HALLYU wave atau gelombang Korea sudah mendominasi lini kehidupan dan budaya popular di Indonesia. Hallyu wave bukan lagi hanya tren, namun juga kekuatan ekonomi, budaya, serta media. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana awalnya musik K-Pop yang mendominasi, kemudian film dan drama Korea, industri kecantikan hingga makanan Korea menjadi tren di Indonesia.
Saya berfokus pada bagaimana industri sinema dan drama Korea telah popular dan mendominasi Indonesia. Sebut saja film Exhuma yang telah berhasil membuat rekor ditonton sebanyak 2 juta penonton di Indonesia pada tahun 2024, belum lagi drama Korea yang menempati top 10 tayangan regional Indonesia di aplikasi OTT seperti Netflix, Viu, Video, dll.
Di tengah era gempuran budaya Hallyu yang telah menjamur di Asia, muncul sebuah nama yang telah berhasil menciptakan fenomena baru yang menarik dan berhasil menciptakan arus baru yaitu Sakaguchi Kentaro, seorang aktor dan model berasal dari Jepang. Sakaken (nama singkatan Sakaguchi Kentaro) telah berhasil membangun basis fans yang kuat di luar Jepang, bahkan sampai ke Korea. Filmografi Sakaken seperti pada remake drama Korea berjudul Signal (2018) yang sangat populer di Korea dan yang terbaru series kerjasama antara Korea dan Jepang yaitu What Comes After Love (2024) telah menjadikan Sakaken sebagai sosok yang bisa dibilang menjembatani dua budaya pop raksasa di Asia.

Bukan sekedar aktor biasa, Sakaken telah berhasil mengembalikan kekuatan dan daya tarik J-drama atau dorama kepada penonton internasional. Keberhasilan ia membawa piala sebagai pemenang di ajang bergengsi Asia Artist Awards 2023 telah memperlihatkan bagaimana ia diakui oleh penonton global. Sakaken membuktikan bahwa dorama masih dinikmati oleh penonton internasional dan bahkan mengukuhkan kedudukannya di tengah terpaan drama Korea.
***
Filmografi Sakaken yang banyak tayang di OTT membuatnya mudah diakses oleh penonton global. Berikut adalah filmografi Sakaken di OTT yaitu Netflix seperti Beyond Goodbye, The Parades, Hell Dogs, kemudian di Viu ada What Comes After Love, Signal, Hiru, dll. Proyek yang masuk OTT ini membuat penonton drama Korea secara pelan-pelan mulai tertarik untuk eksplorasi dorama dan membuat Sakaken sebagai wajah baru dorama yang diakui oleh khalayak.
Kentaro berhasil menarik penonton bukan dengan image sebagai “idola pria sempurna” ala drama Korea, melainkan ia menggambarkan persona yang lebih terhubung dan natural dengan keadaan penonton. Ia tidak memberikan fantasi berlebihan kepada audiens melainkan sebuah cerminan bagaimana laki-laki Jepang dalam kesehariannya yang realistis.
Wajah tampan diiringi senyum yang menonjolkan lesung pipi, serta penampilan dia yang apa adanya tanpa make up menonjol justru membuat ia semakin digemari. Peran-peran yang diambil Sakaken pun lebih membumi. Hal tersebutlah yang berhasil membuat Sakaguchi Kentaro sebagai sosok yang menjembatani keunikan dirinya dan memikat audiens dengan sifat realistisnya di tengah representasi budaya pop yang penuh glamor.
Hal yang berhasil dibawakan oleh Sakaken adalah bagaimana ia berhasil berakting dengan gaya naturali, subtle dan minimalis. Tanpa melakukan ekspresi berlebihan, ia mengandalkan tatapan mata, nada suara yang tenang untuk menyampaikan emosi dan bahasa tubuh yang sudah menjadi ciri khas film dan dorama Jepang.
Fleksibilitas ia dalam menjalankan peran juga menjadi daya tarik tersendiri, contoh bagaimana ia menjadi pria romantis dan lembut dalam film The Last 10 Years, dokter ambisius dalam dr. Storks serta jurnalis idealis di MIU404. Karakter yang beragam ini memperlihatkan kemampuan aktingnya yang luas dan menjadikan kesempatan lebar untuk Sakaken semakin mendapatkan audiens yang luas.
