TERAKHIR saya bersepeda dengan jarak relatif jauh pada November 2021, dari Gresik ke Jogjakarta pergi-pulang. Total jarak yang saya tempuh 796 kilometer. Berangkat melalui rute Gresik-Kediri-Tulungagung-Trenggalek- Ponorogo-Pacitan-Pracimantoro-Wonosari-Jogjakarta. Pulangnya lewat jalur Solo-Sragen-Nganjuk-Gresik.
Beberapa hari setelah sampai di rumah, saya kembali merencanakan perjalanan yang agak jauh. Kali ini giliran arah timur. Semula saya berencana ke Labuan Bajo pada 1 April 2022. Karena tanggal tersebut saya menjadi manusia merdeka, tidak terikat ruang dan waktu. Saya sudah tidak lagi menjadi karyawan.
Saya kembali melakukan persiapan, berlatih fisik hampir setiap hari, setelah istirahat seminggu sepulang dari Jogjakarta. Saya juga melakukan riset untuk menentukan pemetaan perjalanan dari Gresik ke Labuan Bajo.
Karena saya sudah pernah melakukan perjalanan dari Gresik ke Mataram, tinggal menambah rute dari Mataram ke Labuan Bajo. Jarak total menurut Google Map 1.150 kilometer. Tapi jika hanya dihitung dari perjalanan darat, hanya sekitar 1.000 kilometer.
Dari angka 1.000, saya menemukan tema perjalanan “Aku ingin Hidup 1000 Kilometer Lagi”. Saya terinspirasi dengan sepenggal puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku”.
Tapi rencana yang sudah matang itu berantakan, karena saya divonis dokter harus operasi ambeien. Sebenarnya penyakit ini sudah lama saya derita. Jika tidak salah ingat, sejak tahun 1992.
Karena sejak 15 tahun terakhir saya menjalani pola hidup sehat, ambeien jarang kambuh. Hanya sekali-dua saja saya harus berobat, karena terjadi perdarahan.
Pada awal tahun 2000 dokter pernah menyarankan agar dioperasi, tapi saya belum berani. Nyali saya ciut, mendengar berbagai cerita tentang betapa sakit pascaoperasi ambeien.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memberanikan diri untuk operasi. Selain karena dokter bedah mampu meyakinkan saya, pertimbangan yang utama adalah jatah asuransi kesehatan dari perusahaan tempat saya bekerja tinggal seminggu lagi.
Setelah dinyatakan sembuh dan boleh bersepeda lagi, saya kembali berlatih dari awal. Tapi baru saja fisik dan mental mulai tertata, lutut kiri saya mengalami cedera serius. Saya kembali harus beristirahat untuk beberapa bulan.
Baru pada bulan Agustus saya kembali aktif latihan, setelah cedera lutut sembuh, meskipun tidak 100 persen. Saya optimis, dalam beberapa bulan ke depan, jika berlatih rutin, saya siap menempuh perjalanan 1000 kilometer.
Saya pun memilih 10 November 2022 sebagai tanggal keberangkatan. Saya ingin bersepeda untuk merayakan Hari Pahlawan. Perjalanan dari Gresik ke Labuan Bajo saya jadwalkan dalam waktu 15 hari. Rute yang akan saya lewati: Gesik-Probolinggo-Banyuwangi-Denpasar-Mataram-Sumbawa Besar-Dompu-Bima-Labuan Bajo. Pulangnya naik kapal laut dari Labuan Bajo ke Tanjung Perak.
Belakangan saya mendengar kabar tentang organisasi pensiunan yang baru saja membuka rekening untuk dana sosial. Saya mendapatkan ide, perjalanan ini sekalian saya manfaatkan untuk membantu mengkampanyekan keberadaan dana sosial itu.
Saya segera membuat proposal ke organisasi tersebut. Dua minggu kemudian proposal mendapatkan tanggapan. Setelah berdiskusi dengan ketua dan sekretaris umum, mereka menerima proposal saya
Dari awal saya menyampaikan bahwa aktivitas tersebut adalah pro bono. Dengan demikian saya tidak mencari dukungan sponsor. Saya pun berangkat dari kantor sekretariat yang terletak di Jl. A. Yani, Gresik, tepat pukul 06.05 WIB. Lalu-lintas di jalan yang menghubungkan Sukorame dan Randuagung itu masih lengang. Hujan semalam masih menyisakan udara dingin. Butir-butir embun yang menempel di daun cemara terlihat berkilauan ditimpa sinar matahari. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Adnyana Ole
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] — Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-labuan-bajo1-750x375.jpeg)


























