23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Syfa Amelia by Syfa Amelia
August 20, 2025
in Esai
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Syfa Amelia

HALLYU wave atau gelombang Korea sudah mendominasi lini kehidupan dan budaya popular di Indonesia. Hallyu wave bukan lagi hanya tren, namun juga kekuatan ekonomi, budaya, serta media. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana awalnya musik K-Pop yang mendominasi, kemudian film dan drama Korea, industri kecantikan hingga makanan Korea menjadi tren di Indonesia.

Saya berfokus pada bagaimana industri sinema dan drama Korea telah popular dan mendominasi Indonesia. Sebut saja film Exhuma yang telah berhasil membuat rekor ditonton sebanyak 2 juta penonton di Indonesia pada tahun 2024, belum lagi drama Korea yang menempati top 10 tayangan regional Indonesia di aplikasi OTT seperti Netflix, Viu, Video, dll.

Di tengah era gempuran budaya Hallyu yang telah menjamur di Asia, muncul sebuah nama yang telah berhasil menciptakan fenomena baru yang menarik dan berhasil menciptakan arus baru yaitu Sakaguchi Kentaro, seorang aktor dan model berasal dari Jepang. Sakaken (nama singkatan Sakaguchi Kentaro) telah berhasil membangun basis fans yang kuat di luar Jepang, bahkan sampai ke Korea. Filmografi Sakaken seperti pada remake drama Korea berjudul Signal (2018) yang sangat populer di Korea dan yang terbaru series kerjasama antara Korea dan Jepang yaitu What Comes After Love (2024) telah menjadikan Sakaken sebagai sosok yang bisa dibilang menjembatani dua budaya pop raksasa di Asia.

Bukan sekedar aktor biasa, Sakaken telah berhasil mengembalikan kekuatan dan daya tarik J-drama atau dorama kepada penonton internasional. Keberhasilan ia membawa piala sebagai pemenang di ajang bergengsi Asia Artist Awards 2023 telah memperlihatkan bagaimana ia diakui oleh penonton global. Sakaken membuktikan bahwa dorama masih dinikmati oleh penonton internasional dan bahkan mengukuhkan kedudukannya di tengah terpaan drama Korea.

***

Filmografi Sakaken yang banyak tayang di OTT membuatnya mudah diakses oleh penonton global. Berikut adalah filmografi Sakaken di OTT yaitu Netflix seperti Beyond Goodbye, The Parades, Hell Dogs, kemudian di Viu ada What Comes After Love, Signal, Hiru, dll. Proyek yang masuk OTT ini membuat penonton drama Korea secara pelan-pelan mulai tertarik untuk eksplorasi dorama dan membuat Sakaken sebagai wajah baru dorama yang diakui oleh khalayak.

Kentaro berhasil menarik penonton bukan dengan image sebagai “idola pria sempurna” ala drama Korea, melainkan ia menggambarkan persona yang lebih terhubung dan natural dengan keadaan penonton. Ia tidak memberikan fantasi berlebihan kepada audiens melainkan sebuah cerminan bagaimana laki-laki Jepang dalam kesehariannya yang realistis.

Wajah tampan diiringi senyum yang menonjolkan lesung pipi, serta penampilan dia yang apa adanya tanpa make up menonjol justru membuat ia semakin digemari. Peran-peran yang diambil Sakaken pun lebih membumi. Hal tersebutlah yang berhasil membuat Sakaguchi Kentaro sebagai sosok yang menjembatani keunikan dirinya dan memikat audiens dengan sifat realistisnya di tengah representasi budaya pop yang penuh glamor.

Hal yang berhasil dibawakan oleh Sakaken adalah bagaimana ia berhasil berakting dengan gaya naturali, subtle dan minimalis. Tanpa melakukan ekspresi berlebihan, ia mengandalkan tatapan mata, nada suara yang tenang untuk menyampaikan emosi dan bahasa tubuh yang sudah menjadi ciri khas film dan dorama Jepang.

Fleksibilitas ia dalam menjalankan peran juga menjadi daya tarik tersendiri, contoh bagaimana ia menjadi pria romantis dan lembut dalam film The Last 10 Years, dokter ambisius dalam dr. Storks serta jurnalis idealis di MIU404. Karakter yang beragam ini memperlihatkan kemampuan aktingnya yang luas dan menjadikan kesempatan lebar untuk Sakaken semakin mendapatkan audiens yang luas.

