23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
August 14, 2025
in Khas
Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Sunia Dewi (penulis) bersama Dee Lestari di Singaraja Literary Festival 2025

Dee Lestari: Melampaui Batasan, Menyembuhkan dengan Kata-Kata

Dari panggung musik yang dipenuhi sorotan lampu hingga keheningan pena di atas kertas, Dee Lestari telah membuktikan bahwa kata-kata adalah senjata ampuh yang dapat mengubah perspektif dan menginspirasi generasi. Perjalanan kreatifnya, yang melintasi dua jagat seni yang berbeda, bukan sekadar transisi karier, melainkan sebuah pencarian makna yang mendalam. Kehadirannya sebagai narasumber dalam Diskusi Kisah-Kisah Ajaib yang Menyembuhkan di Literary Festival sukses menegaskan esensi dari karyanya bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, baik bagi penulisnya maupun pembacanya. Melalui perjalanan hidupnya, Dee Lestari membuka mata kita pada sebuah kebenaran universal bahwa seni, dalam bentuknya yang paling murni, adalah jembatan menuju pemahaman diri dan koneksi spiritual.

Bagi Dee Lestari, menulis menjadi skill yang digunakan seumur hidup dan essential dalam menjalani hidup. Dengan menulis, kita dapat menuangkan dan meluapkan segala perasaan hanya dengan serangkaian kata-kata. Ketika menulis diawal, tentunya tidak semua orang mampu berada dipuncak keberhasilan dalam menulis, hal ini memerlukan waktu saat menulis belum berhasil, Dee Lestari tetap mencoba lagi hingga tulisan tersebut saat ini dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini Dee sebut dengan teknik “trial and error”. Dengan mencoba berkali-kali akan menumbuhkan pengalaman dalam menulis hingga berhasil disukai oleh khalayak banyak orang. Sebab, setiap orang menjalani prosesnya, dengan terus menulis dan mencoba lagi ketika belum berhasil, disinilah kita dapat mengukur kualitas kita dalam menulis.

Dee Lestari membaca puisi di acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

Dee Lestari menjadi sosok perempuan yang sangat dikagumi oleh penggemar yang gemar dalam menulis. Melalui karyanya dalam menulis, mencerminkan setiap kata yang dituangkan ketika membaca untuk terus berkarya dan tidak pernah berhenti dalam menulis. Setiap orang memiliki genre yang disukai dalam menulis, itulah yang disampaikan Dee Lestari saat mengisi acara MTN Asah Bakat (Penulis Novel) tepatnya di Singaraja Literary Festival, 26 Juli 2025. Saya merasa sangat gembira karena bekesempatan hadir secara langsung sebagai finalis untuk hadir dan bisa belajar banyak ilmu dari Dee Lestari.

Alasan mengapa menulis menjadi hal yang menarik dalam kehidupan Dee Lestari hingga akhirnya ia terjun menjadi seorang penulis profesional adalah sebuah kisah yang berakar jauh di masa kecilnya. Sejak kelas 5 SD, ia sudah merasakan dorongan kuat untuk menuangkan pikiran dan imajinasinya ke dalam tulisan. Pada usia di mana banyak anak lain fokus pada permainan, Dee sudah sibuk dengan dunia batinnya, membangun karakter, dan merangkai cerita. Menulis, baginya, bukanlah sebuah pilihan yang terencana, melainkan sebuah kebutuhan yang tumbuh secara alami dari dalam diri.

Dee Lestari menjelaskan, “Saya menulis karena saya merasa membutuhkan banyak hal dalam kehidupan maupun cara menjalani kehidupan.”

Ungkapan itu menjadi kunci untuk memahami seluruh perjalanan kreatifnya. Menulis adalah cara Dee untuk memproses emosi, memahami kompleksitas dunia, dan menemukan cara terbaik untuk menjalani hidup. Ini adalah sebuah proses terapi diri yang membantunya mengolah pengalaman, baik yang pahit maupun yang manis, menjadi sesuatu yang bermakna. Lebih dari sekadar hobi atau profesi, menulis telah menjadi semacam kompas spiritual yang membimbingnya.

