2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

tatkala by tatkala
August 22, 2025
in Pameran
Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana,

DIREKTUR Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan, Putu Fajar Arcana adalah tubuh yang menampung banyak bahasa. Ia seorang jurnalis, perupa, pelaku seni pertunjukan, dan sastrawan sekaligus.

“Ia menulis untuk merapikan pikiran, melukis untuk menenangkan jiwa, berpentas untuk menguji gagasan, dan bersastra untuk menjaga kedalaman. Dari sana lahir karya-karya yang bukat sekadar enak dilihat, tetapi menyembuhkan, menuntun, dan menggerakkan,” kata Ahmad Mahendra.

Orasi budaya Ahmad Mahendra itu disampaikan saat penutupan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, Kamis (21/8/2025) di The Gallery The Darmawangsa Jakarta, yang dibacakan oleh Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal.

Saat penutupan pameran Arcanaartwork mengundang para sastrawan, jurnalis budaya, pelaku budaya, dan pegiat seni, untuk berdialog bersama Andi Syamsu Rijal. Sore dan malam itu menjadi lebih indah ketika penulis Novka Kuaranita, Sasti Gotama, Nawa Tunggal, Devie Matahari, Ari Sumitro, dan Fikar W Edha membacakan puisi. Turut pula memberi testimoni jurnalis senior Seno Joko Suyono, Sarie Febriane, Indah Ariani, dan musisi Ananda Sukarlan.

Menurut Mahendra, sebagai orang Bali, Bli Can (panggilan Putu Fajar Arcana), memahami bahwa seni bukan hiasan, seni adalah tata cara hidup. “Di balik lengkung warna dan ritme kanvasnya, kita bisa merasakan jejaring nilai, Rwa Bineda yang menimbang terang gelap. Ia mengolah duka menjadi cahaya. Inilah lelaku konsisten, rendah hati, tekun, dan penuh cinta,” ujar Mahendra.

Dialog

 Saat sesi dialog yang dipandu Novka, peserta mempertajam pertanyaan tentang banyak bidang seni yang ditekuni Bli Can. Bahkan seorang anak muda bernama Elias, mempertanyakan siapakah aku, jika banyak bidang yang ditekuni.

Dengan mengambil metafora kehidupan seorang petani, Bli Can menegaskan, bahwa para petani di desa tidak pernah berhitung soal hasil. Mereka bekerja dengan menanam, merawat dengan tekun, dan hasilnya tidak saja berupa panen, “Tetapi keindahan. Para petani tidak pernah berpikir tentang membuat pemandangan indah saat menanam, merawat, dan memelihara sawah dan padi-padi di Jatiluwih. Kini banyak wisatawan menikmati keindahan pemandangannya,” katanya.

 Begitulah seorang pekerja, tambah Bli Can, dalam menuntas seluruh pekerjaannya. Seni adalah sawah yang harus ditanami dan dirawat dengan gagasan dan kreativitas. Tidak perlu memikirkan hasil, “Bahwa nanti menjadi puisi, cerpen, novel, drama, atau lukisan, itu buah dari totalitas kerja dan kreativitas,” tegas Bli Can.

Pembukaan

Pembukaan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, dilaksanakan pada Sabtu (16/8/2025) di Pool Garden, The Dharmawangsa, oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Puspa mengatakan, pameran Chromatica tak hanya penting bagi dunia seni, tetapi turut serta membentuk ekosistem budaya, yang dibutuhkan oleh dunia pariwisata.

Industri pariwisata semakin hari terus bergerak menuju pada pariwisata dengan minat khusus seperti art tourism. “Dan seni menjadi motor penggerak wisatawan untuk bepergian ke satu tempat tertentu. Semakin banyak festival, semakin banyak pameran, akan semakin menarik bagi wisatawan,” ujar Luh Puspa.

Saat pembukaan pameran, juga digelar happening art bertajuk “Tubuh Bertumbuh: Dukkha-Daya-Cahaya” yang menampilkan Sha Ine Febriyanti, Joane Win, dan Try Anggara. Naskah yang dutulis Angelina Arcana ini, secara khusus merespons babakan seni rupa yang dilalui ayahnya selama 2 tahun terakhir. Pameran berlangsung, 17-21 Agustus 2025 di The Gallery The Dharmawangsa Jakarta.

