30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Era Chatting Telah Berlalu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2026
in Esai
Era Chatting Telah Berlalu

Ilustrasi tatkala.co

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya anti terhadap perkembangan teknologi. Bukan pula karena merasa dunia digital tidak lagi berguna. Saya hanya sampai pada sebuah kesadaran sederhana bahwa aktivitas itu terlalu banyak menghabiskan energi.

Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa energi jauh lebih berharga daripada waktu. Waktu memang terus berjalan dalam hitungan yang sama bagi setiap orang. Sehari tetap dua puluh empat jam. Namun, energi untuk berpikir, mendengarkan, memahami, lalu menanggapi sesuatu tidak pernah benar-benar sama. Ada masa ketika kita begitu murah hati membaginya kepada siapa saja. Namum, ada pula masa ketika kita mulai memilih, kepada siapa dan untuk apa energi itu diberikan.

Saya merasa sedang berada pada masa yang kedua. Sejak era mIRC, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter yang kini berganti nama menjadi X, Instagram, Threads, hingga entah aplikasi apa lagi yang akan lahir beberapa tahun mendatang, kebiasaan manusia sesungguhnya tidak banyak berubah. Platform datang dan pergi. Nama berganti. Tampilan diperbarui. Algoritma disempurnakan. Namun, hasrat manusia untuk berbicara tidak pernah benar-benar berubah.

Semua orang ingin didengar. Semua orang ingin dipahami. Tidak sedikit pula yang ingin memenangkan perdebatan. Di situlah saya mulai merasa lelah. Percakapan di ruang digital sering kali tidak benar-benar menghadirkan percakapan. Yang hadir justru saling membalas pendapat. Saling mengoreksi, menyela,  mempertahankan keyakinan masing-masing. Tidak jarang pula saling menyerang.

Padahal, percakapan yang baik mestinya membuat kita pulang dengan pemahaman yang bertambah, bukan dengan kemarahan yang semakin panjang. Dunia maya memiliki satu kelemahan yang hingga hari ini belum mampu diatasi oleh teknologi secanggih apa pun. Kita tidak benar-benar melihat manusia yang sedang berbicara kepada kita.

Kita hanya melihat huruf, namun kita tidak mendengar nada suaranya, atau tidak melihat sorot matanya. Kita tidak mengetahui apakah ia sedang tersenyum, bercanda, gugup, atau sebenarnya menyesali kalimat yang baru saja ditulisnya.

Yang kita baca hanyalah teks. Dari situlah kesalahpahaman lahir dengan sangat mudah. Ironisnya, kesalahpahaman sering terjadi bukan di antara orang asing, melainkan justru di antara mereka yang telah saling mengenal. Pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun bisa menjadi renggang hanya karena sebuah kalimat yang dibaca dengan intonasi yang keliru.

Media sosial membuat kita merasa sedang berbicara dengan seseorang. Padahal sering kali kita sedang berbicara dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri tentang orang tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa chatting adalah sesuatu yang buruk. Ia menjadi buruk ketika menggantikan pertemuan.

Di Indonesia, kita mengenal istilah “kopi darat”. Saya selalu menyukai istilah itu. Percakapan yang semula berlangsung di udara akhirnya dipindahkan ke daratan. Orang-orang duduk di meja yang sama. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui papan ketik. Banyak kesalahpahaman yang ternyata selesai hanya dengan saling memandang wajah. Barangkali sejak awal manusia memang diciptakan untuk bertemu.

Jauh sebelum internet memasuki rumah-rumah, masyarakat Indonesia telah mengenal radio amatir. Di kampung saya, orang-orang menyebutnya “brik”. Mereka bercakap melalui gelombang radio hingga larut malam. Ada yang sekadar bertukar kabar, berteman, bahkan pula yang akhirnya saling jatuh cinta.

Ketika masih kecil, saya pertama kali mendengar kata “selingkuh” bukan dari televisi atau surat kabar, melainkan dari cerita para tetangga. Seorang perempuan dikabarkan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang dikenalnya melalui radio amatir. Sebagai anak kecil, saya belum memahami kerumitan hubungan orang dewasa. Namun, saya mulai mengerti bahwa komunikasi, meskipun hanya melalui suara, ternyata mampu menghadirkan kedekatan yang sangat nyata.

Hari ini, teknologi telah berkembang jauh melampaui masa itu. Dulu kita hanya mendengar suara. Kini kita dapat melihat wajah melalui panggilan video. Bahkan, dengan kecerdasan buatan, wajah dan suara pun dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dengan kenyataan.

Teknologi memang semakin mendekatkan manusia yang berjauhan. Namun, saya tidak yakin teknologi juga membuat manusia semakin dekat secara batin. Justru pada zaman ketika kita dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dari mana saja, kita semakin sering kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan.

Semua orang berbicara, tapi sedikit yang mendengar. Semua orang ingin menjelaskan, hanya sayangnya sedikit yang ingin memahami. Mungkin karena itulah saya mulai mengambil jarak.Bukan dari manusianya, melainkan dari kebiasaan yang membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk percakapan yang, setelah selesai, tidak meninggalkan apa-apa selain rasa lelah.

Memasuki usia kepala empat, saya merasa ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya cara memandang dunia, melainkan juga cara menggunakan waktu. Dulu, telepon genggam seperti memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Setiap bunyi notifikasi seolah memanggil untuk segera dibuka. Ada rasa khawatir tertinggal percakapan, kehilangan informasi, atau dianggap tidak peduli.

