6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana by Putu Fajar Arcana
July 24, 2025
in Esai
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana

UNGKAPAN “penyair yang berumah di angin” dari WS Rendra menciptakan jarak antara puisi dengan kenyataan jadi semakin jauh. Meskipun kalimat itu diucapkannya dalam konteks tugas-tugas para cendekia untuk menjamin obyektivitas, tetapi tanpa disadarinya telah mendorong penyair berada di menara gading. Begitu pula dengan karya-karyanya, lantaran ditulis dari atas angin, maka makin jauhlah ia dari kenyataan.

Frasa “berumah di angin” itu sendiri mengandung beberapa implikasi yang serius. Pertama, dengan berumah di angin para penyair merasa menjadi “setengah dewa”. Bisa jadi ada sebagian besar penyair merasa mendapat “wahyu” dari Pencipta, dan karena itu ia merasa mewakili “kemahaciptaan” di dunia. Oleh sebab itu, ia merasa karya-karya yang dihasilkannya adalah karya-karya “wahyu” yang mengandung kebenaran hakiki. Kedua, para penyair “memistifikasi” kehadirannya di tengah-tengah realitas. Dan karya-karyanya dianggap sebagai sebentuk mantra, yang harus dipahami dengan kening berkerut-kerut. Bukan tidak mungkin kita berhadapan dengan puisi-puisi gelap, yang maknanya sangat sulit diungkap. Otoritas “pemaknaan” yang hanya dipegang oleh penciptanya (penulis), menciptakan puisi yang kian menjauh dengan para pembacanya.

Lantaran pandangan itulah opini awam kemudian mengecap kehidupan berpuisi itu sebagai sesuatu yang eksklusif, hanya untuk para “anggotanya”. Apalagi ada ungkapan yang lebih keras seperti “yang bukan penyair dilarang masuk” atau “hanya penyair yang diterima”. Jika Anda orang awam atau biasa-biasa saja, maka Anda tidak berhak menulis puisi. Apalagi mengklaim diri sebagai penyair. Kalau toh Anda memaksa diri untuk menulis, karya-karyamu dianggap “sampah” yang mencemari dunia perpuisian.

Ketika orang-orang yang dicap “bukan penyair” turut menulis puisi, banyak sinisme yang diarahkan kepadanya. Begitulah cibiran yang didapat pelukis Made Wianta saat menerbitkan kumpulan puisi berjudul Korek Api Membakar Almari Es (1996), bahkan disusul dengan kumpulan puisi kedua “Dua Setengah Menit” (2000). Banyak penyair beranggapan Wianta sedang bergenit-genit, tidak puas menjadi perupa terkemuka, dunia puisi ia jajal dengan kemampuan seadanya. Meskipun buku itu diantar oleh penyair Afrizal Malna, tetap tidak menghentikan cibiran terhadap Made Wianta. Ia dianggap penumpang gelap, yang memanfaatkan popularitasnya di dunia seni rupa untuk dianggap ada di dunia kepenyairan.

Bohemian

Satu sisi para penyair merasa mengemban mission sacree atau misi suci dari Sang Pencipta, sisi lainnya keeksklusifan itu membuat para penyair asosial. Ia tidak lagi perduli pada kehidupan sosial, hidupnya hanyalah “penghambaan” terhadap kata. Di jalan-jalan mengigau sambil merekam suaranya sendiri. Dan karena itu menganggap dirinya tidak perlu “gaul” pada kehidupan sosial. Kondisi itulah yang terjadi pada abad ke-19 di daerah Montmartre, Perancis, ketika seniman-seniman seperti Charles Baudelaire dan Vincent van Gogh berkumpul.

Kehidupan “asosial” dan melawan arus pemikiran dan gaya hidup para borjoius waktu itu disebut dengan bohemia. Kata ini sesungguhnya berasal dari stigma terhadap orang-orang Rom atau gypsy, yang hidupnya melata di pinggiran Perancis. Para seniman ini secara sengaja menceburkan diri ke dalam kemiskinan atas nama melatih kemampuan artistik yang eksklusif dan di luar batas-batas konvensi.

Celakanya, kehidupan bohemian ini sangat dekat dengan prilaku mabuk-mabukan, berlarut-larut di komplek pelacuran, dan berumah di segala lokasi. Di Montmartre mereka hidup di rumah-rumah yang bersewa murah dan menghayati hidup melarat sampai berlarat-larat. Konon, itulah caranya menempa diri untuk melahirkan karya-karya besar, yang berada di luar arus kehidupan seni.

