23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Ulang Mead dan Kesehatan Mental Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 8, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEKITAR satu abad yang lalu, Margaret Mead, antropolog perempuan asal Amerika Serikat, bersama suaminya, Gregory Bateson, datang ke Bali dan menulis buku yang kini menjadi klasik: Balinese Character: A Photographic Analysis. Buku ini berisi ratusan foto dan tafsir antropologis tentang perilaku orang Bali. Ia tak hanya berbicara tentang ritual dan topeng, tetapi juga ekspresi wajah anak-anak, mimik para penari, postur tidur orang dewasa, hingga cara mereka menangis, tertawa, atau marah.

Mead menyebut karakter orang Bali sebagai “skizoid”, yaitu kepribadian yang menjauh dari ekspresi emosi, sangat terkendali, dan terkesan hidup dalam dua alam kesadaran yang tidak pernah betul-betul bersatu. Ia melihat masyarakat Bali secara lahiriah sangat terstruktur, namun dalam batin menyimpan ketegangan psikis yang besar. Bagi Mead, orang Bali terkesan tidak punya self yang utuh dan identitas yang cair, tersusun dari kebiasaan sosial yang sangat kuat, namun rapuh secara psikologis.

Tentu saja kesimpulan ini bukan tanpa cela. Banyak yang mengkritik Mead karena terlalu “menggebuk rata” karakter orang Bali, seakan-akan seluruh individu di Bali mengalami patologi kejiwaan yang seragam. Namun kritik itu pun datang kemudian, salah satunya dari seorang psikiater senior asal Bali, Luh Ketut Suryani, dalam bukunya Orang Bali (1996).

Saya sendiri, sebagai orang yang sejak 2009 pernah didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, membaca buku Mead dan Suryani dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya merasa seperti ditelanjangi, seakan kegilaan saya adalah gema dari kegilaan kolektif masyarakat saya sendiri. Di sisi lain, saya merasa pernyataan Mead sangat menggeneralisasi dan tidak adil. Bagaimana mungkin karakter seluruh etnis bisa dijelaskan lewat istilah kejiwaan yang biasa digunakan dalam praktik psikiatri modern?

Tapi mari kita lihat kenyataan hari ini. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Bali merupakan provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia tertinggi di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi di tanah yang dipuja-puji sebagai surga pariwisata dunia? Mengapa di tengah gemuruh bunyi gamelan dan harum dupa di pura, justru banyak orang yang terjerembab dalam gangguan jiwa berat?

Saya mulai menduga, jangan-jangan ada benarnya pendapat Mead. Meskipun istilah “skizoid” yang dia gunakan terdengar terlalu keras, namun ia seperti hendak menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara struktural mewariskan tekanan psikologis yang amat besar kepada warganya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan komunitas adat. Tekanan untuk tidak mempermalukan keluarga. Tekanan untuk selalu menjaga harmoni, bahkan ketika hati bergejolak. Semua itu membuat emosi ditekan, kemarahan dikunci, luka batin dipendam hingga mengeras menjadi batu.

Di dalam keluarga Bali, kita jarang diajarkan untuk membicarakan perasaan. Seorang anak laki-laki mesti kuat, pantang menangis, apalagi curhat. Seorang perempuan mesti patuh, jangan melawan, apalagi marah. Di sekolah pun begitu, ekspresi personal sering dianggap pembangkangan. Kita dibesarkan dalam sistem sosial yang rapi secara lahiriah, namun miskin ruang batin. Maka tak heran bila banyak orang merasa “gila dalam diam”.

Saya pernah kuliah di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Udayana pada 2004 hingga 2009—meski tidak sampai tamat. Di sana saya banyak membaca literatur klasik antropologi, termasuk Mead dan Bateson. Saat itu saya belum tahu bahwa kelak saya sendiri akan mengalami gangguan jiwa berat, dan harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Ironisnya, saat saya kuliah antropologi dan mempelajari “yang lain”, saya abai membaca diriku sendiri.

Kini setelah pulih, saya mencoba memahami kembali pengalaman sakit jiwa itu bukan hanya sebagai gejala medis, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Saya melihat bahwa di Bali, sakit jiwa masih dianggap aib. Keluarga akan berusaha menyembunyikan anggota yang mengalami gangguan jiwa, bahkan sampai dikurung. Banyak juga yang lebih memilih berobat ke balian atau dukun ketimbang ke psikiater. Padahal, menurut saya, upaya penyembuhan seharusnya tidak harus mempertentangkan antara medis dan spiritual. Keduanya bisa saling melengkapi.

Kritik Luh Ketut Suryani terhadap Mead cukup tajam. Ia menilai Mead telah menyimpulkan karakter orang Bali dengan pendekatan Barat yang tidak memahami nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Bagi Suryani, orang Bali bukanlah skizoid. Mereka adalah masyarakat yang hidup dalam keseimbangan antara sekala dan niskala, antara dunia lahir dan batin. Justru, katanya, di Bali terdapat banyak mekanisme sosial dan ritual yang memungkinkan orang untuk menyalurkan tekanan batin melalui upacara, tarian, meditasi, dan interaksi komunal.

Namun saya juga tidak menelan mentah kritik Suryani. Meskipun ia menyanggah Mead, faktanya ia sendiri mendirikan lembaga kesehatan mental yang sangat aktif di Bali dan menyatakan bahwa orang Bali banyak mengalami stres dan gangguan jiwa. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta lunturnya nilai-nilai spiritual menyebabkan ketidakseimbangan psikis yang makin parah.

Jadi, entah kita setuju dengan Mead atau Suryani, fakta bahwa banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa tetaplah tidak bisa dibantah. Yang harus kita lakukan adalah membongkar akar masalahnya, bukan sekadar menutupi dengan narasi indah tentang budaya Bali.

Dalam bayangan saya, jika Mead hidup hari ini dan melihat Bali dengan segala perubahan sosialnya, mungkin ia akan menulis ulang bukunya. Ia akan melihat bahwa tekanan sosial bukan hanya datang dari adat, tapi juga dari industri pariwisata, media sosial, dan standar hidup modern yang membuat banyak orang Bali kehilangan arah. Ia akan melihat bagaimana para pemuda Bali dihimpit tuntutan untuk tetap “ajeg”, tetapi di saat yang sama harus bersaing dalam sistem global yang tidak kenal adat-istiadat.

Sebagai orang yang hidup dengan skizofrenia dan pernah nyaris kehilangan semua harapan, saya merasa perlu mengatakan satu hal, penyakit jiwa bukan kutukan. Ia bisa disembuhkan, dipulihkan, dan dihidupi. Tapi untuk itu, masyarakat juga harus sembuh. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa jujur dengan emosinya. Di mana air mata tidak dianggap kelemahan. Di mana marah bukan aib. Dan di mana meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan keberanian.

Mead mungkin keliru menyebut orang Bali sebagai “skizoid”. Tapi lebih keliru lagi jika kita menolak berkaca dari diagnosisnya, hanya karena takut pada bayangan diri sendiri. Mungkin memang bukan orang Bali yang skizoid, tetapi sistem sosial kita yang terlalu kaku, terlalu menekan, terlalu menuntut kesempurnaan, hingga banyak dari kita menjadi manusia yang retak di dalam. Kalau begitu, mari kita sembuhkan Bali. Bukan hanya dari sakit jiwa, tetapi dari kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: balikesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Drona dan Mahapapa: Sebuah Telaah Kesadaran Eksistensial dan Transpersonal

Next Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co