25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 12, 2025
in Esai
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Ilustrasi tatkala.co

Bali, Surga dengan Aroma yang Tidak Sedap

Bali sering dijual sebagai surga tropis: pantai berpasir putih, sawah berundak, pura berjejer anggun, dan senyum ramah penduduknya. Namun, di balik poster pariwisata itu, ada aroma lain yang kadang menyeruak—bukan bau dupa atau kopi arabika Kintamani, melainkan tumpukan sampah yang menumpuk di setiap sudut jalan, di tebing, juga pada aliran sungai.

Gagalnya penanganan sampah di Bali menunjukkan betapa tidak becusnya kita menangani masalah yang menurut beberapa teman sebagai CGT, cenik gae to, asal disertai keseriusan. Sayangnya dana yang dialokasikan, menurut data yang dibeberkan I Gusti Putu Artha sangat tidak memadai, dibandingkan dana untuk Kominfo.  Penutupan TPS Suwung—yang dulunya menjadi “katup pengaman” sampah Denpasar dan sekitarnya—membuat masalah ini malah semakin meledak. Armada pengangkut sampah pun dijejerkan di depan Kantor Gubernur sebagai bentuk protes. Pemandangan ini bukan sekadar soal bau atau estetika, tapi simbol dari tata kelola yang tersendat.

Di ruang publik, tokoh masyarakat  I Gusti Putu Artha dan pihak pemerintah saling sindir lewat media sosial, bahkan mulai mengarah ke ranah personal. Ironisnya, kritik yang sejatinya adalah vitamin demokrasi justru dibalas seperti air tuba. Pertanyaannya: ke mana perginya Tri Hita Karana yang sering menjadi jargon manis? Apakah hanya sebatas wacana seremonial?

Tri Hita Karana: Filosofi atau Ornamen?

Tri Hita Karana mengajarkan tiga harmoni: hubungan dengan Tuhan (parahyangan), hubungan dengan sesama manusia (pawongan), dan hubungan dengan alam (palemahan). Dalam konteks pengelolaan sampah, palemahan seharusnya menjadi pijakan utama.

Namun, dalam praktiknya, konsep ini sering dipajang di spanduk acara atau brosur pariwisata tanpa benar-benar menjadi panduan kebijakan. Sampah yang menumpuk, sungai yang tersumbat plastik, dan pantai yang kotor adalah tanda jelas bahwa palemahan sedang diabaikan.

Jika Tri Hita Karana hanya berhenti di bibir, ia berubah menjadi Tri Hita Jaranan—indah ditarikan di panggung, tapi tidak berdaya membersihkan halaman rumah.

Dharma Kshatriya: Pelayanan, Bukan Sekadar Kekuasaan

Dalam tradisi nusantara, kshatriya adalah pelindung rakyat, bukan sekadar pemegang tahta. Dharma kshatriya adalah mengutamakan kepentingan publik di atas kenyamanan pribadi.
Mengelola sampah mungkin terdengar remeh dibanding proyek besar bernilai triliunan, tapi justru di sinilah ukuran pelayanan terlihat.

Sampah adalah urusan wajib pelayanan dasar menurut UU No. 18/2008 dan UU No. 23/2014. Bila krisis sampah sampai berlarut, itu menunjukkan rantai tanggung jawab yang putus. Menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa infrastruktur yang memadai bukanlah partisipasi, melainkan penyerahan beban.

Ketika Kritik Dianggap Serangan Pribadi

Kritik atas kinerja pemerintah bukanlah permusuhan, melainkan mekanisme koreksi yang sehat. Di era keterbukaan informasi, masyarakat dan tokohnya berhak bersuara.
Sayangnya, yang sering terjadi adalah “personalisasi” kritik—alih-alih menjawab substansi, justru menyerang balik pembawa pesan.

Fenomena saling sindir di media sosial antara tokoh masyarakat dan pejabat publik adalah gejala bahwa ruang dialog formal tidak bekerja optimal. Padahal, Tri Hita Karana di ranah pawongan menuntut keterbukaan, penghormatan, dan saling mendengar.

Partisipasi Masyarakat: Perlu, Tapi Bukan Alasan Lepas Tangan

Tak ada yang menyangkal bahwa keterlibatan warga penting. Memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, dan ikut bank sampah adalah langkah nyata.
Namun, partisipasi ini harus berjalan di atas fondasi sistem yang disiapkan pemerintah: TPST 3R yang berfungsi, armada pengangkut yang memadai, teknologi pengolahan modern atau komposting massal, serta kebijakan Extended Producer Responsibility bagi industri.

Jika fondasi ini tidak ada, partisipasi akan terasa seperti menyapu halaman sementara hujan membawa sampah dari hulu.

Satir yang Serius: Belajar dari TPS yang Ditutup

Penutupan TPS Suwung tanpa solusi alternatif yang matang adalah seperti menutup pintu dapur saat panci di dalam sedang mendidih—uapnya mencari jalan keluar, dan meledak di ruang tamu.

Dalam pengelolaan publik, kebijakan yang bersifat reactive (menutup tanpa ada solusi pengganti) hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Di sinilah refleksi satir ini menemukan gigitannya: Bali yang memimpin kampanye dunia untuk kesadaran lingkungan, justru terjebak dalam krisis sampah di halaman sendiri.

Jalan Keluar: Dari Wacana ke Tindakan

  1. Politik Layanan, Bukan Pencitraan
    Pemimpin perlu hadir di titik masalah, bukan hanya di titik kamera. Turun langsung menginspeksi TPS, TPA, dan sistem pengangkutan menunjukkan keseriusan.
  2. Kebijakan Berbasis Data
    Berapa ton sampah dihasilkan per hari? Berapa persen yang bisa diolah? Data ini harus transparan dan menjadi dasar kebijakan, bukan asumsi.
  3. Industri Pariwisata Ikut Tanggung Jawab
    Hotel, restoran, dan destinasi wisata adalah produsen sampah besar. Sebagian pajak dan retribusi mereka harus dialokasikan khusus untuk pengelolaan sampah.
  4. Edukasi dan Regulasi Jalan Bersama
    Edukasi tanpa sanksi hanya membuai; sanksi tanpa edukasi hanya menakuti. Keduanya harus berjalan seimbang.

Menjemput Kembali Dharma

Krisis sampah ini bukan hanya soal bau atau pemandangan yang merusak citra wisata. Ia adalah cermin dari cara kita memaknai Tri Hita Karana dan dharma kshatriya.

Pelayanan publik sejatinya adalah ibadah sosial. Pemimpin yang melayani dengan tulus akan dihormati, bahkan di tengah kritik. Pemimpin yang menutup telinga akan dikenang, tapi bukan karena prestasinya.

Bali tidak kekurangan filosofi agung—yang kurang adalah keberanian untuk menerapkannya di tempat paling sederhana: TPS, TPA, dan jalur pengangkut sampah. Karena dari sanalah kebersihan hati sebuah masyarakat dapat diukur. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: daur ulang sampah plastikGubernur BaliPemprov BaliSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [2]—Celaka! Baru 100 Kilometer Tapi Sekujur Tubuh Sudah Ngilu

Next Post

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co