“Berangkat dari Dukkha, yakni penderitaan, lalu bergerak memberdayakan diri lewat meditasi dan kontemplasi, sampai akhirnya menemukan cahaya, berupa lukisan-lukisan yang penuh makna,” tutur Angel.

Babakan-babakan dalam pentas dan lukisan, menurut Angel, mencerminkan pencarian ayahnya menuju penyembuhan batin. “Seni adalah media paling asyik untuk melakukan healing,” kata putri sulung Bli Can ini.

Menurut Putu Fajar Arcana karya-karya yang ditampilkannya merupakan hasil proses healing yang ia jalani sejak 2 tahun terakhir. Ia pernah berada pada titik terendah dalam hidupnya, sehingga mengalami luka batin. Putu bahkan sempat harus berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari kesembuhan. Secara kebetulan pada akhir 1990-an, ia pernah belajar melukis pada maestro seni rupa Made Wianta. Psikolognya menyarankan agar kemampuannya melukis terus dikembangkan untuk perlahan-lahan mengikis luka batin, dan menemukan keseimbangan hidup.

Lapis-lapis warna yang muncul dalam kanvas-kanvas Putu, ibarat cahaya yang membangkitkan gairah menuju ketenteraman hidup. “Efek warna memberi saya perasaan rileks dan kemudian menenangkan,” kata Putu di sela-sela ruang pameran. Pameran dan pementasan terwujud berkat kerja sama lintas lembaga, yakni Arcanaartwoks, The Dharmawangsa, Bakti Budaya Djarum Foundation, serta dukungan dari Sababay dan Sango Ceramics.

Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali tahun 1965. Putu lebih dikenal sebagai jurnalis dan penulis. Ia menjadi jurnalis harian Kompas Jakarta 1994-2022. Buku-buku tunggalnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berupa novel, cerpen, puisi, drama, dan esai. Selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat melukis tak biasa.

Ia kemudian memperkaya teknik ini dengan mengembangkan konsep melukis berdasarkan lima unsur alam: padat, cair, api, angin, dan gas. Pertama kali berpameran saat membantu para petani di Gianyar dengan mengikuti pameran Lukisan Bukan Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar. Kemudian menggelar pameran Mencuri Waktu (2000) di kantor Kompas Biro Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, Grateful Dead (2013) di Bentara Budaya Jakarta. Tahun 2024 dan 2025 menyumbangkan karya dalam lelang Sidharta Auctioneer Jakarta untuk mendukung Indonesian Dance Festival (IDF).

Tiga seri karya

Menurut Kurator Pameran Chromatica Trianzani Sulshi, pameran ini menampilkan tiga seri yang masing-masing merupakan tahapan pencarian spiritualitas pelukisnya. Pertama, karya-karya yang disebut “Mysterious Garden” ditandai dengan pertanyaan besar pelukisnya: kemana manusia setelah mati? Apakah takdir hidup bisa diubah? Putu menampilkan karya-karya yang bercirikan seperti taman, kupu-kupu yang berterbangan, serta perempuan berpayung yang sedang berjalan menjauh.

“Semua elemen itu hadir secara simbolik. Taman, representasi dari semesta yang memberi dan mencukupi apa pun kebutuhan manusia. Lalu kupu-kupu adalah simbol metamorfosa, yang melebihi kemampuan manusia. Dan terakhir, perempuan berpayung tanda bahwa selama perjalanan menuju takdir, manusia hanya bisa memayungi diri. Selalu bersiap untuk segala kemungkinan,” kata Trianzani.

Pada seri kedua, tambah Trianzani, Putu melukis perjalanan para biksu untuk menempa diri. Seri ini diberi nama “Spiritual Journey”, dengan ciri utamanya selalu terdapat drawing para biksu yang berjalan membelakangi bidang depan kanvas.

Penggambaran punggung para biksu, kata Trianzani, memberi kesan spiritual yang mendalam. Meskipun hanya tampak bagian punggung, gestur para biksu memberi kesan yang khusyuk dan tepekur di dalam menjalani laku spiritual. “Dalam tradisi di Thailand dan Myanmar laku ini disebut dengan thudong, satu laku perjalanan spiritual untuk melatih kesabaran dan ketekunan, sebelum akhirnya mencapai kesadaran,” ujar Trianzani.

