27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
July 23, 2025
in Esai
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo

SAYA tidak pernah bertemu dengan Kakek dari pihak Bapak. Setiap kali saya bertanya, setiap kali pula Bapak berkata: “ Kakekmu orang Jepang.”

Tentu saja saya tidak percaya. Namun, saat mulai mendapat pelajaran sejarah, saya jadi tahu bahwa Jepang memang pernah menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Pengetahuan itu membuat saya bertemu dengan istilah lain: Jugun Ianfu. Tidak ada bukti nyata bahwa saya terhubung dengan istilah itu, tapi sejumlah data lain membuat saya mulai membayangkan suatu kisah: Nenek saya mungkin adalah salah seorang perempuan yang menjadi mangsa serdadu Jepang, dan dari sana lahir bapak saya. Atau barangkali kisahnya tak seseram itu, barangkali ada romansa antara nenek saya dengan seorang serdadu Nippon, dan dari sana lahir bapak saya. Saya kemudian tahu bahwa Jepang kalah dalam Perang Dunia II, setelah dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Serdadu-serdadu Jepang pulang kampung, termasuk kakek saya. 

Sewaktu SMP, di perpustakaan sekolah, saya membaca sebuah buku: Tuan dan Hamba, kumpulan cerpen karangan Leo Tolstoy. Dalam buku itu ada sebuah cerpen, yakni “Dua Laki-Laki Tua”, yang gemanya tak hilang-hilang dari benak saya. Kisahnya demikian mengesankan, tentang iman dan perbuatan baik. Namun, lebih daripada itu, yang bergema terus dalam benak saya sesungguhnya adalah secarik adegan.

“Dua Laki-Laki Tua” berkisah tentang Efim dan Elisha, dua sahabat yang melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kota suci Yerusalem. Mereka beristirahat di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit serta dibekap kemiskinan. Elisha kasihan kepada penduduk desa itu, sehingga ia bertahan di sana sementara rekannya melanjutkan perjalanan. Elisha berjanji kepada Efim bahwa ia akan menyusul rekannya itu. Setelah Efim melanjutkan perjalanan, Elisha membantu penduduk desa supaya bisa bangkit dari kesusahan. Ia bahkan menghabiskan uang bekalnya. Akibatnya, ia tak mungkin bisa menyusul Efim untuk melanjutkan perjalanan ke kota suci. Ketika Efim selesai berziarah, ia pulang dan kembali melewati desa tadi; desa yang penduduknya saat itu sudah hidup dengan lebih baik. Efim tidak ingat akan desa itu, penduduk desa juga tidak mengingat Efim. Namun, para penduduk menyambut Efim dengan jamuan berlimpah. Ketika Efim bertanya kenapa ia disambut sedemikian rupa, warga menjelaskan bahwa dulu ada seorang peziarah yang membantu mereka sehingga bisa lepas dari kesusahan. Efim tidak terpikir bahwa peziarah yang dimaksud warga itu adalah Elisha.   

Elisha memang tak sampai ke kota suci, tapi sosoknya tertampakkan di sana, di barisan jemaat paling depan. Di sinilah adegan yang saya maksud terjadi. Efim selalu melihat kepala Elisha, yang botak dan berkilau-kilau terkena sinar matahari, di antara para jemaat di barisan depan. Namun, setiap kali ia berusaha menghampirinya, sosok Elisha menghilang begitu saja. Elisha sendiri tak mengetahui soal itu. Di akhir cerita, ketika keduanya bertemu kembali di kampung halaman, Elisha selalu menghindar dari percakapan tentang ziarah itu, sebab ia takut Efim tahu bahwa ia tak jadi ke kota suci. Sementara Efim menyangka Elisha sampai di kota suci dan ia ingin bercerita kepada Elisha bahwa ia selalu melihat sosok Elisha di antara para jemaat yang berbaris paling depan.

Motif penggandaan yang diamalkan Tolstoy dalam karangannya itu membuat “Dua Laki-Laki Tua” hadir sebagai cerpen, suatu genre yang setaraf dengan novel, novela, atau puisi, dan tak sekadar mengacu kepada pengertian harafiahnya, yakni cerita yang pendek. Di antara semua bagian dalam “Dua Laki-Laki Tua”, adegan itulah yang paling personal, sebab ia hanya dialami oleh Efim. Realitas peristiwanya tak bisa dipercaya oleh siapa pun, tapi ia tak bisa ditampik sebagai realitas. Apalagi narator cerita, dengan meminjam mata Efim, telah turut melibatkan pembaca, sehingga pembaca seolah-olah melihat pula kepala botak Elisha berkilau-kilau terkena sinar matahari. 

