2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Syfa Amelia by Syfa Amelia
August 20, 2025
in Esai
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Syfa Amelia

HALLYU wave atau gelombang Korea sudah mendominasi lini kehidupan dan budaya popular di Indonesia. Hallyu wave bukan lagi hanya tren, namun juga kekuatan ekonomi, budaya, serta media. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana awalnya musik K-Pop yang mendominasi, kemudian film dan drama Korea, industri kecantikan hingga makanan Korea menjadi tren di Indonesia.

Saya berfokus pada bagaimana industri sinema dan drama Korea telah popular dan mendominasi Indonesia. Sebut saja film Exhuma yang telah berhasil membuat rekor ditonton sebanyak 2 juta penonton di Indonesia pada tahun 2024, belum lagi drama Korea yang menempati top 10 tayangan regional Indonesia di aplikasi OTT seperti Netflix, Viu, Video, dll.

Di tengah era gempuran budaya Hallyu yang telah menjamur di Asia, muncul sebuah nama yang telah berhasil menciptakan fenomena baru yang menarik dan berhasil menciptakan arus baru yaitu Sakaguchi Kentaro, seorang aktor dan model berasal dari Jepang. Sakaken (nama singkatan Sakaguchi Kentaro) telah berhasil membangun basis fans yang kuat di luar Jepang, bahkan sampai ke Korea. Filmografi Sakaken seperti pada remake drama Korea berjudul Signal (2018) yang sangat populer di Korea dan yang terbaru series kerjasama antara Korea dan Jepang yaitu What Comes After Love (2024) telah menjadikan Sakaken sebagai sosok yang bisa dibilang menjembatani dua budaya pop raksasa di Asia.

Bukan sekedar aktor biasa, Sakaken telah berhasil mengembalikan kekuatan dan daya tarik J-drama atau dorama kepada penonton internasional. Keberhasilan ia membawa piala sebagai pemenang di ajang bergengsi Asia Artist Awards 2023 telah memperlihatkan bagaimana ia diakui oleh penonton global. Sakaken membuktikan bahwa dorama masih dinikmati oleh penonton internasional dan bahkan mengukuhkan kedudukannya di tengah terpaan drama Korea.

***

Filmografi Sakaken yang banyak tayang di OTT membuatnya mudah diakses oleh penonton global. Berikut adalah filmografi Sakaken di OTT yaitu Netflix seperti Beyond Goodbye, The Parades, Hell Dogs, kemudian di Viu ada What Comes After Love, Signal, Hiru, dll. Proyek yang masuk OTT ini membuat penonton drama Korea secara pelan-pelan mulai tertarik untuk eksplorasi dorama dan membuat Sakaken sebagai wajah baru dorama yang diakui oleh khalayak.

Kentaro berhasil menarik penonton bukan dengan image sebagai “idola pria sempurna” ala drama Korea, melainkan ia menggambarkan persona yang lebih terhubung dan natural dengan keadaan penonton. Ia tidak memberikan fantasi berlebihan kepada audiens melainkan sebuah cerminan bagaimana laki-laki Jepang dalam kesehariannya yang realistis.

Wajah tampan diiringi senyum yang menonjolkan lesung pipi, serta penampilan dia yang apa adanya tanpa make up menonjol justru membuat ia semakin digemari. Peran-peran yang diambil Sakaken pun lebih membumi. Hal tersebutlah yang berhasil membuat Sakaguchi Kentaro sebagai sosok yang menjembatani keunikan dirinya dan memikat audiens dengan sifat realistisnya di tengah representasi budaya pop yang penuh glamor.

Hal yang berhasil dibawakan oleh Sakaken adalah bagaimana ia berhasil berakting dengan gaya naturali, subtle dan minimalis. Tanpa melakukan ekspresi berlebihan, ia mengandalkan tatapan mata, nada suara yang tenang untuk menyampaikan emosi dan bahasa tubuh yang sudah menjadi ciri khas film dan dorama Jepang.

Fleksibilitas ia dalam menjalankan peran juga menjadi daya tarik tersendiri, contoh bagaimana ia menjadi pria romantis dan lembut dalam film The Last 10 Years, dokter ambisius dalam dr. Storks serta jurnalis idealis di MIU404. Karakter yang beragam ini memperlihatkan kemampuan aktingnya yang luas dan menjadikan kesempatan lebar untuk Sakaken semakin mendapatkan audiens yang luas.

