13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 22, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“Kalau saya diminta merumuskan Pancasila dalam satu kata, maka saya akan memilih Gotong Royong.” — Ir. Soekarno

INDONESIA telah merdeka lebih dari 80 tahun, tapi entah mengapa, sidang pembaca yang budiman sekalian pasti merasa bahwa kita sebagai rakyat, masih seperti terus saja berjuang. Dulu melawan penjajah bersenjata, sekarang melawan para perampok berdasi. Ironisnya, yang sekarang menjajah seringkali justru sebangsa sendiri, menggunakan kekuasaan bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk memperkaya kroni dan memperkuat tahta kekuasaan. 

Dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari pemilu ke pemilu, kita dipertontonkan hal yang sama, seolah ada semacam template pemilu. Janji perubahan yang kemudian seiring waktu berubah menjadi pengkhianatan. Korupsi merajalela, penyalahgunaan jabatan makin terang-terangan, dan kekuasaan makin gemuk tapi makin jauh dari rakyat. Sepertinya ini bukan lagi negara demokrasi, tapi sudah menjurus ke kleptokrasi, pemerintahan oleh para pencuri, untuk para pencuri, demi para pencuri.

Dan dalam kisah panjang negara ini, ada satu hal penting, yaitu ruh bangsa ini yang pelan-pelan mati, adalah gotong royong. Ruh sosial bangsa Indonesia yang merupakan tulang punggung solidaritas. Jiwa Pancasila yang mulai dikubur pelan-pelan dan hidup-hidup di bawah proyek-proyek infrastruktur dan pencitraan digital. Tidak heran jika kemudian ada gambar tikus dalam garuda karya Rokhyat, sebagai suatu kritik sosial atas kondisi sekarang ini yang berbau kleptokrasi dan hal tak sedap lainnya. 

Gotong Royong: Dari Falsafah Menjadi Seremoni

Gotong royong sebenarnya, dulunya adalah identitas sosial bangsa ini. Ia bukan cuma sekadar kerja bakti seminggu sekali di sekitar rumah, tapi merupakan suatu cara hidup, tentang bagaimana manusia Indonesia memaknai kebersamaan, saling menolong, dan berbagi beban. Dalam gotong royong tidak ada pembicaraan soal imbalan, tapi karena adanya suatu kesadaran, bahwa kita semua saling terhubung dalam nasib dan sejarah.

Tapi hari ini, gotong royong direduksi menjadi kegiatan seremonial. Misal, bikin foto bareng saat bersih-bersih jalan, patungan uang saat hajatan, atau bantuan darurat saat ada bencana. Di luar itu, kita lebih memilih mengunci pagar rumah dan hati. Hal ini pasti ada sebabnya. Mengapa bisa demikian? Karena iklim politik dan sosial kita pelan-pelan membunuh membunuh falsafah gotong royong ini.

Masyarakat terus-menerus dipertontonkan dengan model kekuasaan yang oportunistik, individualistik, dan egoistik. Elit politik banyak yang tidak memberi teladan solidaritas, tapi secara tak sadar memberi contoh bagaimana cara licin untuk merampas hak orang lain diam-diam, mempertontonkan trik jitu bagaimana cara membungkam mereka yang bertanya.  Tentu akan sangat sulit untuk rakyat agar  bisa terus hidup dalam etika kolektif seperti gotong royong ini, sementara kekuasaan justru mengibarkan  panji-panji egosentrisme dan kelicikan.

Dari Negara Solidaritas ke Negara Transaksional

Dalam negara yang sehat, solidaritas dijaga dari atas dan dirawat dari bawah. Artinya ada peran negara dan ada peran rakyat bawah juga. Tapi kita hari ini melihat, negara berubah jadi mesin transaksi besar-besaran. Kita cek saja secara terang-terangan, bagaimana politik jadi dagang sapi, bantuan sosial jadi alat kampanye, jabatan jadi komoditi jual beli, bahkan hukum yang mustinya sarat moral bisa juga dinegosiasi. Akibatnya, rakyat ikut berubah cara berpikirnya.

Gotong royong mulai dianggap naif. Tolong-menolong dianggap bodoh. Semua diukur jadi logika untung rugi. Zygmunt Bauman pernah berkata: “Solidaritas menguap saat pasar mulai menentukan harga pada setiap relasi sosial.” Dan benar saja, ini yang terjadi. Yang bertahan bukan nilai-nilai, tapi kalkulasi alias itung-itungan. Di kampung, gotong royong menipis karena warga takut atau setidaknya enggan dimanfaatkan. Di kota, tetangga satu dinding pun sudah jamak jika tidak saling kenal. Di sosial media, orang lebih cepat berbagi berita duka ketimbang menawarkan bantuan nyata.

