27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
in Esai
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Dari kiri ke kanan: Ketut Putrayasa (pelukis), Romo Setyo Wibowo (spesker SLF), saya (nyoman Tingkat) dan Tatang BSP (pelukis) di Singaraja Literary Festival 2026

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali Gedong Kirtya Singaraja. SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Tema yang diusung pun berbeda-beda setiap tahun dengan berpedoman pada lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. SLF IV 2026 mengusung tema  Stri Sasana yang berarti etika seorang istri. Tema ini sangat inspiratif bagi pemuliaan perempuan di tengah kesibukan bergulat di dapur, kasur, dan sumur.

SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Didorong oleh rasa kesepian, SLF digelar. “Apa yang bisa saya buat untuk meramaikan Singaraja sebagai Kota Pelajar yang kesepian,” begitu kata Adnyana Ole sang penggagas bersama istri, Sonia Piscayanti.

Lagi pula SLF hadir dari idealisme dan kekuatan persaudaraan para penulis yang rindu bertemu walaupun minim dana.   Berbeda dengan Ubud Writers and readers yang diinisiasi oleh Janet DeNeefe dari Australia sebagai respon terhadap peristiwa Sabtu Kelabu Bom Bali 12 Oktober 2002. Hadir dengan huruf kapital dalam permodalan.

Selain itu, SLF lebih memberdayakan komunitas dan individu dengan kesadaran belajar bermakna untuk selalu menjaga stamina senantiasa penuh vitalitas. Alhasil, peserta pun berdatangan dari berbagai daerah dengan swadaya dan swadana. Tidak saja dari luar Provinsi Bali, tetapi juga dari berbagai negara. “Bahkan, seorang putra Buleleng di luar negeri akhirnya pulang ke Singaraja untuk ikut dapat menikmati sajian selama SLF berlangsung,” kata Adnyana Ole diokekan sang istri di tengah obrolan bersama Romo Setyo sambil menikmati tipat cantok khas Buleleng diakhiri kopi penundung traktiran Bli Putrayasa seniman Canggu, Kuta Utara, Bali, yang hadir memborong sejumlah buku.

Salah satu kegiatan diskusi di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Apa makna penting SLF bagi Bali di tengah pariwisata yang gemuruh di Bali Selatan?

Pertama, Singaraja mengukuhkan diri sebagai kepalanya Bali tempat pemikiran dan ide besar dilahirkan. Hal ini sangat cocok bila melongok sejarah tempo doeloe, Singaraja sebagai Ibu Kota Sunda Ketjil sekaligus kota pelajar. Jejaknya kini ada di Undiksha sebagai universitas terbesar di Bali Utara.

Kedua, memancing minat khusus wisatawan untuk datang ke Singaraja. Mereka yang datang dengan minat khusus adalah orang-orang yang haus belajar seni budaya berkearifan Den Bukit. Kesempatan bagi Singaraja menguatkan kebulelengannya dengan desa-desa Bali Kuno sebagai penyangga. Teks-teks tentangnya juga bisa dilacak di rumah peradaban Bali, Gedong Kirtya.

Ketiga, secara ekonomi  denyut Singaraja berbinar. Hotel dan Penginapan di-booking peserta berbagai daerah. Cerita mereka tentang SLF berdampak bagi pariwisata Buleleng lebih-lebih dengan ikon baru Titik Nol yang mirip Malioboro Yogyakarta. Pemda Buleleng pun mendapatkan promosi dari event tahunan ini.

