24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
July 12, 2025
in Khas
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim

Diskusi "Menghidupkan Kota Melalui Festival" di Kedai De Kakiang, Singaraja, Rabu malam, 10 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Son

ADA banyak cara membayangkan sebuah kota. Membayangkannya sebagai deretan mall dan lampu-lampu terang tapi bukan terang gaduh seperti lampu odong-odong, atau membayangkannya sebagai sebuah ruang di mana gagasan dan kegelisahan punya tempat untuk dirayakan.

Itulah kalimat pembuka dari diskusi “Menghidupkan Kota Melalui Festival” di Kedai De Kakiang, Singaraja, Rabu malam, 10 Juli 2025. Diskusi yang merupakan rangkaian dari program Road to Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 menghadirkan tiga pembicara, yakni Made Adnyana Ole sebagai pendiri SLF dan pendiri tatkala.co, Kadek Sonia Piscayanti sebagai pendiri dan direktur SLF, dan Kardian Narayana sebagai pendiri Komunitas Singaraja Menonton dan manajer produksi SLF.

Sebelum bicara festival, Dinda Yudia, moderator, melempar kail pertanyaan, “Bagaimana kita semestinya mengimajinasikan sebuah kota, khususnya Singaraja?

Adnyana Ole mengawali dengan pandangan imajinasi tentang kota terbentuk dari riwayatnya. Untuk Singaraja, jejaknya sebagai bekas ibu kota Sunda Kecil di era kolonial meninggalkan imajinasi kuat tentang kota tua yang ramai dan menjadi pusat peradaban. Tapi ada imajinasi yang mendambakan Singaraja menjadi “New York” mini, penuh dengan mall, bioskop, dan gemerlap lampu. Di sisi lain, ada imajinasi yang merindukan Singaraja sebagai kota tua yang ramah, yang merawat bangunan kolonial dan sejarahnya.

“Kota dibangun dengan imajinasi kita, pemerintah punya imajinasi sendiri, pengusaha punya imajinasi lain, dan kita-kita ini punya imajinasi yang berbeda. Mana yang lebih kuat, itu yang akan bertahan,” ujarnya.

Diskusi “Menghidupkan Kota Melalui Festival” di Kedai De Kakiang, Singaraja, Rabu malam, 10 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Sonia Piscayanti menawarkan perspektif yang lebih personal dan intim. Baginya, kota adalah definisi yang diciptakan oleh setiap individu di dalamnya. Sebagai seorang pegiat bahasa dan sastra, ia mengimajinasikan Singaraja sebagai kota yang berpikir (a thinking city), di mana diskusi dan puisi bertebaran di jalan-jalan.

“Saya tidak mau Singaraja itu tertidur dan menjadi kota yang malas berpikir,” tegas Sonia. Baginya, SLF adalah upaya untuk membangunkan kota dari kemalasan berpikir dan memperbarui definisinya agar tidak tinggal menjadi sebuah nama.

”SLF lahir dari ketakutan itu. Kami ingin membangunkan Singaraja dari tidurnya,” tambah pendiri Mahima Institute Indonesia ini.

Sementara itu, Kardian Narayana, Founder Singaraja Menonton, mengimajinasikan Singaraja sebagai kota yang nyaman untuk berkarya. Kenyamanan ini bukan berarti sepi, tapi sebuah ruang kondusif untuk berpikir, berdiskusi, dan berproduksi.

”Bagaimana kota ini tetap sunyi, tapi secara ekonominya bertumbuh, orang-orangnya bertumbuh,” paparnya, merujuk pada potensi Singaraja menjadi lokasi produksi film yang menarik sineas luar, seperti halnya Thailand.

Lalu, di mana peran festival dalam pertarungan imajinasi kota ini?

”Yang salah dari pikiran kita dalam membuat festival itu adalah menciptakan kerumunan,” kritik Ole. Menurutnya, festival adalah momen yang sengaja diciptakan sebagai etalase untuk memamerkan kekayaan dan potensi dari tema festival tersebut. Ia harus didasari oleh sebuah konsep dan kurasi yang ketat, ketimbang hanya mengikuti selera pasar.