Semua ini tentu bukan salah rakyat semata. Ini adalah buah dari ketimpangan struktural dan rusaknya model kekuasaan. Masyarakat diajari untuk saling bersaing sejak kecil. Sekolah mengajarkan peringkat, bukan empati. Media, apa pun itu, senang menampilkan kekayaan, bukan kejujuran. Media memberitakan skandal, bukan lagi solidaritas. Dan media berperilaku demikian tentu bukan tanpa sebab. Cara pandang peradaban memang tengah bergeser.

Pendidikan Kita Cerdas Tapi Tidak Saling Peduli

Sekolah kita penuh dengan siswa yang pandai, tapi sedikit yang peka. Sepertinya kurang adanya keseimbangan. Misal, kita cenderung memuja nilai rapor, bukan nilai kemanusiaan. Kita juga mendewakan lomba dan olimpiade, tapi lupa untuk mengajarkan anak caranya duduk mendengarkan cerita teman yang sedang susah.

Gotong royong tidak akan bangkit kalau sekolah hanya mencetak teknokrat. Kita butuh pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar kemampuan kompetitif. Paulo Freire mengatakan, “Pendidikan sejati bukan transfer pengetahuan, melainkan pembebasan manusia.” Dan pembebasan tak akan pernah lahir dari ruang kelas yang sunyi dari rasa peduli. Tantangan ini makin berat sebenarnya, apalagi dengan  adanya gempuran AI yang makin masif.

Namun Harapan Itu Masih Ada

Meski sistem kita rusak dan kepemimpinan nasional sering mengecewakan, tetap saja kita harus yakin bahwa harapan belum mati. Di banyak pelosok, gotong royong masih hidup, meski kecil, meski tak viral. 

Ada petani yang saling bantu memanen ketika tenaga kurang. Atau  komunitas yang membangun perpustakaan desa secara swadaya. Ada juga sekelompok anak muda yang membuka dapur umum di tengah krisis. Di banyak tempat masih bisa kita jumpai  ibu-ibu yang saling jaga anak tetangga tanpa bayaran. Sesungguhnya, mereka inilah para penjaga nyala terakhir dari api gotong royong.

Tugas Kita Bersama

Seyogyanya kita bangun pendidikan berbasis kebersamaan.  Kurikulum di sekolah harus dirancang bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga mengasah rasa. Proyek kolaboratif, kegiatan sosial lintas kelas, dan pembelajaran berbasis komunitas harus jadi arus utama, hal yang mainstream. Desak teladan agar datang dari atas. Jangan biarkan pemimpin korup berbicara soal gotong royong dalam pidato.

Kita harus menuntut keteladanan nyata, mungkin berbentuk pengurangan privilege, transparansi, dan pelayanan publik yang adil. Aktifkan komunitas sebagai basis baru dari negara.
Artinya jika negara formal tak mampu jadi pelindung rakyat, maka komunitas harus jadi negara kecil yang melindungi satu sama lain. Bangun koperasi, komunitas pangan, sistem barter lokal, dan platform solidaritas digital.

Media juga harus berperan untuk merawat imajinasi sosial. Dengan demikian generasi baru bisa terus percaya bahwa dunia yang lebih adil dan penuh empati itu adalah mungkin. Jika ini berhasil, maka kita bisa mencegah apatisme menjadi budaya baru. Gotong royong harus jadi visi bersama, bukan sekadar koleksi di museum ingatan masa lalu.

Jalan Pulang Bernama Solidaritas

Gotong royong jangan hanya kita maknai sebagai warisan budaya. Sebagaimana Pancasila, Ia adalah kompas moral bangsa. Suatu penentu arah.  Ketika kita kehilangan arah, saya kira kita sepakat bahwa hal itu sedang terjadi seperti saat ini, saat negara menjadi mesin kekuasaan kosong, maka semangat dan falsafah gotong royong bisa menjadi jalan pulang.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan negara, bukan elit politik dan ekonomi, bukan partai, bukan investor asing. Yang menyelamatkan kita adalah kita sendiri, saat kita mau berhenti bersaing dan mulai saling merangkul. Dan selama masih ada satu orang yang rela membantu tanpa pamrih, maka Indonesia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya. Setidaknya, karena satu orang itu, Pancasila dan Republik ini masih bertahan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru
Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: gotong royongkleptokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengetahuan, Wakil Rakyat, Hiburan dan Topeng Monyet

Next Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co