24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 9, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DI tengah banjir informasi, notifikasi, dan algoritma yang seolah tahu segalanya tentang kita, muncul satu kebutuhan mendesak yang sering diabaikan, diam sejenak. Menjauh dari layar, mematikan ponsel, dan berhenti scrolling bisa terdengar sepele, bahkan tidak produktif. Tapi dalam konteks kehidupan modern, tindakan sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal. yaitu perlawanan terhadap keterasingan, terhadap kelelahan mental, dan terhadap hilangnya makna.

Digital detox, secara harfiah berarti puasa dari perangkat digital, yang semakin relevan dalam masyarakat dengan ketergantungan pada teknologi. Tapi artikel ini tidak sekadar mengajak detoks demi “kesehatan mental” yang seringkali dikomersialisasi. Kali ini kita akan melihat digital detox sebagai bagian dari revolusi eksistensial. Sebuah usaha untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, yang hadir secara otentik, merdeka berpikir, dan terhubung secara genuine, bukan hanya online.

Hidup di Era Overconnectivity

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kita bisa tahu kabar teman lama, mengikuti influencer idola, atau membaca opini siapa pun bahkan orang yang belum pernah kita temui. Tapi ironisnya, semakin terhubung kita secara digital, semakin terasa kosong secara emosional. Kita menjadi overconnected, oversharing, tapi semua bersifat trivial. Kita berbagi makanan, outfit, atau highlight reel kehidupan, namun jarang menyentuh lapisan terdalam dari pengalaman manusia yang nyata seperti rasa kesepian, kehilangan, keraguan, atau pencarian makna.

Inilah paradoks zaman kita saat ini, dikelilingi notifikasi, tapi kesepian. Menerima ratusan “like”, tapi tetap merasa tidak valid. Sebab koneksi yang dibentuk algoritma bukan koneksi yang autentik, melainkan simulasi koneksi. Semua ini menumpuk di permukaan, tapi tak pernah menembus kedalaman dan menyentuh sisi manusia kita. Dan justru di sinilah kelelahan mental muncul  bukan dari keterasingan digital, tapi dari keterhubungan palsu yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Absennya Diri di Dunia Digital

Filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Heidegger pernah mengingatkan kita soal bahaya hidup yang “tidak autentik”. Hidup yang tidak dijalani dengan kesadaran penuh, melainkan sekadar mengikuti arus, rutinitas, dan harapan orang lain. Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dimana kita kehilangan keheningan, kehilangan kesendirian, dan pada akhirnya kehilangan kesadaran atas diri sendiri.

Kita menjadi hadir di mana-mana, tapi absen dari diri sendiri. Pikiran kita terpencar ke feeds, reels, threads, atau for you page. Kita jarang bertanya, “apa yang benar-benar penting?” karena waktu habis untuk menanggapi apa yang sedang trending. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati kita sendiri. Sesuatu yang oleh eksistensialis disebut sebagai dasar kebebasan sejati.

Digital detox menjadi penting bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita butuh ruang kosong agar kesadaran bisa kembali bernapas. Kita perlu berhenti sejenak dari keramaian buatan agar bisa mendengar kembali suara yang paling sunyi tapi paling jujur, suara dari diri kita sendiri.

Merawat Kewarasan di Tengah Era Kecanduan

Dalam artikel sebelumnya, kita membahas konsep cognitive offloading, suatu kecenderungan manusia modern untuk menyerahkan fungsi berpikir kepada teknologi. Ketika kita terlalu sering mencari jawaban lewat Google, terlalu mengandalkan AI untuk menyusun pikiran, dan terlalu bergantung pada algoritma untuk memilihkan konten, maka kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan kritis.

Akibatnya, otak kehilangan kelenturan. Kita menjadi pembaca pasif, bukan pemikir aktif. Dan lambat laun, hal ini bukan hanya melemahkan kecerdasan, tapi juga membahayakan kesehatan mental. Muncul fenomena seperti doomscrolling, digital fatigue, bahkan digital brainrot, istilah yang menggambarkan kemunduran kualitas berpikir karena konsumsi digital yang pasif dan berlebihan.

Digital detox, dalam konteks ini, bukan sekadar istirahat dari layar. Digital detox juga menjadi terapi preventif untuk menjaga kesehatan otak, menjaga kewarasan emosi, dan menjaga jarak yang sehat antara manusia dan mesin. Digital detox adalah momen untuk kembali menggunakan otak sebagaimana mestinya,  berpikir, merenung, mempertanyakan, dan merasakan secara utuh.

Menemukan Diri, Membangun Koneksi Sejati

Detoks digital bukanlah pelarian dari dunia, melainkan jalan masuk kembali ke kehidupan yang lebih autentik. Saat kita mencabut diri dari ponsel, kita memberi ruang untuk hadir secara penuh di hadapan diri sendiri. Kita mulai mengenali kembali rasa sepi, rasa bosan, rasa gelisah, semua emosi yang selama ini kita redam dengan scrolling tanpa henti.

Dan inilah paradoks menariknya, justru dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain. Sebab kita tidak lagi hadir sebagai persona digital yang dikurasi, melainkan sebagai manusia utuh yang bisa merasakan, bertanya, dan mendengarkan.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang “terlempar ke dunia” dan harus menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks hari ini, “terlempar ke dunia” berarti terlempar ke dalam arus teknologi yang tak henti-henti. Maka tugas kita bukan melawan teknologi, tapi menemukan kembali arah, makna, dan kebebasan di tengah teknologi itu.

Mari Kita Hening Sejenak

Barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang mengendalikan hidup kita hari ini? Apakah kita masih berpikir, merasa, dan memilih dengan sadar? Ataukah kita sekadar mengikuti apa yang muncul di layar, satu demi satu, hingga tanpa sadar hari-hari berlalu?

Digital detox tidak harus ekstrem. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti satu jam tanpa ponsel, satu sore membaca buku fisik, atau satu hari jalan kaki tanpa mendengarkan apa pun. Tapi yang lebih penting adalah niatnya, niat untuk hadir, untuk menyadari, untuk menjadi manusia.

Sebab di tengah keramaian digital yang terus membisingkan pikiran, diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Dan menjauh dari layar bisa menjadi langkah awal untuk kembali ke ruang paling sunyi,  ruang tempat kita bertemu kembali dengan diri kita sendiri. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: digitaldigital detoxPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajeng Kliwon | Cerpen Made Sugianto

Next Post

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co