7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
June 19, 2025
in Khas
Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Wayan Mudita Adnyana

Oṁ atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah

Oṁ swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.

Oṁ ksāma sampurnāya namah swāha.

DINGIN malam terasa berbeda di antara suara angin yang menyisir pada sasih kalima sambah di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Langit tidak murka, namun sunyi. Bulan tak sepenuhnya bersinar, namun cahaya lembutnya menelusup diam ke celah-celah jiwa, seolah langit malam turut berkabung dalam diam.

Ada getar yang tak terdengar namun terasa getar kehilangan itu begitu dalam menembus sukma. Telah gugur sehelai daun tertua dari pohon warisan Bali Aga. Seorang maestro, penenun aksara dan penjaga nyala zaman, diam-diam kembali ke pangkuan alam niskala.

Maestro itu, I Wayan Mudita Adnyana, sebuah nama yang tertulis bukan hanya pada gurat lontar, tetapi juga terpatri dalam relung-relung ingatan kami. Kini ia menjelma bisik angin yang halus, tak lagi terlihat, namun selalu terasa. Ia bukan sekadar kenangan. Ia adalah nadi yang tetap berdenyut di antara lembaran warisan yang tak pernah mati.

Saya menulis ini dengan jemari yang berat. Bukan semata karena duka, tapi karena rasa hutang yang tak mungkin terbayar. Sosoknya bukan hanya seorang informan dalam studi saya, bukan sekadar narasumber, melainkan pelita yang menuntun langkah-langkah akademik saya melewati lorong-lorong pengetahuan tradisional yang nyaris terlupakan.

Di saat kebanyakan orang memberi dengan syarat, ia memberi dengan hati. Ia adalah mata air yang tak pernah surut memberi tanpa mengukur, mengalir tanpa diminta. Setiap pertanyaan saya hanyalah anak-anak sungai kecil yang dituntunnya kembali ke samudra makna, dijawabnya dengan senyum yang tulus, seakan tak pernah ada lelah di balik usianya.

Kala pikiran saya berkabut, ia hadir sebagai cahaya lembut yang tak menggurui, hanya menuntun. Dan yang paling membuat hati saya gentar oleh haru, di antara begitu banyak wajah dan nama yang telah singgah dalam hidupnya, ia tetap mengingat saya dengan hangat, seolah saya adalah bagian kecil yang tak pernah ia lepaskan dari hatinya.

Saya (penulis) bersama I Wayan Mudita Adnyana | Foto: Dok. penulis

I Wayan Mudita Adnyana bukan sekadar pengrajin atau ahli nyurat lontar. Ia adalah penafsir semesta lewat aksara. Dalam tiap gurat aksara yang mamata titiran, terdapat napas zaman yang ia hidupkan kembali. Ia nyurat bukan dengan tangan, melainkan dengan jiwa. Aksara Bali, yang bagi sebagian orang mungkin sekadar simbol, bagi dia adalah denyut kehidupan. Ia tidak hanya paham bentuknya, tapi juga menghayati nadinya.

Di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, tempat ia dilahirkan dan berkarya, ia tumbuh sebagai anak tradisi yang kemudian menjadi jantung kebudayaan. Karya-karya lontarnya menyimpan beragam hal, bukan hanya cerita, melainkan juga filsafat, nilai moral, hingga ritual kehidupan masyarakat Bali Aga. Tak heran bila tiga kepala negara, Presiden Indonesia, Presiden Korea Selatan, dan Raja Maroko mengagumi hingga mengoleksi karya-karya tulisannya. Apa yang ia ukir di atas daun-daun lontar itu bukan hanya aksara, tetapi hening yang berbicara.

Pada 10 Oktober 2019,  Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menganugerahinya penghargaan tertinggi Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dalam kategori Pelestari.

Piagam Anugerah Kebudayaan (atas) dan I Wayan Mudita Adnyana bersama piagam penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama 2024 (bawah) | Foto: Dok. penulis

Gelar itu bukan sekadar formalitas negara, melainkan bukti konkret bahwa I Wayan Mudita Adnyana adalah satu dari sedikit penjaga gerbang budaya yang masih ada. Dalam penyerahan piagam itu, negara mengakui bahwa lontar dan prasi tidak akan pernah hidup bila tidak ada tangan-tangan agung seperti ia yang menghidupkannya.

