4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Puisi-puisi: Rendezvous Biru, Di Sebuah Kapela

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Nyoman Erawan, bagian Monolog Rupa (2017)

.
UAP KOPI

Kita selalu merindukan puisi-puisi yang terbang bersama uap kopi
diam-diam menyelinap manja dalam hangatnya
meresapi wanginya untuk merasakan lapar, sisa-sisa masa lalu dan
guguran rasa yang lain
Kita selalu luruh dalam uap kopi yang bebas
menggeliatkan angan dari campakan ego
melayarkan kembali mimpi yang hampir samar karena cuaca
masihkah kita terjebak dalam medan magnet asing
ketika ampas-ampas kopi menyayat huruf-huruf ganjil dalam mata
lalu puisi-puisi berhamburan ke dalam dada ranummu
dan gelora kecipak darahmu
Hingga kita mulai percaya
bahwa kopi selalu menyediakan ruang untuk melabuhkan riuh rindu
karena ia mampu menjahit jerit kehilangan
dari perca-perca hasrat yang purba

(Tegaljaya, Oktober 2016)

DI SEBUAH KAPELA

Pukul duabelas lonceng kapela berbunyi
Nyanyian menggema terbang melintasi sejuta serapah
Mendedah segala nyeri mengisi kuk jiwa yang larat
Ribuan anak panah melesat seperti uap tangis balita
di antara homili
Di bawah cahaya lampu, sayap-sayap yang patah jadi tirai
dan anyir lidah dimurnikan nyanyian hosanna
Kita tak perlu mencari robekan baju atau serat-serat yang rontok
Hanya dengarkan seksama suaranya dalam mata injil
Di bawah lampu perca-perca harapan lahir
Konsekrasi membuka rahasia baju kita yang paling kelit
Memanjangkan rasa dan bayangan jadi energi untuk menjahit
Robekan yang asin oleh darah
Lewat tangan imam roh ditiupkan pada hosti yang sampai di telapak tangan kita
Kita segera menyantapnya
lalu tenggelam dalam serat baju kita masing-masing

(Tegaljaya, November 2017)

ABU-ABU

Di sini
Dua orang duduk dalam satu bangku panjang berunding
Tentang hari-hari yang lewat sia-sia
Dan hari-hari yang belum lewat
menghitung detak jam, melihat kalender dan menantang malam
Lalu mereka memutuskan mencari cara keluar
Dari kubang jelaga dengan cara indah dan rapi
Namun jelaga masuk ke bilik jantung
Mereka mencoba telanjang dan duduk di kursi terpisah
Rasa paling manusiawi terbit
Meliuk licin di serabut cinta
Cinta dan puisi mengambang dalam warna abu-abu
Mereka mencoba lagi menyalin surat cinta yang pernah mereka tulis
Tapi huruf-huruf dingin bermunculan
Membeku di kucup malam
Kelopak usia beringsut keriput
Sekeriput rasa yang mulai lelah oleh liang lapar
Janji kehilangan tuah di hari keramat
Kini dada merekapun berubah warna jadi abu-abu
Seperti mendung yang bergelayut di langit sore

(Tegaljaya, November 2017)

HARI KEMENANGAN

“Mereka mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Jumbai panjang penuh penghormatan semestinya tak hanya untuk sebuah ritual
Mereka terlelap dalam anggur terbaik
Harum piala memuntahkan manis puja-puji
Kata-kata tuhan telah dipanggul di bahu masing-masing orang
Sedang mereka menyisihkan diri dan memasang tilam yang lain
Waktu tak pernah mengekalkan sebuah dusta apalagi kesesatan
Siapa yang menebar jala ia akan mendapat bagiannya
Maka sang waktu menjamin ada satu tiang yang dapat dijadikan sandaran
Meski terkepung silau oleh tirai jubah
Belati pikiran akan mengusap lembut punggungmu sebelum akhirnya menusukmu
Sekerat roti menjadi hambar meski dicelup dalam anggur
Tapi marilah berdoa
Atas keratan beban di kepala dan bahu
Dan salib yang terus memberat mendaki bukit tengkorak
Dengan senyum paling ramah merayakan lubang paling nyeri
hingga sampai di puncak pembebasan
di hari kemenangan

(Tegaljaya, November 2017)

RAHASIA SUNYI

Keringatmu kutampung dalam piala
Juga ludahmu
Kusimpan dalam lembar-lembar kitab
Tak lupa kujahit lidahku dalam huruf-huruf di tiap lembarnya
Hingga kita selalu bersama sekaligus mengakrabi nurani dibalik
Getar-getar yang nyala
“Pulanglah.” Ujarmu
Kilau gigimu membuka rahasia tubuh yang lama ditempeli identitas
Cakar-cakar emosi bersarang di kedua bilik dan serambi jantung
Serta beribu tanda tanya diantara barisan kecemasan
Keringatmu terlalu cukup untuk kugubah menjadi tawa atau catatan kematian
Terlalu cukup. Bahkan kurindui meski bisu memenjarakan seribu tangan
Dan segugus harap
Ah, aroma keringatmu telah menaksir jarak , langkah dan jadwal kepulanganku
Yang selalu menjadi rahasia
Rahasia sunyi.

( Tegaljaya, Mei 2017 )

RENDEZVOUS BIRU

Bu, hanya pada angin kita berkicau lantang tentang kesunyian yang merambat menjadi dialog
Semata karena ia ringan dengan segala rupa resah dan gerigi pedih
Ia bebas lepas laksana udara
Menyusupi setiap ruang pilu
Menghempas lelap dan jaga
Segala embun kerak, keranda purba yang terbaca dalam diam
Menggetarkan kita dalam pengasingan tak berujung
Bu, telah sampai manakah suara kita?
Tak adakah ruang sepanjang detak waktu untuk kita bersama
Sekadar bertukar kata (hengkang dari sepah orang)
Untuk memberi warna pada mata kita yang telaganya telah lama menguap
Karena mimpi yang bersimpangan dan getar energi berseberangan
Bu, di rendezvous biru
Litani – litani bangkit menggapai langit
Setelah sekian lama mengendap di pucuk ingin
Di rendezvous yang redup dengan wangi lily
Selalu kutunggu kerling matamu meski kata-kata tak mampu mewakili tetes rindu
Biarkan aku mencipta syair dari intisari doa
Untuk mengabadikan perjalanan yang kian uzur
Dikerat usia

(Tegaljaya, November 2017 )

Tags: Puisi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cagub atau Cawagub? Kabar pun Beredar, Sudikerta pun Menjawab

Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co