14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Emi Suy by Emi Suy
August 20, 2025
in Persona
Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

DI bawah langit mendung dan udara lembab sore itu di Selasar Teater Kecil TIM, Jakarta, 18 Agustus 2025, nama Jose Rizal Manua kembali disebut dengan khidmat. Ia bukan hanya hadir sebagai pembaca puisi dalam acara Panggung Perjuangan Penyair Merah Putih yang digagas Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), melainkan juga sebagai simbol: seorang maestro teater anak yang puluhan tahun menjaga api imajinasi agar tidak padam di mata generasi kecil bangsa.

Bagi sebagian orang, Jose Rizal Manua adalah sutradara. Bagi anak-anak yang pernah bermain bersamanya, ia adalah sahabat yang setia duduk di lantai, mendengar, menunggu, dan tertawa bersama. Bagi dunia teater, ia adalah penegas bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan rahim kelahiran kreativitas.

Di emperan itu, Jose juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kebersamaan. Ia membimbing mereka untuk saling mendukung, menghargai perbedaan, dan bekerja sebagai satu tim. Setiap tawa, jatuh, dan kegagalan menjadi pelajaran kolektif yang memperkuat ikatan mereka dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tulus.

Teater Anak: Dari Emperan Menjadi Panggung Dunia

Ketika Jose Rizal Manua mendirikan Teater Tanah Air pada 1970-an, ia tak pernah membayangkan akan membawanya hingga ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Panggung pertamanya hanyalah emperan gedung Taman Ismail Marzuki, tempat anak-anak dari Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang berjejal usai naik KRL, masih berseragam sekolah, dan berlatih dengan riang.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dari ruang sempit itu ia menanamkan kebebasan. Tak ada contoh gerak yang harus ditiru, tak ada pakem yang mengekang. Anak-anak diajak membayangkan seekor kumbang mengejar mereka, lalu lima, sepuluh, seratus, bahkan seribu kumbang. Dari situ lahir langkah-langkah yang unik, tubuh yang berbeda, ekspresi yang personal.

Bagi Jose, seni adalah seni imajinasi dan anak-anak adalah penjaga paling setia dari sumber imajinasi itu.

Metode ini ia warisi dari pengalaman berguru pada nama-nama besar teater Indonesia: Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Teguh Karya. Namun, jika para gurunya banyak bergulat dengan teater dewasa, Jose Rizal Manua memilih jalan berbeda: ia menaruh seluruh hidupnya pada teater anak, sesuatu yang kala itu dianggap sepele.

Masuk ke Alam, Keluar dari Kebudayaan

Karya-karya Jose Rizal Manua selalu berpijak pada kearifan lokal. Ia percaya, cerita rakyat bukan sekadar dongeng, melainkan cermin nilai yang membentuk jati diri. Lakon Timun Mas, Roro Jonggrang, hingga Malin Kundang dihidupkan kembali, bukan untuk mengulang legenda, melainkan untuk membuka ruang tafsir baru bagi anak-anak.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Dalam lakon Roro Jonggrang, misalnya, ia melibatkan 50 anak sebagai ayam dan pasukan demit. Kostumnya? Bukan jubah mahal atau properti rumit, melainkan kukusan, centong, dan benda-benda rumah tangga. “Supaya penonton tidak asing,” ujarnya, “karena benda-benda itu memang hidup di sekitar kita.”

Prinsip inilah yang ia sebut sebagai masuk ke alam, keluar dari kebudayaan. Ia mengajak anak-anak kembali pada unsur-unsur dasar kehidupan tanah, air, angin, api sebelum melangkah ke bentuk kebudayaan yang lebih kompleks. Dengan begitu, seni tak terasa jauh, melainkan dekat, akrab, dan menyentuh.

Jose menekankan bahwa masuk ke alam bukan sekadar simbol, tetapi praktik harian: mengamati langit, daun, air, dan hewan sekitar. Anak-anak belajar membaca gerak alam dan mengubahnya menjadi ekspresi teater, sehingga setiap lakon bukan hanya pertunjukan, tetapi perpanjangan pengalaman hidup yang nyata, membumi, dan autentik.

Kebebasan sebagai Inti Pendidikan Seni

Banyak pelatih teater terbiasa memberi contoh: begini cara berjalan, begini cara menangis, begini cara tertawa. Namun bagi Jose Rizal Manua, memberi contoh adalah bahaya. “Kalau kita memberi contoh, anak-anak hanya meniru. Mereka kehilangan keberanian untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Karena itu ia memilih menjadi pendengar. Ia membiarkan anak-anak menemukan caranya sendiri. Dari situlah lahir pertunjukan yang selalu berbeda, penuh kejutan, bahkan membuat sang sutradara sendiri terperangah.

