24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koruptor Apakah ODGJ?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 20, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya membaca berita kecil, di mana Pemda di daerah menertibkan beberapa orang yang berkeliaran diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), karena dirasa mengganggu ketertiban umum dan mengganggu rasa nyaman masyarakat. 

Ini menarik dan menggelitik, karena tetiba kok saya , sebagai masyarakat jelata, merasa sensitif saat ada kata-kata ketertiban umum dan rasa nyaman ini.  Karena ada yang lebih mengganggu dan menggelisahkan jika dikaikan dengan kedua hal tersebut. ODGJ itu memang sering kali kita kucilkan. Tapi kenapa yang mabuk kekuasaan, yang mengisap negara habis-habisan memperkaya diri, justru kita muliakan atau malah kita cita-citakan rekam jejaknya.

Di negeri ini, “waras” seolah adalah perkara siapa yang memegang mikrofon. Orang yang mencuri demi bisa makan sehari dihajar ramai-ramai. Tapi orang yang mencuri ratusan miliar disebut dermawan, visioner, dan calon pemimpin masa depan. Ironisnya, mereka yang benar-benar mengalami gangguan jiwa dalam hal ini ODGJ,  malah disingkirkan dari ruang sosial, seolah beban masyarakat.

Padahal, jika dilihat dari kacamata tanggung jawab sosial dan nurani, bisa jadi ODGJ lebih manusiawi dibanding mereka yang mabuk kuasa. Mari kita bedah ini dari dua sudut, yaitu sisi neuropsikologi kekuasaan dan sisi psikopolitik narsistik. Biar kita di sini tidak dianggap sekadar njeplak saja, tapi juga berdasar riset, meski kecil-kecilan.

Neurosains Membuktikan Kekuasaan Itu Candu

Sesuai Permenkes No. 54 Tahun 2017, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah individu yang mengalami gangguan dalam pikiran, emosi, perilaku, atau fungsi sosial secara signifikan. Mereka bisa mengalami halusinasi, delusi, gangguan suasana hati, atau kehilangan kendali diri.  Namun, perlu ditekankan bahwa ODGJ tidak selalu berbahaya.

Dalam banyak kasus, mereka justru menjadi korban stigma, diskriminasi, bahkan banyak kasus kita lihat mereka dikurung secara tidak manusiawi. Ironisnya, ODGJ jarang punya peluang menyakiti sistem. Sementara mereka yang kelihatan rapi, berdasi, terlihat waras, mereka itulah yang merancang dengan cermat kerusakan sistematis terhadap bangsa kita ini.

Dengan pengertian ini, anak kecil saja bisa bertanya, kok para pejabat atau elite bisa tega menyalahgunakan kekuasaan padahal pintar dan berpendidikan? Jawabannya, mungkin karena kekuasaan bisa bikin otak tumpul. Ya memang agak ngawur dan subyektif. Tapi biarin, wajar kan, kalau rakyat jelata komen sambil emosi. Kan, pendidikannya tidak setinggi para oknum pejabat itu.

Tapi sebenarnya jawaban ngawur tadi memang ada dasarnya. Psikolog sosial Dacher Keltner dari UC Berkeley menyebutkan, bahwa kekuasaan menurunkan empati dan meningkatkan perilaku impulsif, katanya ini mirip efek keracunan dopamin. Pemegang kekuasaan yang terlalu lama berada di puncak cenderung merasa diri paling benar, sulit menerima kritik, dan cenderung memperalat orang lain untuk mempertahankan statusnya.

Fenomena ini dikenal dengan nama Hubris Syndrome (Owen & Davidson, 2008), yaitu kondisi psikologis para pemimpin yang mulai kehilangan sense of reality karena terlalu lama dielu-elukan. Di titik ini, mereka mungkin masih “waras” secara medis, tapi mati rasa secara moral. Kalau saudara kita yang ODGJ bisa disembuhkan dengan terapi dan obat, korban Sindrom Hubris ini hanya bisa “sembuh” kalau ditarik dari kursi kekuasaannya. Itupun belum tentu bisa sadar.

