2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Emi Suy by Emi Suy
August 20, 2025
in Persona
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

DI bawah langit mendung dan udara lembab sore itu di Selasar Teater Kecil TIM, Jakarta, 18 Agustus 2025, nama Jose Rizal Manua kembali disebut dengan khidmat. Ia bukan hanya hadir sebagai pembaca puisi dalam acara Panggung Perjuangan Penyair Merah Putih yang digagas Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), melainkan juga sebagai simbol: seorang maestro teater anak yang puluhan tahun menjaga api imajinasi agar tidak padam di mata generasi kecil bangsa.

Bagi sebagian orang, Jose Rizal Manua adalah sutradara. Bagi anak-anak yang pernah bermain bersamanya, ia adalah sahabat yang setia duduk di lantai, mendengar, menunggu, dan tertawa bersama. Bagi dunia teater, ia adalah penegas bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan rahim kelahiran kreativitas.

Di emperan itu, Jose juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kebersamaan. Ia membimbing mereka untuk saling mendukung, menghargai perbedaan, dan bekerja sebagai satu tim. Setiap tawa, jatuh, dan kegagalan menjadi pelajaran kolektif yang memperkuat ikatan mereka dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tulus.

Teater Anak: Dari Emperan Menjadi Panggung Dunia

Ketika Jose Rizal Manua mendirikan Teater Tanah Air pada 1970-an, ia tak pernah membayangkan akan membawanya hingga ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Panggung pertamanya hanyalah emperan gedung Taman Ismail Marzuki, tempat anak-anak dari Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang berjejal usai naik KRL, masih berseragam sekolah, dan berlatih dengan riang.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dari ruang sempit itu ia menanamkan kebebasan. Tak ada contoh gerak yang harus ditiru, tak ada pakem yang mengekang. Anak-anak diajak membayangkan seekor kumbang mengejar mereka, lalu lima, sepuluh, seratus, bahkan seribu kumbang. Dari situ lahir langkah-langkah yang unik, tubuh yang berbeda, ekspresi yang personal.

Bagi Jose, seni adalah seni imajinasi dan anak-anak adalah penjaga paling setia dari sumber imajinasi itu.

Metode ini ia warisi dari pengalaman berguru pada nama-nama besar teater Indonesia: Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Teguh Karya. Namun, jika para gurunya banyak bergulat dengan teater dewasa, Jose Rizal Manua memilih jalan berbeda: ia menaruh seluruh hidupnya pada teater anak, sesuatu yang kala itu dianggap sepele.

Masuk ke Alam, Keluar dari Kebudayaan

Karya-karya Jose Rizal Manua selalu berpijak pada kearifan lokal. Ia percaya, cerita rakyat bukan sekadar dongeng, melainkan cermin nilai yang membentuk jati diri. Lakon Timun Mas, Roro Jonggrang, hingga Malin Kundang dihidupkan kembali, bukan untuk mengulang legenda, melainkan untuk membuka ruang tafsir baru bagi anak-anak.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dalam lakon Roro Jonggrang, misalnya, ia melibatkan 50 anak sebagai ayam dan pasukan demit. Kostumnya? Bukan jubah mahal atau properti rumit, melainkan kukusan, centong, dan benda-benda rumah tangga. “Supaya penonton tidak asing,” ujarnya, “karena benda-benda itu memang hidup di sekitar kita.”

Prinsip inilah yang ia sebut sebagai masuk ke alam, keluar dari kebudayaan. Ia mengajak anak-anak kembali pada unsur-unsur dasar kehidupan tanah, air, angin, api sebelum melangkah ke bentuk kebudayaan yang lebih kompleks. Dengan begitu, seni tak terasa jauh, melainkan dekat, akrab, dan menyentuh.

Jose menekankan bahwa masuk ke alam bukan sekadar simbol, tetapi praktik harian: mengamati langit, daun, air, dan hewan sekitar. Anak-anak belajar membaca gerak alam dan mengubahnya menjadi ekspresi teater, sehingga setiap lakon bukan hanya pertunjukan, tetapi perpanjangan pengalaman hidup yang nyata, membumi, dan autentik.

Kebebasan sebagai Inti Pendidikan Seni

Banyak pelatih teater terbiasa memberi contoh: begini cara berjalan, begini cara menangis, begini cara tertawa. Namun bagi Jose Rizal Manua, memberi contoh adalah bahaya. “Kalau kita memberi contoh, anak-anak hanya meniru. Mereka kehilangan keberanian untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Karena itu ia memilih menjadi pendengar. Ia membiarkan anak-anak menemukan caranya sendiri. Dari situlah lahir pertunjukan yang selalu berbeda, penuh kejutan, bahkan membuat sang sutradara sendiri terperangah.

