2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 22, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“Kalau saya diminta merumuskan Pancasila dalam satu kata, maka saya akan memilih Gotong Royong.” — Ir. Soekarno

INDONESIA telah merdeka lebih dari 80 tahun, tapi entah mengapa, sidang pembaca yang budiman sekalian pasti merasa bahwa kita sebagai rakyat, masih seperti terus saja berjuang. Dulu melawan penjajah bersenjata, sekarang melawan para perampok berdasi. Ironisnya, yang sekarang menjajah seringkali justru sebangsa sendiri, menggunakan kekuasaan bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk memperkaya kroni dan memperkuat tahta kekuasaan. 

Dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari pemilu ke pemilu, kita dipertontonkan hal yang sama, seolah ada semacam template pemilu. Janji perubahan yang kemudian seiring waktu berubah menjadi pengkhianatan. Korupsi merajalela, penyalahgunaan jabatan makin terang-terangan, dan kekuasaan makin gemuk tapi makin jauh dari rakyat. Sepertinya ini bukan lagi negara demokrasi, tapi sudah menjurus ke kleptokrasi, pemerintahan oleh para pencuri, untuk para pencuri, demi para pencuri.

Dan dalam kisah panjang negara ini, ada satu hal penting, yaitu ruh bangsa ini yang pelan-pelan mati, adalah gotong royong. Ruh sosial bangsa Indonesia yang merupakan tulang punggung solidaritas. Jiwa Pancasila yang mulai dikubur pelan-pelan dan hidup-hidup di bawah proyek-proyek infrastruktur dan pencitraan digital. Tidak heran jika kemudian ada gambar tikus dalam garuda karya Rokhyat, sebagai suatu kritik sosial atas kondisi sekarang ini yang berbau kleptokrasi dan hal tak sedap lainnya. 

Gotong Royong: Dari Falsafah Menjadi Seremoni

Gotong royong sebenarnya, dulunya adalah identitas sosial bangsa ini. Ia bukan cuma sekadar kerja bakti seminggu sekali di sekitar rumah, tapi merupakan suatu cara hidup, tentang bagaimana manusia Indonesia memaknai kebersamaan, saling menolong, dan berbagi beban. Dalam gotong royong tidak ada pembicaraan soal imbalan, tapi karena adanya suatu kesadaran, bahwa kita semua saling terhubung dalam nasib dan sejarah.

Tapi hari ini, gotong royong direduksi menjadi kegiatan seremonial. Misal, bikin foto bareng saat bersih-bersih jalan, patungan uang saat hajatan, atau bantuan darurat saat ada bencana. Di luar itu, kita lebih memilih mengunci pagar rumah dan hati. Hal ini pasti ada sebabnya. Mengapa bisa demikian? Karena iklim politik dan sosial kita pelan-pelan membunuh membunuh falsafah gotong royong ini.

Masyarakat terus-menerus dipertontonkan dengan model kekuasaan yang oportunistik, individualistik, dan egoistik. Elit politik banyak yang tidak memberi teladan solidaritas, tapi secara tak sadar memberi contoh bagaimana cara licin untuk merampas hak orang lain diam-diam, mempertontonkan trik jitu bagaimana cara membungkam mereka yang bertanya.  Tentu akan sangat sulit untuk rakyat agar  bisa terus hidup dalam etika kolektif seperti gotong royong ini, sementara kekuasaan justru mengibarkan  panji-panji egosentrisme dan kelicikan.

Dari Negara Solidaritas ke Negara Transaksional

Dalam negara yang sehat, solidaritas dijaga dari atas dan dirawat dari bawah. Artinya ada peran negara dan ada peran rakyat bawah juga. Tapi kita hari ini melihat, negara berubah jadi mesin transaksi besar-besaran. Kita cek saja secara terang-terangan, bagaimana politik jadi dagang sapi, bantuan sosial jadi alat kampanye, jabatan jadi komoditi jual beli, bahkan hukum yang mustinya sarat moral bisa juga dinegosiasi. Akibatnya, rakyat ikut berubah cara berpikirnya.

Gotong royong mulai dianggap naif. Tolong-menolong dianggap bodoh. Semua diukur jadi logika untung rugi. Zygmunt Bauman pernah berkata: “Solidaritas menguap saat pasar mulai menentukan harga pada setiap relasi sosial.” Dan benar saja, ini yang terjadi. Yang bertahan bukan nilai-nilai, tapi kalkulasi alias itung-itungan. Di kampung, gotong royong menipis karena warga takut atau setidaknya enggan dimanfaatkan. Di kota, tetangga satu dinding pun sudah jamak jika tidak saling kenal. Di sosial media, orang lebih cepat berbagi berita duka ketimbang menawarkan bantuan nyata.

