6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Era Chatting Telah Berlalu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2026
in Esai
Era Chatting Telah Berlalu

Ilustrasi tatkala.co

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya anti terhadap perkembangan teknologi. Bukan pula karena merasa dunia digital tidak lagi berguna. Saya hanya sampai pada sebuah kesadaran sederhana bahwa aktivitas itu terlalu banyak menghabiskan energi.

Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa energi jauh lebih berharga daripada waktu. Waktu memang terus berjalan dalam hitungan yang sama bagi setiap orang. Sehari tetap dua puluh empat jam. Namun, energi untuk berpikir, mendengarkan, memahami, lalu menanggapi sesuatu tidak pernah benar-benar sama. Ada masa ketika kita begitu murah hati membaginya kepada siapa saja. Namum, ada pula masa ketika kita mulai memilih, kepada siapa dan untuk apa energi itu diberikan.

Saya merasa sedang berada pada masa yang kedua. Sejak era mIRC, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter yang kini berganti nama menjadi X, Instagram, Threads, hingga entah aplikasi apa lagi yang akan lahir beberapa tahun mendatang, kebiasaan manusia sesungguhnya tidak banyak berubah. Platform datang dan pergi. Nama berganti. Tampilan diperbarui. Algoritma disempurnakan. Namun, hasrat manusia untuk berbicara tidak pernah benar-benar berubah.

Semua orang ingin didengar. Semua orang ingin dipahami. Tidak sedikit pula yang ingin memenangkan perdebatan. Di situlah saya mulai merasa lelah. Percakapan di ruang digital sering kali tidak benar-benar menghadirkan percakapan. Yang hadir justru saling membalas pendapat. Saling mengoreksi, menyela,  mempertahankan keyakinan masing-masing. Tidak jarang pula saling menyerang.

Padahal, percakapan yang baik mestinya membuat kita pulang dengan pemahaman yang bertambah, bukan dengan kemarahan yang semakin panjang. Dunia maya memiliki satu kelemahan yang hingga hari ini belum mampu diatasi oleh teknologi secanggih apa pun. Kita tidak benar-benar melihat manusia yang sedang berbicara kepada kita.

Kita hanya melihat huruf, namun kita tidak mendengar nada suaranya, atau tidak melihat sorot matanya. Kita tidak mengetahui apakah ia sedang tersenyum, bercanda, gugup, atau sebenarnya menyesali kalimat yang baru saja ditulisnya.

Yang kita baca hanyalah teks. Dari situlah kesalahpahaman lahir dengan sangat mudah. Ironisnya, kesalahpahaman sering terjadi bukan di antara orang asing, melainkan justru di antara mereka yang telah saling mengenal. Pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun bisa menjadi renggang hanya karena sebuah kalimat yang dibaca dengan intonasi yang keliru.

Media sosial membuat kita merasa sedang berbicara dengan seseorang. Padahal sering kali kita sedang berbicara dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri tentang orang tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa chatting adalah sesuatu yang buruk. Ia menjadi buruk ketika menggantikan pertemuan.

Di Indonesia, kita mengenal istilah “kopi darat”. Saya selalu menyukai istilah itu. Percakapan yang semula berlangsung di udara akhirnya dipindahkan ke daratan. Orang-orang duduk di meja yang sama. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui papan ketik. Banyak kesalahpahaman yang ternyata selesai hanya dengan saling memandang wajah. Barangkali sejak awal manusia memang diciptakan untuk bertemu.

Jauh sebelum internet memasuki rumah-rumah, masyarakat Indonesia telah mengenal radio amatir. Di kampung saya, orang-orang menyebutnya “brik”. Mereka bercakap melalui gelombang radio hingga larut malam. Ada yang sekadar bertukar kabar, berteman, bahkan pula yang akhirnya saling jatuh cinta.

Ketika masih kecil, saya pertama kali mendengar kata “selingkuh” bukan dari televisi atau surat kabar, melainkan dari cerita para tetangga. Seorang perempuan dikabarkan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang dikenalnya melalui radio amatir. Sebagai anak kecil, saya belum memahami kerumitan hubungan orang dewasa. Namun, saya mulai mengerti bahwa komunikasi, meskipun hanya melalui suara, ternyata mampu menghadirkan kedekatan yang sangat nyata.

Hari ini, teknologi telah berkembang jauh melampaui masa itu. Dulu kita hanya mendengar suara. Kini kita dapat melihat wajah melalui panggilan video. Bahkan, dengan kecerdasan buatan, wajah dan suara pun dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dengan kenyataan.

Teknologi memang semakin mendekatkan manusia yang berjauhan. Namun, saya tidak yakin teknologi juga membuat manusia semakin dekat secara batin. Justru pada zaman ketika kita dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dari mana saja, kita semakin sering kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan.

Semua orang berbicara, tapi sedikit yang mendengar. Semua orang ingin menjelaskan, hanya sayangnya sedikit yang ingin memahami. Mungkin karena itulah saya mulai mengambil jarak.Bukan dari manusianya, melainkan dari kebiasaan yang membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk percakapan yang, setelah selesai, tidak meninggalkan apa-apa selain rasa lelah.

Memasuki usia kepala empat, saya merasa ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya cara memandang dunia, melainkan juga cara menggunakan waktu. Dulu, telepon genggam seperti memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Setiap bunyi notifikasi seolah memanggil untuk segera dibuka. Ada rasa khawatir tertinggal percakapan, kehilangan informasi, atau dianggap tidak peduli.

