13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Ulang Mead dan Kesehatan Mental Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 8, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEKITAR satu abad yang lalu, Margaret Mead, antropolog perempuan asal Amerika Serikat, bersama suaminya, Gregory Bateson, datang ke Bali dan menulis buku yang kini menjadi klasik: Balinese Character: A Photographic Analysis. Buku ini berisi ratusan foto dan tafsir antropologis tentang perilaku orang Bali. Ia tak hanya berbicara tentang ritual dan topeng, tetapi juga ekspresi wajah anak-anak, mimik para penari, postur tidur orang dewasa, hingga cara mereka menangis, tertawa, atau marah.

Mead menyebut karakter orang Bali sebagai “skizoid”, yaitu kepribadian yang menjauh dari ekspresi emosi, sangat terkendali, dan terkesan hidup dalam dua alam kesadaran yang tidak pernah betul-betul bersatu. Ia melihat masyarakat Bali secara lahiriah sangat terstruktur, namun dalam batin menyimpan ketegangan psikis yang besar. Bagi Mead, orang Bali terkesan tidak punya self yang utuh dan identitas yang cair, tersusun dari kebiasaan sosial yang sangat kuat, namun rapuh secara psikologis.

Tentu saja kesimpulan ini bukan tanpa cela. Banyak yang mengkritik Mead karena terlalu “menggebuk rata” karakter orang Bali, seakan-akan seluruh individu di Bali mengalami patologi kejiwaan yang seragam. Namun kritik itu pun datang kemudian, salah satunya dari seorang psikiater senior asal Bali, Luh Ketut Suryani, dalam bukunya Orang Bali (1996).

Saya sendiri, sebagai orang yang sejak 2009 pernah didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, membaca buku Mead dan Suryani dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya merasa seperti ditelanjangi, seakan kegilaan saya adalah gema dari kegilaan kolektif masyarakat saya sendiri. Di sisi lain, saya merasa pernyataan Mead sangat menggeneralisasi dan tidak adil. Bagaimana mungkin karakter seluruh etnis bisa dijelaskan lewat istilah kejiwaan yang biasa digunakan dalam praktik psikiatri modern?

Tapi mari kita lihat kenyataan hari ini. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Bali merupakan provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia tertinggi di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi di tanah yang dipuja-puji sebagai surga pariwisata dunia? Mengapa di tengah gemuruh bunyi gamelan dan harum dupa di pura, justru banyak orang yang terjerembab dalam gangguan jiwa berat?

Saya mulai menduga, jangan-jangan ada benarnya pendapat Mead. Meskipun istilah “skizoid” yang dia gunakan terdengar terlalu keras, namun ia seperti hendak menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara struktural mewariskan tekanan psikologis yang amat besar kepada warganya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan komunitas adat. Tekanan untuk tidak mempermalukan keluarga. Tekanan untuk selalu menjaga harmoni, bahkan ketika hati bergejolak. Semua itu membuat emosi ditekan, kemarahan dikunci, luka batin dipendam hingga mengeras menjadi batu.

Di dalam keluarga Bali, kita jarang diajarkan untuk membicarakan perasaan. Seorang anak laki-laki mesti kuat, pantang menangis, apalagi curhat. Seorang perempuan mesti patuh, jangan melawan, apalagi marah. Di sekolah pun begitu, ekspresi personal sering dianggap pembangkangan. Kita dibesarkan dalam sistem sosial yang rapi secara lahiriah, namun miskin ruang batin. Maka tak heran bila banyak orang merasa “gila dalam diam”.

Saya pernah kuliah di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Udayana pada 2004 hingga 2009—meski tidak sampai tamat. Di sana saya banyak membaca literatur klasik antropologi, termasuk Mead dan Bateson. Saat itu saya belum tahu bahwa kelak saya sendiri akan mengalami gangguan jiwa berat, dan harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Ironisnya, saat saya kuliah antropologi dan mempelajari “yang lain”, saya abai membaca diriku sendiri.

Kini setelah pulih, saya mencoba memahami kembali pengalaman sakit jiwa itu bukan hanya sebagai gejala medis, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Saya melihat bahwa di Bali, sakit jiwa masih dianggap aib. Keluarga akan berusaha menyembunyikan anggota yang mengalami gangguan jiwa, bahkan sampai dikurung. Banyak juga yang lebih memilih berobat ke balian atau dukun ketimbang ke psikiater. Padahal, menurut saya, upaya penyembuhan seharusnya tidak harus mempertentangkan antara medis dan spiritual. Keduanya bisa saling melengkapi.

Kritik Luh Ketut Suryani terhadap Mead cukup tajam. Ia menilai Mead telah menyimpulkan karakter orang Bali dengan pendekatan Barat yang tidak memahami nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Bagi Suryani, orang Bali bukanlah skizoid. Mereka adalah masyarakat yang hidup dalam keseimbangan antara sekala dan niskala, antara dunia lahir dan batin. Justru, katanya, di Bali terdapat banyak mekanisme sosial dan ritual yang memungkinkan orang untuk menyalurkan tekanan batin melalui upacara, tarian, meditasi, dan interaksi komunal.

Namun saya juga tidak menelan mentah kritik Suryani. Meskipun ia menyanggah Mead, faktanya ia sendiri mendirikan lembaga kesehatan mental yang sangat aktif di Bali dan menyatakan bahwa orang Bali banyak mengalami stres dan gangguan jiwa. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta lunturnya nilai-nilai spiritual menyebabkan ketidakseimbangan psikis yang makin parah.

Jadi, entah kita setuju dengan Mead atau Suryani, fakta bahwa banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa tetaplah tidak bisa dibantah. Yang harus kita lakukan adalah membongkar akar masalahnya, bukan sekadar menutupi dengan narasi indah tentang budaya Bali.

Dalam bayangan saya, jika Mead hidup hari ini dan melihat Bali dengan segala perubahan sosialnya, mungkin ia akan menulis ulang bukunya. Ia akan melihat bahwa tekanan sosial bukan hanya datang dari adat, tapi juga dari industri pariwisata, media sosial, dan standar hidup modern yang membuat banyak orang Bali kehilangan arah. Ia akan melihat bagaimana para pemuda Bali dihimpit tuntutan untuk tetap “ajeg”, tetapi di saat yang sama harus bersaing dalam sistem global yang tidak kenal adat-istiadat.

Sebagai orang yang hidup dengan skizofrenia dan pernah nyaris kehilangan semua harapan, saya merasa perlu mengatakan satu hal, penyakit jiwa bukan kutukan. Ia bisa disembuhkan, dipulihkan, dan dihidupi. Tapi untuk itu, masyarakat juga harus sembuh. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa jujur dengan emosinya. Di mana air mata tidak dianggap kelemahan. Di mana marah bukan aib. Dan di mana meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan keberanian.

Mead mungkin keliru menyebut orang Bali sebagai “skizoid”. Tapi lebih keliru lagi jika kita menolak berkaca dari diagnosisnya, hanya karena takut pada bayangan diri sendiri. Mungkin memang bukan orang Bali yang skizoid, tetapi sistem sosial kita yang terlalu kaku, terlalu menekan, terlalu menuntut kesempurnaan, hingga banyak dari kita menjadi manusia yang retak di dalam. Kalau begitu, mari kita sembuhkan Bali. Bukan hanya dari sakit jiwa, tetapi dari kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: balikesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Drona dan Mahapapa: Sebuah Telaah Kesadaran Eksistensial dan Transpersonal

Next Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co