12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Emi Suy by Emi Suy
August 20, 2025
in Persona
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

DI bawah langit mendung dan udara lembab sore itu di Selasar Teater Kecil TIM, Jakarta, 18 Agustus 2025, nama Jose Rizal Manua kembali disebut dengan khidmat. Ia bukan hanya hadir sebagai pembaca puisi dalam acara Panggung Perjuangan Penyair Merah Putih yang digagas Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), melainkan juga sebagai simbol: seorang maestro teater anak yang puluhan tahun menjaga api imajinasi agar tidak padam di mata generasi kecil bangsa.

Bagi sebagian orang, Jose Rizal Manua adalah sutradara. Bagi anak-anak yang pernah bermain bersamanya, ia adalah sahabat yang setia duduk di lantai, mendengar, menunggu, dan tertawa bersama. Bagi dunia teater, ia adalah penegas bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan rahim kelahiran kreativitas.

Di emperan itu, Jose juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kebersamaan. Ia membimbing mereka untuk saling mendukung, menghargai perbedaan, dan bekerja sebagai satu tim. Setiap tawa, jatuh, dan kegagalan menjadi pelajaran kolektif yang memperkuat ikatan mereka dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tulus.

Teater Anak: Dari Emperan Menjadi Panggung Dunia

Ketika Jose Rizal Manua mendirikan Teater Tanah Air pada 1970-an, ia tak pernah membayangkan akan membawanya hingga ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Panggung pertamanya hanyalah emperan gedung Taman Ismail Marzuki, tempat anak-anak dari Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang berjejal usai naik KRL, masih berseragam sekolah, dan berlatih dengan riang.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dari ruang sempit itu ia menanamkan kebebasan. Tak ada contoh gerak yang harus ditiru, tak ada pakem yang mengekang. Anak-anak diajak membayangkan seekor kumbang mengejar mereka, lalu lima, sepuluh, seratus, bahkan seribu kumbang. Dari situ lahir langkah-langkah yang unik, tubuh yang berbeda, ekspresi yang personal.

Bagi Jose, seni adalah seni imajinasi dan anak-anak adalah penjaga paling setia dari sumber imajinasi itu.

Metode ini ia warisi dari pengalaman berguru pada nama-nama besar teater Indonesia: Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Teguh Karya. Namun, jika para gurunya banyak bergulat dengan teater dewasa, Jose Rizal Manua memilih jalan berbeda: ia menaruh seluruh hidupnya pada teater anak, sesuatu yang kala itu dianggap sepele.

Masuk ke Alam, Keluar dari Kebudayaan

Karya-karya Jose Rizal Manua selalu berpijak pada kearifan lokal. Ia percaya, cerita rakyat bukan sekadar dongeng, melainkan cermin nilai yang membentuk jati diri. Lakon Timun Mas, Roro Jonggrang, hingga Malin Kundang dihidupkan kembali, bukan untuk mengulang legenda, melainkan untuk membuka ruang tafsir baru bagi anak-anak.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dalam lakon Roro Jonggrang, misalnya, ia melibatkan 50 anak sebagai ayam dan pasukan demit. Kostumnya? Bukan jubah mahal atau properti rumit, melainkan kukusan, centong, dan benda-benda rumah tangga. “Supaya penonton tidak asing,” ujarnya, “karena benda-benda itu memang hidup di sekitar kita.”

Prinsip inilah yang ia sebut sebagai masuk ke alam, keluar dari kebudayaan. Ia mengajak anak-anak kembali pada unsur-unsur dasar kehidupan tanah, air, angin, api sebelum melangkah ke bentuk kebudayaan yang lebih kompleks. Dengan begitu, seni tak terasa jauh, melainkan dekat, akrab, dan menyentuh.

Jose menekankan bahwa masuk ke alam bukan sekadar simbol, tetapi praktik harian: mengamati langit, daun, air, dan hewan sekitar. Anak-anak belajar membaca gerak alam dan mengubahnya menjadi ekspresi teater, sehingga setiap lakon bukan hanya pertunjukan, tetapi perpanjangan pengalaman hidup yang nyata, membumi, dan autentik.

Kebebasan sebagai Inti Pendidikan Seni

Banyak pelatih teater terbiasa memberi contoh: begini cara berjalan, begini cara menangis, begini cara tertawa. Namun bagi Jose Rizal Manua, memberi contoh adalah bahaya. “Kalau kita memberi contoh, anak-anak hanya meniru. Mereka kehilangan keberanian untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Karena itu ia memilih menjadi pendengar. Ia membiarkan anak-anak menemukan caranya sendiri. Dari situlah lahir pertunjukan yang selalu berbeda, penuh kejutan, bahkan membuat sang sutradara sendiri terperangah.