Kehidupan bohemian semacam ini di Indonesia terjadi ketika para penyair seperti Chairil Anwar dan atau pelukis Affandi hidup menggelandang. Dalam surat-surat Chairil kepada HB Jassin terlihat, betapa penyair ini mengabaikan tubuhnya sendiri untuk menghamba pada puisi. Bukankah itu pula yang terjadi pada penyair Umbu Landu Paranggi dan turunannya seperti penyair Warih Wisatana?

Bagi mereka puisi adalah semesta yang akan mengantarkannya meraih makna hidup. Puisi tidak sekadar medium ekspresi estetik, tetapi way of life, jalan hidup yang dibela sampai mati. Bukankah begitu ungkapan terkenal dari Chairil,”Sekali berarti sudah itu mati!”.

Sekali lagi, dalam sudut pandang berbeda, cara hidup bohemian ini justru membuat kehidupan para seniman menjadi eksklusif. Dan karya seni hanyalah untuk orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Maka sesungguhnya, eksklusivitas itu telah membatasi aksesibilitas pembaca. Bahkan para penyair memegang otoritas pemaknaan terhadap karyanya, yang tidak bisa diganggu-gugat.

Sajak Cinta

Dalam lanskap kesenian semacam ini saya meluncurkan proyek pribadi yang dikerjakan selama dua tahun (2022-2024) dengan menulis puisi-puisi yang terjangkau. Puisi-puisi yang kemudian terkumpul dalam buku Sajak Cinta untuk Kekasih Senja (Penerbit Buku Kompas, 2024) itu, adalah puisi-puisi yang saya tulis dalam setiap kesempatan. Ia tersebar dari kertas tisu, nota belanja, telepon seluler, dan laptop. Setting peristiwa dan medium semacam itu, saya butuhkan untuk “melawan” kultur bohemian yang “mensakralkan” seni, terutama puisi.

Proyek ini ingin mengatakan bahwa puisi sama dengan benda sehari-hari yang juga diciptakan dengan mengandalkan imajinasi pencipta. Sebuah kursi yang kita pakai sehari-hari adalah buah konkret dari kekayaan imajinasi bernama idea, sebagaimana dalam terminologi penciptaan dari Aristoteles. Begitu jugalah sebuah puisi, ia tidak beranjak jauh dari sebuah kursi. Sama-sama lahir dari idea dan penjinakan terhadap imajinasi membuatnya menjadi benda yang berguna. Setujukah Anda, jika sebuah puisi diciptakan untuk sebuah kegunaan? Silakan diuraikan jawaban masing-masing.

Maka puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, merupakan puisi-puisi dengan kata, frasa, kalimat, baris, dan bait, yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada kata-kata yang rumit dan sulit ditelusuri maknanya. Sebab kekuatan puisi bukan pada kata, tetapi pada keindahan yang lahir dari nuansa yang diembannya. Puisi tidak pernah hanya tercipta lewat kata, tetapi lewat keutuhan antara pengertian dan nuansa.

Barangkali Anda berpikir bahwa puisi-puisi terjangkau semacam ini akan dengan mudah dilupakan. Tetapi cobalah lebih jujur melihat puisi penyair Joko Pinurbo ini:”Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Sampai sekarang puisi ini seolah mampu mewadahi ekspresi para pelancong yang menjadikannya latar berswafoto di kota Yogyakarta. Joko Pinurbo tidak hanya berhasil menderetkan kata, tetapi mendokumentasikannya di hati banyak orang.

Puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, diciptakan dengan keinginan yang kurang lebih serupa. Pertama, mudah ditangkap maknanya tanpa kehilangan sisi-sisi keindahannya. Kedua, kutip-able, bisa dikutip-kutip untuk berbagai kebutuhan para penyimaknya, termasuk mengirimkan surat cinta kepada calon pacar. Ketiga, ia layak dan istimewa jika dijadikan kado kepada mereka yang diharapkan berkenalan dengan dunia puisi.

Karakter puisi dan buku semacam ini, diharapkan membawa puisi kepada lebih banyak audiens. Puisi tidak lagi hanya milik para penyair, tetapi termasuk mereka yang awam dan baru pertama kali berkenalan dengan puisi.

Saya berharap penyair tidak lagi merasa membawa misi suci, tetapi membawa misi keindahan dan pesan-pesan hidup yang inklusif. Puisi tak lagi dianggap benda sakral, apalagi mistis, tetapi tak berbeda dengan kursi yang duduki sehari-hari di mana kita semua merasa aman dan nyaman. [T]

Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Fajar Arcana, jurnalis Kompas 1994-2022, sastrawan, sutradara teater, perupa, direktur Arcana Foundation, dan pengajar creative writing London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Bukan) Demokrasi Kita

Next Post

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana

Wartawan dan Sastrawan

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co