Sekarang, saya justru menikmati saat-saat ketika telepon genggam dibiarkan diam. Jika ada pesan yang penting, tentu saya balas. Jika menyangkut pekerjaan, keluarga, atau sahabat, saya berusaha menjawab secepat mungkin. Namun, saya tidak lagi merasa berkewajiban menanggapi setiap kiriman video, setiap tautan berita, setiap candaan yang berulang kali beredar di grup WhatsApp, apalagi setiap perdebatan yang tampaknya tidak akan pernah mencapai titik temu.

Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan respons. Diam pun kadang merupakan jawaban. Ada hari-hari ketika saya membuka media sosial hanya beberapa menit. Bukan karena tidak ada yang menarik, melainkan karena saya sadar selalu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan.

Menulis, misalnya, atau membaca buku yang sudah lama menunggu di rak. Atau, duduk di warung kopi sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mengobrol dengan teman tanpa terganggu bunyi notifikasi. Atau juga, sekadar menikmati sore di Denpasar ketika matahari mulai turun perlahan dan lalu lintas kembali padat oleh orang-orang yang pulang bekerja.

Semakin saya menjauh dari keramaian percakapan digital, semakin saya menemukan kembali kesunyian. Dan saya percaya, kesunyian bukanlah musuh bagi seorang penulis. Sebaliknya, ia adalah ruang kerja. Di dalam kesunyian, kalimat-kalimat mulai berdatangan. Ingatan yang semula tercecer menemukan tempatnya. Pengalaman yang selama ini hanya lewat begitu saja perlahan berubah menjadi bahan renungan.

Barangkali karena itulah saya merasa sayang ketika melihat penulis, penyair, atau sastrawan menghabiskan begitu banyak waktunya untuk berdebat di media sosial. Bukan berarti mereka tidak boleh menyampaikan pendapat. Tentu saja boleh. Dunia literasi juga membutuhkan percakapan.

Namun, ada perbedaan antara percakapan yang melahirkan gagasan dan percakapan yang sekadar menguras tenaga. Ada perdebatan yang membuat kita pulang dengan wawasan baru. Ada pula perdebatan yang berakhir dengan saling memblokir akun.

Saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri, apakah waktu yang saya habiskan hari ini menghasilkan sesuatu yang dapat saya baca kembali beberapa tahun mendatang? Komentar di media sosial akan tenggelam oleh komentar berikutnya. Percakapan di grup akan tertutup oleh ratusan pesan baru. Tetapi sebuah esai, puisi, atau sebuah buku mungkin masih akan dibaca ketika percakapan itu telah lama dilupakan. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah kebiasaan saya.

Saya tidak lagi ingin menjadi orang yang selalu hadir dalam setiap percakapan. Saya lebih ingin hadir sepenuhnya ketika sedang berbicara dengan seseorang. Saya tidak ingin sekadar mengetahui banyak hal. Saya ingin memahami beberapa hal dengan lebih dalam. Mungkin ini juga bagian dari pertambahan usia. Kita mulai memilih. Memilih pekerjaan, pertemanan, bacaan, percakapan. Dan, yang tidak kalah penting, memilih apa yang tidak perlu lagi diberi perhatian.

Saya teringat seorang teman yang pernah berkata, “Media sosial membuat kita merasa produktif, padahal belum tentu menghasilkan apa-apa.” Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang. Berapa jam yang kita habiskan untuk menggulir layar setiap hari? Berapa banyak yang benar-benar kita ingat dari semua itu? Sebaliknya, satu jam membaca buku sering kali meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada berjam-jam membaca linimasa.

Satu jam mengobrol dengan seorang sahabat di warung kopi kadang menghasilkan gagasan yang tidak pernah muncul selama berminggu-minggu berada di media sosial. Mungkin karena percakapan yang sesungguhnya selalu membutuhkan kehadiran. Bukan hanya tubuh, tetapi juga perhatian.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan media sosial. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri, dan setiap teknologi membawa manfaat yang tidak sedikit. Saya pun masih menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, membaca berita, dan membagikan tulisan.

Yang ingin saya tinggalkan adalah kebiasaan menghabiskan energi pada percakapan yang tidak membawa saya bertumbuh. Hidup rasanya terlalu singkat untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita benar. Dan, terlalu singkat untuk memenangkan perdebatan dengan orang yang bahkan belum tentu ingin mendengarkan.

Saya lebih memilih menyelesaikan satu esai daripada menulis seratus komentar. Lebih memilih bertemu seorang teman daripada berbalas pesan sepanjang malam. Lebih memilih secangkir kopi dan percakapan yang jujur daripada ribuan kata yang melintas begitu saja di layar telepon. Mungkin memang begitulah akhirnya. Bukan era internet yang telah berakhir, bukan pula era media sosial.

Yang berakhir adalah masa dalam hidup saya ketika chatting menjadi pusat perhatian. Kini, ia hanya pelengkap. Selebihnya, saya ingin kembali pada hal-hal yang lebih nyata; pada buku yang belum selesai dibaca, naskah yang menunggu diselesaikan, atau perjumpaan yang menghadirkan tawa, jeda, dan tatapan mata.

Sebab, pada akhirnya, kehidupan tidak berlangsung di kolom komentar. Kehidupan berlangsung di antara manusia yang saling menyapa, saling mendengar, dan saling mengingat setelah percakapan usai.

Denpasar, 3 Juli 2026

Tags: komunikasimedia online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Next Post

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal ---Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co