Emi Suy (penulis) bersama Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Mungkin inilah sebabnya anak-anak betah berlatih, meski harus naik kereta berdesakan atau mengorbankan waktu bermain. Bersama Jose, berteater berarti bermain, bersenang-senang, tanpa bentakan, tanpa amarah.

Dalam setiap latihan, Jose menanamkan keberanian untuk membuat kesalahan. Baginya, salah adalah bagian dari proses kreatif yang penting. Anak-anak diberi ruang untuk bereksperimen, mencoba ide-ide aneh, dan menemukan ritme masing-masing. Hasilnya, mereka tidak sekadar meniru, tetapi menulis kisah mereka sendiri melalui gerak dan suara.

Prestasi yang Mendunia

Keajaiban dari emperan TIM akhirnya menembus dunia. Tahun 2004, Teater Tanah Air menyabet sepuluh medali emas di The Asia-Pacific Festival of Children’s Theatre di Toyama, Jepang. Dua tahun kemudian, mereka memborong 19 medali emas di Jerman, sekaligus mengantar Jose Rizal Manua meraih penghargaan Sutradara Terbaik.

Presiden Teater Anak se-Dunia, Norbert Radermacher, bahkan semula tak percaya bahwa anak-anak ini berlatih di emperan. Baru setelah melihat langsung, ia terharu, berlutut di hadapan Niken Flora Rinjani putri Jose dan menyerahkan penghargaan. “Mereka tak punya apa-apa, tapi bisa menghadirkan sesuatu yang spektakuler,” ucapnya.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Prestasi terus berlanjut: Moskow (2008), Jenewa (2008), hingga festival-festival dunia lain. Teater yang lahir dari emperan kini berdiri sejajar di panggung internasional, bahkan dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai grup teater anak dengan penghargaan internasional terbanyak.

Kesuksesan internasional tidak membuat Jose jumawa. Ia selalu mengingatkan anak-anak bahwa medali hanyalah bukti perjalanan, bukan tujuan akhir. Yang terpenting adalah bagaimana mereka tumbuh, belajar, dan mengekspresikan diri. Setiap penghargaan menjadi refleksi dari ketekunan, kerja sama, dan kegembiraan yang ia tanamkan sejak emperan kecil TIM.

Mengakar di Keluarga, Bertumbuh di Masyarakat

Bagi Jose Rizal Manua, seni bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup.Ia menikah dengan Nunum Raraswati, membesarkan lima anak: Shakti Harimurti, Sanca Khatulistiwa, Nuansa Ayu Jawadwipa, Nusa Kalimasada, dan Niken Flora Rinjani semuanya tumbuh dekat dengan seni.

Namun keluarga baginya tak sekadar lingkar darah. Setiap anak yang berlatih di Teater Tanah Air diperlakukan seperti sahabat, seperti anak sendiri. Inilah rahasia mengapa mereka bertahan meski fasilitas minim. Mereka datang bukan karena dipaksa, melainkan karena merasa diterima.

Jose percaya bahwa seni tidak berhenti di panggung; ia ingin anak-anak merasakan dampak positifnya di kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang belajar bersamanya diajak untuk menyebarkan kreativitas dalam lingkungan rumah, sekolah, dan komunitas, menumbuhkan budaya apresiasi seni yang lebih luas, sekaligus menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial.

Jejak Panjang Seorang Maestro

Lahir di Padang, 14 September 1954, Jose Rizal Manua memulai perjalanan teater sejak 1969. Ia kemudian menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta, hingga menjadi pengajar di Fakultas Film dan Televisi serta Fakultas Teater. Dari Rendra ia belajar keberanian, dari Putu Wijaya absurditas, dari Arifin C. Noer ketajaman realisme, dan dari Teguh Karya disiplin. Semua itu ia sulam menjadi metode khasnya: metode imajinasi anak-anak.

Puluhan tahun pengabdian itu memberinya banyak penghargaan, termasuk Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI. Namun ia tetap sederhana: duduk di emperan, menunggu anak-anak datang, mengajarkan mereka untuk bermain.

Setiap pengalaman hidup Jose, baik manis maupun pahit, ia sulam menjadi pelajaran bagi generasi muda. Ia sering bercerita tentang perjalanan sulit menembus dunia teater dewasa, tentang bagaimana kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil. Kisah-kisah itu menginspirasi anak-anak untuk melihat hambatan bukan sebagai penghalang, melainkan pijakan menuju kreativitas yang lebih besar.

