13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
August 22, 2025
in Panggung
Lolot Band di Bulfest 2025, Antara Fans Kampung dan Kampungan

Lolot Band di panggung Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya

“Salam Balirockers!!!”

BALI bukan hanya surga panorama alam, berbagai macam musisi ada di Bali. Cari genre pop, ada Widi Widiana. Cari genre reggae? Joni Agung n Double T jawaranya. Metal? Hyena Wants Party tuh Asking Alexandrianya Bali.

Tapi kalau Rock Alternatif? Tidak lain dan tidak bukan, Lolot jawabannya. Dari sekian banyak nama, Lolot Band menempati ruang tersendiri dalam sejarah musik Bali. Band yang tak pernah redup sejak kelahirannya di tahun 2002 di Denpasar. Sang vokalis, Made Bawa adalah dalang dari terciptanya band ini, selain itu, ada Lanang atau kerap dipanggil Mr. Botax (bass), Lesmana (Lead Gitar), dan Hendra (drum).

Nama “Lolot” diambil dari nama panggilan sang vokalis, De Bawa (menurut tetangganya di Desa Panjer, Denpasar), dari kata “tolol” yang dibalik (reverse slank), karena dahulunya sang vokalis yang bandel dan suka minum alkohol. Bahkan hingga kini pun, ketika akan tampil, alkohol selalu menjadi dopingnya.

Salah satu senjata kuat dari Lolot Band adalah penggunaan bahasa Bali yang kental seolah lirik-liriknya memeluk kita orang Bali yang mendengar alunannya. Mulai dari Bali Rock Alternatif, Tresna Ngemasin Tiwas, Galungan lan Kuningan, Karman Beli, Ngugut Jeriji, dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu mereka merangkai kisah cinta, hubungan bertolak kasta, yang masih sangat menusuk untuk orang-orang Bali yang cintanya kehalang kasta, hahahaha, dan keresahan anak muda Bali. mereka bak layaknya tonggak gerakan kultural, membuktikan bahwa bahasa Bali bisa hidup gagah di atas panggung manapun.

Penonton Lolot di Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya

Kalian yang berasal dari pelosok-pelosok desa di Bali, pasti sangat tidak asing dengan Band ini, jika ada orang yang memandikan ayamnya di pagi hari, maka Lolot adalah alunannya, jika kalian sedang jalan-jalan dengan pacar, memplesiran, lagu dari Lolot sangat relate. Hujan dingin di desa, Enggung lagunya. Rahina di desa, sembari minum melingkar, tetap Lolot lagunya, dan ada beberapa gambar bola billiard 8 terpampang di poskamling desa, benar bukan?

Maka, ketika Buleleng Festival (Bulfest) 2025 mengundang mereka tampil, publik tahu ini bukan sekedar konser. Ini reuni besar-besaran antara Lolot Band dengan ribuan penggemarnya yang menamakan diri Balirockers. Dari kampung-kampung di pelosok, orang-orang berbondong-bondong datang ke Singaraja. Menempuh berjam-jam hanya demi menyanyikan bait demi bait lagunya, tak sedikit pula yang ngos-ngosan karena normalisasi pogo harus tetap ada.

Namun, sebagaimana konser besar pada umumnya, ada juga sisi gelap yang sulit dihindari. Bahkan sebelum konser dimulai, dua orang aparat dari Satpol PP dan Polres Buleleng sudah wanti-wanti. “Nanti nonton Lolot harus tertib, jangan ada yang moshing”. Tapi, mana bisa, Pak.

Dan benar saja, stigma bahwa Buleleng adalah “Kota Petarung” itu bangkit kembali. Begitu Made Bawa sang vokalis Lolot menggesek gitarnya, drum disuarakan, suasana tentram, untuk 10 menit pertama. Tubuh-tubuh itu meloncat kegirangan, tangan-tangan mengepal di udara, dan dari kejauhan terlihat betapa Lolot Band masih punya daya magnet yang luar biasa. Tetapi di tengah euforianya, ada segelintir orang yang merusak semuanya. Botol melayang ke udara, sandal beterbangan, pesta musik yang berubah menjadi “kalangan tajen”. Sekejap rusuh, sekejap tertib, begitu terus hingga para aparat bingung apakah ini harus dilerai atau tidak.

Ironisnya, semua itu terjadi di tengah-tengah Balirokers yang sejatinya dikenal solid. Mereka sudah lama mengidolakan Lolot, tentu tahu bahwa musik ini keras, bukan berarti untuk kekerasan. Entah mengapa, selalu ada saja yang datang bukan untuk menikmati musik, melainkan untuk mencari panggung kejantanan semu, dengan aroma alkohol di sekelilingnya, oh iya, bau ketiak jangan lupa, itu wajib.

Fans dari kampung-kampung bernyanyi keras, mereka menari dengan bahagia. Lain cerita dengan “fans kampungan” yang justru memamerkan sikap sok jago, sok kuat, dan akhirnya merusak suasana. Ingat ya, kata “kampungan” bukan soal asal-usul, melainkan soal mentalitas, mentalitas rendah diri yang mencari gengsi dengan kekerasan dan berlindung di balik geng.

Lolot Band | Foto: ig lolotband_official

Lolot Band, dari awal mereka hadir untuk mengangkat bahasa Bali, memperlihatkan bahwa budaya bisa tetap hidup di tengah modernitas. Lolot Band itu identitas, dan identitas itu mestinya dirawat dengan cara yang bermartabat, bukan dirusak oleh botol dan adu jotos.

Tak heran kan, jika orang lebih menanyakan adegan rusuhnya daripada performanya. Bulfest 2025 mestinya  menjadi panggung yang mengukuhkan Lolot Band sebagai legenda yang masih relevan. Tapi sedikit noda dari ulah segelintir orang “kampungan” justru menodai suasana itu, suasana yang harusnya serak karena bernyanyi sepanjang malam.

Lolot akan selalu menjadi Band favorit orang Bali, tapi tidak dengan fans kampungannya. Balirockers, kalian harus tetap terlihat solid walaupun sulit berbaur dengan orang-orang yang berpemikiran sempit, mendorong dan memukul orang hingga terhimpit. Moshing boleh, teriak boleh, loncat-loncat (pogo) boleh. Tapi, begitu tangan berubah jadi tinju, musi akan kehilangan maknanya.

Kalau benar-benar Balirockers, jangan sampai “kampungan”. Ayolah Kawan, musik keras bukan berarti untuk kekerasan! [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…
Tags: buleleng festivalbulfestBulfest 2025Lagu Pop BaliLolotmusik pop bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh yang Menampung Banyak Bahasa | Dari Pameran A Solo Exhibition Chromatica karya Putu Fajar Arcana

Next Post

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails
Next Post
DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

DOMS: Mengapa Otot Sakit Setelah Libur Nge-gym?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co