Namun sejatinya, penghargaan terbesar baginya bukanlah piagam atau medali, melainkan rasa hormat dari mereka yang pernah disentuh hatinya. Dari para peneliti, dosen, mahasiswa, budayawan, hingga warga desa, semua memiliki kisah yang sama, bahwa ia bukan hanya hadir dalam seremoni-seremoni kebudayaan yang megah, tetapi lebih sering muncul diam-diam dalam keseharian yang sederhana, seperti bayang teduh di bawah pohon tua, yang tak pernah memilih siapa yang berhak berlindung. Ramahnya tak dibuat-buat, rendah hatinya tak terucap, hanya terasa. Tak pernah ada penolakan dari bibirnya, karena baginya, berbagi ilmu adalah bagian dari napas hidup itu sendiri. Ia hadir bukan untuk dilihat, tapi untuk dirasakan oleh siapa pun yang haus akan pengetahuan, dan yang datang dengan hati yang tulus.

Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumahnya di tahun 2015. Sebuah rumah sederhana di Tenganan Pegringsingan, namun memancarkan aura agung. Ia menyambut dengan senyum. Di balik raut yang mulai renta, terpancar semangat yang tak pernah padam. Saya tidak hanya disuguhi lontar, tapi juga semangat hidup. Saya datang dengan daftar pertanyaan, namun pulang dengan kebijaksanaan.

Ia tidak hanya memberikan data untuk studi saya, tapi juga memberikan arah. Banyak dari kami peneliti muda yang merasa seperti cucu sendiri saat berbincang dengannya. Nama-nama kami tetap ia ingat, bahkan setelah waktu berlalu bertahun-tahun. Kemampuan mengingat itu bukan soal otak, tapi soal hati. Karena ia tidak pernah mengenal seseorang sebagai data, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Lontar Itu Masih Terbuka

Kini ia telah tiada. I Wayan Mudita Adnyana, sang maestro itu, meninggal Rabu, 18 Juni 2025 sekira pukul 16.00 Wita. Ia meninggal pada usia 96 tahun. Kamis, 19 Juni siang, badan kasarnya dikubur sesuai dengan sistem di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan.

Namun sesungguhnya ia belum benar-benar pergi. Lontar-lontar yang ia tulis masih membuka diri, mengajak kita membaca bukan hanya aksara yang terjuntai dalam kisah, tetapi nilai. Bagi saya pribadi, kehilangan ini adalah kehilangan guru, sahabat, pelindung, dan penyambung makna. Saya tahu, tak akan ada lagi pagi yang sama di Tenganan Pegringsingan.

Tak ada lagi suara beliau yang menyapa, “Wan, mriki dumun simpang. Ampun i nuni sik Pak Tut Lulut’e? Sampun keni sajeng?” Artinya, “Wan, ke sini dulu singgah. Sudah dari tadi di rumah Pak Lulut? Sudah dapat tuak?”  

Ia biasanhya mengucapkan kata-kata itu sembari  tertawa. Tapi saya tahu pula bahwa selama pikiran ini masih menggali makna dari warisan yang ia tinggalkan, selama saya masih belajar apa yang ia wariskan, maka ia tidak akan benar-benar pergi.

Di Tenganan Pegringsingan, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan pulang. Maka biarlah saya menutup tulisan ini dengan keyakinan bahwa Sang Maestro telah kembali, bukan untuk menghilang, tapi Sang Penjaga telah kembali menyatu dengan pendahulunya, dengan semesta bumi Tenganan Pegringsingan yang menjadi kebanggaannya.

Selamat meniti jalan sunyi menuju pangkuan Hyang Bapa Kilap, Bapak I Wayan Mudita Adnyana. Terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas segala yang telah Bapak wariskan. Dunia akademik, para pelaku kebudayaan Bali, dan diri saya sendiri adalah taman-taman pengetahuan yang tumbuh dari benih kebaikanmu.

Kami adalah saksi atas ketekunanmu menyalakan api warisan di tengah angin zaman. Kini, semoga setiap langkahmu di alam keabadian diterangi oleh aksara-aksara cahaya yang dahulu kau tuliskan dan menjadi suluh tak padam di jagat niskala.

Om Santih Santih Santih Om. [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Mati Ombo Sanghyang | Persembahan Kerbau Hitam di Desa Adat Tenganan Pegringsingan
“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan
“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan
Mekare-Kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Ritus Adat Sarat Makna
Tags: Desa Adat Tenganan Pegringsinganin memoriamlontarsastraTenganan Pegringsingan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus

Next Post

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails
Next Post
Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co