Made Adnyana Ole | Foto: tatkala.co/Son

“Festival itu momen untuk menawarkan hal sehari-hari yang biasa kita lakukan atau bahkan yang tidak biasa kita lakukan, lalu kita kumpulkan menjadi satu di momen itu,” katanya. Menurutnya, momen tersebut menjadi wadah untuk merangkum dan merayakan segala upaya kreatif, upaya mempertahankan hidup, hingga usaha melestarikan tradisi dan kebiasaan.

Sonia Piscayanti menegaskan, sebuah festival merupakan panggung untuk menyuarakan gagasan ke khalayak yang lebih luas. Singaraja Literary Festival (SLF), secara khusus, menjadikan naskah-naskah lontar dari Gedong Kirtia sebagai jiwanya. Keunikan inilah yang menjadi pembeda sekaligus tawaran Singaraja kepada dunia.

“Kita ada kalau kita berbeda. Keunikan SLF adalah bagaimana ia mengambil lontar sebagai soul dari sastranya,” ungkap Sonia.

Kadek Sonia Piscayanti | Foto: tatkala.co/Son

Dinda Ayudia | Foto: tatkala.co/Son

Kardian Narayana | Foto: tatkala.co/Son

Menurutnya, visi ini merupakan upaya untuk meneguhkan posisi Singaraja sebagai tuan rumah bagi kekayaan intelektualnya sendiri. Selama ini yang terjadi para peneliti justru harus ke Eropa untuk mendalami khazanah lontar Bali.

“Miris rasanya ketika kita harus belajar lontar ke Eropa. Mimpi kami adalah suatu saat orang dari seluruh dunia akan datang ke Singaraja untuk belajar lontar,” imbuhnya.

Baginya, SLF bukanlah proyek sesaat. Dengan kecintaan yang mendalam pada sastra, tema-tema SLF telah dirancang untuk sepuluh tahun ke depan. “Ini adalah proyek jangka panjang yang lahir dari kecintaan pada sastra,” katanya.

Kardian menambahkan dari sisi produksi, festival yang berkualitas akan memberikan dampak nyata. “Di festival seperti ini, kita bisa intimate. Bisa bertemu produser, bisa belajar hal baru seperti SLF tahun lalu. Itu ilmu yang bisa didapat, kalau kamu serius mengikuti SLF dari hari pertama sampai terakhir, saya yakin kamu jadi pintar,” guraunya, yang disambut tawa hadirin.

Dampak yang Tak Berhenti di Tiga Hari

Ole memastikan dengan penegasan bahwa SLF adalah upaya nyata untuk mengisi julukan Singaraja sebagai Kota Pendidikan dan Kota Kreatif. ”Manfaatnya harus diambil. Kami menyediakan ruang, pembicara, dan gagasan,” ungkapnya.

SLF hadir berlangsung tiga hari (25-27 Juli 2025) ini tidak berhenti menjadi seremoni sesaat. Setelah festival, nyawanya terus dijaga lewat kegiatan Rabu Puisi, diskusi buku sepanjang tahun. ”Ini adalah upaya untuk terus menyebarkan virus literasi dan menjaga agar festival tidak padam setelah tiga hari perayaan,” tambahnya.

Foto bersama usai diskusi | Foto: tatkala.co/Son

Dampak nyata dipaparkan oleh Sonia. Ia dengan bangga menyebut bagaimana penulis Henry Manampiring terinspirasi menulis puisi pertamanya setelah datang ke SLF. Bagaimana festival ini melahirkan buku-buku baru dan menggerakkan jejaring penulis hingga tingkat Asia Pasifik. ”Semua yang datang di SLF tahun ini, kita memiliki alasan yang sangat kuat mengapa mereka hadir,” katanya.

Dari sisi produksi, Kardian menjelaskan bagaimana SLF mengajarkan timnya untuk lebih menghargai ruang dan sejarah. Mendesain panggung di Sasana Budaya yang merupakan cagar budaya menuntut timnya berpikir kreatif tanpa merusak estetika warisan masa lalu.

”Mendesain di Sasana Budaya itu berat. Kalau kamu jatuhin satu ukiran aja, ya kalau kita diproses secara hukum, kena kita nih,” ucapnya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar


Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024

Tags: festivalKotasastraSingarajaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI DIRUSAK JADI KANDANG BEBEK

Next Post

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co