Dorama biasanya menampilkan estetika visual yang berbeda dan kontras dengan drama Korea yang cenderung glamor dan penuh warna. Dorama biasanya memiliki palet warna yang lebih lembut, mengandalkan pencahayaan alami, memanfaatkan keheningan sebagai emosi yang membangun suasana. Gaya tersebut telah berhasil menjadi ciri khas dorama Jepang yang memiliki nuansa tenang, puitis serta introspektif.

Selain itu, dorama juga biasanya menampilkan narasi yang tidak konvesional, seperti berfokus pada perkembangan karakter yang lambat serta eksplorasi isu sosial. Contoh dalam dorama The Journalist yang membahas tentang isu korupsi politik. Plot seperti itu jarang ditemui dalam drama Korea romantis populer yang mendapatkan banyak penonton di Indonesia, meskipun sebenarnya drama Korea pun memiliki banyak genre yang spesifik dan mengangkat isu sosial, hanya saja tidak berhasil mendapatkan antusiasme penonton.

Ada satu hal yang kemungkinan dihadapi oleh industri hiburan Korea dan menjadi kesempatan untuk industri hiburan Jepang, yaitu adanya potensi penonton jenuh terhadap formula drama dan film Korea yang terus berulang. Dorama berhasil membawa angin segar bagi penonton dengan gaya akting yang natural, estetika visual yang tenang dan plot yang membawa isu sosial. Hal ini bukan sekedar bagaimana Jepang menggantikan Hallyu, namun lebih kepada bagaimana ia melengkapi industri hiburan Asia dengan pilihan yang lebih beragam. Fakta dan potensi ini memberikan ruang untuk budaya pop Jepang yang masih bisa menarik lebih banyak penggemar.

***

Populernya Sakaken di ranah internasional bukan sekedar anomali biasa dan cepat seperti FYP TikTok, namun merupakan cerminan strategi yang adaptif dan daya tarik industri hiburan Jepang. Kemunculan OTT menjadi salah satu kunci penting Sakaken bisa menembus pasar global tanpa perlu bersaing head to head dengan dominasi drama Korea di media TV tradisional.

 Adanya OTT seperti Netflix, Disney+, Viu, telah menjadi kunci bagi kebangkitan dorama Jepang. Adanya OTT membuat dorama bisa menjangkau penonton global melampaui batasan geografi, kemudahan akses di segala ruang dan tidak adanya kebutuhan jam tayang di waktu utama yang biasanya menjadi kunci di TV tradisional.

Contoh mudah dengan filmografi Sakaken seperti Beyond Goodbye, The Parades (Netflix) dan What Comes After Love (Viu) yang tersedia secara internasional dan bisa diakses kapan pun, di mana pun, memungkinkan penggemar drama Korea yang sudah memiliki kebiasaan menonton di OTT menjadi terpapar dengan konten dorama dan sinema Jepang. Maka, dengan fakta di atas bisa dibilang Sakaken menjadi pintu gerbang bagi audiens global untuk mulai mengeksplorasi industri film dan drama Jepang yang menonjolkan estetika serta narasi yang berbeda dari drama Korea.

Lebih dari sekadar aktor, Sakaken telah berhasil menjadi ikon serta jembatan budaya. Kemunculan Sakaken di kancah internasional adalah bagaimana keberhasilan merayakan keunikan dan keterbaruan. Dengan adanya Kentaro, audiens global bisa mulai mengkonsumsi hiburan dan mengenal budaya, estetika visual serta isu sosial yang sedang relevan dengan kondisi di Jepang.

Industri film dan dorama Jepang tidak perlu meniru formula Hallyu untuk bisa bersaing di kancah global. Mereka memiliki kekuatan sendiri, yaitu identitas dan keunikan mereka. Sakaken telah menjadi bukti bahwa orisinilitas menjadi pendekatan yang efektif. Dorama telah berhasil menemukan penontonnya sendiri tanpa harus melakukan copy paste formula drama Korea. Ini merupakan jalan yang baik menuju keberlanjutan serta relevansi global budaya pop Jepang yang diharapkan akan sustain. [T]

Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia
Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia
Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea
Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Tags: drama jepangdrama koreafilm jepangfilm koreaJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahkan Mencintai Dicurigai

Next Post

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Syfa Amelia

Syfa Amelia

Dosen Prodi Kajian Film, TV dan Media, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co