estetika, tetapi juga jadi upaya untuk menggugah kesadaran.

Bagaimana topeng-topeng itu sebagai simbol yang menyimpan cerita—tentang sampah yang merusak lingkungan atau tentang pengetahuan-pengetahuan leluhur yang perlahan terlupakan. Topeng Rama dan Laksmana dari sampah plastik itu memang belum bisa berbicara. Tapi bukan berarti mereka tak punya suara. Sepertinya kita-lah yang harus belajar mendengar. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025daur ulang sampah plastikRumah Plastiktopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Next Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co