Emi Suy (penulis) bersama Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Mungkin inilah sebabnya anak-anak betah berlatih, meski harus naik kereta berdesakan atau mengorbankan waktu bermain. Bersama Jose, berteater berarti bermain, bersenang-senang, tanpa bentakan, tanpa amarah.

Dalam setiap latihan, Jose menanamkan keberanian untuk membuat kesalahan. Baginya, salah adalah bagian dari proses kreatif yang penting. Anak-anak diberi ruang untuk bereksperimen, mencoba ide-ide aneh, dan menemukan ritme masing-masing. Hasilnya, mereka tidak sekadar meniru, tetapi menulis kisah mereka sendiri melalui gerak dan suara.

Prestasi yang Mendunia

Keajaiban dari emperan TIM akhirnya menembus dunia. Tahun 2004, Teater Tanah Air menyabet sepuluh medali emas di The Asia-Pacific Festival of Children’s Theatre di Toyama, Jepang. Dua tahun kemudian, mereka memborong 19 medali emas di Jerman, sekaligus mengantar Jose Rizal Manua meraih penghargaan Sutradara Terbaik.

Presiden Teater Anak se-Dunia, Norbert Radermacher, bahkan semula tak percaya bahwa anak-anak ini berlatih di emperan. Baru setelah melihat langsung, ia terharu, berlutut di hadapan Niken Flora Rinjani putri Jose dan menyerahkan penghargaan. “Mereka tak punya apa-apa, tapi bisa menghadirkan sesuatu yang spektakuler,” ucapnya.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Prestasi terus berlanjut: Moskow (2008), Jenewa (2008), hingga festival-festival dunia lain. Teater yang lahir dari emperan kini berdiri sejajar di panggung internasional, bahkan dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai grup teater anak dengan penghargaan internasional terbanyak.

Kesuksesan internasional tidak membuat Jose jumawa. Ia selalu mengingatkan anak-anak bahwa medali hanyalah bukti perjalanan, bukan tujuan akhir. Yang terpenting adalah bagaimana mereka tumbuh, belajar, dan mengekspresikan diri. Setiap penghargaan menjadi refleksi dari ketekunan, kerja sama, dan kegembiraan yang ia tanamkan sejak emperan kecil TIM.

Mengakar di Keluarga, Bertumbuh di Masyarakat

Bagi Jose Rizal Manua, seni bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup.Ia menikah dengan Nunum Raraswati, membesarkan lima anak: Shakti Harimurti, Sanca Khatulistiwa, Nuansa Ayu Jawadwipa, Nusa Kalimasada, dan Niken Flora Rinjani semuanya tumbuh dekat dengan seni.

Namun keluarga baginya tak sekadar lingkar darah. Setiap anak yang berlatih di Teater Tanah Air diperlakukan seperti sahabat, seperti anak sendiri. Inilah rahasia mengapa mereka bertahan meski fasilitas minim. Mereka datang bukan karena dipaksa, melainkan karena merasa diterima.

Jose percaya bahwa seni tidak berhenti di panggung; ia ingin anak-anak merasakan dampak positifnya di kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang belajar bersamanya diajak untuk menyebarkan kreativitas dalam lingkungan rumah, sekolah, dan komunitas, menumbuhkan budaya apresiasi seni yang lebih luas, sekaligus menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial.

Jejak Panjang Seorang Maestro

Lahir di Padang, 14 September 1954, Jose Rizal Manua memulai perjalanan teater sejak 1969. Ia kemudian menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta, hingga menjadi pengajar di Fakultas Film dan Televisi serta Fakultas Teater. Dari Rendra ia belajar keberanian, dari Putu Wijaya absurditas, dari Arifin C. Noer ketajaman realisme, dan dari Teguh Karya disiplin. Semua itu ia sulam menjadi metode khasnya: metode imajinasi anak-anak.

Puluhan tahun pengabdian itu memberinya banyak penghargaan, termasuk Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI. Namun ia tetap sederhana: duduk di emperan, menunggu anak-anak datang, mengajarkan mereka untuk bermain.

Setiap pengalaman hidup Jose, baik manis maupun pahit, ia sulam menjadi pelajaran bagi generasi muda. Ia sering bercerita tentang perjalanan sulit menembus dunia teater dewasa, tentang bagaimana kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil. Kisah-kisah itu menginspirasi anak-anak untuk melihat hambatan bukan sebagai penghalang, melainkan pijakan menuju kreativitas yang lebih besar.

