12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Syfa Amelia by Syfa Amelia
August 20, 2025
in Esai
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Syfa Amelia

HALLYU wave atau gelombang Korea sudah mendominasi lini kehidupan dan budaya popular di Indonesia. Hallyu wave bukan lagi hanya tren, namun juga kekuatan ekonomi, budaya, serta media. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana awalnya musik K-Pop yang mendominasi, kemudian film dan drama Korea, industri kecantikan hingga makanan Korea menjadi tren di Indonesia.

Saya berfokus pada bagaimana industri sinema dan drama Korea telah popular dan mendominasi Indonesia. Sebut saja film Exhuma yang telah berhasil membuat rekor ditonton sebanyak 2 juta penonton di Indonesia pada tahun 2024, belum lagi drama Korea yang menempati top 10 tayangan regional Indonesia di aplikasi OTT seperti Netflix, Viu, Video, dll.

Di tengah era gempuran budaya Hallyu yang telah menjamur di Asia, muncul sebuah nama yang telah berhasil menciptakan fenomena baru yang menarik dan berhasil menciptakan arus baru yaitu Sakaguchi Kentaro, seorang aktor dan model berasal dari Jepang. Sakaken (nama singkatan Sakaguchi Kentaro) telah berhasil membangun basis fans yang kuat di luar Jepang, bahkan sampai ke Korea. Filmografi Sakaken seperti pada remake drama Korea berjudul Signal (2018) yang sangat populer di Korea dan yang terbaru series kerjasama antara Korea dan Jepang yaitu What Comes After Love (2024) telah menjadikan Sakaken sebagai sosok yang bisa dibilang menjembatani dua budaya pop raksasa di Asia.

Bukan sekedar aktor biasa, Sakaken telah berhasil mengembalikan kekuatan dan daya tarik J-drama atau dorama kepada penonton internasional. Keberhasilan ia membawa piala sebagai pemenang di ajang bergengsi Asia Artist Awards 2023 telah memperlihatkan bagaimana ia diakui oleh penonton global. Sakaken membuktikan bahwa dorama masih dinikmati oleh penonton internasional dan bahkan mengukuhkan kedudukannya di tengah terpaan drama Korea.

***

Filmografi Sakaken yang banyak tayang di OTT membuatnya mudah diakses oleh penonton global. Berikut adalah filmografi Sakaken di OTT yaitu Netflix seperti Beyond Goodbye, The Parades, Hell Dogs, kemudian di Viu ada What Comes After Love, Signal, Hiru, dll. Proyek yang masuk OTT ini membuat penonton drama Korea secara pelan-pelan mulai tertarik untuk eksplorasi dorama dan membuat Sakaken sebagai wajah baru dorama yang diakui oleh khalayak.

Kentaro berhasil menarik penonton bukan dengan image sebagai “idola pria sempurna” ala drama Korea, melainkan ia menggambarkan persona yang lebih terhubung dan natural dengan keadaan penonton. Ia tidak memberikan fantasi berlebihan kepada audiens melainkan sebuah cerminan bagaimana laki-laki Jepang dalam kesehariannya yang realistis.

Wajah tampan diiringi senyum yang menonjolkan lesung pipi, serta penampilan dia yang apa adanya tanpa make up menonjol justru membuat ia semakin digemari. Peran-peran yang diambil Sakaken pun lebih membumi. Hal tersebutlah yang berhasil membuat Sakaguchi Kentaro sebagai sosok yang menjembatani keunikan dirinya dan memikat audiens dengan sifat realistisnya di tengah representasi budaya pop yang penuh glamor.

Hal yang berhasil dibawakan oleh Sakaken adalah bagaimana ia berhasil berakting dengan gaya naturali, subtle dan minimalis. Tanpa melakukan ekspresi berlebihan, ia mengandalkan tatapan mata, nada suara yang tenang untuk menyampaikan emosi dan bahasa tubuh yang sudah menjadi ciri khas film dan dorama Jepang.

Fleksibilitas ia dalam menjalankan peran juga menjadi daya tarik tersendiri, contoh bagaimana ia menjadi pria romantis dan lembut dalam film The Last 10 Years, dokter ambisius dalam dr. Storks serta jurnalis idealis di MIU404. Karakter yang beragam ini memperlihatkan kemampuan aktingnya yang luas dan menjadikan kesempatan lebar untuk Sakaken semakin mendapatkan audiens yang luas.

