24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
August 22, 2025
in Panggung
Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Lolot Band di panggung Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya

“Salam Balirockers!!!”

BALI bukan hanya surga panorama alam, berbagai macam musisi ada di Bali. Cari genre pop, ada Widi Widiana. Cari genre reggae? Joni Agung n Double T jawaranya. Metal? Hyena Wants Party tuh Asking Alexandrianya Bali.

Tapi kalau Rock Alternatif? Tidak lain dan tidak bukan, Lolot jawabannya. Dari sekian banyak nama, Lolot Band menempati ruang tersendiri dalam sejarah musik Bali. Band yang tak pernah redup sejak kelahirannya di tahun 2002 di Denpasar. Sang vokalis, Made Bawa adalah dalang dari terciptanya band ini, selain itu, ada Lanang atau kerap dipanggil Mr. Botax (bass), Lesmana (Lead Gitar), dan Hendra (drum).

Nama “Lolot” diambil dari nama panggilan sang vokalis, De Bawa (menurut tetangganya di Desa Panjer, Denpasar), dari kata “tolol” yang dibalik (reverse slank), karena dahulunya sang vokalis yang bandel dan suka minum alkohol. Bahkan hingga kini pun, ketika akan tampil, alkohol selalu menjadi dopingnya.

Salah satu senjata kuat dari Lolot Band adalah penggunaan bahasa Bali yang kental seolah lirik-liriknya memeluk kita orang Bali yang mendengar alunannya. Mulai dari Bali Rock Alternatif, Tresna Ngemasin Tiwas, Galungan lan Kuningan, Karman Beli, Ngugut Jeriji, dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu mereka merangkai kisah cinta, hubungan bertolak kasta, yang masih sangat menusuk untuk orang-orang Bali yang cintanya kehalang kasta, hahahaha, dan keresahan anak muda Bali. mereka bak layaknya tonggak gerakan kultural, membuktikan bahwa bahasa Bali bisa hidup gagah di atas panggung manapun.

Penonton Lolot di Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya

Kalian yang berasal dari pelosok-pelosok desa di Bali, pasti sangat tidak asing dengan Band ini, jika ada orang yang memandikan ayamnya di pagi hari, maka Lolot adalah alunannya, jika kalian sedang jalan-jalan dengan pacar, memplesiran, lagu dari Lolot sangat relate. Hujan dingin di desa, Enggung lagunya. Rahina di desa, sembari minum melingkar, tetap Lolot lagunya, dan ada beberapa gambar bola billiard 8 terpampang di poskamling desa, benar bukan?

Maka, ketika Buleleng Festival (Bulfest) 2025 mengundang mereka tampil, publik tahu ini bukan sekedar konser. Ini reuni besar-besaran antara Lolot Band dengan ribuan penggemarnya yang menamakan diri Balirockers. Dari kampung-kampung di pelosok, orang-orang berbondong-bondong datang ke Singaraja. Menempuh berjam-jam hanya demi menyanyikan bait demi bait lagunya, tak sedikit pula yang ngos-ngosan karena normalisasi pogo harus tetap ada.

Namun, sebagaimana konser besar pada umumnya, ada juga sisi gelap yang sulit dihindari. Bahkan sebelum konser dimulai, dua orang aparat dari Satpol PP dan Polres Buleleng sudah wanti-wanti. “Nanti nonton Lolot harus tertib, jangan ada yang moshing”. Tapi, mana bisa, Pak.

Dan benar saja, stigma bahwa Buleleng adalah “Kota Petarung” itu bangkit kembali. Begitu Made Bawa sang vokalis Lolot menggesek gitarnya, drum disuarakan, suasana tentram, untuk 10 menit pertama. Tubuh-tubuh itu meloncat kegirangan, tangan-tangan mengepal di udara, dan dari kejauhan terlihat betapa Lolot Band masih punya daya magnet yang luar biasa. Tetapi di tengah euforianya, ada segelintir orang yang merusak semuanya. Botol melayang ke udara, sandal beterbangan, pesta musik yang berubah menjadi “kalangan tajen”. Sekejap rusuh, sekejap tertib, begitu terus hingga para aparat bingung apakah ini harus dilerai atau tidak.

Ironisnya, semua itu terjadi di tengah-tengah Balirokers yang sejatinya dikenal solid. Mereka sudah lama mengidolakan Lolot, tentu tahu bahwa musik ini keras, bukan berarti untuk kekerasan. Entah mengapa, selalu ada saja yang datang bukan untuk menikmati musik, melainkan untuk mencari panggung kejantanan semu, dengan aroma alkohol di sekelilingnya, oh iya, bau ketiak jangan lupa, itu wajib.

Fans dari kampung-kampung bernyanyi keras, mereka menari dengan bahagia. Lain cerita dengan “fans kampungan” yang justru memamerkan sikap sok jago, sok kuat, dan akhirnya merusak suasana. Ingat ya, kata “kampungan” bukan soal asal-usul, melainkan soal mentalitas, mentalitas rendah diri yang mencari gengsi dengan kekerasan dan berlindung di balik geng.

Lolot Band | Foto: ig lolotband_official

Lolot Band, dari awal mereka hadir untuk mengangkat bahasa Bali, memperlihatkan bahwa budaya bisa tetap hidup di tengah modernitas. Lolot Band itu identitas, dan identitas itu mestinya dirawat dengan cara yang bermartabat, bukan dirusak oleh botol dan adu jotos.

Tak heran kan, jika orang lebih menanyakan adegan rusuhnya daripada performanya. Bulfest 2025 mestinya  menjadi panggung yang mengukuhkan Lolot Band sebagai legenda yang masih relevan. Tapi sedikit noda dari ulah segelintir orang “kampungan” justru menodai suasana itu, suasana yang harusnya serak karena bernyanyi sepanjang malam.

Lolot akan selalu menjadi Band favorit orang Bali, tapi tidak dengan fans kampungannya. Balirockers, kalian harus tetap terlihat solid walaupun sulit berbaur dengan orang-orang yang berpemikiran sempit, mendorong dan memukul orang hingga terhimpit. Moshing boleh, teriak boleh, loncat-loncat (pogo) boleh. Tapi, begitu tangan berubah jadi tinju, musi akan kehilangan maknanya.

Kalau benar-benar Balirockers, jangan sampai “kampungan”. Ayolah Kawan, musik keras bukan berarti untuk kekerasan! [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025Lagu Pop BaliLolotmusik pop bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Next Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co