12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2025
in Esai
Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

LAGU “Kebaya Merah” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals,  rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan disponsori oleh pengusaha Setiawan Djodi. Sebagian besar kelompok ini sebenarnya adalah anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan dimotori oleh Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri (Wikipedia).

 “Kebaya Merah” dalam lagu ini menjadi simbol dari kondisi bangsa Indonesia, yang mungkin terlihat baik-baik saja (beludru), namun menyimpan duka dan pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang terjadi. Gambaran tentang Ibu Pertiwi tanah air tercinta yang kaya sumber daya alam segalanya ada, namun masih banyak menyimpan duka, anak-anak Ibu Pertiwi belum dapat menikmati sepenuhnya seperti tersirat dalam lirik , “wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah, Ibu?”

Lirik lagu ini mengandung pertanyaan kepiluan seorang ibu simbolisasi Ibu Pertiwi, seperti “Ada apakah, Ibu?”, yang mencerminkan rasa penasaran dan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di Indonesia. Sederhananya dapat kita pahami pertanyaan “ada apakah Ibu?” misalnya “kue hasil ikhtiar Ibu Pertiwi”, tidak rata terbagi untuk putra putri Ibu Pertiwi, yang tinggal di berbagai sudut tanah air, ini yang membuat sedih duka yang sangat terasa.

Meskipun putra putri Ibu Pertiwi masih ada yang perduli dengan kesedihan dukanya, seperti terdeskripsi dalam lirik, “Ceritalah seperti dulu, duka suka yang terasa percaya pada anakmu tak terpikir ′tuk tinggalkan dirimu, Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu, Ada apakah, Ibu? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru Ada apakah?”

Keprihatian penulis lirik lagu ini, kemungkinan pada sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang diderita negeri dan anak negeri ini. Penyakit serakah mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengeksploitasi hutan, gunung, lautan, tambang,lembah, danau, sungai, padang rumput milik Ibu Pertiwi, yang tidak dikembalikan sepenuhnya kepada pemiliknya yaitu, putra-putri Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi cukup mengenakan pakaian seadanya, karena yang menjadi bebannya adalah masih banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang belum dapat terpenuhi kebutuhan sandang, papan, pangannya yang berkualitas, kesehatan, pendidikan serta kenyamanan bekerja,  seperti tersirat dalam lirik, “Kebaya merah kau kenakan, Anggun walau nampak kusam, Kerudung putih terurai, Ujung yang koyak tak kurangi cintaku”. Ibu pertiwi rela untuk tidak bermewah-mewah meskipun kursinya beralas beludru.

Ibuku, darahku, tanah airku, Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka, Padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah? Dari bait tersebut penulis lagu ini secara lahir bathin sangat tidak rela dan terima Ibu Pertiwi terus menerus dilukai hati, lahir dan batinnya padahal negeri ini sangat kaya, tapi Ibu Pertiwi terus berduka melihat polah tingkah putra-putrinya yang tidak pernah berterimakasih pada yang melahirkannya di tanah yang penuh berkah seperti untaian mutu manikam.

Ibarat Zambrud di Katulistiwa yang membentang dari ujung Sabang sampai sudut terluar Merauke. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan Bumi Pertiwi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.

***

Dongeng tentang negeri `Gemah Ripah Loh Jinawi’ menggambarkan betapa tentram dan makmur serta suburnya tanah Ibu Pertiwi, seperti sering didongengkan kakek nenek moyang kita. Semua hasil alam melimpah-ruah seakan tidak mungkin tanah air kita menjadi tanah miskin yang kekurangan.

Namun rakyat masih tidak merdeka dan berdaulat dalam beberapa bidang, seperti pekerjaan, penghasilan, kebutahan pokok, kesehatan masih barang mahal. Ini ketidakrelaan penulis lagu “Kebaya Merah” dikatakannya dengan tegas dalam lirik, ”Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah?”

Apalagi kemarin melihat sebuah postingan para anggota parlemen berjoget jingkrak ria mendengar gaji penghasilannya akan dinaikkan, tidak rela, Ibu dilukai kembali oleh suatu keputusan yang kurang memihak pada putra-putri Ibu Pertiwi yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa untuk menjaga Ibu Pertiwi agar dapat tersenyum, yaitu para guru di pelosok, penjaga perbatasan, para penyuluh lapangan, nelayan, petani, dan lain-lain. 

Menurut Bung Karno, tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan sosial. Gagasan Ratu Adil yang disemboyankan oleh Bung Karno itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.

Gagasan Ratu Adil disemboyankan oleh Bung Karno di tahun 1920-an saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Bung Karno mengutip istilah yang disampaikan oleh Raja Kediri Jayabaya mengenai kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja untuk membangkitkan semangat rakyat dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah gagasan  masyarakat yang tidak dibelenggu oleh kemiskinan.

Namun kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Ibu Pertiwi tersenyum, semoga segera dapat berdaulat dalam bidang pangan, gas minyak, dan juga pekerjaan bangsanya, di usia yang sudah cukup tua ini. Ibuku, darahku, tanah airku, tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru. Semoga kita dapat segera membawa dan membuat Ibu Pertiwi tersenyum. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Pesan tentang Kebebasan Dalam Lirik “Bohemian Rhapsody”
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa
Tags: ibuIwan Falslagumusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Next Post

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co