24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2025
in Esai
Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

LAGU “Kebaya Merah” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals,  rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan disponsori oleh pengusaha Setiawan Djodi. Sebagian besar kelompok ini sebenarnya adalah anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan dimotori oleh Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri (Wikipedia).

 “Kebaya Merah” dalam lagu ini menjadi simbol dari kondisi bangsa Indonesia, yang mungkin terlihat baik-baik saja (beludru), namun menyimpan duka dan pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang terjadi. Gambaran tentang Ibu Pertiwi tanah air tercinta yang kaya sumber daya alam segalanya ada, namun masih banyak menyimpan duka, anak-anak Ibu Pertiwi belum dapat menikmati sepenuhnya seperti tersirat dalam lirik , “wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah, Ibu?”

Lirik lagu ini mengandung pertanyaan kepiluan seorang ibu simbolisasi Ibu Pertiwi, seperti “Ada apakah, Ibu?”, yang mencerminkan rasa penasaran dan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di Indonesia. Sederhananya dapat kita pahami pertanyaan “ada apakah Ibu?” misalnya “kue hasil ikhtiar Ibu Pertiwi”, tidak rata terbagi untuk putra putri Ibu Pertiwi, yang tinggal di berbagai sudut tanah air, ini yang membuat sedih duka yang sangat terasa.

Meskipun putra putri Ibu Pertiwi masih ada yang perduli dengan kesedihan dukanya, seperti terdeskripsi dalam lirik, “Ceritalah seperti dulu, duka suka yang terasa percaya pada anakmu tak terpikir ′tuk tinggalkan dirimu, Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu, Ada apakah, Ibu? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru Ada apakah?”

Keprihatian penulis lirik lagu ini, kemungkinan pada sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang diderita negeri dan anak negeri ini. Penyakit serakah mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengeksploitasi hutan, gunung, lautan, tambang,lembah, danau, sungai, padang rumput milik Ibu Pertiwi, yang tidak dikembalikan sepenuhnya kepada pemiliknya yaitu, putra-putri Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi cukup mengenakan pakaian seadanya, karena yang menjadi bebannya adalah masih banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang belum dapat terpenuhi kebutuhan sandang, papan, pangannya yang berkualitas, kesehatan, pendidikan serta kenyamanan bekerja,  seperti tersirat dalam lirik, “Kebaya merah kau kenakan, Anggun walau nampak kusam, Kerudung putih terurai, Ujung yang koyak tak kurangi cintaku”. Ibu pertiwi rela untuk tidak bermewah-mewah meskipun kursinya beralas beludru.

Ibuku, darahku, tanah airku, Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka, Padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah? Dari bait tersebut penulis lagu ini secara lahir bathin sangat tidak rela dan terima Ibu Pertiwi terus menerus dilukai hati, lahir dan batinnya padahal negeri ini sangat kaya, tapi Ibu Pertiwi terus berduka melihat polah tingkah putra-putrinya yang tidak pernah berterimakasih pada yang melahirkannya di tanah yang penuh berkah seperti untaian mutu manikam.

Ibarat Zambrud di Katulistiwa yang membentang dari ujung Sabang sampai sudut terluar Merauke. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan Bumi Pertiwi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.

***

Dongeng tentang negeri `Gemah Ripah Loh Jinawi’ menggambarkan betapa tentram dan makmur serta suburnya tanah Ibu Pertiwi, seperti sering didongengkan kakek nenek moyang kita. Semua hasil alam melimpah-ruah seakan tidak mungkin tanah air kita menjadi tanah miskin yang kekurangan.

Namun rakyat masih tidak merdeka dan berdaulat dalam beberapa bidang, seperti pekerjaan, penghasilan, kebutahan pokok, kesehatan masih barang mahal. Ini ketidakrelaan penulis lagu “Kebaya Merah” dikatakannya dengan tegas dalam lirik, ”Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah?”

Apalagi kemarin melihat sebuah postingan para anggota parlemen berjoget jingkrak ria mendengar gaji penghasilannya akan dinaikkan, tidak rela, Ibu dilukai kembali oleh suatu keputusan yang kurang memihak pada putra-putri Ibu Pertiwi yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa untuk menjaga Ibu Pertiwi agar dapat tersenyum, yaitu para guru di pelosok, penjaga perbatasan, para penyuluh lapangan, nelayan, petani, dan lain-lain. 

Menurut Bung Karno, tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan sosial. Gagasan Ratu Adil yang disemboyankan oleh Bung Karno itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.

Gagasan Ratu Adil disemboyankan oleh Bung Karno di tahun 1920-an saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Bung Karno mengutip istilah yang disampaikan oleh Raja Kediri Jayabaya mengenai kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja untuk membangkitkan semangat rakyat dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah gagasan  masyarakat yang tidak dibelenggu oleh kemiskinan.

Namun kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Ibu Pertiwi tersenyum, semoga segera dapat berdaulat dalam bidang pangan, gas minyak, dan juga pekerjaan bangsanya, di usia yang sudah cukup tua ini. Ibuku, darahku, tanah airku, tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru. Semoga kita dapat segera membawa dan membuat Ibu Pertiwi tersenyum. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Pesan tentang Kebebasan Dalam Lirik “Bohemian Rhapsody”
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa
Tags: ibuIwan Falslagumusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Next Post

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co