2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

tatkala by tatkala
August 22, 2025
in Pameran
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana,

DIREKTUR Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan, Putu Fajar Arcana adalah tubuh yang menampung banyak bahasa. Ia seorang jurnalis, perupa, pelaku seni pertunjukan, dan sastrawan sekaligus.

“Ia menulis untuk merapikan pikiran, melukis untuk menenangkan jiwa, berpentas untuk menguji gagasan, dan bersastra untuk menjaga kedalaman. Dari sana lahir karya-karya yang bukat sekadar enak dilihat, tetapi menyembuhkan, menuntun, dan menggerakkan,” kata Ahmad Mahendra.

Orasi budaya Ahmad Mahendra itu disampaikan saat penutupan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, Kamis (21/8/2025) di The Gallery The Darmawangsa Jakarta, yang dibacakan oleh Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal.

Saat penutupan pameran Arcanaartwork mengundang para sastrawan, jurnalis budaya, pelaku budaya, dan pegiat seni, untuk berdialog bersama Andi Syamsu Rijal. Sore dan malam itu menjadi lebih indah ketika penulis Novka Kuaranita, Sasti Gotama, Nawa Tunggal, Devie Matahari, Ari Sumitro, dan Fikar W Edha membacakan puisi. Turut pula memberi testimoni jurnalis senior Seno Joko Suyono, Sarie Febriane, Indah Ariani, dan musisi Ananda Sukarlan.

Menurut Mahendra, sebagai orang Bali, Bli Can (panggilan Putu Fajar Arcana), memahami bahwa seni bukan hiasan, seni adalah tata cara hidup. “Di balik lengkung warna dan ritme kanvasnya, kita bisa merasakan jejaring nilai, Rwa Bineda yang menimbang terang gelap. Ia mengolah duka menjadi cahaya. Inilah lelaku konsisten, rendah hati, tekun, dan penuh cinta,” ujar Mahendra.

Dialog

 Saat sesi dialog yang dipandu Novka, peserta mempertajam pertanyaan tentang banyak bidang seni yang ditekuni Bli Can. Bahkan seorang anak muda bernama Elias, mempertanyakan siapakah aku, jika banyak bidang yang ditekuni.

Dengan mengambil metafora kehidupan seorang petani, Bli Can menegaskan, bahwa para petani di desa tidak pernah berhitung soal hasil. Mereka bekerja dengan menanam, merawat dengan tekun, dan hasilnya tidak saja berupa panen, “Tetapi keindahan. Para petani tidak pernah berpikir tentang membuat pemandangan indah saat menanam, merawat, dan memelihara sawah dan padi-padi di Jatiluwih. Kini banyak wisatawan menikmati keindahan pemandangannya,” katanya.

 Begitulah seorang pekerja, tambah Bli Can, dalam menuntas seluruh pekerjaannya. Seni adalah sawah yang harus ditanami dan dirawat dengan gagasan dan kreativitas. Tidak perlu memikirkan hasil, “Bahwa nanti menjadi puisi, cerpen, novel, drama, atau lukisan, itu buah dari totalitas kerja dan kreativitas,” tegas Bli Can.

Pembukaan

Pembukaan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, dilaksanakan pada Sabtu (16/8/2025) di Pool Garden, The Dharmawangsa, oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Puspa mengatakan, pameran Chromatica tak hanya penting bagi dunia seni, tetapi turut serta membentuk ekosistem budaya, yang dibutuhkan oleh dunia pariwisata.

Industri pariwisata semakin hari terus bergerak menuju pada pariwisata dengan minat khusus seperti art tourism. “Dan seni menjadi motor penggerak wisatawan untuk bepergian ke satu tempat tertentu. Semakin banyak festival, semakin banyak pameran, akan semakin menarik bagi wisatawan,” ujar Luh Puspa.

Saat pembukaan pameran, juga digelar happening art bertajuk “Tubuh Bertumbuh: Dukkha-Daya-Cahaya” yang menampilkan Sha Ine Febriyanti, Joane Win, dan Try Anggara. Naskah yang dutulis Angelina Arcana ini, secara khusus merespons babakan seni rupa yang dilalui ayahnya selama 2 tahun terakhir. Pameran berlangsung, 17-21 Agustus 2025 di The Gallery The Dharmawangsa Jakarta.

“Berangkat dari Dukkha, yakni penderitaan, lalu bergerak memberdayakan diri lewat meditasi dan kontemplasi, sampai akhirnya menemukan cahaya, berupa lukisan-lukisan yang penuh makna,” tutur Angel.

Babakan-babakan dalam pentas dan lukisan, menurut Angel, mencerminkan pencarian ayahnya menuju penyembuhan batin. “Seni adalah media paling asyik untuk melakukan healing,” kata putri sulung Bli Can ini.