Dorama biasanya menampilkan estetika visual yang berbeda dan kontras dengan drama Korea yang cenderung glamor dan penuh warna. Dorama biasanya memiliki palet warna yang lebih lembut, mengandalkan pencahayaan alami, memanfaatkan keheningan sebagai emosi yang membangun suasana. Gaya tersebut telah berhasil menjadi ciri khas dorama Jepang yang memiliki nuansa tenang, puitis serta introspektif.

Selain itu, dorama juga biasanya menampilkan narasi yang tidak konvesional, seperti berfokus pada perkembangan karakter yang lambat serta eksplorasi isu sosial. Contoh dalam dorama The Journalist yang membahas tentang isu korupsi politik. Plot seperti itu jarang ditemui dalam drama Korea romantis populer yang mendapatkan banyak penonton di Indonesia, meskipun sebenarnya drama Korea pun memiliki banyak genre yang spesifik dan mengangkat isu sosial, hanya saja tidak berhasil mendapatkan antusiasme penonton.

Ada satu hal yang kemungkinan dihadapi oleh industri hiburan Korea dan menjadi kesempatan untuk industri hiburan Jepang, yaitu adanya potensi penonton jenuh terhadap formula drama dan film Korea yang terus berulang. Dorama berhasil membawa angin segar bagi penonton dengan gaya akting yang natural, estetika visual yang tenang dan plot yang membawa isu sosial. Hal ini bukan sekedar bagaimana Jepang menggantikan Hallyu, namun lebih kepada bagaimana ia melengkapi industri hiburan Asia dengan pilihan yang lebih beragam. Fakta dan potensi ini memberikan ruang untuk budaya pop Jepang yang masih bisa menarik lebih banyak penggemar.

***

Populernya Sakaken di ranah internasional bukan sekedar anomali biasa dan cepat seperti FYP TikTok, namun merupakan cerminan strategi yang adaptif dan daya tarik industri hiburan Jepang. Kemunculan OTT menjadi salah satu kunci penting Sakaken bisa menembus pasar global tanpa perlu bersaing head to head dengan dominasi drama Korea di media TV tradisional.

 Adanya OTT seperti Netflix, Disney+, Viu, telah menjadi kunci bagi kebangkitan dorama Jepang. Adanya OTT membuat dorama bisa menjangkau penonton global melampaui batasan geografi, kemudahan akses di segala ruang dan tidak adanya kebutuhan jam tayang di waktu utama yang biasanya menjadi kunci di TV tradisional.

Contoh mudah dengan filmografi Sakaken seperti Beyond Goodbye, The Parades (Netflix) dan What Comes After Love (Viu) yang tersedia secara internasional dan bisa diakses kapan pun, di mana pun, memungkinkan penggemar drama Korea yang sudah memiliki kebiasaan menonton di OTT menjadi terpapar dengan konten dorama dan sinema Jepang. Maka, dengan fakta di atas bisa dibilang Sakaken menjadi pintu gerbang bagi audiens global untuk mulai mengeksplorasi industri film dan drama Jepang yang menonjolkan estetika serta narasi yang berbeda dari drama Korea.

Lebih dari sekadar aktor, Sakaken telah berhasil menjadi ikon serta jembatan budaya. Kemunculan Sakaken di kancah internasional adalah bagaimana keberhasilan merayakan keunikan dan keterbaruan. Dengan adanya Kentaro, audiens global bisa mulai mengkonsumsi hiburan dan mengenal budaya, estetika visual serta isu sosial yang sedang relevan dengan kondisi di Jepang.

Industri film dan dorama Jepang tidak perlu meniru formula Hallyu untuk bisa bersaing di kancah global. Mereka memiliki kekuatan sendiri, yaitu identitas dan keunikan mereka. Sakaken telah menjadi bukti bahwa orisinilitas menjadi pendekatan yang efektif. Dorama telah berhasil menemukan penontonnya sendiri tanpa harus melakukan copy paste formula drama Korea. Ini merupakan jalan yang baik menuju keberlanjutan serta relevansi global budaya pop Jepang yang diharapkan akan sustain. [T]

Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia
Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia
Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea
Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Tags: drama jepangdrama koreafilm jepangfilm koreaJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahkan Mencintai Dicurigai

Next Post

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Syfa Amelia

Syfa Amelia

Dosen Prodi Kajian Film, TV dan Media, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co