Seri ketiga disebut Yin-Yang, di mana pelukis menggunakan bidang kanvas bundar yang dibagi menjadi dua bagian. Teknik pembagian bidang gambar ini, mengingatkan pada simbol Yin-Yang, yang ditandai dengan warna hitam dan putih. Putu kemudian mengeksplorasi teknik melukis fluid art dan dorongan angin untuk mencapai bentuk-bentuk artistiknya.

Tiga seri karya itu, tambah Trianzani, menjadi simpul penting dalam pencarian spiritual Putu Fajar Arcana. Ia mempertanyakan takdir kehilangan yang pernah menderanya, sebagai renungan pertama-tamanya. Meskipun menemukan jawaban, bahwa semesta telah memberi begitu besar untuk kelangsungan hidup manusia, ia tetap tak berhenti bertanya. Apakah pendalaman spiritual, seperti laku para biksu, akan memberi jawaban tentang takdir hidup manusia?

 Pada akhirnya seluruh pertanyaan itu menemukan muaranya pada keseimbangan antara body, mind, and soul. Dalam terminologi filsafat Timur, keseimbangan antara makrokosmos (alam semesta) dengan mikrokosmos (diri manusia). Dalam filosofi Jawa dan Bali disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, bersatunya diri dengan Sang Maha Pencipta.

Menurut Putu Fajar Arcana, lukisan-lukisan yang ia kerjakan seperti pijaran emosi yang campur aduk. Oleh sebab itu, ia merasa emosinya yang teraduk-aduk itu “hanya” bisa diwakili oleh pola-pola abstrak. “Karena akan lebih bebas. Seni abstrak mampu menampung ledakan emosi dalam sesaat. Dan warna adalah wujud konkret dari kondisi kebatinan itu,” kata Putu.

Melukis bagi Putu, seperti pembebasan diri dari beban batin yang menindas. Beban ini belum tentu bisa dikeluarkan dengan menulis, yang selama ini menjadi aktivitasnya. “Selesai melukis biasanya saya lebih merasa plong, terbebaskan, ada rasa ringan di dada,” katanya.

Meskipun banyak membaca mengenai art therapy, pada praktiknya Putu menggunakan seni untuk dua tujuan sekaligus. Satu sisi, ia ingin membebaskan diri dari rasa duka atas kehilangan, sisi lain ia ingin menggapai bentuk-bentuk artistik sesuai rasa indahnya.

“Saya juga ingin bahwa seni yang saya hasilkan memiliki makna dan memancarkan rasa indah di hati semua orang. Sebab saya yakin keindahan selalu memancarkan kedamaian juga pada setiap orang,” tutur Putu yang juga jurnalis senior ini.

Project Manager Chromatica Angelina Arcana mengatakan Putu melakukan proses melukis seperti seseorang yang sedang bekerja di kantor. Ia masuk ke studionya pada pagi hari, lalu istirahat untuk makan siang, setelah itu kembali bekerja sampai sore hari. Mekanisme jam kerja semacam ini mengingatkan pada masa-masa pelukis aktif sebagai jurnalis di Harian Kompas Jakarta.

“Pelukisnya sangat disiplin dan mengerti benar mengelola waktu, sehingga dalam waktu 2 tahun telah menghasilkan puluhan lukisan. Tidak semua dipamerkan dalam Chromatica, karena petimbangan tempat,” ujar Angelina.

Menurut Angelina, karya-karya dalam Chromatica, merupakan buah dari proses healing, kesabaran, ketekunan, dan disiplin yang tinggi. “Pelukisnya memperlakukan melukis sebagai kerja keseharian, seperti kalau kita butuh minum atau makan. Itu sih yang keren…” katanya.

Hariadi Jasim dari The Dharmawangsa Jakarta berharap The Gallery di hotel itu akan lebih produktif di masa mendatang. “Sudah lama ruang galeri belum difungsikan maksimal. Semoga pameran Chromatica ini jadi awal yang baik menuju pameran-pameran berikutnya,” katanya. [T]

Reporter/Penulis: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole

Seni untuk “Healing”: Pameran “Chromatica” Putu Fajar Arcana di The Gallery, The Dharmawangsa Jakarta

Tags: Pameran Seni RupaPutu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kleptokrasi Membunuh Gotong Royong

Next Post

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co