Menurut Putu Fajar Arcana karya-karya yang ditampilkannya merupakan hasil proses healing yang ia jalani sejak 2 tahun terakhir. Ia pernah berada pada titik terendah dalam hidupnya, sehingga mengalami luka batin. Putu bahkan sempat harus berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari kesembuhan. Secara kebetulan pada akhir 1990-an, ia pernah belajar melukis pada maestro seni rupa Made Wianta. Psikolognya menyarankan agar kemampuannya melukis terus dikembangkan untuk perlahan-lahan mengikis luka batin, dan menemukan keseimbangan hidup.

Lapis-lapis warna yang muncul dalam kanvas-kanvas Putu, ibarat cahaya yang membangkitkan gairah menuju ketenteraman hidup. “Efek warna memberi saya perasaan rileks dan kemudian menenangkan,” kata Putu di sela-sela ruang pameran. Pameran dan pementasan terwujud berkat kerja sama lintas lembaga, yakni Arcanaartwoks, The Dharmawangsa, Bakti Budaya Djarum Foundation, serta dukungan dari Sababay dan Sango Ceramics.

Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali tahun 1965. Putu lebih dikenal sebagai jurnalis dan penulis. Ia menjadi jurnalis harian Kompas Jakarta 1994-2022. Buku-buku tunggalnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berupa novel, cerpen, puisi, drama, dan esai. Selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat melukis tak biasa.

Ia kemudian memperkaya teknik ini dengan mengembangkan konsep melukis berdasarkan lima unsur alam: padat, cair, api, angin, dan gas. Pertama kali berpameran saat membantu para petani di Gianyar dengan mengikuti pameran Lukisan Bukan Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar. Kemudian menggelar pameran Mencuri Waktu (2000) di kantor Kompas Biro Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, Grateful Dead (2013) di Bentara Budaya Jakarta. Tahun 2024 dan 2025 menyumbangkan karya dalam lelang Sidharta Auctioneer Jakarta untuk mendukung Indonesian Dance Festival (IDF).

Tiga seri karya

Menurut Kurator Pameran Chromatica Trianzani Sulshi, pameran ini menampilkan tiga seri yang masing-masing merupakan tahapan pencarian spiritualitas pelukisnya. Pertama, karya-karya yang disebut “Mysterious Garden” ditandai dengan pertanyaan besar pelukisnya: kemana manusia setelah mati? Apakah takdir hidup bisa diubah? Putu menampilkan karya-karya yang bercirikan seperti taman, kupu-kupu yang berterbangan, serta perempuan berpayung yang sedang berjalan menjauh.

“Semua elemen itu hadir secara simbolik. Taman, representasi dari semesta yang memberi dan mencukupi apa pun kebutuhan manusia. Lalu kupu-kupu adalah simbol metamorfosa, yang melebihi kemampuan manusia. Dan terakhir, perempuan berpayung tanda bahwa selama perjalanan menuju takdir, manusia hanya bisa memayungi diri. Selalu bersiap untuk segala kemungkinan,” kata Trianzani.

Pada seri kedua, tambah Trianzani, Putu melukis perjalanan para biksu untuk menempa diri. Seri ini diberi nama “Spiritual Journey”, dengan ciri utamanya selalu terdapat drawing para biksu yang berjalan membelakangi bidang depan kanvas.

Penggambaran punggung para biksu, kata Trianzani, memberi kesan spiritual yang mendalam. Meskipun hanya tampak bagian punggung, gestur para biksu memberi kesan yang khusyuk dan tepekur di dalam menjalani laku spiritual. “Dalam tradisi di Thailand dan Myanmar laku ini disebut dengan thudong, satu laku perjalanan spiritual untuk melatih kesabaran dan ketekunan, sebelum akhirnya mencapai kesadaran,” ujar Trianzani.

Seri ketiga disebut Yin-Yang, di mana pelukis menggunakan bidang kanvas bundar yang dibagi menjadi dua bagian. Teknik pembagian bidang gambar ini, mengingatkan pada simbol Yin-Yang, yang ditandai dengan warna hitam dan putih. Putu kemudian mengeksplorasi teknik melukis fluid art dan dorongan angin untuk mencapai bentuk-bentuk artistiknya.

Tiga seri karya itu, tambah Trianzani, menjadi simpul penting dalam pencarian spiritual Putu Fajar Arcana. Ia mempertanyakan takdir kehilangan yang pernah menderanya, sebagai renungan pertama-tamanya. Meskipun menemukan jawaban, bahwa semesta telah memberi begitu besar untuk kelangsungan hidup manusia, ia tetap tak berhenti bertanya. Apakah pendalaman spiritual, seperti laku para biksu, akan memberi jawaban tentang takdir hidup manusia?

