17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
in Esai
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Dari kiri ke kanan: Ketut Putrayasa (pelukis), Romo Setyo Wibowo (spesker SLF), saya (nyoman Tingkat) dan Tatang BSP (pelukis) di Singaraja Literary Festival 2026

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali Gedong Kirtya Singaraja. SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Tema yang diusung pun berbeda-beda setiap tahun dengan berpedoman pada lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. SLF IV 2026 mengusung tema  Stri Sasana yang berarti etika seorang istri. Tema ini sangat inspiratif bagi pemuliaan perempuan di tengah kesibukan bergulat di dapur, kasur, dan sumur.

SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Didorong oleh rasa kesepian, SLF digelar. “Apa yang bisa saya buat untuk meramaikan Singaraja sebagai Kota Pelajar yang kesepian,” begitu kata Adnyana Ole sang penggagas bersama istri, Sonia Piscayanti.

Lagi pula SLF hadir dari idealisme dan kekuatan persaudaraan para penulis yang rindu bertemu walaupun minim dana.   Berbeda dengan Ubud Writers and readers yang diinisiasi oleh Janet DeNeefe dari Australia sebagai respon terhadap peristiwa Sabtu Kelabu Bom Bali 12 Oktober 2002. Hadir dengan huruf kapital dalam permodalan.

Selain itu, SLF lebih memberdayakan komunitas dan individu dengan kesadaran belajar bermakna untuk selalu menjaga stamina senantiasa penuh vitalitas. Alhasil, peserta pun berdatangan dari berbagai daerah dengan swadaya dan swadana. Tidak saja dari luar Provinsi Bali, tetapi juga dari berbagai negara. “Bahkan, seorang putra Buleleng di luar negeri akhirnya pulang ke Singaraja untuk ikut dapat menikmati sajian selama SLF berlangsung,” kata Adnyana Ole diokekan sang istri di tengah obrolan bersama Romo Setyo sambil menikmati tipat cantok khas Buleleng diakhiri kopi penundung traktiran Bli Putrayasa seniman Canggu, Kuta Utara, Bali, yang hadir memborong sejumlah buku.

Salah satu kegiatan diskusi di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Apa makna penting SLF bagi Bali di tengah pariwisata yang gemuruh di Bali Selatan?

Pertama, Singaraja mengukuhkan diri sebagai kepalanya Bali tempat pemikiran dan ide besar dilahirkan. Hal ini sangat cocok bila melongok sejarah tempo doeloe, Singaraja sebagai Ibu Kota Sunda Ketjil sekaligus kota pelajar. Jejaknya kini ada di Undiksha sebagai universitas terbesar di Bali Utara.

Kedua, memancing minat khusus wisatawan untuk datang ke Singaraja. Mereka yang datang dengan minat khusus adalah orang-orang yang haus belajar seni budaya berkearifan Den Bukit. Kesempatan bagi Singaraja menguatkan kebulelengannya dengan desa-desa Bali Kuno sebagai penyangga. Teks-teks tentangnya juga bisa dilacak di rumah peradaban Bali, Gedong Kirtya.

Ketiga, secara ekonomi  denyut Singaraja berbinar. Hotel dan Penginapan di-booking peserta berbagai daerah. Cerita mereka tentang SLF berdampak bagi pariwisata Buleleng lebih-lebih dengan ikon baru Titik Nol yang mirip Malioboro Yogyakarta. Pemda Buleleng pun mendapatkan promosi dari event tahunan ini.