Emi Suy (penulis) bersama Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Mungkin inilah sebabnya anak-anak betah berlatih, meski harus naik kereta berdesakan atau mengorbankan waktu bermain. Bersama Jose, berteater berarti bermain, bersenang-senang, tanpa bentakan, tanpa amarah.

Dalam setiap latihan, Jose menanamkan keberanian untuk membuat kesalahan. Baginya, salah adalah bagian dari proses kreatif yang penting. Anak-anak diberi ruang untuk bereksperimen, mencoba ide-ide aneh, dan menemukan ritme masing-masing. Hasilnya, mereka tidak sekadar meniru, tetapi menulis kisah mereka sendiri melalui gerak dan suara.

Prestasi yang Mendunia

Keajaiban dari emperan TIM akhirnya menembus dunia. Tahun 2004, Teater Tanah Air menyabet sepuluh medali emas di The Asia-Pacific Festival of Children’s Theatre di Toyama, Jepang. Dua tahun kemudian, mereka memborong 19 medali emas di Jerman, sekaligus mengantar Jose Rizal Manua meraih penghargaan Sutradara Terbaik.

Presiden Teater Anak se-Dunia, Norbert Radermacher, bahkan semula tak percaya bahwa anak-anak ini berlatih di emperan. Baru setelah melihat langsung, ia terharu, berlutut di hadapan Niken Flora Rinjani putri Jose dan menyerahkan penghargaan. “Mereka tak punya apa-apa, tapi bisa menghadirkan sesuatu yang spektakuler,” ucapnya.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Prestasi terus berlanjut: Moskow (2008), Jenewa (2008), hingga festival-festival dunia lain. Teater yang lahir dari emperan kini berdiri sejajar di panggung internasional, bahkan dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai grup teater anak dengan penghargaan internasional terbanyak.

Kesuksesan internasional tidak membuat Jose jumawa. Ia selalu mengingatkan anak-anak bahwa medali hanyalah bukti perjalanan, bukan tujuan akhir. Yang terpenting adalah bagaimana mereka tumbuh, belajar, dan mengekspresikan diri. Setiap penghargaan menjadi refleksi dari ketekunan, kerja sama, dan kegembiraan yang ia tanamkan sejak emperan kecil TIM.

Mengakar di Keluarga, Bertumbuh di Masyarakat

Bagi Jose Rizal Manua, seni bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup.Ia menikah dengan Nunum Raraswati, membesarkan lima anak: Shakti Harimurti, Sanca Khatulistiwa, Nuansa Ayu Jawadwipa, Nusa Kalimasada, dan Niken Flora Rinjani semuanya tumbuh dekat dengan seni.

Namun keluarga baginya tak sekadar lingkar darah. Setiap anak yang berlatih di Teater Tanah Air diperlakukan seperti sahabat, seperti anak sendiri. Inilah rahasia mengapa mereka bertahan meski fasilitas minim. Mereka datang bukan karena dipaksa, melainkan karena merasa diterima.

Jose percaya bahwa seni tidak berhenti di panggung; ia ingin anak-anak merasakan dampak positifnya di kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang belajar bersamanya diajak untuk menyebarkan kreativitas dalam lingkungan rumah, sekolah, dan komunitas, menumbuhkan budaya apresiasi seni yang lebih luas, sekaligus menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial.

Jejak Panjang Seorang Maestro

Lahir di Padang, 14 September 1954, Jose Rizal Manua memulai perjalanan teater sejak 1969. Ia kemudian menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta, hingga menjadi pengajar di Fakultas Film dan Televisi serta Fakultas Teater. Dari Rendra ia belajar keberanian, dari Putu Wijaya absurditas, dari Arifin C. Noer ketajaman realisme, dan dari Teguh Karya disiplin. Semua itu ia sulam menjadi metode khasnya: metode imajinasi anak-anak.

Puluhan tahun pengabdian itu memberinya banyak penghargaan, termasuk Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI. Namun ia tetap sederhana: duduk di emperan, menunggu anak-anak datang, mengajarkan mereka untuk bermain.

Setiap pengalaman hidup Jose, baik manis maupun pahit, ia sulam menjadi pelajaran bagi generasi muda. Ia sering bercerita tentang perjalanan sulit menembus dunia teater dewasa, tentang bagaimana kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil. Kisah-kisah itu menginspirasi anak-anak untuk melihat hambatan bukan sebagai penghalang, melainkan pijakan menuju kreativitas yang lebih besar.