Di balik karir bermusiknya yang sukses, hasrat untuk menulis tidak pernah pudar. Ini adalah api yang terus menyala, mendorongnya untuk terus bereksperimen dengan kata-kata, bahkan ketika ia berada di puncak popularitasnya sebagai penyanyi. Transisi dari dunia musik ke dunia sastra, yang mungkin tampak mengejutkan bagi banyak orang, sebenarnya adalah evolusi yang logis bagi Dee. Ini adalah langkah maju menuju otentisitas, dimana ia bisa sepenuhnya mengeksplorasi kedalaman pikirannya tanpa batasan genre atau format. Menulis memberinya kebebasan untuk mengekspresikan diri secara utuh, mengenali dirinya sendiri, dan, seperti yang ia katakan, “bertemu dengan alam inspirasi.”

Mengulas Perjalanan Menulis: Dari Pemicu Kreatif hingga Pencapaian Gemilang

Perjalanan menulis Dee Lestari adalah kisah tentang ketekunan, eksplorasi, dan pengakuan. Dimulai sejak masa kanak-kanak, ia telah mengasah kemampuannya dalam merangkai kata dan membangun narasi. Ketika ia memutuskan untuk menerbitkan karya pertamanya, Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh pada tahun 2001, ia tidak hanya memperkenalkan sebuah novel, melainkan sebuah fenomena baru dalam sastra Indonesia. Novel ini memadukan fiksi ilmiah dengan filsafat, spiritualitas, dan romansa, sebuah perpaduan yang belum pernah ada sebelumnya dan berhasil memikat jutaan pembaca.

Sejak saat itu, produktivitas Dee Lestari sebagai penulis terus meningkat. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan setidaknya 18 novel, sebuah angka yang luar biasa dan mencerminkan dedikasi yang tinggi terhadap dunia sastra. Karya antaloginya telah mendapat beberapa penghargaan, antara lain Karya Sastra Terbaik Tempo dan 5 Besar Khatulistiwa Award untuk Filosofi Kopi, serta Penghargaan Badan Bahasa untuk Madre. Karyanya tidak terbatas pada satu genre. Ia telah menjelajahi berbagai tema, dari seri fiksi ilmiah Supernova yang kompleks hingga cerita-cerita yang lebih personal dan mendalam seperti Perahu Kertas, Aroma Karsa, trilogi Rapijali dan Rectoverso. Keragaman ini membuktikan fleksibilitas dan kedalaman imajinasinya.

Pencapaian Dee Lestari tidak hanya diukur dari kuantitas karyanya, tetapi juga dari kualitas dan pengakuan yang diterimanya. Ia telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi dalam dunia sastra. Penghargaan-penghargaan ini bukan sekadar piala atau sertifikat, melainkan validasi dari industri dan kritikus bahwa karyanya memiliki nilai artistik dan relevansi yang tinggi. Karyanya berhasil menjembatani kesenjangan antara sastra populer dan sastra yang dianggap “berat,” membuatnya menjadi sosok yang dihormati di kedua dunia tersebut.

Cermin Jiwa Seorang Penulis

Salah satu buku yang paling mencerminkan filosofi hidup dan pandangan Dee Lestari tentang menulis adalah Tanpa Rencana. Buku ini bukanlah novel fiksi, melainkan kumpulan esai dan tulisan non-fiksi yang menyentuh berbagai topik, dari spiritualitas, kreativitas, hingga isu-isu sosial. Melalui buku ini, Dee mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandangnya yang unik dan reflektif.

Tanpa Rencana adalah bukti nyata dari kutipan Dee tentang menulis sebagai “penyembuhan bagi diri sendiri.” Setiap esai di dalamnya terasa seperti sebuah sesi terapi, di mana ia mengupas isu-isu personal dan universal dengan kejujuran yang menawan. Ia membahas bagaimana menghadapi ketidakpastian hidup, pentingnya menerima diri sendiri, dan menemukan makna di tengah kekacauan. Penulisan Dee dalam buku ini sangat pribadi dan intim, membuat pembaca merasa seperti sedang berdialog langsung dengannya. Buku ini juga berisi kumpulan perenungan mendalam tentang hdidup, kematian, kehilagan, penerimaan, dan spiritualitas, kembali berhasil diolah Dee menjadi cerita pendek serta puisi naratif yang renyah, lincah sekaligus menyentuh.,

Buku ini merupakan karya antalogi keempat yang menunjukkan bahwa di balik karya-karya fiksinya yang imajinatif dan kompleks, ada seorang penulis yang sangat grounded, yang peduli dengan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa Rencana menjadi semacam manual untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan penuh rasa syukur. Dengan gaya bahasa yang lugas namun puitis, Dee berhasil mengubah pengalaman-pengalaman biasa menjadi pelajaran-pelajaran berharga dan penuh makna. Ini adalah buku yang membuktikan bahwa menulis bukanlah sekadar alat untuk bercerita, tetapi juga sebuah cara untuk merefleksikan dan memahami kehidupan.

