2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 22, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“Kalau saya diminta merumuskan Pancasila dalam satu kata, maka saya akan memilih Gotong Royong.” — Ir. Soekarno

INDONESIA telah merdeka lebih dari 80 tahun, tapi entah mengapa, sidang pembaca yang budiman sekalian pasti merasa bahwa kita sebagai rakyat, masih seperti terus saja berjuang. Dulu melawan penjajah bersenjata, sekarang melawan para perampok berdasi. Ironisnya, yang sekarang menjajah seringkali justru sebangsa sendiri, menggunakan kekuasaan bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk memperkaya kroni dan memperkuat tahta kekuasaan. 

Dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari pemilu ke pemilu, kita dipertontonkan hal yang sama, seolah ada semacam template pemilu. Janji perubahan yang kemudian seiring waktu berubah menjadi pengkhianatan. Korupsi merajalela, penyalahgunaan jabatan makin terang-terangan, dan kekuasaan makin gemuk tapi makin jauh dari rakyat. Sepertinya ini bukan lagi negara demokrasi, tapi sudah menjurus ke kleptokrasi, pemerintahan oleh para pencuri, untuk para pencuri, demi para pencuri.

Dan dalam kisah panjang negara ini, ada satu hal penting, yaitu ruh bangsa ini yang pelan-pelan mati, adalah gotong royong. Ruh sosial bangsa Indonesia yang merupakan tulang punggung solidaritas. Jiwa Pancasila yang mulai dikubur pelan-pelan dan hidup-hidup di bawah proyek-proyek infrastruktur dan pencitraan digital. Tidak heran jika kemudian ada gambar tikus dalam garuda karya Rokhyat, sebagai suatu kritik sosial atas kondisi sekarang ini yang berbau kleptokrasi dan hal tak sedap lainnya. 

Gotong Royong: Dari Falsafah Menjadi Seremoni

Gotong royong sebenarnya, dulunya adalah identitas sosial bangsa ini. Ia bukan cuma sekadar kerja bakti seminggu sekali di sekitar rumah, tapi merupakan suatu cara hidup, tentang bagaimana manusia Indonesia memaknai kebersamaan, saling menolong, dan berbagi beban. Dalam gotong royong tidak ada pembicaraan soal imbalan, tapi karena adanya suatu kesadaran, bahwa kita semua saling terhubung dalam nasib dan sejarah.

Tapi hari ini, gotong royong direduksi menjadi kegiatan seremonial. Misal, bikin foto bareng saat bersih-bersih jalan, patungan uang saat hajatan, atau bantuan darurat saat ada bencana. Di luar itu, kita lebih memilih mengunci pagar rumah dan hati. Hal ini pasti ada sebabnya. Mengapa bisa demikian? Karena iklim politik dan sosial kita pelan-pelan membunuh membunuh falsafah gotong royong ini.

Masyarakat terus-menerus dipertontonkan dengan model kekuasaan yang oportunistik, individualistik, dan egoistik. Elit politik banyak yang tidak memberi teladan solidaritas, tapi secara tak sadar memberi contoh bagaimana cara licin untuk merampas hak orang lain diam-diam, mempertontonkan trik jitu bagaimana cara membungkam mereka yang bertanya.  Tentu akan sangat sulit untuk rakyat agar  bisa terus hidup dalam etika kolektif seperti gotong royong ini, sementara kekuasaan justru mengibarkan  panji-panji egosentrisme dan kelicikan.

Dari Negara Solidaritas ke Negara Transaksional

Dalam negara yang sehat, solidaritas dijaga dari atas dan dirawat dari bawah. Artinya ada peran negara dan ada peran rakyat bawah juga. Tapi kita hari ini melihat, negara berubah jadi mesin transaksi besar-besaran. Kita cek saja secara terang-terangan, bagaimana politik jadi dagang sapi, bantuan sosial jadi alat kampanye, jabatan jadi komoditi jual beli, bahkan hukum yang mustinya sarat moral bisa juga dinegosiasi. Akibatnya, rakyat ikut berubah cara berpikirnya.

Gotong royong mulai dianggap naif. Tolong-menolong dianggap bodoh. Semua diukur jadi logika untung rugi. Zygmunt Bauman pernah berkata: “Solidaritas menguap saat pasar mulai menentukan harga pada setiap relasi sosial.” Dan benar saja, ini yang terjadi. Yang bertahan bukan nilai-nilai, tapi kalkulasi alias itung-itungan. Di kampung, gotong royong menipis karena warga takut atau setidaknya enggan dimanfaatkan. Di kota, tetangga satu dinding pun sudah jamak jika tidak saling kenal. Di sosial media, orang lebih cepat berbagi berita duka ketimbang menawarkan bantuan nyata.