Indonesia dan Narsisme Kolektif

Filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, dalam bukunya Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (2017) menyebut era modern sebagai era psikopolitik, di mana kekuasaan tak lagi menghukum tubuh, tapi mengontrol kesadaran. Orang modern kini tidak perlu dibungkam dengan senjata, cukup dialihkan saja dengan narasi, slogan, atau promo pembangunan. Di negara-negara yang pernah trauma entah karena penjajahan, krisis, atau pengkhianatan elite, masyarakat cenderung lebih mudah memuja pemimpin yang tampak kuat, meski licik, manipulatif, atau bengis. Mereka mencari simbol penyelamat, bukan sistem yang sehat.  

Apakah ini menimpa negara kita, tentu jawabannya kembali ke masing-masing kita.  Dan ketika pemimpin dianggap sebagai figur bapak bangsa, kritik yang dilontarkan terhadap figur ini akan direspons seolah-olah seperti menghina keluarga sendiri.  Contoh seperti ungkapan, “ Kok tega-teganya kamu nyinyirin dia, padahal dia yang bangun jalan tol di mana-mana, lho”. Padahal jalan tol itu ya, memang tugas negara. Bukan sedekah pribadi.

Mari kita coba berkaca ke dalam negeri. Dari pemimpin lokal yang naik motor sambil senyum-senyum di TikTok, sampai elite yang mengatur proyek sambil omon-omon soal kesejahteraan rakyat, semuanya bagian dari narasi yang akan mengalihkan kritik jadi sorai tepuk tangan. Padahal di belakang layar, banyak dari mereka yang kita tahu terlibat dalam penguasaan sumber daya, pencucian uang, dan dinasti politik. Lebih menggelikan lagi, ketika pelaku korupsi kelas kakap tertangkap, banyak yang komentar semi membela, “Tapi setahuku, dia banyak bantu orang kecil lho, baik kok orangnya”.

 Ini bukan sekadar kebodohan massal, tapi bentuk narsisme kolektif, seperti yang diungkapkan Golec de Zavala, yaitu kondisi psikologis di mana masyarakat merasa identitasnya lekat dengan tokoh tertentu, sehingga kritik terhadap tokoh diangap ancaman terhadap harga diri kelompok. Konsekuensi dari hal ini terlihat ketika skandal hanya dijadikan gosip, bukan pemicu kesadaran. Konsekuensi lain adalah ketika korupsi jadi sekedar risiko jabatan, bukan pengkhianatan, lalu mereka yang ambil sikap oposisi lantas dibilang “baperan”, bukan sebagai penyeimbang demokrasi.

Siapa Sebenarnya yang Terganggu Jiwanya

Kita coba kembali ke perbincangan awal soal ketertiban umum. Dari banyaknya gangguan ketertiban umum ini, siapa yang sebenarnya bikin onar? ODGJ yang duduk diam di pinggir jalan, atau mereka yang duduk manis di kursi jabatan sambil mengabaikan penderitaan rakyat? Yang satu kehilangan realitas karena gangguan biokimia. Satunya lagi memilih kehilangan empati demi kenyamanan dan kekuasaan. Jelasnya, yang satu tidak bisa memilih, yang satu sengaja memilih untuk menutup mata, telinga dan bahkan nurani. Komplet.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebut “gila” pada mereka yang sakit jiwa, dan mulai mempertanyakan kewarasan mereka yang mencuri terang-terangan tapi dijadikan pujaan.  Karena di negeri yang mabuk kekuasaan, orang waras jelas sering dikira aneh, dan orang yang gila harta, malah diberi predikat mulia sebagai penyelamat bangsa. 

Jadi, jika di antara para pembaca yang budiman pernah merasa muak, tapi bingung harus mulai dari mana, mulailah dengan tidak sekali-kali menertawakan ODGJ, dan segera berhenti memuja penguasa hanya karena mereka telihat glamour bergelimang kemewahan. Karena jika kita waras, kita pasti paham dan bisa merasakan sendiri bahwa dalam hal ini waras itu bukan soal tampang dan penampilan. Tapi soal sikap mental berani menanggung amanah dan akibat dari setiap kuasa yang dipegang. Kalau jadi pejabat tetap nekat dengan niat korup, ya emang edan kronis mereka. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Tags: KorupsikoruptorODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Next Post

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co