Dorama biasanya menampilkan estetika visual yang berbeda dan kontras dengan drama Korea yang cenderung glamor dan penuh warna. Dorama biasanya memiliki palet warna yang lebih lembut, mengandalkan pencahayaan alami, memanfaatkan keheningan sebagai emosi yang membangun suasana. Gaya tersebut telah berhasil menjadi ciri khas dorama Jepang yang memiliki nuansa tenang, puitis serta introspektif.
Selain itu, dorama juga biasanya menampilkan narasi yang tidak konvesional, seperti berfokus pada perkembangan karakter yang lambat serta eksplorasi isu sosial. Contoh dalam dorama The Journalist yang membahas tentang isu korupsi politik. Plot seperti itu jarang ditemui dalam drama Korea romantis populer yang mendapatkan banyak penonton di Indonesia, meskipun sebenarnya drama Korea pun memiliki banyak genre yang spesifik dan mengangkat isu sosial, hanya saja tidak berhasil mendapatkan antusiasme penonton.
Ada satu hal yang kemungkinan dihadapi oleh industri hiburan Korea dan menjadi kesempatan untuk industri hiburan Jepang, yaitu adanya potensi penonton jenuh terhadap formula drama dan film Korea yang terus berulang. Dorama berhasil membawa angin segar bagi penonton dengan gaya akting yang natural, estetika visual yang tenang dan plot yang membawa isu sosial. Hal ini bukan sekedar bagaimana Jepang menggantikan Hallyu, namun lebih kepada bagaimana ia melengkapi industri hiburan Asia dengan pilihan yang lebih beragam. Fakta dan potensi ini memberikan ruang untuk budaya pop Jepang yang masih bisa menarik lebih banyak penggemar.
***
Populernya Sakaken di ranah internasional bukan sekedar anomali biasa dan cepat seperti FYP TikTok, namun merupakan cerminan strategi yang adaptif dan daya tarik industri hiburan Jepang. Kemunculan OTT menjadi salah satu kunci penting Sakaken bisa menembus pasar global tanpa perlu bersaing head to head dengan dominasi drama Korea di media TV tradisional.
Adanya OTT seperti Netflix, Disney+, Viu, telah menjadi kunci bagi kebangkitan dorama Jepang. Adanya OTT membuat dorama bisa menjangkau penonton global melampaui batasan geografi, kemudahan akses di segala ruang dan tidak adanya kebutuhan jam tayang di waktu utama yang biasanya menjadi kunci di TV tradisional.
Contoh mudah dengan filmografi Sakaken seperti Beyond Goodbye, The Parades (Netflix) dan What Comes After Love (Viu) yang tersedia secara internasional dan bisa diakses kapan pun, di mana pun, memungkinkan penggemar drama Korea yang sudah memiliki kebiasaan menonton di OTT menjadi terpapar dengan konten dorama dan sinema Jepang. Maka, dengan fakta di atas bisa dibilang Sakaken menjadi pintu gerbang bagi audiens global untuk mulai mengeksplorasi industri film dan drama Jepang yang menonjolkan estetika serta narasi yang berbeda dari drama Korea.
Lebih dari sekadar aktor, Sakaken telah berhasil menjadi ikon serta jembatan budaya. Kemunculan Sakaken di kancah internasional adalah bagaimana keberhasilan merayakan keunikan dan keterbaruan. Dengan adanya Kentaro, audiens global bisa mulai mengkonsumsi hiburan dan mengenal budaya, estetika visual serta isu sosial yang sedang relevan dengan kondisi di Jepang.
Industri film dan dorama Jepang tidak perlu meniru formula Hallyu untuk bisa bersaing di kancah global. Mereka memiliki kekuatan sendiri, yaitu identitas dan keunikan mereka. Sakaken telah menjadi bukti bahwa orisinilitas menjadi pendekatan yang efektif. Dorama telah berhasil menemukan penontonnya sendiri tanpa harus melakukan copy paste formula drama Korea. Ini merupakan jalan yang baik menuju keberlanjutan serta relevansi global budaya pop Jepang yang diharapkan akan sustain. [T]
Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