 Pada akhirnya seluruh pertanyaan itu menemukan muaranya pada keseimbangan antara body, mind, and soul. Dalam terminologi filsafat Timur, keseimbangan antara makrokosmos (alam semesta) dengan mikrokosmos (diri manusia). Dalam filosofi Jawa dan Bali disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, bersatunya diri dengan Sang Maha Pencipta.

Menurut Putu Fajar Arcana, lukisan-lukisan yang ia kerjakan seperti pijaran emosi yang campur aduk. Oleh sebab itu, ia merasa emosinya yang teraduk-aduk itu “hanya” bisa diwakili oleh pola-pola abstrak. “Karena akan lebih bebas. Seni abstrak mampu menampung ledakan emosi dalam sesaat. Dan warna adalah wujud konkret dari kondisi kebatinan itu,” kata Putu.

Melukis bagi Putu, seperti pembebasan diri dari beban batin yang menindas. Beban ini belum tentu bisa dikeluarkan dengan menulis, yang selama ini menjadi aktivitasnya. “Selesai melukis biasanya saya lebih merasa plong, terbebaskan, ada rasa ringan di dada,” katanya.

Meskipun banyak membaca mengenai art therapy, pada praktiknya Putu menggunakan seni untuk dua tujuan sekaligus. Satu sisi, ia ingin membebaskan diri dari rasa duka atas kehilangan, sisi lain ia ingin menggapai bentuk-bentuk artistik sesuai rasa indahnya.

“Saya juga ingin bahwa seni yang saya hasilkan memiliki makna dan memancarkan rasa indah di hati semua orang. Sebab saya yakin keindahan selalu memancarkan kedamaian juga pada setiap orang,” tutur Putu yang juga jurnalis senior ini.

Project Manager Chromatica Angelina Arcana mengatakan Putu melakukan proses melukis seperti seseorang yang sedang bekerja di kantor. Ia masuk ke studionya pada pagi hari, lalu istirahat untuk makan siang, setelah itu kembali bekerja sampai sore hari. Mekanisme jam kerja semacam ini mengingatkan pada masa-masa pelukis aktif sebagai jurnalis di Harian Kompas Jakarta.

“Pelukisnya sangat disiplin dan mengerti benar mengelola waktu, sehingga dalam waktu 2 tahun telah menghasilkan puluhan lukisan. Tidak semua dipamerkan dalam Chromatica, karena petimbangan tempat,” ujar Angelina.

Menurut Angelina, karya-karya dalam Chromatica, merupakan buah dari proses healing, kesabaran, ketekunan, dan disiplin yang tinggi. “Pelukisnya memperlakukan melukis sebagai kerja keseharian, seperti kalau kita butuh minum atau makan. Itu sih yang keren…” katanya.

Hariadi Jasim dari The Dharmawangsa Jakarta berharap The Gallery di hotel itu akan lebih produktif di masa mendatang. “Sudah lama ruang galeri belum difungsikan maksimal. Semoga pameran Chromatica ini jadi awal yang baik menuju pameran-pameran berikutnya,” katanya. [T]

Reporter/Penulis: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole

Seni untuk “Healing”: Pameran “Chromatica” Putu Fajar Arcana di The Gallery, The Dharmawangsa Jakarta

Tags: Pameran Seni RupaPutu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Next Post

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
0
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

Read moreDetails

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

by Nyoman Budarsana
March 9, 2026
0
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung...

Read moreDetails

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

by tatkala
February 19, 2026
0
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Foto-foto karya yang dipertunjukkan Bagus Made Irawan alias Piping dalam pameran Magic in the Waves di Warung Kubukopi, Denpasar, 18-28...

Read moreDetails

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

by I Gede Made Surya Darma
January 25, 2026
0
“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Pameran “Wianta & Legacy” resmi dibuka pada tanggal 23 Januari 2026 di Gallery of Art, The Apurva Kempinski Bali, menghadirkan...

Read moreDetails

Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

by tatkala
January 18, 2026
0
Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

RIUH ramai terdengar berbeda di salah satu venue Berbagi Ruang & Kopi, Denpasar, Sabtu 17 Januari 2026. Jika biasanya ia...

Read moreDetails

Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

by Nyoman Budarsana
January 17, 2026
0
Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

Wisatawan yang sedang melakukan check in ataupun check out di The 1O1 Bali Oasis Sanur tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka bukan...

Read moreDetails

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

by tatkala
January 5, 2026
0
Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

DI Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif", sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif...

Read moreDetails

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

by Made Chandra
January 4, 2026
0
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

---Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebudayaan...

Read moreDetails
Next Post
Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co