23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta

Krisna Aji by Krisna Aji
August 13, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEORANG perempuan berusia 25 tahun, sebut saja Ira, selalu bermasalah dalam setiap hubungan percintaan. Setiap kali ia menjalin kedekatan dengan seseorang, selalu muncul perasaan takut ditinggalkan. Ira mudah sekali curiga dan merasa tidak cukup dicintai oleh pasangannya. Ia menjadi terlalu sering mengecek ponsel pasangannya, menanyakan kabar setiap jam, bahkan selalu menanyakan hal yang sama:”Apakah kamu mencintaiku?”

Masalah hubungan antar pasangan tidak hanya terjadi pada Ira. Hubungan emosional yang bermasalah memang banyak terjadi di periode usia 20 sampai 40–intimacy vs isolation–jika kita mengacu pada teori psikososial menurut Erikson. Masa di mana seseorang mencari keseimbangan antara menjadi diri sendiri yang mandiri dan mampu menjalin hubungan emosional yang intim dengan pasangan. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya masalah yang serupa di periode usia lain.

Terlepas dari periode tersering dari masalah hubungan berpasangan, sebenarnya masalah sudah terbentuk sejak kecil. Saat itu, masalah mungkin belum terlalu tampak karena dampak yang dirasakan belum terlalu signifikan. Untuk memahaminya, kita bisa mulai dengan teori kelekatan John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam perkembangan psikososial Erik H Erikson.

Menurut Bolby dan Ainsworth, pola awal masalah berakar dari kelekatan emosional antara bayi dan orang tua sebagai pengasuh utama. Di usia 0-2 tahun, terutama 6-24 bulan, bayi mulai mengenal sosok yang akrab dan bereaksi secara spesifik terhadap kehadiran atau ketidakhadiran mereka. Jika menyertakan teori perkembangan kognitif Piaget, ini adalah masa yang sama dengan tahapan sensori-motor. Tahapan di mana anak pertama kali belajar realita yang tidak hitam-putih. Di mana orang tua yang pergi bukan berarti hilang secara permanen. Orang tua yang pergi tetaplah ada dan bisa saja kembali untuk memberikan rasa aman. Di masa ini, periode kritis terjadi karena otak, tubuh, dan jiwa bayi secara intuitif membangun kepercayaan terhadap dunia yang aman. Pola yang juga berada di fase yang tepat sama dengan trust-misstrust oleh Erikson.

            Di usia selanjutnya, yaitu 2-3 tahun, masalah kelekatan menjadi makin kuat dan jelas. Anak mulai mengidentifikasi sosok yang dapat dianggap sebagai “area aman”– sosok yang akan dicari saat takut, marah, sakit, atau merasa tertekan. Walaupun di masa ini anak sudah mulai belajar bahwa kepergian saat orang tua belum tentu adalah situasi yang permanen, anak belum paham akan alasan orang tua sebagai objek yang dilekati harus pergi–walaupun untuk bekerja atau belanja ke pasar. Kegelisahan dari anak menjadi makin dramatis saat perpisahan dengan objek ini terjadi. Membuat anak menjadi reaktif, penuntut, dan juga posesif. Sebaliknya, keceriaan akan muncul saat berkumpul dengan objek yang dilekati. Di mana hal tersebut membuktikan bahwa relasi antara anak sebagai subjek dan orang tua sebagai objek makin terbentuk.

            Tipe kelekatan yang mulai terlihat jelas di usia ini terbagi menjadi empat. Empat tipe tersebut adalah kelekatan yang aman–secure attachment, menghindar–insecure-avoidant attachment, tak teratur–disorganized attachment, serta cemas dan ambivalen–insecure-ambivalent attachment.

Kelekatan yang baik adalah kondisi anak yang akan tenang saat pengasuh hadir, sedih saat ditinggal, lalu tenang dengan cepat saat pengasuh kembali. Menjadi kondisi yang baik karena anak mulai belajar bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan cinta akan datang tanpa perlu diminta.

Kelekatan menghindar, yang sangat berbeda dengan tipe sebelumnya, adalah kondisi di mana anak tampak tidak peduli terhadap kehadiran atau kepergian pengasuh. Kondisi ini sekilas tampak baik karena anak sepertinya “mandiri”. Tetapi, sebetulnya anak sedang menarik diri karena terbiasa diabaikan.

Saat kelekatan menghindar dicirikan dengan ketidakpedulian, kelekatan yang tak teratur dicirikan dengan respons yang kontraindikatif, kacau, bahkan aneh. Kondisi ini sering terjadi pada anak dengan riwayat trauma, penelantaran, atau pengasuhan yang mengancam. Anak dapat berpikir bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan dan sumber cinta yang seharusnya bisa dijadikan tempat berlindung juga menjadi sumber luka.

Kelekatan bermasalah selanjutnya adalah tipe cemas dan ambivalen. Kondisi ini terlihat dari anak yang sangat gelisah saat ditinggal dan sulit ditenangkan saat pengasuh kembali. Kecemasan hadir karena anak diliputi ketidakpastian: kapan cinta hadir dan kapan cinta akan menghilang. Anak hidup dalam dilema: jika ia terlalu berharap akan datangnya objek cinta, maka kecemasan akan hilangnya objek cinta itu juga akan semakin besar.

