2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Ulang Mead dan Kesehatan Mental Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 8, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEKITAR satu abad yang lalu, Margaret Mead, antropolog perempuan asal Amerika Serikat, bersama suaminya, Gregory Bateson, datang ke Bali dan menulis buku yang kini menjadi klasik: Balinese Character: A Photographic Analysis. Buku ini berisi ratusan foto dan tafsir antropologis tentang perilaku orang Bali. Ia tak hanya berbicara tentang ritual dan topeng, tetapi juga ekspresi wajah anak-anak, mimik para penari, postur tidur orang dewasa, hingga cara mereka menangis, tertawa, atau marah.

Mead menyebut karakter orang Bali sebagai “skizoid”, yaitu kepribadian yang menjauh dari ekspresi emosi, sangat terkendali, dan terkesan hidup dalam dua alam kesadaran yang tidak pernah betul-betul bersatu. Ia melihat masyarakat Bali secara lahiriah sangat terstruktur, namun dalam batin menyimpan ketegangan psikis yang besar. Bagi Mead, orang Bali terkesan tidak punya self yang utuh dan identitas yang cair, tersusun dari kebiasaan sosial yang sangat kuat, namun rapuh secara psikologis.

Tentu saja kesimpulan ini bukan tanpa cela. Banyak yang mengkritik Mead karena terlalu “menggebuk rata” karakter orang Bali, seakan-akan seluruh individu di Bali mengalami patologi kejiwaan yang seragam. Namun kritik itu pun datang kemudian, salah satunya dari seorang psikiater senior asal Bali, Luh Ketut Suryani, dalam bukunya Orang Bali (1996).

Saya sendiri, sebagai orang yang sejak 2009 pernah didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, membaca buku Mead dan Suryani dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya merasa seperti ditelanjangi, seakan kegilaan saya adalah gema dari kegilaan kolektif masyarakat saya sendiri. Di sisi lain, saya merasa pernyataan Mead sangat menggeneralisasi dan tidak adil. Bagaimana mungkin karakter seluruh etnis bisa dijelaskan lewat istilah kejiwaan yang biasa digunakan dalam praktik psikiatri modern?

Tapi mari kita lihat kenyataan hari ini. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Bali merupakan provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia tertinggi di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi di tanah yang dipuja-puji sebagai surga pariwisata dunia? Mengapa di tengah gemuruh bunyi gamelan dan harum dupa di pura, justru banyak orang yang terjerembab dalam gangguan jiwa berat?

Saya mulai menduga, jangan-jangan ada benarnya pendapat Mead. Meskipun istilah “skizoid” yang dia gunakan terdengar terlalu keras, namun ia seperti hendak menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara struktural mewariskan tekanan psikologis yang amat besar kepada warganya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan komunitas adat. Tekanan untuk tidak mempermalukan keluarga. Tekanan untuk selalu menjaga harmoni, bahkan ketika hati bergejolak. Semua itu membuat emosi ditekan, kemarahan dikunci, luka batin dipendam hingga mengeras menjadi batu.

Di dalam keluarga Bali, kita jarang diajarkan untuk membicarakan perasaan. Seorang anak laki-laki mesti kuat, pantang menangis, apalagi curhat. Seorang perempuan mesti patuh, jangan melawan, apalagi marah. Di sekolah pun begitu, ekspresi personal sering dianggap pembangkangan. Kita dibesarkan dalam sistem sosial yang rapi secara lahiriah, namun miskin ruang batin. Maka tak heran bila banyak orang merasa “gila dalam diam”.

Saya pernah kuliah di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Udayana pada 2004 hingga 2009—meski tidak sampai tamat. Di sana saya banyak membaca literatur klasik antropologi, termasuk Mead dan Bateson. Saat itu saya belum tahu bahwa kelak saya sendiri akan mengalami gangguan jiwa berat, dan harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Ironisnya, saat saya kuliah antropologi dan mempelajari “yang lain”, saya abai membaca diriku sendiri.

Kini setelah pulih, saya mencoba memahami kembali pengalaman sakit jiwa itu bukan hanya sebagai gejala medis, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Saya melihat bahwa di Bali, sakit jiwa masih dianggap aib. Keluarga akan berusaha menyembunyikan anggota yang mengalami gangguan jiwa, bahkan sampai dikurung. Banyak juga yang lebih memilih berobat ke balian atau dukun ketimbang ke psikiater. Padahal, menurut saya, upaya penyembuhan seharusnya tidak harus mempertentangkan antara medis dan spiritual. Keduanya bisa saling melengkapi.

Kritik Luh Ketut Suryani terhadap Mead cukup tajam. Ia menilai Mead telah menyimpulkan karakter orang Bali dengan pendekatan Barat yang tidak memahami nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Bagi Suryani, orang Bali bukanlah skizoid. Mereka adalah masyarakat yang hidup dalam keseimbangan antara sekala dan niskala, antara dunia lahir dan batin. Justru, katanya, di Bali terdapat banyak mekanisme sosial dan ritual yang memungkinkan orang untuk menyalurkan tekanan batin melalui upacara, tarian, meditasi, dan interaksi komunal.

Namun saya juga tidak menelan mentah kritik Suryani. Meskipun ia menyanggah Mead, faktanya ia sendiri mendirikan lembaga kesehatan mental yang sangat aktif di Bali dan menyatakan bahwa orang Bali banyak mengalami stres dan gangguan jiwa. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta lunturnya nilai-nilai spiritual menyebabkan ketidakseimbangan psikis yang makin parah.

Jadi, entah kita setuju dengan Mead atau Suryani, fakta bahwa banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa tetaplah tidak bisa dibantah. Yang harus kita lakukan adalah membongkar akar masalahnya, bukan sekadar menutupi dengan narasi indah tentang budaya Bali.

Dalam bayangan saya, jika Mead hidup hari ini dan melihat Bali dengan segala perubahan sosialnya, mungkin ia akan menulis ulang bukunya. Ia akan melihat bahwa tekanan sosial bukan hanya datang dari adat, tapi juga dari industri pariwisata, media sosial, dan standar hidup modern yang membuat banyak orang Bali kehilangan arah. Ia akan melihat bagaimana para pemuda Bali dihimpit tuntutan untuk tetap “ajeg”, tetapi di saat yang sama harus bersaing dalam sistem global yang tidak kenal adat-istiadat.

Sebagai orang yang hidup dengan skizofrenia dan pernah nyaris kehilangan semua harapan, saya merasa perlu mengatakan satu hal, penyakit jiwa bukan kutukan. Ia bisa disembuhkan, dipulihkan, dan dihidupi. Tapi untuk itu, masyarakat juga harus sembuh. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa jujur dengan emosinya. Di mana air mata tidak dianggap kelemahan. Di mana marah bukan aib. Dan di mana meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan keberanian.

Mead mungkin keliru menyebut orang Bali sebagai “skizoid”. Tapi lebih keliru lagi jika kita menolak berkaca dari diagnosisnya, hanya karena takut pada bayangan diri sendiri. Mungkin memang bukan orang Bali yang skizoid, tetapi sistem sosial kita yang terlalu kaku, terlalu menekan, terlalu menuntut kesempurnaan, hingga banyak dari kita menjadi manusia yang retak di dalam. Kalau begitu, mari kita sembuhkan Bali. Bukan hanya dari sakit jiwa, tetapi dari kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: balikesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Drona dan Mahapapa: Sebuah Telaah Kesadaran Eksistensial dan Transpersonal

Next Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co