Semua ini tentu bukan salah rakyat semata. Ini adalah buah dari ketimpangan struktural dan rusaknya model kekuasaan. Masyarakat diajari untuk saling bersaing sejak kecil. Sekolah mengajarkan peringkat, bukan empati. Media, apa pun itu, senang menampilkan kekayaan, bukan kejujuran. Media memberitakan skandal, bukan lagi solidaritas. Dan media berperilaku demikian tentu bukan tanpa sebab. Cara pandang peradaban memang tengah bergeser.

Pendidikan Kita Cerdas Tapi Tidak Saling Peduli

Sekolah kita penuh dengan siswa yang pandai, tapi sedikit yang peka. Sepertinya kurang adanya keseimbangan. Misal, kita cenderung memuja nilai rapor, bukan nilai kemanusiaan. Kita juga mendewakan lomba dan olimpiade, tapi lupa untuk mengajarkan anak caranya duduk mendengarkan cerita teman yang sedang susah.

Gotong royong tidak akan bangkit kalau sekolah hanya mencetak teknokrat. Kita butuh pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar kemampuan kompetitif. Paulo Freire mengatakan, “Pendidikan sejati bukan transfer pengetahuan, melainkan pembebasan manusia.” Dan pembebasan tak akan pernah lahir dari ruang kelas yang sunyi dari rasa peduli. Tantangan ini makin berat sebenarnya, apalagi dengan  adanya gempuran AI yang makin masif.

Namun Harapan Itu Masih Ada

Meski sistem kita rusak dan kepemimpinan nasional sering mengecewakan, tetap saja kita harus yakin bahwa harapan belum mati. Di banyak pelosok, gotong royong masih hidup, meski kecil, meski tak viral. 

Ada petani yang saling bantu memanen ketika tenaga kurang. Atau  komunitas yang membangun perpustakaan desa secara swadaya. Ada juga sekelompok anak muda yang membuka dapur umum di tengah krisis. Di banyak tempat masih bisa kita jumpai  ibu-ibu yang saling jaga anak tetangga tanpa bayaran. Sesungguhnya, mereka inilah para penjaga nyala terakhir dari api gotong royong.

Tugas Kita Bersama

Seyogyanya kita bangun pendidikan berbasis kebersamaan.  Kurikulum di sekolah harus dirancang bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga mengasah rasa. Proyek kolaboratif, kegiatan sosial lintas kelas, dan pembelajaran berbasis komunitas harus jadi arus utama, hal yang mainstream. Desak teladan agar datang dari atas. Jangan biarkan pemimpin korup berbicara soal gotong royong dalam pidato.

Kita harus menuntut keteladanan nyata, mungkin berbentuk pengurangan privilege, transparansi, dan pelayanan publik yang adil. Aktifkan komunitas sebagai basis baru dari negara.
Artinya jika negara formal tak mampu jadi pelindung rakyat, maka komunitas harus jadi negara kecil yang melindungi satu sama lain. Bangun koperasi, komunitas pangan, sistem barter lokal, dan platform solidaritas digital.

Media juga harus berperan untuk merawat imajinasi sosial. Dengan demikian generasi baru bisa terus percaya bahwa dunia yang lebih adil dan penuh empati itu adalah mungkin. Jika ini berhasil, maka kita bisa mencegah apatisme menjadi budaya baru. Gotong royong harus jadi visi bersama, bukan sekadar koleksi di museum ingatan masa lalu.

Jalan Pulang Bernama Solidaritas

Gotong royong jangan hanya kita maknai sebagai warisan budaya. Sebagaimana Pancasila, Ia adalah kompas moral bangsa. Suatu penentu arah.  Ketika kita kehilangan arah, saya kira kita sepakat bahwa hal itu sedang terjadi seperti saat ini, saat negara menjadi mesin kekuasaan kosong, maka semangat dan falsafah gotong royong bisa menjadi jalan pulang.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan negara, bukan elit politik dan ekonomi, bukan partai, bukan investor asing. Yang menyelamatkan kita adalah kita sendiri, saat kita mau berhenti bersaing dan mulai saling merangkul. Dan selama masih ada satu orang yang rela membantu tanpa pamrih, maka Indonesia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya. Setidaknya, karena satu orang itu, Pancasila dan Republik ini masih bertahan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru
Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: gotong royongkleptokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengetahuan, Wakil Rakyat, Hiburan dan Topeng Monyet

Next Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co