2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Puisi-puisi: Rendezvous Biru, Di Sebuah Kapela

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Nyoman Erawan, bagian Monolog Rupa (2017)

.
UAP KOPI

Kita selalu merindukan puisi-puisi yang terbang bersama uap kopi
diam-diam menyelinap manja dalam hangatnya
meresapi wanginya untuk merasakan lapar, sisa-sisa masa lalu dan
guguran rasa yang lain
Kita selalu luruh dalam uap kopi yang bebas
menggeliatkan angan dari campakan ego
melayarkan kembali mimpi yang hampir samar karena cuaca
masihkah kita terjebak dalam medan magnet asing
ketika ampas-ampas kopi menyayat huruf-huruf ganjil dalam mata
lalu puisi-puisi berhamburan ke dalam dada ranummu
dan gelora kecipak darahmu
Hingga kita mulai percaya
bahwa kopi selalu menyediakan ruang untuk melabuhkan riuh rindu
karena ia mampu menjahit jerit kehilangan
dari perca-perca hasrat yang purba

(Tegaljaya, Oktober 2016)

DI SEBUAH KAPELA

Pukul duabelas lonceng kapela berbunyi
Nyanyian menggema terbang melintasi sejuta serapah
Mendedah segala nyeri mengisi kuk jiwa yang larat
Ribuan anak panah melesat seperti uap tangis balita
di antara homili
Di bawah cahaya lampu, sayap-sayap yang patah jadi tirai
dan anyir lidah dimurnikan nyanyian hosanna
Kita tak perlu mencari robekan baju atau serat-serat yang rontok
Hanya dengarkan seksama suaranya dalam mata injil
Di bawah lampu perca-perca harapan lahir
Konsekrasi membuka rahasia baju kita yang paling kelit
Memanjangkan rasa dan bayangan jadi energi untuk menjahit
Robekan yang asin oleh darah
Lewat tangan imam roh ditiupkan pada hosti yang sampai di telapak tangan kita
Kita segera menyantapnya
lalu tenggelam dalam serat baju kita masing-masing

(Tegaljaya, November 2017)

ABU-ABU

Di sini
Dua orang duduk dalam satu bangku panjang berunding
Tentang hari-hari yang lewat sia-sia
Dan hari-hari yang belum lewat
menghitung detak jam, melihat kalender dan menantang malam
Lalu mereka memutuskan mencari cara keluar
Dari kubang jelaga dengan cara indah dan rapi
Namun jelaga masuk ke bilik jantung
Mereka mencoba telanjang dan duduk di kursi terpisah
Rasa paling manusiawi terbit
Meliuk licin di serabut cinta
Cinta dan puisi mengambang dalam warna abu-abu
Mereka mencoba lagi menyalin surat cinta yang pernah mereka tulis
Tapi huruf-huruf dingin bermunculan
Membeku di kucup malam
Kelopak usia beringsut keriput
Sekeriput rasa yang mulai lelah oleh liang lapar
Janji kehilangan tuah di hari keramat
Kini dada merekapun berubah warna jadi abu-abu
Seperti mendung yang bergelayut di langit sore

(Tegaljaya, November 2017)

HARI KEMENANGAN

“Mereka mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Jumbai panjang penuh penghormatan semestinya tak hanya untuk sebuah ritual
Mereka terlelap dalam anggur terbaik
Harum piala memuntahkan manis puja-puji
Kata-kata tuhan telah dipanggul di bahu masing-masing orang
Sedang mereka menyisihkan diri dan memasang tilam yang lain
Waktu tak pernah mengekalkan sebuah dusta apalagi kesesatan
Siapa yang menebar jala ia akan mendapat bagiannya
Maka sang waktu menjamin ada satu tiang yang dapat dijadikan sandaran
Meski terkepung silau oleh tirai jubah
Belati pikiran akan mengusap lembut punggungmu sebelum akhirnya menusukmu
Sekerat roti menjadi hambar meski dicelup dalam anggur
Tapi marilah berdoa
Atas keratan beban di kepala dan bahu
Dan salib yang terus memberat mendaki bukit tengkorak
Dengan senyum paling ramah merayakan lubang paling nyeri
hingga sampai di puncak pembebasan
di hari kemenangan

(Tegaljaya, November 2017)

RAHASIA SUNYI

Keringatmu kutampung dalam piala
Juga ludahmu
Kusimpan dalam lembar-lembar kitab
Tak lupa kujahit lidahku dalam huruf-huruf di tiap lembarnya
Hingga kita selalu bersama sekaligus mengakrabi nurani dibalik
Getar-getar yang nyala
“Pulanglah.” Ujarmu
Kilau gigimu membuka rahasia tubuh yang lama ditempeli identitas
Cakar-cakar emosi bersarang di kedua bilik dan serambi jantung
Serta beribu tanda tanya diantara barisan kecemasan
Keringatmu terlalu cukup untuk kugubah menjadi tawa atau catatan kematian
Terlalu cukup. Bahkan kurindui meski bisu memenjarakan seribu tangan
Dan segugus harap
Ah, aroma keringatmu telah menaksir jarak , langkah dan jadwal kepulanganku
Yang selalu menjadi rahasia
Rahasia sunyi.

( Tegaljaya, Mei 2017 )

RENDEZVOUS BIRU

Bu, hanya pada angin kita berkicau lantang tentang kesunyian yang merambat menjadi dialog
Semata karena ia ringan dengan segala rupa resah dan gerigi pedih
Ia bebas lepas laksana udara
Menyusupi setiap ruang pilu
Menghempas lelap dan jaga
Segala embun kerak, keranda purba yang terbaca dalam diam
Menggetarkan kita dalam pengasingan tak berujung
Bu, telah sampai manakah suara kita?
Tak adakah ruang sepanjang detak waktu untuk kita bersama
Sekadar bertukar kata (hengkang dari sepah orang)
Untuk memberi warna pada mata kita yang telaganya telah lama menguap
Karena mimpi yang bersimpangan dan getar energi berseberangan
Bu, di rendezvous biru
Litani – litani bangkit menggapai langit
Setelah sekian lama mengendap di pucuk ingin
Di rendezvous yang redup dengan wangi lily
Selalu kutunggu kerling matamu meski kata-kata tak mampu mewakili tetes rindu
Biarkan aku mencipta syair dari intisari doa
Untuk mengabadikan perjalanan yang kian uzur
Dikerat usia

(Tegaljaya, November 2017 )

Tags: Puisi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cagub atau Cawagub? Kabar pun Beredar, Sudikerta pun Menjawab

Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co