Keempat, SLF menghidupkan Sastra Pariwisata seutuhnya. Aktivitas seni pada umumnya dan sastra pada khususnya menjadi perekat kebudayaan yang berbeda-beda. Ibarat tokoh dalam novel, ada protagonis dan antagonis selalu berdialektika membangun komposisi harmonis. Menjadi bacaan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Membeli buku di los buku Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Dalam konteks itulah, kehadiran SLF IV juga memberikan ruang pameran buku bagi para penulis sekaligus menghadirkan penulisnya untuk berdiskusi membincang karya-karyanya. Ini adalah hal langka bagi Bali. SLF menjadi jembatan penghubung antara pengarang dengan pembaca dalam konteks keduluan, kekinian dan kemasadepanan dengan memperkuat kedisinian seraya menatap harapan kedisanaan. Ruang waktu dan ruang tempat dibuat tanpa sekat. Umumnya, saat virtual meeting yang berlangsung secara maya, wajah bisa disembunyikan yang tidak kita tahu apakah yang bersangkutan benar-benar hadir dan ikut ataukah sedang berbohong. Tidak demikian dengan gelaran SLF yang hadir nyata tanpa sekat hegemoni.

Poin penting dari SLF adalah berhasil menghadirkan Ratih Kumala dan JS Khairen yang sesama novelis. Ratih Kumala yang terkenal dengan novel Koloni dan Gadis Kretek. Koloni berkisah tentang intrik politik dan perebutan kekuasaan di dunia semut. Sementara itu, Khairen tampil dengan novel Rumah yang dibedah oleh Dede Putra Wiguna. Novel Rumah berkisah tentang liku-liku dan luka-luka perjuangan  perempuan di rumah  yang sering tidak nyaman akibat pola asuh yang kurang terbuka.

Ngobrol bersama di Singaraja Literary Festival 2026 | Foto: penulis

Perjumpaan pembaca dan penulis dalam SLF adalah pertemuan memanusiakan manusia sebagaimana diajarkan dalam Pendidikan. Tersirat maksud membangun katalisator dan jejaring makin kuat dan makin berkualitas baik dalam pemahaman pembaca maupun dalam menghasilkan produk berbagai genre sastra.

Di tengah rendahnya hasil PISA yang terpotret dari skor literasi (359) dan numerasi (366) pada 2025, kehadiran SLF dengan Pameran Buku dan Bedah Buku adalah langkah strategis. Ke depan, model ini bisa digairahkan lebih intensif melibatkan para murid sekolah dengan menggandeng Dinas Pendidikan Kota Singaraja. Perintah struktural biasanya mujarab untuk menggerakkan murid-murid sekolah.  Banyak hal yang didapat murid dengan arahan guru selama SLF berlangsung apalagi kegiatannya padat dari pagi sampai malam lagi pula sajiannya beragam. Jadi, murid-murid dapat memilih sajian sesuai bakat dan minatnya.

Di sinilah praktik nyata  belajar berdiferensiasi  diaktualisasikan yang belakangan sering diwacanakan. Dan SLF menjawabnya dengan aksi nyata.

Selain itu, Pameran  Buku dan Bedah Buku adalah strategi penyeimbang antara buku fisik dan buku digital. Walaupun keberadaannya antara ada dan tiada akibat tergerus momentum digital, buku fisik tetap penting sebagai kulkas pengawet kebudayaan menjadi abadi. Di samping itu, perbincangan antara teks Sastra Lama yang berbasis lontar seperti dibincang Putu Eka Guna Yasa, dosen Unud yang berkuliah di Prancis dan Ari Dwijayanthi, dosen Institut Mpu Kuturan Singaraja disandingkan dengan karya sastra modern sebagai simbol keberlanjutan keduluan, kekinian, dan kenantian. 

Dalam posisi demikian harapan SLF akan tetap berbinar dengan semangat literasi yang terus menyala seperti api Sumpah Pemuda. Waktu akan menjawab apakah SLF akan abadi berkelanjutan seperti PKB yang akan segera memasuki usia setengah abad. Begitulah, SLF IV berakhir dan perlu dicatat serta  dimaknai di tengah perubahan yang serba cepat. Sampai jumpa pada lustrum SLF  tahun 2027. Salam Literasi dari Singaraja Bali. [T]

Penulis: Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: LiterasiPendidikanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Next Post

Era Chatting Telah Berlalu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails
Next Post
Era Chatting Telah Berlalu

Era Chatting Telah Berlalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co