Dorama biasanya menampilkan estetika visual yang berbeda dan kontras dengan drama Korea yang cenderung glamor dan penuh warna. Dorama biasanya memiliki palet warna yang lebih lembut, mengandalkan pencahayaan alami, memanfaatkan keheningan sebagai emosi yang membangun suasana. Gaya tersebut telah berhasil menjadi ciri khas dorama Jepang yang memiliki nuansa tenang, puitis serta introspektif.

Selain itu, dorama juga biasanya menampilkan narasi yang tidak konvesional, seperti berfokus pada perkembangan karakter yang lambat serta eksplorasi isu sosial. Contoh dalam dorama The Journalist yang membahas tentang isu korupsi politik. Plot seperti itu jarang ditemui dalam drama Korea romantis populer yang mendapatkan banyak penonton di Indonesia, meskipun sebenarnya drama Korea pun memiliki banyak genre yang spesifik dan mengangkat isu sosial, hanya saja tidak berhasil mendapatkan antusiasme penonton.

Ada satu hal yang kemungkinan dihadapi oleh industri hiburan Korea dan menjadi kesempatan untuk industri hiburan Jepang, yaitu adanya potensi penonton jenuh terhadap formula drama dan film Korea yang terus berulang. Dorama berhasil membawa angin segar bagi penonton dengan gaya akting yang natural, estetika visual yang tenang dan plot yang membawa isu sosial. Hal ini bukan sekedar bagaimana Jepang menggantikan Hallyu, namun lebih kepada bagaimana ia melengkapi industri hiburan Asia dengan pilihan yang lebih beragam. Fakta dan potensi ini memberikan ruang untuk budaya pop Jepang yang masih bisa menarik lebih banyak penggemar.

***

Populernya Sakaken di ranah internasional bukan sekedar anomali biasa dan cepat seperti FYP TikTok, namun merupakan cerminan strategi yang adaptif dan daya tarik industri hiburan Jepang. Kemunculan OTT menjadi salah satu kunci penting Sakaken bisa menembus pasar global tanpa perlu bersaing head to head dengan dominasi drama Korea di media TV tradisional.

 Adanya OTT seperti Netflix, Disney+, Viu, telah menjadi kunci bagi kebangkitan dorama Jepang. Adanya OTT membuat dorama bisa menjangkau penonton global melampaui batasan geografi, kemudahan akses di segala ruang dan tidak adanya kebutuhan jam tayang di waktu utama yang biasanya menjadi kunci di TV tradisional.

Contoh mudah dengan filmografi Sakaken seperti Beyond Goodbye, The Parades (Netflix) dan What Comes After Love (Viu) yang tersedia secara internasional dan bisa diakses kapan pun, di mana pun, memungkinkan penggemar drama Korea yang sudah memiliki kebiasaan menonton di OTT menjadi terpapar dengan konten dorama dan sinema Jepang. Maka, dengan fakta di atas bisa dibilang Sakaken menjadi pintu gerbang bagi audiens global untuk mulai mengeksplorasi industri film dan drama Jepang yang menonjolkan estetika serta narasi yang berbeda dari drama Korea.

Lebih dari sekadar aktor, Sakaken telah berhasil menjadi ikon serta jembatan budaya. Kemunculan Sakaken di kancah internasional adalah bagaimana keberhasilan merayakan keunikan dan keterbaruan. Dengan adanya Kentaro, audiens global bisa mulai mengkonsumsi hiburan dan mengenal budaya, estetika visual serta isu sosial yang sedang relevan dengan kondisi di Jepang.

Industri film dan dorama Jepang tidak perlu meniru formula Hallyu untuk bisa bersaing di kancah global. Mereka memiliki kekuatan sendiri, yaitu identitas dan keunikan mereka. Sakaken telah menjadi bukti bahwa orisinilitas menjadi pendekatan yang efektif. Dorama telah berhasil menemukan penontonnya sendiri tanpa harus melakukan copy paste formula drama Korea. Ini merupakan jalan yang baik menuju keberlanjutan serta relevansi global budaya pop Jepang yang diharapkan akan sustain. [T]

Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia
Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia
Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea
Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Tags: drama jepangdrama koreafilm jepangfilm koreaJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahkan Mencintai Dicurigai

Next Post

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Syfa Amelia

Syfa Amelia

Dosen Prodi Kajian Film, TV dan Media, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co