Makna Seorang Jose Rizal Manua

Hari ini, ketika Jose Rizal Manua berdiri di panggung pembacaan puisi Penyair Merah Putih, kita diingatkan: perjuangan seorang seniman tidak hanya lewat karya besar di panggung megah, tetapi juga lewat kesetiaan menjaga ruang sederhana bagi anak-anak.

Ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan jalan menemukan diri. Bahwa anak-anak punya hak untuk berimajinasi bebas dari ketakutan, bebas dari seragam kaku sistem pendidikan. Dan bahwa dari emperan pun, kita bisa menggemparkan dunia.

Jose Rizal Manua adalah bukti: seorang seniman yang masuk ke alam, keluar dari kebudayaan, lalu kembali ke manusia.

Dari emperan TIM hingga panggung dunia, Jose Rizal Manua mengajari kita bahwa kesenian adalah kesetiaan pada kehidupan itu sendiri. Bahwa keterbatasan bukanlah dinding, melainkan pintu. Bahwa bermain bisa menjadi doa. Bahwa imajinasi adalah cara anak-anak menyelamatkan dunia.

Dan bagi Jose, harga diri seorang seniman hanyalah satu: tampil maksimal di segala cuaca. Di bawah lampu panggung, di emperan sederhana, bahkan di hadapan bangsa-bangsa di PBB. Ia tidak pernah setengah hati. Ia hadir sepenuhnya.

Maka setiap gerakannya adalah perayaan. Setiap pertunjukannya adalah kesaksian. Seni, baginya, adalah keberanian untuk jujur, kesabaran untuk setia, dan ketekunan yang tak kenal henti.

Makna kehadirannya bagi dunia seni anak-anak melampaui panggung. Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki suara yang patut didengar, bahwa imajinasi adalah kekuatan, dan bahwa kesetiaan pada proses kreatif lebih berharga daripada pengakuan semata. Ia mengajari kita bahwa seni sejati lahir dari ketulusan dan kasih sayang yang mendalam.

Totalitas Jose Rizal Manua: Dedikasi Tanpa Batas

Jose Rizal Manua bukan hanya seorang sutradara; ia adalah totalitas yang hidup untuk teater anak. Setiap pagi, ia hadir di latihan dengan perhatian penuh, mengamati gerak anak-anak, menyesuaikan diri dengan energi mereka, dan menghadirkan ruang aman untuk berekspresi. Tak ada jarak antara dirinya dan anak-anak; ia duduk di lantai, berbicara, tertawa, dan ikut merasakan kegembiraan serta kekhawatiran mereka.

Jose Rizal Manua | Foto: penulis

Totalitas Jose terlihat dari caranya memperlakukan setiap pementasan sebagai pengalaman belajar. Ia tak puas hanya menampilkan cerita; ia menanamkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan keberanian pada setiap anak. Properti sederhana, kostum seadanya, ruang sempit—semua menjadi bagian dari pembelajaran kreatif yang nyata. Bahkan ketika menghadapi festival internasional, Jose menuntut keseriusan tanpa menghilangkan kesenangan, menegaskan bahwa pertunjukan adalah hasil kerja hati dan bukan sekadar formalitas.

Dedikasinya juga tampak dalam komitmen membawa Teater Tanah Air ke pentas dunia. Puluhan penghargaan internasional bukan sekadar angka, melainkan bukti dari kerja keras yang konsisten, kesabaran, dan keyakinan pada potensi anak-anak. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya kreatif yang unik, dan tugasnya adalah menyalakan cahaya itu dengan penuh perhatian, tanpa memaksakan bentuk atau jalan tertentu.

Jose Rizal Manua mengajarkan bahwa totalitas bukan soal pamrih atau pengakuan, melainkan kesetiaan pada proses. Dari emperan TIM hingga panggung dunia, ia membuktikan bahwa seorang seniman yang total adalah mereka yang hidup untuk anak-anak, untuk imajinasi mereka, dan untuk masa depan seni yang lebih luas.

Totalitas Jose juga tampak dalam ketekunannya membimbing para guru pendamping. Ia tak segan berbagi metode, memberikan masukan, dan menekankan pentingnya kesabaran. Ia ingin seluruh tim merasakan dedikasi yang sama, menciptakan ekosistem teater anak yang berkelanjutan, di mana setiap orang belajar untuk hidup sepenuhnya melalui seni. [T]

Cengkareng, 19 Agustus 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat
“Help!” dari Teater Tanah Air: Mari Bantu Anak-anak Menyelamatkan Bulan
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Tags: JakartaJose Rizal ManuasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menentang Dominasi Hallyu, Sakaguchi Kentaro sebagai “Soft Power”Jepang

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [9]–Baut Kendor, Kacamata Diskon dan Kepikunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co