24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 8, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS memang bulan kemerdekaan. Sekedar info saja, tanggal 7 Agustus kemarin diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Tapi memang tidak seperti tanggal 17, sepertinya tanggal 7 ini banyak yang diam-diam mau melewatkannya. Banyak yang bikin dosa di sini soalnya. Bukan rahasia kalau hutan kita yang kaya raya dan berharga itu habis dieksploitasi oknum penguasa dan kroninya.

Setelah rusak, ada suatu harapan baru penuh optimisme dengan kemasan “program hijau”. Namanya keren,  FOLU Net Sink 2030. FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land Use. Katanya, ini strategi pamungkas Indonesia untuk menyelamatkan iklim. Targetnya adalah menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain sebagai penyerap karbon bersih dalam waktu lima tahun ke depan.  Secara  singkatnya, ini adalah keadaan di mana proses penyerapan karbon dioksida lebih besar daripada karbon dioksida yang dihasilkan. 

Jelas ambisius, jelas megah. Tapi, kok beredar selentingan di jalanan depan gang, saat warga RT ramai-ramai mengecat jalan kampung dengan air kapur, suatu pertanyaan yang seolah asal bunyi. Mereka agak bingung apakah ini solusi ekologis, atau cuma sekadar tampang baru kapitalisme hijau tapi versi lokal?Saya tidak sempat dengar jawaban nyeleneh apalagi akademis, tertelan oleh candaan receh, pisang goreng dan kopi.

Karbon yang Dulu Musuh, Kini Komoditas

FOLU Net Sink, secara teknis, ingin menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan, sekaligus menyerap karbon lewat hutan alam, gambut, dan reklamasi. Namun ada satu perubahan penting dalam paradigma ini. Karbon bukan lagi dianggap sebagai “dosa industri”, tapi jadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Cerdas bin kreatif. Dan hanya orang berpendidikan yang bisa berpikir seperti ini.  

Dengan logika ini, hutan bukan sekadar ekosistem, melainkan tambang karbon yang bisa dihitung, disertifikasi, dan dijual dalam skema pasar karbon. Dan pemain utamanya tetap saja bukan masyarakat adat, bukan juga petani kecil seputaran hutan. Sesuai harapan netizen, pemainnya adalah perusahaan tambang, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan para pemilik modal dengan akses ke istana. Kalau di pelajaran biologi  mungkin ini namanya metamorfosis.

Bayangkan, perusahaan yang dulunya jadi aktor utama deforestasi, kini memoles citra sebagai penyelamat iklim. Dulu menebang hutan, sekarang menanam ulang dan menjual kredit karbon ke luar negeri. Ini seperti maling yang lari pontang-panting ke pojok gelap gudang, buru-buru ganti baju, keluar sudah jadi satpam, lengkap dengan piagam penghargaan. Sepertinya bakal aman dan rencana bisa berjalan mulus.

Pasar Karbon Solusi Iklim atau Komoditi Baru

Tapi tidak semudah itu, ferguso. Kritik tajam datang dari banyak LSM dan akademisi. Dari WALHI, Greenpeace, AMAN, hingga suara-suara lokal di Kalimantan dan Papua. Kajian bersama BRIN, Greenpeace, dan WALHI menunjukkan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan berpotensi memperparah deforestasi dan kekeringan ekstrem hingga tahun 2033 (Tempo, 2024).

 Mereka sepakat bahwa FOLU Net Sink bisa menjadi proyek mercusuar hijau yang menyembunyikan wajah lama oligarki kehutanan.  Indonesia kita ini selama puluhan tahun konon dikuasai oleh ekonomi ekstraktif berbasis konsesi lahan. Sawit, HTI, tambang, semuanya punya jejak panjang dalam kisah penghancuran ekosistem hutan.

Setalah semuanya rusak, dalam FOLU, para aktor ini masih tetap eksis. Bahkan mereka ini lebih berkibar karena proyek restorasi dan pasar karbon justru diserahkan ke tangan mereka.  Asyik bener kalau di sisi mereka.  Negara, bukannya mereformasi kepemilikan dan akses lahan, malah memperkuat relasi kuasa yang timpang ini. Sembari menggambarkan masa depan hutan dengan optimisme ke dalam laporan-laporan prestisius.

Bukannya mengubah sistem, di sini pasar karbon menciptakan sistem baru di mana polusi bisa ditebus dengan uang. Istilah gampangnya, korporasi mana pun bisa tetap membakar batu bara, asal bayar sebagai suatu penebusan dosa lewat skema offset karbon. Inilah logika green capitalism yang menyamar sebagai penyelamat planet. Maka muncul pertanyaan sinis tapi masuk akal, apakah FOLU Net Sink bertujuan menyelamatkan hutan, atau menyelamatkan ekonomi elite?

Alam Tak Bisa Dinegosiasi

Jika kita bicara tentang tanah adat, hingga hari ini, lebih dari 12 juta hektare wilayah adat belum diakui secara hukum. Masyarakat adat, yang terbukti paling mampu merawat hutan, justru masih berstatus sebagai pendatang liar di atas tanah leluhurnya sendiri.

Ironisnya, dalam proyek FOLU, pengakuan tanah adat tidak jadi komponen utama. Yang jadi fokus adalah sertifikasi karbon, mitra korporat, dan penilaian investor. Artinya, FOLU jadi bisu dalam menjawab problem kolonialisme agraria yang sudah terlalu lama berakar. Ia justru memutar persoalan ini dalam format baru yaitu karbonisasi kehutanan dengan sentuhan investor.

Pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa bencana ekologis tak bisa dicegah dengan menunggu FOLU sukses. Longsor, banjir bandang, kekeringan ekstrem, dan krisis pangan kini  telah mulai jadi bagian dari kehidupan harian. Dan tak seperti kasus hukum para elite politik, kerusakan ekologi tak mengenal amnesti, abolisi, atau surat grasi dari presiden. Tak ada ampun, tak ada penundaan, tak ada alasan. Alam bekerja dalam logika sebab-akibat, bukan putusan Mahkamah Konstitusi. Ia menghukum dengan senyap tapi pasti. Tidak ada nego.

Jadi kalau hari ini para pemegang kuasa berdandan apik dengan nuansa hijau segar  demi pencitraan internasional, maka kelak anak cucu kitalah yang akan memanen hasil tipu-tipu itu.  Udara kotor, tanah retak, air menghilang, dan harga pangan tak lagi bisa ditebus dengan e-wallet. Dan pada saat itu, tidak ada pencitraan internasional yang bisa menyelamatkan kita. Alam akan tetap menuntut.

Dan anak cucu, yang tak pernah memilih para pejabat hari ini, akan jadi generasi yang membayar utangnya. Tipe kejahatan ekologis ini kok rasa-rasanya sama bejatnya dengan para pelaku rudapaksa anak kandung. Tega sama anak cucu sendiri. Lha, terus, gimana?  Sambil lanjut pasang umbul-umbul dan ngecat jalan gang pakai air kapur, kita dengarkan nyanyian merdu Ebiet G. Ade saja.

“Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”

Tabik.

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Tags: alamhutanlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Next Post

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co