6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Ulang Mead dan Kesehatan Mental Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 8, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEKITAR satu abad yang lalu, Margaret Mead, antropolog perempuan asal Amerika Serikat, bersama suaminya, Gregory Bateson, datang ke Bali dan menulis buku yang kini menjadi klasik: Balinese Character: A Photographic Analysis. Buku ini berisi ratusan foto dan tafsir antropologis tentang perilaku orang Bali. Ia tak hanya berbicara tentang ritual dan topeng, tetapi juga ekspresi wajah anak-anak, mimik para penari, postur tidur orang dewasa, hingga cara mereka menangis, tertawa, atau marah.

Mead menyebut karakter orang Bali sebagai “skizoid”, yaitu kepribadian yang menjauh dari ekspresi emosi, sangat terkendali, dan terkesan hidup dalam dua alam kesadaran yang tidak pernah betul-betul bersatu. Ia melihat masyarakat Bali secara lahiriah sangat terstruktur, namun dalam batin menyimpan ketegangan psikis yang besar. Bagi Mead, orang Bali terkesan tidak punya self yang utuh dan identitas yang cair, tersusun dari kebiasaan sosial yang sangat kuat, namun rapuh secara psikologis.

Tentu saja kesimpulan ini bukan tanpa cela. Banyak yang mengkritik Mead karena terlalu “menggebuk rata” karakter orang Bali, seakan-akan seluruh individu di Bali mengalami patologi kejiwaan yang seragam. Namun kritik itu pun datang kemudian, salah satunya dari seorang psikiater senior asal Bali, Luh Ketut Suryani, dalam bukunya Orang Bali (1996).

Saya sendiri, sebagai orang yang sejak 2009 pernah didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, membaca buku Mead dan Suryani dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya merasa seperti ditelanjangi, seakan kegilaan saya adalah gema dari kegilaan kolektif masyarakat saya sendiri. Di sisi lain, saya merasa pernyataan Mead sangat menggeneralisasi dan tidak adil. Bagaimana mungkin karakter seluruh etnis bisa dijelaskan lewat istilah kejiwaan yang biasa digunakan dalam praktik psikiatri modern?

Tapi mari kita lihat kenyataan hari ini. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Bali merupakan provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia tertinggi di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi di tanah yang dipuja-puji sebagai surga pariwisata dunia? Mengapa di tengah gemuruh bunyi gamelan dan harum dupa di pura, justru banyak orang yang terjerembab dalam gangguan jiwa berat?

Saya mulai menduga, jangan-jangan ada benarnya pendapat Mead. Meskipun istilah “skizoid” yang dia gunakan terdengar terlalu keras, namun ia seperti hendak menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara struktural mewariskan tekanan psikologis yang amat besar kepada warganya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan komunitas adat. Tekanan untuk tidak mempermalukan keluarga. Tekanan untuk selalu menjaga harmoni, bahkan ketika hati bergejolak. Semua itu membuat emosi ditekan, kemarahan dikunci, luka batin dipendam hingga mengeras menjadi batu.

Di dalam keluarga Bali, kita jarang diajarkan untuk membicarakan perasaan. Seorang anak laki-laki mesti kuat, pantang menangis, apalagi curhat. Seorang perempuan mesti patuh, jangan melawan, apalagi marah. Di sekolah pun begitu, ekspresi personal sering dianggap pembangkangan. Kita dibesarkan dalam sistem sosial yang rapi secara lahiriah, namun miskin ruang batin. Maka tak heran bila banyak orang merasa “gila dalam diam”.

Saya pernah kuliah di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Udayana pada 2004 hingga 2009—meski tidak sampai tamat. Di sana saya banyak membaca literatur klasik antropologi, termasuk Mead dan Bateson. Saat itu saya belum tahu bahwa kelak saya sendiri akan mengalami gangguan jiwa berat, dan harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Ironisnya, saat saya kuliah antropologi dan mempelajari “yang lain”, saya abai membaca diriku sendiri.

Kini setelah pulih, saya mencoba memahami kembali pengalaman sakit jiwa itu bukan hanya sebagai gejala medis, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Saya melihat bahwa di Bali, sakit jiwa masih dianggap aib. Keluarga akan berusaha menyembunyikan anggota yang mengalami gangguan jiwa, bahkan sampai dikurung. Banyak juga yang lebih memilih berobat ke balian atau dukun ketimbang ke psikiater. Padahal, menurut saya, upaya penyembuhan seharusnya tidak harus mempertentangkan antara medis dan spiritual. Keduanya bisa saling melengkapi.

Kritik Luh Ketut Suryani terhadap Mead cukup tajam. Ia menilai Mead telah menyimpulkan karakter orang Bali dengan pendekatan Barat yang tidak memahami nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Bagi Suryani, orang Bali bukanlah skizoid. Mereka adalah masyarakat yang hidup dalam keseimbangan antara sekala dan niskala, antara dunia lahir dan batin. Justru, katanya, di Bali terdapat banyak mekanisme sosial dan ritual yang memungkinkan orang untuk menyalurkan tekanan batin melalui upacara, tarian, meditasi, dan interaksi komunal.

Namun saya juga tidak menelan mentah kritik Suryani. Meskipun ia menyanggah Mead, faktanya ia sendiri mendirikan lembaga kesehatan mental yang sangat aktif di Bali dan menyatakan bahwa orang Bali banyak mengalami stres dan gangguan jiwa. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta lunturnya nilai-nilai spiritual menyebabkan ketidakseimbangan psikis yang makin parah.

Jadi, entah kita setuju dengan Mead atau Suryani, fakta bahwa banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa tetaplah tidak bisa dibantah. Yang harus kita lakukan adalah membongkar akar masalahnya, bukan sekadar menutupi dengan narasi indah tentang budaya Bali.

Dalam bayangan saya, jika Mead hidup hari ini dan melihat Bali dengan segala perubahan sosialnya, mungkin ia akan menulis ulang bukunya. Ia akan melihat bahwa tekanan sosial bukan hanya datang dari adat, tapi juga dari industri pariwisata, media sosial, dan standar hidup modern yang membuat banyak orang Bali kehilangan arah. Ia akan melihat bagaimana para pemuda Bali dihimpit tuntutan untuk tetap “ajeg”, tetapi di saat yang sama harus bersaing dalam sistem global yang tidak kenal adat-istiadat.

Sebagai orang yang hidup dengan skizofrenia dan pernah nyaris kehilangan semua harapan, saya merasa perlu mengatakan satu hal, penyakit jiwa bukan kutukan. Ia bisa disembuhkan, dipulihkan, dan dihidupi. Tapi untuk itu, masyarakat juga harus sembuh. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa jujur dengan emosinya. Di mana air mata tidak dianggap kelemahan. Di mana marah bukan aib. Dan di mana meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan keberanian.

Mead mungkin keliru menyebut orang Bali sebagai “skizoid”. Tapi lebih keliru lagi jika kita menolak berkaca dari diagnosisnya, hanya karena takut pada bayangan diri sendiri. Mungkin memang bukan orang Bali yang skizoid, tetapi sistem sosial kita yang terlalu kaku, terlalu menekan, terlalu menuntut kesempurnaan, hingga banyak dari kita menjadi manusia yang retak di dalam. Kalau begitu, mari kita sembuhkan Bali. Bukan hanya dari sakit jiwa, tetapi dari kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: balikesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Drona dan Mahapapa: Sebuah Telaah Kesadaran Eksistensial dan Transpersonal

Next Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co