24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari karya Dek Omo

 

DALAM negara demokrasi modern, kekuasaan tertinggi ada di tangan  rakyat. Rakyat menjadi subjek sekaligus objek dari kekuasaan. Oleh  karena itu sewajarnya  rakyat tak usah mengeluh karena buruknya  administrasi pemerintahan, karena buruknya administrasi pemerintah mencerminkan keburukan karakter dari pada warga negara.

Keburukan karakter itu tercermin dari ketidakjujuran warga masyarakat dalam melaporkan pajak, menaati hukum, dan ketidakbecusan memilih wakil sebagai pengawas dan pemimpin sebagai  pelaksana jalannya  pemerintahan. Masyarakat yang tidak jujur sewajarnya melahirkan administrasi pemerintahan yang korup. Sebaliknya masyarakat yang baik pasti memiliki pelakasana pemerintahan yang baik pula.

Seperti sebuah perandaian, orang yang tinggal di lingkungan tempat penampungan sampah, tidak akan terganggu oleh bau sampah, karena hal  itu sudah menjadi hal yang mereka alami sehari-hari. Namun bagi orang yang baru datang ke tempat itu, dipastikan ia akan segera menuntup hidungnya karena bau sampah yang tak sedap.

Pada zaman China, India, atau Majapahit kuno, mereka memiliki akademi calon pemimpin. Sebelum mereka mengambil tanggung jawab  kemasyarakatan, ia harus lulus dan mendapat pendidikan dalam akademi  ini. Calon-calon pemimpin yang pada umumnya pangeran dan para bangsawan maupun masyarakat biasa yang dipandang berbakat, dilatih  ilmu politik, ekonomi,  meliter, etika dan moralitas.

Dalam zaman  Indonesia modern, cara ini diadopsi menjadi pendidikan modern, seperti IPDN, taruna nusantara atau sejenisnya, untuk dicetak menjadi pemimpin  masyarakat. Pada awalnya sekolah-sekolah ini berjalan baik, dan cukup  dihormati. Namun belakangan tampaknya lembaga ini mulai mendapat “pertanyaan-pertanyaan”.

Di Bali para pemimpin adat yang lahir dari rahim banjar tergolong mumpuni, dimana karakter dan mental seorang calon pemimpin itu diuji dan digodok dalam dinamika masyarakat adat melalui pesamuan, rapat, dan segala kegiatan yang berhubungan dengan tradisi adat. Dalam forum banjar akan terlihat mana seorang yang memiliki kecakapan dan kemampuan sebagai pemimpin dan mana yang tidak memenuhi standar.

Yang  menjadi acuan pokok dari proses seleksi itu adalah skill yang benar-benar menjadi kebutuhan banjar tersebut, bukan kekayaan ataupun gelar akademik.  Segala tindak tanduk pemimpin banjar di awasi langsung oleh warga banjar tersebut. Sedikit saja ada penyelewengan, hal itu akan langsung menjadi obrolan warga banjar. Dalam forum ini korupsi berarti kematian. sanksi yang didapat meskipun bukan sangsi fisik, namun sungguh lebih berat berupa sanksi moral.

Namun sungguh malang, dalam masyarakat demokrasi dewasa ini, pemimpin tidak lahir dari proses pendidikan sebagai calon pemimpin yang  memadai. Akibatnya kualitas mereka sungguh jauh dari nilai ideal, bahkan sudah sangat merosot sekali.

Korupsi sebagai penyakit masyarakat modern, bersifat efidemic, dan mengglobal. Penanganannya tidak bisa bersifat parsial. Jika ditelisik korupsi memiliki dua aspek yakni moral dan material. Moral menyangkut agama dan etika. Sedangkan material berhubungan dengan sistem tatanan kemasyarakatan.

Dalam masyarakat yang penuh dengan hal-hal melanggar moral seperti pelacuran, perjudian, narkoba, obat terlarang, atau terbukanya tempat minum minuman keras, dipastikan sifat korupsi ada didalamnya. Perjudian, minuman keras, obat terlarang, dan pelacuran adalah akar dari munculnya segala perbuatan jahat dan kriminalitas lainya.

