21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
in Esai
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Dari kiri ke kanan: Ketut Putrayasa (pelukis), Romo Setyo Wibowo (spesker SLF), saya (nyoman Tingkat) dan Tatang BSP (pelukis) di Singaraja Literary Festival 2026

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali Gedong Kirtya Singaraja. SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Tema yang diusung pun berbeda-beda setiap tahun dengan berpedoman pada lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. SLF IV 2026 mengusung tema  Stri Sasana yang berarti etika seorang istri. Tema ini sangat inspiratif bagi pemuliaan perempuan di tengah kesibukan bergulat di dapur, kasur, dan sumur.

SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Didorong oleh rasa kesepian, SLF digelar. “Apa yang bisa saya buat untuk meramaikan Singaraja sebagai Kota Pelajar yang kesepian,” begitu kata Adnyana Ole sang penggagas bersama istri, Sonia Piscayanti.

Lagi pula SLF hadir dari idealisme dan kekuatan persaudaraan para penulis yang rindu bertemu walaupun minim dana.   Berbeda dengan Ubud Writers and readers yang diinisiasi oleh Janet DeNeefe dari Australia sebagai respon terhadap peristiwa Sabtu Kelabu Bom Bali 12 Oktober 2002. Hadir dengan huruf kapital dalam permodalan.

Selain itu, SLF lebih memberdayakan komunitas dan individu dengan kesadaran belajar bermakna untuk selalu menjaga stamina senantiasa penuh vitalitas. Alhasil, peserta pun berdatangan dari berbagai daerah dengan swadaya dan swadana. Tidak saja dari luar Provinsi Bali, tetapi juga dari berbagai negara. “Bahkan, seorang putra Buleleng di luar negeri akhirnya pulang ke Singaraja untuk ikut dapat menikmati sajian selama SLF berlangsung,” kata Adnyana Ole diokekan sang istri di tengah obrolan bersama Romo Setyo sambil menikmati tipat cantok khas Buleleng diakhiri kopi penundung traktiran Bli Putrayasa seniman Canggu, Kuta Utara, Bali, yang hadir memborong sejumlah buku.

Salah satu kegiatan diskusi di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Apa makna penting SLF bagi Bali di tengah pariwisata yang gemuruh di Bali Selatan?

Pertama, Singaraja mengukuhkan diri sebagai kepalanya Bali tempat pemikiran dan ide besar dilahirkan. Hal ini sangat cocok bila melongok sejarah tempo doeloe, Singaraja sebagai Ibu Kota Sunda Ketjil sekaligus kota pelajar. Jejaknya kini ada di Undiksha sebagai universitas terbesar di Bali Utara.

Kedua, memancing minat khusus wisatawan untuk datang ke Singaraja. Mereka yang datang dengan minat khusus adalah orang-orang yang haus belajar seni budaya berkearifan Den Bukit. Kesempatan bagi Singaraja menguatkan kebulelengannya dengan desa-desa Bali Kuno sebagai penyangga. Teks-teks tentangnya juga bisa dilacak di rumah peradaban Bali, Gedong Kirtya.

Ketiga, secara ekonomi  denyut Singaraja berbinar. Hotel dan Penginapan di-booking peserta berbagai daerah. Cerita mereka tentang SLF berdampak bagi pariwisata Buleleng lebih-lebih dengan ikon baru Titik Nol yang mirip Malioboro Yogyakarta. Pemda Buleleng pun mendapatkan promosi dari event tahunan ini.