Motif penggandaan Tolstoy menghantui saya terus menerus. Setiap saya menulis cerpen, motif itu selalu datang. Hasrat untuk menggandakan tak tertahankan, seakan ada pemaknaan lain yang bekerja di inti sebuah cerpen, bahwa realitas fiksional akan selalu merupakan pantulan dari realitas faktual. Namun, pantulan tersebut selalu menghindar dari bentuk “sebenarnya”, yang telah diyakini secara umum. Akan tetapi, dengan begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa pantulan tersebut sesungguhnya tidak menghindar dari bentuk “sebenarnya”, tapi justru menampakkan bentuk yang “sebenarnya”. Apa yang “sebenarnya” jadi tak pernah tunggal, ia berganda, dan berganda-ganda. Seseorang adalah kumpulan orang-orang; suatu peristiwa adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Realitas fiksional berada dalam tegangan antara tak berartinya pengalaman seseorang di hadapan pengalaman banyak orang dan tak berartinya pengalaman banyak orang di hadapan pengalaman seseorang.  

Motif penggandaan Tolstoy mengalami internalisasi ke dalam kenyataan faktual yang saya alami sehari-hari. Pernah saat saya nongkrong sambil minum-minum bersama kawan-kawan di emperan toko yang sudah tutup, saya melihat di seberang jalan seorang bocah menatap saya dengan mata bertanya-tanya. Peristiwa itu tak lain adalah penggandaan dari peristiwa yang saya alami di masa kecil, di mana dari seberang jalan saya menatap para abang-abangan yang nongkrong sambil minum-minum di emperan toko yang sudah tutup. Begitu pula saat saya duduk di pinggir jalan dan menatap bus yang melintas pelan, dari jendela bus seseorang menatap ke luar. Pandangan kami bersirobok. Itu penggandaan dari peristiwa saat saya naik bus dan menatap keluar melalui jendela dan pandangan saya bersirobok dengan pandangan seseorang yang sedang duduk di penggir jalan.   

Alhasil, saya sering membayangkan suatu peristiwa dengan cara sebaliknya; meletakkan satu tokoh sebagai tokoh lainnya; membuat si aku sebagai aku lainnya. Dunia ini (ternyata) penuh aku, meski aku cuma satu jumlahnya.

Pada titik tertentu saya merasa itulah artikulasi dari “pengalaman kolektif”. Jika si aku mengalami suatu peristiwa, dan orang lain juga mengalami peristiwa yang sama, maka orang lain itu tak lain adalah aku, dan aku tak lain adalah orang itu. Namun, “pengalaman kolektif” bukanlah suatu pengalaman, “pengalaman kolektif” adalah aneka pengalaman, yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa dan dialami bersama-sama—dan yang mengalami peristiwa secara bersama-sama itu bisa jadi bukan orang-orang, melainkan seseorang.

Melalui jawabannya, bapak saya telah melihat kepala botak kakek saya berkilau-kilau terkena sinar matahari. Namun, kakek saya sendiri tidak tahu, sebagaimana saya tidak tahu siapa kakek saya sebenarnya. Di sini telah berlangsung penggandaan: saya-yang-tidak-tahu  bukanlah saya-yang-kakeknya-adalah-serdadu Jepang. Mereka adalah dua saya yang berbeda, yang juga bukan saya yang berkata bahwa kedua saya itu berbeda. Dalam situasi seperti itu yang fiksional dan yang faktual sama-sama merupakan variasi penggandaan.

Kadang-kadang saya mencoba memahami kenapa saya berpikir seperti itu. Adakah saya sedang menyembuhkan diri dari kengerian pada yang tunggal, yang pasti, yang mutlak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun, yang jelas, dengan (gangguan) pikiran semacam itu saya mengerjakan cerpen-cerpen saya, sekaligus memberi makna kepada istilah cerpen itu sendiri sebagai sebuah genre.[T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Tags: buda kecapiCerpenLeo TolstoysastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Film “Sore” Melalui Kacamata Tradisi Komunikasi Sosio-Psikologis

Next Post

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co