Manusia terus bertumbuh. Dengan pengembangan teori kelekatan oleh Patricia Crittenden, anak di usia 3-6 tahun mulai dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya untuk benar-benar tidak lagi berpikir hitam-putih. Orang tua yang pergi bisa saja hanya sementara dan kembali lagi. Anak mulai bisa diajak bernegosiasi dan ditenangkan dengan janji bahwa suatu saat, orang tua sebagai objek cinta pasti akan kembali. Walaupun demikian, kelekatan anak di usia masih rapuh. Anak akan sensitif terhadap perubahan suasana hati orang tua serta merasa cemas saat komunikasi emosional dengan orang tua terganggu. Hal ini dapat disebabkan, salah satunya, oleh kondisi emosional orang tua yang bermasalah saat mengasuh anak. Jika menggabungkan teori perkembangan kognitif Piaget dan psikososial Erikson, kemampuan otak yang sudah berkembang membuat internalisasi peran di diri anak yang terpusat pada dirinya muncul. Memunculkan pertanyaan seperti: “Bagaimana caranya agar aku selalu disayang?” Di titik ini pula, pola pikiran “Apakah aku layak dicintai?” berawal. Dengan motif tersebut, anak di usia ini sudah dapat mengembangkan strategi agar mendapat perhatian. Berperilaku berpura-pura dengan menunjukkan emosi yang tidak sesuai hanya untuk menghindari penolakan adalah salah satu contohnya.

Perkembangan tersebut berlanjut di usia 6-12 tahun. Dengan mengacu pada teori psikososial Erikson, lingkungan anak sudah berkembang lebih luas. Berkembang ke lingkungan  teman-teman sekolah dan anak-anak sebaya di sekitar rumah. Dengan hubungan yang lebih lebar dari pada lingkungan di dalam rumah, anak yang sudah berhasil melewati fase sebelumnya akan menjadi percaya diri saat mengarungi dunia yang lebih luas. Tetapi, jika relasi di dalam rumah dingin, penuh konflik, dan banyak masalah, anak bisa menjadi tertutup, agresif, dan haus validasi untuk diterima saat berinteraksi dengan lingkungan barunya.

 Di usia selanjutnya, yaitu 12-18 tahun, fase remaja saat seseorang sedang mencari jati diri–identity vs role confusion jika menurut Erikson–adalah kondisi di mana seseorang tidak lagi bergantung secara fisik terhadap orang tua, tetapi masih memiliki jejak kelekatan masa kecil. Jejak kelekatan tersebut menjadi cetak biru dalam relasi baru di tahap ini. Dengan pengembangan teori oleh Hazan dan Shaver, manusia mulai mengalami pergeseran kelekatan ke teman sebaya atau pasangan romantis. Remaja dengan kelekatan yang aman akan cenderung membuka diri, menyatakan kebutuhan, dan menoleransi ketidakpastian. Sebaliknya, remaja dengan kelekatan yang tidak aman menjadi sangat bergantung atau bahkan menarik diri dari keintiman sosial. Pola tersebut akan semakin mengendap di fase selanjutnya, yang menurut Erikson, adalah fase pencarian keintiman emosional dengan cara berpasangan. Fase usia di mana Ira berada sekarang.

Lalu, apa yang terjadi pada Ira? Pola kelekatan yang terjadi padanya adalah tipe cemas dan ambivalen. Ia merasa tidak cukup berharga untuk dicintai dan haus akan validasi akan cinta. Setelah ditelisik lebih dalam, ternyata orang tuanya sudah berkonflik sejak Ira dilahirkan, lalu bercerai saat Ira berusia 2 tahun. Membuat Ira hanya diasuh oleh ibu tanpa kehadiran ayah.

Ketiadaan figur ayah sejak kecil membuat cara pandangnya terhadap laki-laki dipenuhi oleh kecemasan. Cemas karena sejak awal kehidupan, ayah sebagai cinta pertamanya tidak memberikan respons yang memadai. Ayahnya pergi dan Ira hanya tinggal berdua dengan ibunya. Di saat itu pula, ibu juga memiliki masalah mental akibat perceraian yang dihadapi. Hubungan antara anak, ayah, dan ibu bermasalah sejak saat itu. Menjadi pola awal dalam melihat masa kini yang selalu tampak tidak pasti. Penuh rasa tidak aman dan khawatir akan ditinggalkan lagi. Seperti ayah sebagai objek cinta pertama yang pernah meninggalkannya dahulu.

Apakah pola ini bisa diubah jika sudah terlanjur membeku di usia dewasa?

Jawabannya bisa macam-macam. Banyak yang menetap tetapi ada juga yang dapat berubah. Perubahan bisa terjadi saat seseorang sudah menyadari pola yang terjadi serta penyebab dari terbentuknya pola tersebut. Setelah menyadari pola, dengan kemampuan otak yang sudah cukup matang di usia dewasa, memahami akar masalah dan mengubah alam bawah sadar masih dapat dilakukan. Cara ini–tentu saja–akan penuh dengan tantangan karena memerlukan usaha yang konsisten.

