4 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
June 19, 2025
in Khas
Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Wayan Mudita Adnyana

Oṁ atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah

Oṁ swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.

Oṁ ksāma sampurnāya namah swāha.

DINGIN malam terasa berbeda di antara suara angin yang menyisir pada sasih kalima sambah di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Langit tidak murka, namun sunyi. Bulan tak sepenuhnya bersinar, namun cahaya lembutnya menelusup diam ke celah-celah jiwa, seolah langit malam turut berkabung dalam diam.

Ada getar yang tak terdengar namun terasa getar kehilangan itu begitu dalam menembus sukma. Telah gugur sehelai daun tertua dari pohon warisan Bali Aga. Seorang maestro, penenun aksara dan penjaga nyala zaman, diam-diam kembali ke pangkuan alam niskala.

Maestro itu, I Wayan Mudita Adnyana, sebuah nama yang tertulis bukan hanya pada gurat lontar, tetapi juga terpatri dalam relung-relung ingatan kami. Kini ia menjelma bisik angin yang halus, tak lagi terlihat, namun selalu terasa. Ia bukan sekadar kenangan. Ia adalah nadi yang tetap berdenyut di antara lembaran warisan yang tak pernah mati.

Saya menulis ini dengan jemari yang berat. Bukan semata karena duka, tapi karena rasa hutang yang tak mungkin terbayar. Sosoknya bukan hanya seorang informan dalam studi saya, bukan sekadar narasumber, melainkan pelita yang menuntun langkah-langkah akademik saya melewati lorong-lorong pengetahuan tradisional yang nyaris terlupakan.

Di saat kebanyakan orang memberi dengan syarat, ia memberi dengan hati. Ia adalah mata air yang tak pernah surut memberi tanpa mengukur, mengalir tanpa diminta. Setiap pertanyaan saya hanyalah anak-anak sungai kecil yang dituntunnya kembali ke samudra makna, dijawabnya dengan senyum yang tulus, seakan tak pernah ada lelah di balik usianya.

Kala pikiran saya berkabut, ia hadir sebagai cahaya lembut yang tak menggurui, hanya menuntun. Dan yang paling membuat hati saya gentar oleh haru, di antara begitu banyak wajah dan nama yang telah singgah dalam hidupnya, ia tetap mengingat saya dengan hangat, seolah saya adalah bagian kecil yang tak pernah ia lepaskan dari hatinya.

Saya (penulis) bersama I Wayan Mudita Adnyana | Foto: Dok. penulis

I Wayan Mudita Adnyana bukan sekadar pengrajin atau ahli nyurat lontar. Ia adalah penafsir semesta lewat aksara. Dalam tiap gurat aksara yang mamata titiran, terdapat napas zaman yang ia hidupkan kembali. Ia nyurat bukan dengan tangan, melainkan dengan jiwa. Aksara Bali, yang bagi sebagian orang mungkin sekadar simbol, bagi dia adalah denyut kehidupan. Ia tidak hanya paham bentuknya, tapi juga menghayati nadinya.

Di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, tempat ia dilahirkan dan berkarya, ia tumbuh sebagai anak tradisi yang kemudian menjadi jantung kebudayaan. Karya-karya lontarnya menyimpan beragam hal, bukan hanya cerita, melainkan juga filsafat, nilai moral, hingga ritual kehidupan masyarakat Bali Aga. Tak heran bila tiga kepala negara, Presiden Indonesia, Presiden Korea Selatan, dan Raja Maroko mengagumi hingga mengoleksi karya-karya tulisannya. Apa yang ia ukir di atas daun-daun lontar itu bukan hanya aksara, tetapi hening yang berbicara.

Pada 10 Oktober 2019,  Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menganugerahinya penghargaan tertinggi Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dalam kategori Pelestari.

Piagam Anugerah Kebudayaan (atas) dan I Wayan Mudita Adnyana bersama piagam penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama 2024 (bawah) | Foto: Dok. penulis

Gelar itu bukan sekadar formalitas negara, melainkan bukti konkret bahwa I Wayan Mudita Adnyana adalah satu dari sedikit penjaga gerbang budaya yang masih ada. Dalam penyerahan piagam itu, negara mengakui bahwa lontar dan prasi tidak akan pernah hidup bila tidak ada tangan-tangan agung seperti ia yang menghidupkannya.

