6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Satria Aditya by Satria Aditya
July 7, 2026
in Esai
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Lampu-lampu di kawasan Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu baru dan disebut Ruang Publik yang Representatif, kita cenderung bertepuk tangan lebih dulu sebelum bertanya: representatif bagi siapa dan atas dasar apa?

Titik Nol Singaraja adalah contoh paling segar dari kegelisahan ini. Dalam hitungan bulan, kawasan di sekitar Tugu Singa Ambara Raja berubah drastis—pohon-pohon besar dipindahkan, bangunan lama dirobohkan sebagian, trotoar baru dipasangi puluhan lampu dan hasilnya diunggah ke media sosial dengan bangga karena dianggap mirip Malioboro. Warga berdatangan untuk berfoto saat senja. Bupati menyebutnya sebagai penghidupan kembali identitas sejarah kota. Semua terdengar indah, sampai kita mengajukan pertanyaan yang lebih dasar: kota macam apa yang sedang kita bangun dan untuk siapa?

Ada asumsi keliru yang diam-diam dipercaya banyak orang, bahwa kota dibangun dari luar ke dalam—dari trotoar, dari lampu jalan, dari fasad bangunan yang dicat ulang, lalu masyarakatnya menyesuaikan diri belakangan. Kenyataannya justru sebaliknya. Kota yang hidup selalu tumbuh dari dalam, cara warganya berinteraksi, dari ingatan kolektif yang diwariskan tanpa perlu dipaksakan lewat proyek pemerintah, dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang berlangsung bertahun-tahun tanpa nama besar seperti revitalisasi atau heritage.

Singaraja yang lama—sebelum menjadi viral, sebelum ada Titik Nol versi baru—adalah kota yang berjalan pelan. Bukan pelan karena tertinggal, tapi pelan karena masyarakatnya sudah menemukan ritme hidupnya sendiri. Pasar pagi yang tidak tergesa, obrolan di teras rumah yang panjang, anak-anak yang mengenal jalan-jalan kota bukan lewat papan informasi wisata, tapi lewat cerita orang tua mereka. Ketenangan itu bukan kekurangan yang perlu dibenahi. Ia justru adalah fondasi yang seharusnya dijaga sebelum kota mempercantik permukaannya.

Yang terjadi hari ini terasa terbalik. Proyek berjalan cepat—target penyelesaian dikejar dalam hitungan bulan, anggaran puluhan miliar dicairkan, groundbreaking dan seremoni silih berganti—tapi arah dan tujuannya kabur. Kita tahu kawasan ini akan cantik, akan instagramable dan akan mendongkrak pariwisata. Tapi adakah yang benar-benar bisa menjawab, kota macam apa yang ingin kita wariskan dua puluh tahun dari sekarang? Kecepatan tanpa arah bukan kemajuan. Ia hanya gerak yang gelisah, mirip orang yang berlari kencang tanpa tahu ke mana ia menuju.

Singaraja adalah kota pendidikan, katanya. Rumah bagi ribuan mahasiswa yang setiap hari melintasi kawasan yang sedang ditata itu. Tapi di mana suara kritis mereka ketika bangunan-bangunan tua dirobohkan? Di mana diskusi kampus yang mempertanyakan apakah penataan ini benar-benar merawat sejarah, atau justru menghapus lapisan-lapisan masa lalu demi tampilan yang lebih marketable?

Yang lebih sering terlihat adalah mahasiswa yang datang ke Titik Nol untuk berburu foto sunset, mengikuti tren, menikmati suasana yang katanya mirip Yogyakarta—tanpa banyak yang bertanya kenapa gedung yang berdiri di sana sekarang bukan lagi gedung yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Padahal, kritisisme semacam ini seharusnya lahir secara alami dari lingkungan akademik. Bukan sekadar menikmati ruang publik, tapi mempertanyakan proses yang melahirkannya. Kalau mahasiswa sendiri tidak mempertanyakan pembongkaran warisan kotanya, siapa lagi yang akan melakukannya?

Ini bukan soal menyalahkan generasi muda semata. Ini soal iklim kampus dan kota belum benar-benar membangun budaya berpikir kritis terhadap ruang yang mereka tinggali. Pendidikan yang baik seharusnya melahirkan warga yang bertanya, bukan hanya warga yang mengabadikan momen.

Kritik ini bukan penolakan terhadap pembangunan itu sendiri. Titik Nol Singaraja punya niat baik, menghidupkan kembali kawasan yang selama puluhan tahun kehilangan sorotan setelah pusat pemerintahan pindah ke Denpasar. Tapi niat baik saja tidak cukup jika prosesnya mengorbankan hal yang seharusnya dijaga lebih dulu, masyarakat yang tenang, bangunan yang menyimpan ingatan, dan generasi muda yang berpikir kritis tentang kotanya sendiri.

Kota yang baik tidak dibangun dengan logika membongkar lalu mempercantik. Ia dibangun dengan logika merawat lebih dulu, baru menata. Singaraja punya modal besar untuk itu—sejarah panjang, komunitas literasi yang mulai bergeliat, dan generasi muda yang sebenarnya haus akan identitas. Tapi modal itu hanya akan berarti jika kota berhenti sejenak, bertanya ke mana arah larinya, dan mengembalikan proses pembangunan pada masyarakat yang sesungguhnya memilikinya—bukan pada kecepatan proyek dan estetika yang dirancang untuk media sosial. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Era Chatting Telah Berlalu

Next Post

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

KEPEMIMPINAN 'BALANG TAMAK': BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co