2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 22, 2025
in Ulas Rupa
Topeng Rama dan Laksmana yang Belum Berbicara — Catatan dari Buleleng Festival 2025

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025

DI tengah riuhnya pangung utama Buleleng Festival (Bulfest) 2025, terlihat dua sosok wajah besar berada di latar belakang: Topeng Rama dan Laksmana. Tingginya mencapai tujuh meter, menandingi gagahnya Tugu Singa Ambara Raja yang juga menjadi ikon Kabupaten Buleleng. Backdrop topeng itu seolah menjadi magnet visual, keberadaannya mampu menyedot perhatian para pengunjung yang datang.

Setiap pagi hingga sore hari, saat siapa pun yang berkunjung, dua topeng besar itu selalu dijadikan latar untuk foto bersama, atau swafoto. Orang-orang saling menunggu giliran, baik itu anak-anak dari kalangan pelajar, orang-orang dewasa, pengunjung biasa, para pedagang hingga para pegawai pemerintah, semua bergantian berpose di depan panggung, menjadikan momen itu sebagai kenang-kenangan yang berharga.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Saat siang hari, suasana terik matahari menyengat, tak menyurutkan semangat mereka untuk berfoto di depan dua topeng besar itu. Kesempatan untuk berswafoto hanya terbuka dari pagi hingga menjelang senja, karena selepas itu, panggung sudah milik artis atau seniman yang pentas, dan lautan manusia akan membanjiri kawasan festival hingga malam tiba.

Di tengah orang-orang yang menonton di malam hari, tak sedikit yang kagum pada keindahan topeng-topeng besar tersebut.

“Luar biasa bagus, makanya saya foto di sini,” ujar seorang ibu muda yang saya temui ketika saya ikut antre untuk berswafoto.

Sementara Kirana Putri, dari SMP Negeri 1 Singaraja, mengungkapkan kekagumannya, “Bagus sekali, terlihat begitu realistis.” jelas pelajar berusia 13 tahun itu.

Sementera lelaki muda yang tak mau menyebutkan nama ketika saya tanya tentang topeng itu  dengan singkat padat menjawab, “Keren”, seraya menunjukkan jempol tangannya.

Namun menariknya, ketika ditanya lebih dalam—terbuat dari apakah topeng-topeng itu?—tak satu pun dari mereka bisa menjawab dengan tepat.

“Dari kardus atau kertas, ya?” jawab salah satu pengunjung.

Kemudian yang lainnya menebak, “Mungkin dari kayu, tapi nggak tahu juga, soalnya nggak bisa disentuh langsung.” terangnya.

Lalu ada yang dengan ragu menjawab, “Dari sampah kali ya, sampah plastik mungkin?” sambil orang itu tersenyum tak yakin.

Raut wajah mereka sedikit berubah saat saya sampaikan bahwa topeng-topeng itu benar-benar terbuat dari sampah plastik.

“Masak?” demikian respons spontan yang saya dengar. Lebih terkejut lagi ketika mereka tahu bahwa itu dibuat dari 1,7 ton sampah plastik, dan dikerjakan oleh orang Buleleng yang berkolaborasi di Rumah Plastik Mandiri.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

Banyak yang terkagum, namum belum banyak yang tahu kisah di baliknya. Lebih sedikit lagi yang memahami lebih dalam pemilihan kedua tokoh epik itu dan penggunaan daur ulang sampah plastik.

Topeng Rama dan Laksmana ini memang tidak dibuat untuk bisa berbicara secara harfiah. Namun senyapnya mereka dalam menyampaikan pesan, nampak menjadi ironi di tengah hiruk-pikuk festival.

Rama sebagai simbol kebijaksanaan lalu Laksmana sebagai lambang kesetiaan—yang dihadirkan melalui medium yang nyaris tak bernilai yakni sampah plastik.

Karya monumental ini sendiri dikerjakan oleh Eka Darmawan dan timnya di Rumah Plastik bermingu-minggu, dari pagi hingga malam, dibuat secara kolektif, menyatukan tenaga dan ide dari banyak pihak. Mulai dari menentukan desain, mengumpulkan sampah plastik lalu merangkainya hingga membawa ke panggung utama Bulfest di depan Tugu Singa. Itu semua dilalui dengan penuh perjuangan.

Memanfaatkan sampah plastik ini saya yakini bukanlah keputusan karena alasan ekonomis. Justru sebaliknya, sebagai orang yang juga mengelola sampah, saya tahu betul mengumpulkan sampah plastik terpilah yang layak dipakai sangatlah sulit. Bahkan jika dihitung dari segi biaya, proses ini bisa jadi lebih mahal dibanding menggunakan bahan seperti styrofoam.

Namun saya melihat pilihan ini diambil sebagai bentuk bahwa seni dan kesadaran lingkungan bisa berpadu, menjadi cara baru untuk merawat bumi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Sayangnya, saya merasakan pesan tersebut nyaris tenggelam dalam keriuhan festival. Di tengah kemilau lampu panggung, gemuruh suara gamelan mebarung antara Institut Mpu Kuturan dan Universitas Pendidikan Ganesha, serta teriakan histeris remaja perempuan yang menyambut penampilan Nyoman Paul hingga keriuhan anak-anak muda mendengar lagu dari  Band Lolot.

Keberadaan topeng Rama dan Laksama seperti hanya jadi latar paggung untuk berfoto. Suaranya tak terdengar, pesannya tak terbaca. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, karya ini mampu membawa dua lapis makna sekaligus: pengingat akan ancaman ekologis akibat sampah plastik dan ajakan untuk kembali pada nilai-nilai luhur melalui topeng sebagai representasi identitas, spiritual dan warisan budaya.

Namun bagi saya Buleleng Festival 2025 tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Perubahan positif terlihat di banyak lini. Panitia terlihat lebih matang dalam perencanaan. Seperti pengelolaan sampah semakin terorganisir. Bak-bak sampah lebih mudah ditemukan di area festival, meskipun kesadaran pengunjung masih menjadi pekerjaan rumah. Beruntung, para relawan dengan cekatan membantu mengatasi masalah tersebut, tak segan memungut sampah demi menjaga kebersihan dan kenyamanan bersama.

Dua topeng di panggung utama Bulfest 2025 sebagai latar untuk berfoto | Foto: Ganesha

nisiatif menghadirkan karya dari sampah plastik ini menjadi langkah awal menuju pemahaman baru. Memang masih banyak yang belum paham makna di balik topeng-topeng tersebut. Tetapi namanya juga  proses perubahan, pasti butuh waktu dan usaha berkelanjutan. Sehingga makna mendalam itu dapat terbaca oleh masyarakat.

Barangkali juga ini jadi saat yang tepat bagi pemerintah daerah dan panitia festival untuk memikirkan strategi lanjutan pasca acara. Bisa jadi melalui diskusi terbuka, lokakarya, hingga pameran edukatif atau festival kecil yang lebih mengkhusus. Untuk menjadi sarana membedah makna karya semacam ini. Bahwa seni yang dihadirkan bukan hanya soal estetika, tetapi juga jadi upaya untuk menggugah kesadaran.

Bagaimana topeng-topeng itu sebagai simbol yang menyimpan cerita—tentang sampah yang merusak lingkungan atau tentang pengetahuan-pengetahuan leluhur yang perlahan terlupakan. Topeng Rama dan Laksmana dari sampah plastik itu memang belum bisa berbicara. Tapi bukan berarti mereka tak punya suara. Sepertinya kita-lah yang harus belajar mendengar. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025daur ulang sampah plastikRumah Plastiktopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Next Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co