Makna Seorang Jose Rizal Manua

Hari ini, ketika Jose Rizal Manua berdiri di panggung pembacaan puisi Penyair Merah Putih, kita diingatkan: perjuangan seorang seniman tidak hanya lewat karya besar di panggung megah, tetapi juga lewat kesetiaan menjaga ruang sederhana bagi anak-anak.

Ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan jalan menemukan diri. Bahwa anak-anak punya hak untuk berimajinasi bebas dari ketakutan, bebas dari seragam kaku sistem pendidikan. Dan bahwa dari emperan pun, kita bisa menggemparkan dunia.

Jose Rizal Manua adalah bukti: seorang seniman yang masuk ke alam, keluar dari kebudayaan, lalu kembali ke manusia.

Dari emperan TIM hingga panggung dunia, Jose Rizal Manua mengajari kita bahwa kesenian adalah kesetiaan pada kehidupan itu sendiri. Bahwa keterbatasan bukanlah dinding, melainkan pintu. Bahwa bermain bisa menjadi doa. Bahwa imajinasi adalah cara anak-anak menyelamatkan dunia.

Dan bagi Jose, harga diri seorang seniman hanyalah satu: tampil maksimal di segala cuaca. Di bawah lampu panggung, di emperan sederhana, bahkan di hadapan bangsa-bangsa di PBB. Ia tidak pernah setengah hati. Ia hadir sepenuhnya.

Maka setiap gerakannya adalah perayaan. Setiap pertunjukannya adalah kesaksian. Seni, baginya, adalah keberanian untuk jujur, kesabaran untuk setia, dan ketekunan yang tak kenal henti.

Makna kehadirannya bagi dunia seni anak-anak melampaui panggung. Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki suara yang patut didengar, bahwa imajinasi adalah kekuatan, dan bahwa kesetiaan pada proses kreatif lebih berharga daripada pengakuan semata. Ia mengajari kita bahwa seni sejati lahir dari ketulusan dan kasih sayang yang mendalam.

Totalitas Jose Rizal Manua: Dedikasi Tanpa Batas

Jose Rizal Manua bukan hanya seorang sutradara; ia adalah totalitas yang hidup untuk teater anak. Setiap pagi, ia hadir di latihan dengan perhatian penuh, mengamati gerak anak-anak, menyesuaikan diri dengan energi mereka, dan menghadirkan ruang aman untuk berekspresi. Tak ada jarak antara dirinya dan anak-anak; ia duduk di lantai, berbicara, tertawa, dan ikut merasakan kegembiraan serta kekhawatiran mereka.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Totalitas Jose terlihat dari caranya memperlakukan setiap pementasan sebagai pengalaman belajar. Ia tak puas hanya menampilkan cerita; ia menanamkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan keberanian pada setiap anak. Properti sederhana, kostum seadanya, ruang sempit—semua menjadi bagian dari pembelajaran kreatif yang nyata. Bahkan ketika menghadapi festival internasional, Jose menuntut keseriusan tanpa menghilangkan kesenangan, menegaskan bahwa pertunjukan adalah hasil kerja hati dan bukan sekadar formalitas.

Dedikasinya juga tampak dalam komitmen membawa Teater Tanah Air ke pentas dunia. Puluhan penghargaan internasional bukan sekadar angka, melainkan bukti dari kerja keras yang konsisten, kesabaran, dan keyakinan pada potensi anak-anak. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya kreatif yang unik, dan tugasnya adalah menyalakan cahaya itu dengan penuh perhatian, tanpa memaksakan bentuk atau jalan tertentu.

Jose Rizal Manua mengajarkan bahwa totalitas bukan soal pamrih atau pengakuan, melainkan kesetiaan pada proses. Dari emperan TIM hingga panggung dunia, ia membuktikan bahwa seorang seniman yang total adalah mereka yang hidup untuk anak-anak, untuk imajinasi mereka, dan untuk masa depan seni yang lebih luas.

Totalitas Jose juga tampak dalam ketekunannya membimbing para guru pendamping. Ia tak segan berbagi metode, memberikan masukan, dan menekankan pentingnya kesabaran. Ia ingin seluruh tim merasakan dedikasi yang sama, menciptakan ekosistem teater anak yang berkelanjutan, di mana setiap orang belajar untuk hidup sepenuhnya melalui seni. [T]

Cengkareng, 19 Agustus 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat
“Help!” dari Teater Tanah Air: Mari Bantu Anak-anak Menyelamatkan Bulan
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Tags: JakartaJose Rizal ManuasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co