Keempat, SLF menghidupkan Sastra Pariwisata seutuhnya. Aktivitas seni pada umumnya dan sastra pada khususnya menjadi perekat kebudayaan yang berbeda-beda. Ibarat tokoh dalam novel, ada protagonis dan antagonis selalu berdialektika membangun komposisi harmonis. Menjadi bacaan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Membeli buku di los buku Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Dalam konteks itulah, kehadiran SLF IV juga memberikan ruang pameran buku bagi para penulis sekaligus menghadirkan penulisnya untuk berdiskusi membincang karya-karyanya. Ini adalah hal langka bagi Bali. SLF menjadi jembatan penghubung antara pengarang dengan pembaca dalam konteks keduluan, kekinian dan kemasadepanan dengan memperkuat kedisinian seraya menatap harapan kedisanaan. Ruang waktu dan ruang tempat dibuat tanpa sekat. Umumnya, saat virtual meeting yang berlangsung secara maya, wajah bisa disembunyikan yang tidak kita tahu apakah yang bersangkutan benar-benar hadir dan ikut ataukah sedang berbohong. Tidak demikian dengan gelaran SLF yang hadir nyata tanpa sekat hegemoni.

Poin penting dari SLF adalah berhasil menghadirkan Ratih Kumala dan JS Khairen yang sesama novelis. Ratih Kumala yang terkenal dengan novel Koloni dan Gadis Kretek. Koloni berkisah tentang intrik politik dan perebutan kekuasaan di dunia semut. Sementara itu, Khairen tampil dengan novel Rumah yang dibedah oleh Dede Putra Wiguna. Novel Rumah berkisah tentang liku-liku dan luka-luka perjuangan  perempuan di rumah  yang sering tidak nyaman akibat pola asuh yang kurang terbuka.

Ngobrol bersama di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Perjumpaan pembaca dan penulis dalam SLF adalah pertemuan memanusiakan manusia sebagaimana diajarkan dalam Pendidikan. Tersirat maksud membangun katalisator dan jejaring makin kuat dan makin berkualitas baik dalam pemahaman pembaca maupun dalam menghasilkan produk berbagai genre sastra.

Di tengah rendahnya hasil PISA yang terpotret dari skor literasi (359) dan numerasi (366) pada 2025, kehadiran SLF dengan Pameran Buku dan Bedah Buku adalah langkah strategis. Ke depan, model ini bisa digairahkan lebih intensif melibatkan para murid sekolah dengan menggandeng Dinas Pendidikan Kota Singaraja. Perintah struktural biasanya mujarab untuk menggerakkan murid-murid sekolah.  Banyak hal yang didapat murid dengan arahan guru selama SLF berlangsung apalagi kegiatannya padat dari pagi sampai malam lagi pula sajiannya beragam. Jadi, murid-murid dapat memilih sajian sesuai bakat dan minatnya.

Di sinilah praktik nyata  belajar berdiferensiasi  diaktualisasikan yang belakangan sering diwacanakan. Dan SLF menjawabnya dengan aksi nyata.

Selain itu, Pameran  Buku dan Bedah Buku adalah strategi penyeimbang antara buku fisik dan buku digital. Walaupun keberadaannya antara ada dan tiada akibat tergerus momentum digital, buku fisik tetap penting sebagai kulkas pengawet kebudayaan menjadi abadi. Di samping itu, perbincangan antara teks Sastra Lama yang berbasis lontar seperti dibincang Putu Eka Guna Yasa, dosen Unud yang berkuliah di Prancis dan Ari Dwijayanthi, dosen Institut Mpu Kuturan Singaraja disandingkan dengan karya sastra modern sebagai simbol keberlanjutan keduluan, kekinian, dan kenantian. 

Dalam posisi demikian harapan SLF akan tetap berbinar dengan semangat literasi yang terus menyala seperti api Sumpah Pemuda. Waktu akan menjawab apakah SLF akan abadi berkelanjutan seperti PKB yang akan segera memasuki usia setengah abad. Begitulah, SLF IV berakhir dan perlu dicatat serta  dimaknai di tengah perubahan yang serba cepat. Sampai jumpa pada lustrum SLF  tahun 2027. Salam Literasi dari Singaraja Bali. [T]

Penulis: Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: LiterasiPendidikanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Next Post

Era Chatting Telah Berlalu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Era Chatting Telah Berlalu

Era Chatting Telah Berlalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co