Perempuan dan Sastra: Menulis sebagai Pemberdayaan Diri dalam Dunia Patriarki

Kisah Dee Lestari juga tidak bisa dilepaskan dari konteksnya sebagai seorang perempuan dalam dunia menulis yang, seperti banyak bidang lainnya, masih sangat dipengaruhi oleh sistem patriarki. Dalam masyarakat yang sering kali membatasi ruang gerak dan suara perempuan, Dee Lestari muncul sebagai sosok yang berhasil mendobrak batasan-batasan tersebut. Ia menggunakan tulisannya sebagai platform untuk menyuarakan pemikiran, gagasan, dan emosi yang seringkali diabaikan.

Dee Lestari memberikan materi dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Asah Bakat Penulisan Novel serangkaian acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

“Menulis itu adalah penyembuhan bagi diri sendiri,” kata Dee. Ungkapan ini menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Bagi perempuan, menulis bisa menjadi sebuah tindakan revolusioner, sebuah cara untuk merebut kembali narasi hidup mereka dari tangan orang lain. Di tengah tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial, menulis menawarkan sebuah ruang privat di mana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu meminta izin. Ini adalah cara untuk mengolah trauma, merayakan pencapaian, dan menemukan identitas yang autentik. Menulis menjadi alat penyembuhan yang sangat personal, yang memungkinkan perempuan untuk menemukan kekuatan dari dalam diri.

Dee Lestari tidak hanya menulis tentang perempuan, tetapi ia juga menulis sebagai perempuan, dengan perspektif dan sensitivitas yang unik. Melalui karakter-karakter perempuan yang kuat dan kompleks dalam novel-novelnya, ia menantang stereotip dan menunjukkan bahwa perempuan adalah pribadi yang multidimensi. Karyanya memberikan inspirasi bagi pembaca perempuan untuk berani bermimpi, berani bersuara, dan berani menjadi diri sendiri.

Lebih dari itu, Dee juga berbicara tentang menulis sebagai cara untuk terkoneksi dengan spiritualitas dan lingkungan. Dalam dunia yang sering kali didominasi oleh logika dan materialisme, ia mengingatkan kita bahwa ada dimensi lain dalam kehidupan yang tidak terlihat oleh mata. Menulis, baginya, adalah sebuah jembatan ke dunia batin, ke alam imajinasi, dan ke sumber inspirasi yang tidak terbatas. Ini adalah sebuah tindakan yang melampaui batasan genre dan konvensi, sebuah cara untuk “berkarya secara manusia secara utuh,” menceritakan hal yang baik, dan menyebarkan energi positif melalui kata-kata.

Warisan Kata-Kata yang Abadi

Perjalanan Dee Lestari dari dunia musik ke jagat sastra adalah sebuah kisah tentang evolusi diri dan kekuatan kata-kata. Ia telah membuktikan bahwa menulis bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan jiwa yang dapat membawa penyembuhan, pemahaman diri, dan koneksi spiritual. Melalui karyanya yang beragam, ia berhasil menginspirasi jutaan pembaca untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, untuk berani mengekspresikan diri, dan untuk menemukan kekuatan dalam setiap kata yang mereka tulis atau baca.

Sebagai seorang penulis perempuan, Dee Lestari juga menjadi simbol pemberdayaan. Ia menunjukkan bahwa di tengah sistem patriarki, menulis bisa menjadi alat revolusi yang senyap namun kuat, sebuah cara untuk merebut kembali narasi dan menemukan identitas diri yang otentik. Kisah Dee Lestari adalah pengingat bahwa di dalam diri setiap orang, ada sebuah cerita yang menunggu untuk ditulis, dan di dalam cerita itu, terdapat kekuatan untuk menyembuhkan, menginspirasi, dan mengubah dunia, satu kata pada satu waktu. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Artikel ditulis serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali. Ditulis oleh penulis yang lolos open call residensi penulis festival di Singaraja Literary Festival 2025

  • BACA JUGA:
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025
Menemukan Keaslian Dee Lestari pada “Tanpa Rencana”
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Tags: Dee LestarinovelsastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vibrasi Alami

Next Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co