Namun sejatinya, penghargaan terbesar baginya bukanlah piagam atau medali, melainkan rasa hormat dari mereka yang pernah disentuh hatinya. Dari para peneliti, dosen, mahasiswa, budayawan, hingga warga desa, semua memiliki kisah yang sama, bahwa ia bukan hanya hadir dalam seremoni-seremoni kebudayaan yang megah, tetapi lebih sering muncul diam-diam dalam keseharian yang sederhana, seperti bayang teduh di bawah pohon tua, yang tak pernah memilih siapa yang berhak berlindung. Ramahnya tak dibuat-buat, rendah hatinya tak terucap, hanya terasa. Tak pernah ada penolakan dari bibirnya, karena baginya, berbagi ilmu adalah bagian dari napas hidup itu sendiri. Ia hadir bukan untuk dilihat, tapi untuk dirasakan oleh siapa pun yang haus akan pengetahuan, dan yang datang dengan hati yang tulus.

Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumahnya di tahun 2015. Sebuah rumah sederhana di Tenganan Pegringsingan, namun memancarkan aura agung. Ia menyambut dengan senyum. Di balik raut yang mulai renta, terpancar semangat yang tak pernah padam. Saya tidak hanya disuguhi lontar, tapi juga semangat hidup. Saya datang dengan daftar pertanyaan, namun pulang dengan kebijaksanaan.

Ia tidak hanya memberikan data untuk studi saya, tapi juga memberikan arah. Banyak dari kami peneliti muda yang merasa seperti cucu sendiri saat berbincang dengannya. Nama-nama kami tetap ia ingat, bahkan setelah waktu berlalu bertahun-tahun. Kemampuan mengingat itu bukan soal otak, tapi soal hati. Karena ia tidak pernah mengenal seseorang sebagai data, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Lontar Itu Masih Terbuka

Kini ia telah tiada. I Wayan Mudita Adnyana, sang maestro itu, meninggal Rabu, 18 Juni 2025 sekira pukul 16.00 Wita. Ia meninggal pada usia 96 tahun. Kamis, 19 Juni siang, badan kasarnya dikubur sesuai dengan sistem di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan.

Namun sesungguhnya ia belum benar-benar pergi. Lontar-lontar yang ia tulis masih membuka diri, mengajak kita membaca bukan hanya aksara yang terjuntai dalam kisah, tetapi nilai. Bagi saya pribadi, kehilangan ini adalah kehilangan guru, sahabat, pelindung, dan penyambung makna. Saya tahu, tak akan ada lagi pagi yang sama di Tenganan Pegringsingan.

Tak ada lagi suara beliau yang menyapa, “Wan, mriki dumun simpang. Ampun i nuni sik Pak Tut Lulut’e? Sampun keni sajeng?” Artinya, “Wan, ke sini dulu singgah. Sudah dari tadi di rumah Pak Lulut? Sudah dapat tuak?”  

Ia biasanhya mengucapkan kata-kata itu sembari  tertawa. Tapi saya tahu pula bahwa selama pikiran ini masih menggali makna dari warisan yang ia tinggalkan, selama saya masih belajar apa yang ia wariskan, maka ia tidak akan benar-benar pergi.

Di Tenganan Pegringsingan, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan pulang. Maka biarlah saya menutup tulisan ini dengan keyakinan bahwa Sang Maestro telah kembali, bukan untuk menghilang, tapi Sang Penjaga telah kembali menyatu dengan pendahulunya, dengan semesta bumi Tenganan Pegringsingan yang menjadi kebanggaannya.

Selamat meniti jalan sunyi menuju pangkuan Hyang Bapa Kilap, Bapak I Wayan Mudita Adnyana. Terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas segala yang telah Bapak wariskan. Dunia akademik, para pelaku kebudayaan Bali, dan diri saya sendiri adalah taman-taman pengetahuan yang tumbuh dari benih kebaikanmu.

Kami adalah saksi atas ketekunanmu menyalakan api warisan di tengah angin zaman. Kini, semoga setiap langkahmu di alam keabadian diterangi oleh aksara-aksara cahaya yang dahulu kau tuliskan dan menjadi suluh tak padam di jagat niskala.

Om Santih Santih Santih Om. [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Mati Ombo Sanghyang | Persembahan Kerbau Hitam di Desa Adat Tenganan Pegringsingan
“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan
“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan
Mekare-Kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Ritus Adat Sarat Makna
Tags: Desa Adat Tenganan Pegringsinganin memoriamlontarsastraTenganan Pegringsingan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus

Next Post

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 3, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co