Keempat, SLF menghidupkan Sastra Pariwisata seutuhnya. Aktivitas seni pada umumnya dan sastra pada khususnya menjadi perekat kebudayaan yang berbeda-beda. Ibarat tokoh dalam novel, ada protagonis dan antagonis selalu berdialektika membangun komposisi harmonis. Menjadi bacaan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Membeli buku di los buku Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Dalam konteks itulah, kehadiran SLF IV juga memberikan ruang pameran buku bagi para penulis sekaligus menghadirkan penulisnya untuk berdiskusi membincang karya-karyanya. Ini adalah hal langka bagi Bali. SLF menjadi jembatan penghubung antara pengarang dengan pembaca dalam konteks keduluan, kekinian dan kemasadepanan dengan memperkuat kedisinian seraya menatap harapan kedisanaan. Ruang waktu dan ruang tempat dibuat tanpa sekat. Umumnya, saat virtual meeting yang berlangsung secara maya, wajah bisa disembunyikan yang tidak kita tahu apakah yang bersangkutan benar-benar hadir dan ikut ataukah sedang berbohong. Tidak demikian dengan gelaran SLF yang hadir nyata tanpa sekat hegemoni.

Poin penting dari SLF adalah berhasil menghadirkan Ratih Kumala dan JS Khairen yang sesama novelis. Ratih Kumala yang terkenal dengan novel Koloni dan Gadis Kretek. Koloni berkisah tentang intrik politik dan perebutan kekuasaan di dunia semut. Sementara itu, Khairen tampil dengan novel Rumah yang dibedah oleh Dede Putra Wiguna. Novel Rumah berkisah tentang liku-liku dan luka-luka perjuangan  perempuan di rumah  yang sering tidak nyaman akibat pola asuh yang kurang terbuka.

Ngobrol bersama di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Perjumpaan pembaca dan penulis dalam SLF adalah pertemuan memanusiakan manusia sebagaimana diajarkan dalam Pendidikan. Tersirat maksud membangun katalisator dan jejaring makin kuat dan makin berkualitas baik dalam pemahaman pembaca maupun dalam menghasilkan produk berbagai genre sastra.

Di tengah rendahnya hasil PISA yang terpotret dari skor literasi (359) dan numerasi (366) pada 2025, kehadiran SLF dengan Pameran Buku dan Bedah Buku adalah langkah strategis. Ke depan, model ini bisa digairahkan lebih intensif melibatkan para murid sekolah dengan menggandeng Dinas Pendidikan Kota Singaraja. Perintah struktural biasanya mujarab untuk menggerakkan murid-murid sekolah.  Banyak hal yang didapat murid dengan arahan guru selama SLF berlangsung apalagi kegiatannya padat dari pagi sampai malam lagi pula sajiannya beragam. Jadi, murid-murid dapat memilih sajian sesuai bakat dan minatnya.

Di sinilah praktik nyata  belajar berdiferensiasi  diaktualisasikan yang belakangan sering diwacanakan. Dan SLF menjawabnya dengan aksi nyata.

Selain itu, Pameran  Buku dan Bedah Buku adalah strategi penyeimbang antara buku fisik dan buku digital. Walaupun keberadaannya antara ada dan tiada akibat tergerus momentum digital, buku fisik tetap penting sebagai kulkas pengawet kebudayaan menjadi abadi. Di samping itu, perbincangan antara teks Sastra Lama yang berbasis lontar seperti dibincang Putu Eka Guna Yasa, dosen Unud yang berkuliah di Prancis dan Ari Dwijayanthi, dosen Institut Mpu Kuturan Singaraja disandingkan dengan karya sastra modern sebagai simbol keberlanjutan keduluan, kekinian, dan kenantian. 

Dalam posisi demikian harapan SLF akan tetap berbinar dengan semangat literasi yang terus menyala seperti api Sumpah Pemuda. Waktu akan menjawab apakah SLF akan abadi berkelanjutan seperti PKB yang akan segera memasuki usia setengah abad. Begitulah, SLF IV berakhir dan perlu dicatat serta  dimaknai di tengah perubahan yang serba cepat. Sampai jumpa pada lustrum SLF  tahun 2027. Salam Literasi dari Singaraja Bali. [T]

Penulis: Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: LiterasiPendidikanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Next Post

Era Chatting Telah Berlalu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Era Chatting Telah Berlalu

Era Chatting Telah Berlalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co