Secara moral dan agama sikap korupsi  berarti sebuah kebodohan, karena sudah begitu gamblang dalam banyak kitab suci dikatakan bahwa perbuatan korupsi akan membawa seseorang jatuh dalam siksa neraka. Secara kasat mata pun korupsi, yang berawal dari hasrat membahagiakan anak istri, atau sekedar mendapatkan pengakuan dan prestise duniawi, harus dibayar mahal dengan hancurnya “masa depan” sang jiwa.Ditegaskan jiwa seorang koruptor akan mendapat siksaan yang tak  terperi di akhirat nanti.

Nasehat bijak kehidupan menjelaskan bahwa dalam hidup ini, untuk membahagiakan anak istri, keluarga, atau mencari penghidupan, jangan sampai kita membahayakan “kehidupan” kita sendiri.

Kisah Rsi Walmiki

Ada sebuah cerita yang indah mengenai hal ini; Diceritakan bahwa penulis kitab Ramayana Rsi Walmiki dulunya bernama Ratnakara. Dalam menghidupi anak  istrinya ia bekerja sebagai seorang begal dan perampok. Siang malam ia tak kenal lalah dan takut bekerja keluar masuk hutan, demi agar bisa membawa sesuatupulang, yang diharapkan dapat membahagiakan anak istrinya.

Suatu hari, setelah beberapa hari berada di hutan, dan tanpa  hasil, ia bertemu dengan seorang brahmana. Karena hasrat untuk memberi sesuatu kepada keluarganya besar, ditambah kelelahan tanpa hasil, ia memutuskan merampok dan membegal brahmana itu.

Setelah berada di hadapan brahman itu, diluar dugaan brahmana itu tak terkejut sama sekali dengan ancaman dan rupa ratnakara yang menyeramkan, sebaliknya brahmana itu berkata lembut kepadanya: ” wahai ratanakara, engkau melakukan kerja tercela ini untuk anak istrimu, coba kau tanya mereka apakah mereka akan mau menemanimu dipenjara jika engkau ditangkap aparat kerajaan?

Apakah mereka mau ikut denganmu ke neraka, jika engkau mati nanti? Pergilah kepada anak istrimu, dan tanyakan hal ini pada mereka”

Ratnakara termenung mendengar hal ini, hatinya terasa tertampar. Bergegas ia pulang dan meninggalkan brahmana itu. Sesampainya di rumah, ditanyakanya hal itu pada anak istrinya. Jawaban istrinya di luar dugaannya. “Enak aja aku kau suruh ikut dipenjara atau ke neraka bersamamu, mencari nafkah itu kan urusanmu, jangan bawa-bawa aku. Aku tak mau tahu kau mendapatkan uang dengan cara apa, itu urusanmu.”

Hati Ratnakara hancur. Ia telah berkorban bekerja siang dan malam untuk mereka. Namun apa lacur, cintanya tak berbalas sesuai apa yang  ia bayangankan. Ia berjalan gontai dan kembali menemui brahmana itu.

Diceritakan jawaban anak istrinya. Ia merasa putus asa. Lalu kepada brahmana, yang tiada lain adalah Rsi Narada, ia memohon petunjuk dan berguru. Rsi Narada menganjurkan Ratnakara meninggalkan pekerjaan sebagai perampok dan mulai menekuni keinsafan diri. Lalu Ratnakara rajin berlatih yoga dan bertapa hingga tubuhnya diserubungi semut.

Mulai saat itulah ia dikenal sebagai Rsi Walmiki, dan mendapat visi ilahi mengenai cerita Ramayana. Walmiki sendiri berarti semut.

Semoga cerita ini terngiang di telinga para koruptor atau calon koruptor yang hendak menyalurkan hasrat mereka untuk korupsi, dan berpikir beribu kali untuk melakukanya.