Semua ini tentu bukan salah rakyat semata. Ini adalah buah dari ketimpangan struktural dan rusaknya model kekuasaan. Masyarakat diajari untuk saling bersaing sejak kecil. Sekolah mengajarkan peringkat, bukan empati. Media, apa pun itu, senang menampilkan kekayaan, bukan kejujuran. Media memberitakan skandal, bukan lagi solidaritas. Dan media berperilaku demikian tentu bukan tanpa sebab. Cara pandang peradaban memang tengah bergeser.

Pendidikan Kita Cerdas Tapi Tidak Saling Peduli

Sekolah kita penuh dengan siswa yang pandai, tapi sedikit yang peka. Sepertinya kurang adanya keseimbangan. Misal, kita cenderung memuja nilai rapor, bukan nilai kemanusiaan. Kita juga mendewakan lomba dan olimpiade, tapi lupa untuk mengajarkan anak caranya duduk mendengarkan cerita teman yang sedang susah.

Gotong royong tidak akan bangkit kalau sekolah hanya mencetak teknokrat. Kita butuh pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar kemampuan kompetitif. Paulo Freire mengatakan, “Pendidikan sejati bukan transfer pengetahuan, melainkan pembebasan manusia.” Dan pembebasan tak akan pernah lahir dari ruang kelas yang sunyi dari rasa peduli. Tantangan ini makin berat sebenarnya, apalagi dengan  adanya gempuran AI yang makin masif.

Namun Harapan Itu Masih Ada

Meski sistem kita rusak dan kepemimpinan nasional sering mengecewakan, tetap saja kita harus yakin bahwa harapan belum mati. Di banyak pelosok, gotong royong masih hidup, meski kecil, meski tak viral. 

Ada petani yang saling bantu memanen ketika tenaga kurang. Atau  komunitas yang membangun perpustakaan desa secara swadaya. Ada juga sekelompok anak muda yang membuka dapur umum di tengah krisis. Di banyak tempat masih bisa kita jumpai  ibu-ibu yang saling jaga anak tetangga tanpa bayaran. Sesungguhnya, mereka inilah para penjaga nyala terakhir dari api gotong royong.

Tugas Kita Bersama

Seyogyanya kita bangun pendidikan berbasis kebersamaan.  Kurikulum di sekolah harus dirancang bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga mengasah rasa. Proyek kolaboratif, kegiatan sosial lintas kelas, dan pembelajaran berbasis komunitas harus jadi arus utama, hal yang mainstream. Desak teladan agar datang dari atas. Jangan biarkan pemimpin korup berbicara soal gotong royong dalam pidato.

Kita harus menuntut keteladanan nyata, mungkin berbentuk pengurangan privilege, transparansi, dan pelayanan publik yang adil. Aktifkan komunitas sebagai basis baru dari negara.
Artinya jika negara formal tak mampu jadi pelindung rakyat, maka komunitas harus jadi negara kecil yang melindungi satu sama lain. Bangun koperasi, komunitas pangan, sistem barter lokal, dan platform solidaritas digital.

Media juga harus berperan untuk merawat imajinasi sosial. Dengan demikian generasi baru bisa terus percaya bahwa dunia yang lebih adil dan penuh empati itu adalah mungkin. Jika ini berhasil, maka kita bisa mencegah apatisme menjadi budaya baru. Gotong royong harus jadi visi bersama, bukan sekadar koleksi di museum ingatan masa lalu.

Jalan Pulang Bernama Solidaritas

Gotong royong jangan hanya kita maknai sebagai warisan budaya. Sebagaimana Pancasila, Ia adalah kompas moral bangsa. Suatu penentu arah.  Ketika kita kehilangan arah, saya kira kita sepakat bahwa hal itu sedang terjadi seperti saat ini, saat negara menjadi mesin kekuasaan kosong, maka semangat dan falsafah gotong royong bisa menjadi jalan pulang.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan negara, bukan elit politik dan ekonomi, bukan partai, bukan investor asing. Yang menyelamatkan kita adalah kita sendiri, saat kita mau berhenti bersaing dan mulai saling merangkul. Dan selama masih ada satu orang yang rela membantu tanpa pamrih, maka Indonesia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya. Setidaknya, karena satu orang itu, Pancasila dan Republik ini masih bertahan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru
Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: gotong royongkleptokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengetahuan, Wakil Rakyat, Hiburan dan Topeng Monyet

Next Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co