24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 22, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“Kalau saya diminta merumuskan Pancasila dalam satu kata, maka saya akan memilih Gotong Royong.” — Ir. Soekarno

INDONESIA telah merdeka lebih dari 80 tahun, tapi entah mengapa, sidang pembaca yang budiman sekalian pasti merasa bahwa kita sebagai rakyat, masih seperti terus saja berjuang. Dulu melawan penjajah bersenjata, sekarang melawan para perampok berdasi. Ironisnya, yang sekarang menjajah seringkali justru sebangsa sendiri, menggunakan kekuasaan bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk memperkaya kroni dan memperkuat tahta kekuasaan. 

Dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari pemilu ke pemilu, kita dipertontonkan hal yang sama, seolah ada semacam template pemilu. Janji perubahan yang kemudian seiring waktu berubah menjadi pengkhianatan. Korupsi merajalela, penyalahgunaan jabatan makin terang-terangan, dan kekuasaan makin gemuk tapi makin jauh dari rakyat. Sepertinya ini bukan lagi negara demokrasi, tapi sudah menjurus ke kleptokrasi, pemerintahan oleh para pencuri, untuk para pencuri, demi para pencuri.

Dan dalam kisah panjang negara ini, ada satu hal penting, yaitu ruh bangsa ini yang pelan-pelan mati, adalah gotong royong. Ruh sosial bangsa Indonesia yang merupakan tulang punggung solidaritas. Jiwa Pancasila yang mulai dikubur pelan-pelan dan hidup-hidup di bawah proyek-proyek infrastruktur dan pencitraan digital. Tidak heran jika kemudian ada gambar tikus dalam garuda karya Rokhyat, sebagai suatu kritik sosial atas kondisi sekarang ini yang berbau kleptokrasi dan hal tak sedap lainnya. 

Gotong Royong: Dari Falsafah Menjadi Seremoni

Gotong royong sebenarnya, dulunya adalah identitas sosial bangsa ini. Ia bukan cuma sekadar kerja bakti seminggu sekali di sekitar rumah, tapi merupakan suatu cara hidup, tentang bagaimana manusia Indonesia memaknai kebersamaan, saling menolong, dan berbagi beban. Dalam gotong royong tidak ada pembicaraan soal imbalan, tapi karena adanya suatu kesadaran, bahwa kita semua saling terhubung dalam nasib dan sejarah.

Tapi hari ini, gotong royong direduksi menjadi kegiatan seremonial. Misal, bikin foto bareng saat bersih-bersih jalan, patungan uang saat hajatan, atau bantuan darurat saat ada bencana. Di luar itu, kita lebih memilih mengunci pagar rumah dan hati. Hal ini pasti ada sebabnya. Mengapa bisa demikian? Karena iklim politik dan sosial kita pelan-pelan membunuh membunuh falsafah gotong royong ini.

Masyarakat terus-menerus dipertontonkan dengan model kekuasaan yang oportunistik, individualistik, dan egoistik. Elit politik banyak yang tidak memberi teladan solidaritas, tapi secara tak sadar memberi contoh bagaimana cara licin untuk merampas hak orang lain diam-diam, mempertontonkan trik jitu bagaimana cara membungkam mereka yang bertanya.  Tentu akan sangat sulit untuk rakyat agar  bisa terus hidup dalam etika kolektif seperti gotong royong ini, sementara kekuasaan justru mengibarkan  panji-panji egosentrisme dan kelicikan.

Dari Negara Solidaritas ke Negara Transaksional

Dalam negara yang sehat, solidaritas dijaga dari atas dan dirawat dari bawah. Artinya ada peran negara dan ada peran rakyat bawah juga. Tapi kita hari ini melihat, negara berubah jadi mesin transaksi besar-besaran. Kita cek saja secara terang-terangan, bagaimana politik jadi dagang sapi, bantuan sosial jadi alat kampanye, jabatan jadi komoditi jual beli, bahkan hukum yang mustinya sarat moral bisa juga dinegosiasi. Akibatnya, rakyat ikut berubah cara berpikirnya.

Gotong royong mulai dianggap naif. Tolong-menolong dianggap bodoh. Semua diukur jadi logika untung rugi. Zygmunt Bauman pernah berkata: “Solidaritas menguap saat pasar mulai menentukan harga pada setiap relasi sosial.” Dan benar saja, ini yang terjadi. Yang bertahan bukan nilai-nilai, tapi kalkulasi alias itung-itungan. Di kampung, gotong royong menipis karena warga takut atau setidaknya enggan dimanfaatkan. Di kota, tetangga satu dinding pun sudah jamak jika tidak saling kenal. Di sosial media, orang lebih cepat berbagi berita duka ketimbang menawarkan bantuan nyata.