Contoh dari pemahaman akan sumber kelekatan di masa lalu dan usaha untuk mengubahnya terjadi pada cerita lain yang sempat saya tulis di esai berjudul Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar.

Di cerita tersebut, terdapat tokoh bernama Mita yang memiliki masalah kelekatan dengan ayahnya. Di masa lalu, ayah Mita bersikap pasif dan berjarak dengan anak-anaknya. Komunikasi yang dilakukan ayah ke anak sangat kurang. Ayah juga tidak pernah mengungkapkan rasa sayang secara terang-terangan kepada anaknya. Komunikasi yang terjadi antara ayah dan keluarganya lebih sering terjadi hanya saat ada masalah. Kata-kata yang keluar saat komunikasi itu terjalin pun lebih didominasi kata-kata kasar dan menusuk. Dari sudut pandang Mita sebagai anak, ayah serasa ada dan tiada. Mungkin lebih baik tidak ada sama sekali.

Dengan figur ayah yang juga bermasalah, Mita menampilkan tipe kelekatan yang secara kasat mata sangat bertolak belakang dengan Ira. Kelekatan tersebut bertipe menghindar–insecure-avoidant attachment–yang dicirikan dengan perilaku yang relatif dingin dan minim emosi. Hal tersebut membuat Mita tampak menjalani hidup dengan sikap keras, sukar menyampaikan perasaan secara terbuka walaupun kepada orang terdekatnya, dan dapat berjalan di kaki sendiri tanpa perlu bantuan laki-laki.

Tujuan sebenarnya dari sikap tersebut bukanlah untuk “kejam” atau “tidak peduli”, tetapi untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional akibat penolakan. Penolakan yang dapat dikendalikan dengan terciptanya jarak aman agar potensi konflik menjadi minim. Dengan tujuan yang sama,  Mita bersikap dingin agar bisa menghindari rasa ketergantungan kepada orang lain. Karena ketergantungan dianggap berisiko membuat hati terluka. Semua dilakukan akibat kedekatan dirasa sangat mengancam.

Di usia dewasa, mirip seperti Ira, Mita mengalami masalah dalam hubungan berpasangan akibat kelekatan yang bermasalah. Setiap hubungan personal yang ia jalin dengan laki-laki selalu berantakan. Pola yang sama selalu terulang kembali walaupun Mita sudah mengantisipasi semua kemungkinan buruk dengan antisipasi logika yang matang. Pola tersebut baru mulai terkikis setelah Mita menelusur jauh ke dalam alam bawah sadar yang terbentuk di masa kecil dan pelan-pelan menyelesaikannya.

Dalam artikel Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar disebutkan bahwa Mita mengawali penyelesaian konflik masa kecil dengan melihat masalah dengan lebih luas. Ia mulai membayangkan kondisi yang terjadi pada tumbuh kembang ayahnya dari cerita-cerita yang didengar dari kerabatnya.

Pada perjalanannya Mita mengetahui bahwa kedua orang tua dari ayah sudah meninggal akibat tragedi PKI sejak ayah Mita berusia lima tahun. Hal tersebut membuat ayah tidak memiliki figur laki – laki yang dapat dijadikan panutan. Ayah lebih sering menghindari konflik karena trauma atas tragedi pembersihan PKI di saat kecil. Hal yang menyebabkan ayah Mita terbiasa memendam masalah dan menggunakan anak dan istrinya sebagai tempat sampah pelampiasan amarah saat memiliki masalah dengan orang lain.

Dengan membayangkan berada di posisi ayahnya, Mita menjadi paham bahwa semua orang yang berada di posisi ayah kemungkinan besar akan melakukan hal yang serupa. Bahkan, bisa lebih parah. Jika saat itu ayah Mita mendapat sedikit saja kemudahan, seperti situasi politik yang aman dan pengetahuan akan kesehatan mental yang cukup, ayah sangat mungkin akan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, siapa, sih, yang dengan sadar tega merusak mental keluarganya? Bahkan, jika posisinya dibalik, di mana Mita berada di posisi ayahnya saat itu, Mita sangat mungkin melakukan hal yang sama–atau bahkan lebih buruk.

Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, sikap memaafkan kondisi yang sudah terjadi bisa saja akan tumbuh secara perlahan. Bisa jadi, Ira pun dapat menggunakan cara serupa sebagai solusi terhadap masalahnya. Dengan membayangkan bahwa ketiadaan ayah di masa kecil akan selalu memiliki alasan. Karena bisa saja, masih banyak hal baik yang tidak diketahui yang dapat dijadikan bahan untuk memaafkan masa lalu yang suram. Sikap memaafkan yang dulu tidak bisa dilakukan, saatnya dimulai. Dengan kebijaksanaan di usia saat ini yang jauh lebih berkembang dibandingkan saat kecil dulu. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Tags: cintakesehatan jiwakesehatan mentalPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]--Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co