Kisah Bung Hatta

Lantas korupsi dilihat dari aspek material, tak lepas dari berkembangnya sistem ekonomi libral kapitalis, yang melahirkan sikap hedonisme dan konsumerisme. Bung Hatta mengatakan bahwa korupsi bermula dari sikap hidup mewah para istri pejabat. Awalnya nyonya-nyonya pengusaha swasta mengajak ibu-ibu pejabat untuk ikut pesta-pesta dansa. Dilihatnya para nyonya swasta hidup penuh kemewahan, lantas mereka menyuruh suami-suami mereka untuk mengumpulkan kekayaan, walau itu lewat cara korupsi.

Bung Hatta sendiri adalah tokoh bangsa yang menjadi ikon hidup pejabat yang sederhana. Ia dikenal tak berhidup mewah dan menolak sikap korupsi. Dalam sebuah cerita ia membeli rumah dari hasil menulis buku, yang ia tabung sekian lama.

Ada juga cerita lain bagaimana Bung Hatta sangat ingin memiliki sebuah sepatu idamannya. Namun sayang sampai akhir hayatnya uangnya tak penah cukup, dan sepatu idamanya tak pernah terbeli. Hanya sebuah potongan Koran bergambar sepatu idamannya tersimpan diantara buku-bukunya. Bung Hatta memegang pedoman hidup “simple life high thinking”, hidup sederhana namun berpikir mulia.

Itu Dulu, Kini Beda

Tapi itu dulu. Zaman telah berubah dan tak mungkin kita menyuruh pegawai negara sekarang mengikuti langkah Bung Hatta itu. Tak diragukan apa yang dilakukan dan bagaimana teguhnya Bung Hatta memegang prinsip, tak akan mungkin bisa dilakukan orang, baik sekarang maupun dimasa depan. Atau setidaknya perbuatanya sulit untuk dilampaui. Ia telah berhasil meletakkan standar moral yang begitu tinggi.

Di tengah budaya hedonis dan kunsumtif kapitalis, dipastikan kecendrungan melakukan perbuatan korupsi sangat besar. Mengharapkan korupsi ditengah budaya hedonis dan konsumtif kapitalis adalah ibarat pekerjaan menangkap angin.

Politik liberal telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang lihai menggunakan uang negara untuk menyuap pemilih-pemilihnya. Pajak-pajak yang semestinya dikumpulkan untuk kemakmuran rakyat, malah digunakan untuk membiayai kenyamanan hidup administrator negara, melalui gaji tinggi dan tunjangan-tunjangan lainya. Ini sungguh sangat mengerikan..

Hanya ada dua pilihan, mengurangi sikap hedonis dan budaya konsumtif, dan membawa kembali masyarakat seperti era sebelum ekonomi liberal kapitalis, atau menggunakan cara menangkal kecendrungan korupsi akibat sebab material. Artinya pejabat dan penyelenggara negara digaji layaknya professional, digaji besar, ditarget, dan diawasi kerjanya. Ruang geraknya dibatasi.

Jika tidak memenuhi harapan dapat diturunkan kapanpun. Prosudur penurunan dan pengangkatanya dipermudah. Tentunya semua dari kita tak ingin memilih option pertama, disamping hasilnya belum tentu lebih baik, juga tak mungkin gerak sejarah dibawa mundur.

Kini yang terpenting, hal yang di depan mata, yakni pilkada serentak. Masyarakat harus dididik untuk memilih pemimpin yang bersih, dan memiliki komitmen pemberantasan korupsi. Orang-orang yang bersih didorong untuk terlibat aktif dalam politik. Selanjutnya reformasi sistem kepartaian, yang mana sekarang dirasa sangat tertutup dan  dominan. Desentralisasi partai yang memungkinkan munculnya tokoh lokal  yang bersih.

Terakhir, menyitir kata Bung Hatta, kurang cerdas dapat  diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki. Janganlah pilih  pemimpin yang sudah jelas-jelas menjadi terdakwa kasus korupsi, karena  itu sungguh-sungguh kedunguan yang akut.

Ketimbang dipilih, baiknya koruptor itu dibuang pada tempatnya, karena ia adalah sampah… ! (T)

Tags: Hari Anti KorupsiKorupsiSampah
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Rai Sri Artini# Puisi-puisi: Rendezvous Biru, Di Sebuah Kapela

Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Jalan Seribu Tanda Tanya

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Jalan Seribu Tanda Tanya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co