Sekarang, saya justru menikmati saat-saat ketika telepon genggam dibiarkan diam. Jika ada pesan yang penting, tentu saya balas. Jika menyangkut pekerjaan, keluarga, atau sahabat, saya berusaha menjawab secepat mungkin. Namun, saya tidak lagi merasa berkewajiban menanggapi setiap kiriman video, setiap tautan berita, setiap candaan yang berulang kali beredar di grup WhatsApp, apalagi setiap perdebatan yang tampaknya tidak akan pernah mencapai titik temu.

Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan respons. Diam pun kadang merupakan jawaban. Ada hari-hari ketika saya membuka media sosial hanya beberapa menit. Bukan karena tidak ada yang menarik, melainkan karena saya sadar selalu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan.

Menulis, misalnya, atau membaca buku yang sudah lama menunggu di rak. Atau, duduk di warung kopi sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mengobrol dengan teman tanpa terganggu bunyi notifikasi. Atau juga, sekadar menikmati sore di Denpasar ketika matahari mulai turun perlahan dan lalu lintas kembali padat oleh orang-orang yang pulang bekerja.

Semakin saya menjauh dari keramaian percakapan digital, semakin saya menemukan kembali kesunyian. Dan saya percaya, kesunyian bukanlah musuh bagi seorang penulis. Sebaliknya, ia adalah ruang kerja. Di dalam kesunyian, kalimat-kalimat mulai berdatangan. Ingatan yang semula tercecer menemukan tempatnya. Pengalaman yang selama ini hanya lewat begitu saja perlahan berubah menjadi bahan renungan.

Barangkali karena itulah saya merasa sayang ketika melihat penulis, penyair, atau sastrawan menghabiskan begitu banyak waktunya untuk berdebat di media sosial. Bukan berarti mereka tidak boleh menyampaikan pendapat. Tentu saja boleh. Dunia literasi juga membutuhkan percakapan.

Namun, ada perbedaan antara percakapan yang melahirkan gagasan dan percakapan yang sekadar menguras tenaga. Ada perdebatan yang membuat kita pulang dengan wawasan baru. Ada pula perdebatan yang berakhir dengan saling memblokir akun.

Saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri, apakah waktu yang saya habiskan hari ini menghasilkan sesuatu yang dapat saya baca kembali beberapa tahun mendatang? Komentar di media sosial akan tenggelam oleh komentar berikutnya. Percakapan di grup akan tertutup oleh ratusan pesan baru. Tetapi sebuah esai, puisi, atau sebuah buku mungkin masih akan dibaca ketika percakapan itu telah lama dilupakan. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah kebiasaan saya.

Saya tidak lagi ingin menjadi orang yang selalu hadir dalam setiap percakapan. Saya lebih ingin hadir sepenuhnya ketika sedang berbicara dengan seseorang. Saya tidak ingin sekadar mengetahui banyak hal. Saya ingin memahami beberapa hal dengan lebih dalam. Mungkin ini juga bagian dari pertambahan usia. Kita mulai memilih. Memilih pekerjaan, pertemanan, bacaan, percakapan. Dan, yang tidak kalah penting, memilih apa yang tidak perlu lagi diberi perhatian.

Saya teringat seorang teman yang pernah berkata, “Media sosial membuat kita merasa produktif, padahal belum tentu menghasilkan apa-apa.” Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang. Berapa jam yang kita habiskan untuk menggulir layar setiap hari? Berapa banyak yang benar-benar kita ingat dari semua itu? Sebaliknya, satu jam membaca buku sering kali meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada berjam-jam membaca linimasa.

Satu jam mengobrol dengan seorang sahabat di warung kopi kadang menghasilkan gagasan yang tidak pernah muncul selama berminggu-minggu berada di media sosial. Mungkin karena percakapan yang sesungguhnya selalu membutuhkan kehadiran. Bukan hanya tubuh, tetapi juga perhatian.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan media sosial. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri, dan setiap teknologi membawa manfaat yang tidak sedikit. Saya pun masih menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, membaca berita, dan membagikan tulisan.

Yang ingin saya tinggalkan adalah kebiasaan menghabiskan energi pada percakapan yang tidak membawa saya bertumbuh. Hidup rasanya terlalu singkat untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita benar. Dan, terlalu singkat untuk memenangkan perdebatan dengan orang yang bahkan belum tentu ingin mendengarkan.

Saya lebih memilih menyelesaikan satu esai daripada menulis seratus komentar. Lebih memilih bertemu seorang teman daripada berbalas pesan sepanjang malam. Lebih memilih secangkir kopi dan percakapan yang jujur daripada ribuan kata yang melintas begitu saja di layar telepon. Mungkin memang begitulah akhirnya. Bukan era internet yang telah berakhir, bukan pula era media sosial.

Yang berakhir adalah masa dalam hidup saya ketika chatting menjadi pusat perhatian. Kini, ia hanya pelengkap. Selebihnya, saya ingin kembali pada hal-hal yang lebih nyata; pada buku yang belum selesai dibaca, naskah yang menunggu diselesaikan, atau perjumpaan yang menghadirkan tawa, jeda, dan tatapan mata.

Sebab, pada akhirnya, kehidupan tidak berlangsung di kolom komentar. Kehidupan berlangsung di antara manusia yang saling menyapa, saling mendengar, dan saling mengingat setelah percakapan usai.

Denpasar, 3 Juli 2026

Tags: komunikasimedia online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Next Post

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal ---Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co