Makna Seorang Jose Rizal Manua

Hari ini, ketika Jose Rizal Manua berdiri di panggung pembacaan puisi Penyair Merah Putih, kita diingatkan: perjuangan seorang seniman tidak hanya lewat karya besar di panggung megah, tetapi juga lewat kesetiaan menjaga ruang sederhana bagi anak-anak.

Ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan jalan menemukan diri. Bahwa anak-anak punya hak untuk berimajinasi bebas dari ketakutan, bebas dari seragam kaku sistem pendidikan. Dan bahwa dari emperan pun, kita bisa menggemparkan dunia.

Jose Rizal Manua adalah bukti: seorang seniman yang masuk ke alam, keluar dari kebudayaan, lalu kembali ke manusia.

Dari emperan TIM hingga panggung dunia, Jose Rizal Manua mengajari kita bahwa kesenian adalah kesetiaan pada kehidupan itu sendiri. Bahwa keterbatasan bukanlah dinding, melainkan pintu. Bahwa bermain bisa menjadi doa. Bahwa imajinasi adalah cara anak-anak menyelamatkan dunia.

Dan bagi Jose, harga diri seorang seniman hanyalah satu: tampil maksimal di segala cuaca. Di bawah lampu panggung, di emperan sederhana, bahkan di hadapan bangsa-bangsa di PBB. Ia tidak pernah setengah hati. Ia hadir sepenuhnya.

Maka setiap gerakannya adalah perayaan. Setiap pertunjukannya adalah kesaksian. Seni, baginya, adalah keberanian untuk jujur, kesabaran untuk setia, dan ketekunan yang tak kenal henti.

Makna kehadirannya bagi dunia seni anak-anak melampaui panggung. Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki suara yang patut didengar, bahwa imajinasi adalah kekuatan, dan bahwa kesetiaan pada proses kreatif lebih berharga daripada pengakuan semata. Ia mengajari kita bahwa seni sejati lahir dari ketulusan dan kasih sayang yang mendalam.

Totalitas Jose Rizal Manua: Dedikasi Tanpa Batas

Jose Rizal Manua bukan hanya seorang sutradara; ia adalah totalitas yang hidup untuk teater anak. Setiap pagi, ia hadir di latihan dengan perhatian penuh, mengamati gerak anak-anak, menyesuaikan diri dengan energi mereka, dan menghadirkan ruang aman untuk berekspresi. Tak ada jarak antara dirinya dan anak-anak; ia duduk di lantai, berbicara, tertawa, dan ikut merasakan kegembiraan serta kekhawatiran mereka.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Totalitas Jose terlihat dari caranya memperlakukan setiap pementasan sebagai pengalaman belajar. Ia tak puas hanya menampilkan cerita; ia menanamkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan keberanian pada setiap anak. Properti sederhana, kostum seadanya, ruang sempit—semua menjadi bagian dari pembelajaran kreatif yang nyata. Bahkan ketika menghadapi festival internasional, Jose menuntut keseriusan tanpa menghilangkan kesenangan, menegaskan bahwa pertunjukan adalah hasil kerja hati dan bukan sekadar formalitas.

Dedikasinya juga tampak dalam komitmen membawa Teater Tanah Air ke pentas dunia. Puluhan penghargaan internasional bukan sekadar angka, melainkan bukti dari kerja keras yang konsisten, kesabaran, dan keyakinan pada potensi anak-anak. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya kreatif yang unik, dan tugasnya adalah menyalakan cahaya itu dengan penuh perhatian, tanpa memaksakan bentuk atau jalan tertentu.

Jose Rizal Manua mengajarkan bahwa totalitas bukan soal pamrih atau pengakuan, melainkan kesetiaan pada proses. Dari emperan TIM hingga panggung dunia, ia membuktikan bahwa seorang seniman yang total adalah mereka yang hidup untuk anak-anak, untuk imajinasi mereka, dan untuk masa depan seni yang lebih luas.

Totalitas Jose juga tampak dalam ketekunannya membimbing para guru pendamping. Ia tak segan berbagi metode, memberikan masukan, dan menekankan pentingnya kesabaran. Ia ingin seluruh tim merasakan dedikasi yang sama, menciptakan ekosistem teater anak yang berkelanjutan, di mana setiap orang belajar untuk hidup sepenuhnya melalui seni. [T]

Cengkareng, 19 Agustus 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat
“Help!” dari Teater Tanah Air: Mari Bantu Anak-anak Menyelamatkan Bulan
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Tags: JakartaJose Rizal ManuasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co