Semua ini tentu bukan salah rakyat semata. Ini adalah buah dari ketimpangan struktural dan rusaknya model kekuasaan. Masyarakat diajari untuk saling bersaing sejak kecil. Sekolah mengajarkan peringkat, bukan empati. Media, apa pun itu, senang menampilkan kekayaan, bukan kejujuran. Media memberitakan skandal, bukan lagi solidaritas. Dan media berperilaku demikian tentu bukan tanpa sebab. Cara pandang peradaban memang tengah bergeser.

Pendidikan Kita Cerdas Tapi Tidak Saling Peduli

Sekolah kita penuh dengan siswa yang pandai, tapi sedikit yang peka. Sepertinya kurang adanya keseimbangan. Misal, kita cenderung memuja nilai rapor, bukan nilai kemanusiaan. Kita juga mendewakan lomba dan olimpiade, tapi lupa untuk mengajarkan anak caranya duduk mendengarkan cerita teman yang sedang susah.

Gotong royong tidak akan bangkit kalau sekolah hanya mencetak teknokrat. Kita butuh pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar kemampuan kompetitif. Paulo Freire mengatakan, “Pendidikan sejati bukan transfer pengetahuan, melainkan pembebasan manusia.” Dan pembebasan tak akan pernah lahir dari ruang kelas yang sunyi dari rasa peduli. Tantangan ini makin berat sebenarnya, apalagi dengan  adanya gempuran AI yang makin masif.

Namun Harapan Itu Masih Ada

Meski sistem kita rusak dan kepemimpinan nasional sering mengecewakan, tetap saja kita harus yakin bahwa harapan belum mati. Di banyak pelosok, gotong royong masih hidup, meski kecil, meski tak viral. 

Ada petani yang saling bantu memanen ketika tenaga kurang. Atau  komunitas yang membangun perpustakaan desa secara swadaya. Ada juga sekelompok anak muda yang membuka dapur umum di tengah krisis. Di banyak tempat masih bisa kita jumpai  ibu-ibu yang saling jaga anak tetangga tanpa bayaran. Sesungguhnya, mereka inilah para penjaga nyala terakhir dari api gotong royong.

Tugas Kita Bersama

Seyogyanya kita bangun pendidikan berbasis kebersamaan.  Kurikulum di sekolah harus dirancang bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga mengasah rasa. Proyek kolaboratif, kegiatan sosial lintas kelas, dan pembelajaran berbasis komunitas harus jadi arus utama, hal yang mainstream. Desak teladan agar datang dari atas. Jangan biarkan pemimpin korup berbicara soal gotong royong dalam pidato.

Kita harus menuntut keteladanan nyata, mungkin berbentuk pengurangan privilege, transparansi, dan pelayanan publik yang adil. Aktifkan komunitas sebagai basis baru dari negara.
Artinya jika negara formal tak mampu jadi pelindung rakyat, maka komunitas harus jadi negara kecil yang melindungi satu sama lain. Bangun koperasi, komunitas pangan, sistem barter lokal, dan platform solidaritas digital.

Media juga harus berperan untuk merawat imajinasi sosial. Dengan demikian generasi baru bisa terus percaya bahwa dunia yang lebih adil dan penuh empati itu adalah mungkin. Jika ini berhasil, maka kita bisa mencegah apatisme menjadi budaya baru. Gotong royong harus jadi visi bersama, bukan sekadar koleksi di museum ingatan masa lalu.

Jalan Pulang Bernama Solidaritas

Gotong royong jangan hanya kita maknai sebagai warisan budaya. Sebagaimana Pancasila, Ia adalah kompas moral bangsa. Suatu penentu arah.  Ketika kita kehilangan arah, saya kira kita sepakat bahwa hal itu sedang terjadi seperti saat ini, saat negara menjadi mesin kekuasaan kosong, maka semangat dan falsafah gotong royong bisa menjadi jalan pulang.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan negara, bukan elit politik dan ekonomi, bukan partai, bukan investor asing. Yang menyelamatkan kita adalah kita sendiri, saat kita mau berhenti bersaing dan mulai saling merangkul. Dan selama masih ada satu orang yang rela membantu tanpa pamrih, maka Indonesia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya. Setidaknya, karena satu orang itu, Pancasila dan Republik ini masih bertahan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru
Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: gotong royongkleptokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengetahuan, Wakil Rakyat, Hiburan dan Topeng Monyet

Next Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co