SESUNGGUHNYA sangatlah menarik diskusi yang diinisiasi oleh perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio pada 1 Juni 2025 lalu. Diskusi berlangsung sore hari di Sawidji Studio. ‘Senyawa’ antara sastra dan senirupa sebenarnya sudah berlangsung lama dan bukan hal baru. Kendatipun demikian, perbincangan semacam ini tetap menarik bagi saya.
Salvador Dalí pernah membuat karya rupa (saya selalu keberatan menyebut ilustrasi) untuk karya sastra. Ketika itu, Dalí berkarya atas dasar karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll. Dalam prosesnya, ia menginterpretasikan kisah tersebut melalui lensa surealis yang khas—misalnya, dengan memadukan elemen-elemen aneh dan bentuk-bentuk abstrak yang mengubah cara kita memandang realitas. Pendekatan Dalí dalam menggabungkan unsur sastra dengan ekspresi visual ini menunjukkan betapa lintas batas antara sastra dan seni lukis dapat menghasilkan interpretasi yang baru dan memukau.
Menurut ‘pembacaan’ saya, manakala Dali berkarya rupa untuk “Alice’s Adventures in Wonderland”, tampak Dalí mengeksplorasi berbagai medium seni yang mengandung unsur naratif, sehingga karyanya tidak semata-mata terbatas pada konsep lukisan tradisional, tetapi juga melintasi batasan-batasan disiplin seni. Keterlibatannya dalam proyek-proyek lintas disiplin ini mengilhami banyak seniman dan pengamat seni untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara teks dan visual secara mendalam.

Contoh lain karya Dali dalam merespon karya sastra klasik lainnya, yang cukup terkenal adalah karya rupanya yang merespon “Divine Comedy” karya Dante Alighieri. Dalí awalnya diminta oleh pemerintah Italia untuk membuat karya rupa dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, tetapi proyek ini akhirnya tidak digunakan secara resmi. Meskipun begitu, karya yang ia buat tetap menjadi bagian penting dari interpretasi visual terhadap karya sastra klasik.
Dalí juga mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote”karya Miguel de Cervantes, di mana ia menggunakan teknik yang lebih eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam kisah tersebut. Pendekatan Dalí terhadap karya sastra, selalu mencerminkan gaya surealisnya yang khas, dengan simbolisme yang kaya dan interpretasi yang sering kali menggugah imajinasi.

Tidak hanya Dali, Pablo Picasso juga terinspirasi membuat karya rupa sketsa Don Quixote pada tahun 1955. Karya Pablo Picasso ini tentang pahlawan sastra Spanyol dan sahabat karibnya, Sancho Panza. Sketsa ini ditampilkan pada jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18-24 Agustus untuk merayakan ulang tahun ke-350 bagian pertama Don Quixote karya Cervantes. Bagian pertama ditulis tahun 1605 yang kedua ditulis tahun 1615.
Mengutip dari https://www.pablopicasso.org/, Lukisan tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, dan keledainya Dapple, matahari, dan beberapa kincir angin. Garis-garis tebal, hampir seperti coretan, yang menyusun figur-figur tersebut tampak mencolok dengan latar belakang putih polos. Sosok-sosok tersebut hampir singkat dan cacat, serta dramatis.
Sancho Panza menatap Don Quixote yang tinggi, memanjang, dan kurus kering. Terlihat, ia sedang menatap ke depan. Don Quixote dan Rocinante berdiri dengan gagah, tetapi tampak agak lelah. Sosok yang dilukis dengan sapuan kuas tebal itu tampaknya telah diubah beberapa kali karena Picasso melukis badan, lengan, dan bahu Don Quixote, dengan apik.

Selain berkarya untuk karya sastra Don Quixote, Picasso juga berkarya seri sketsa berdasarkan mitos “metamorphosis” karya Ovid. Dunia mitologi Yunani-Romawi tampaknya memukau Picasso. “Metamorfosis” adalah puisi dalam bahasa Latin, yang terdiri dari 15 buku. Ini, merupakan cerita dari mitologi Yunani dan Romawi, yang ditulis dalam bentuk syair. Ovid menggambarkan secara khusus cinta para dewa.
Picasso membuat karya rupa ini pada tahun 1930, setelah diminta oleh penerbit Swiss Albert Skira. Dalam satu bulan, ia menghasilkan tiga puluh ‘cukilan’, yang dicetak oleh Louis Fort. Tema Metamorfosis sejajar dengan kehidupan Picasso, sosok wanita itu pasti terinspirasi oleh kehidupan pendamping dan inspirasinya saat itu: Marie-Thérèse Walter. Kekhasan cetakan ini terletak pada kesederhanaannya. Dalam beberapa goresan, Picasso menelusuri jalinan tubuh dan garis yang membangkitkan kembali seni menggambar yang lebih klasik, yang sudah dapat diamati sejak tahun 1920-an.

Begitulah hubungan sastra dan senirupa yang memang sudah terjalin sejak lama. Keduanya, sama-sama media komunikasi – verbal dan visual. Di Bali sendiri, sudah sering karya sastra ‘bersenyawa’ dengan karya rupa. Misalnya, ‘senyawa’ antara karya rupa pelukis Made Gunawan dan puisi-puisi penyair Sahadewa pada buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa ini dengan ‘Pasatmian”.
Semantara itu, perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ juga pernah berkolaborasi dengan penulis Ni Made Sri Andani. Buku Karya alih media itu bertajuk “Sang Inisiator”. Selain itu, Perupa Suklu dan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi juga melakukan ‘senyawa karya’ pada buku berjudul “Nawa Sena”. Suklu menamai kolaborasi itu sebagai ‘intermingle’, sedangkan Gung Mas panggilan akrab AA Sg Masruscitadewi – memberi istilah ‘Lango’. Yang terakhir, penyair Tan Lioe Ie mengistilahkan dengan “eksphrasis”, pada karya-karya puisinya yang terstimulasi dari karya senirupa dan karya seni yang lain. Dan masih banyak lagi kolaborasi alih wahana karya rupa dan Sastra dengan berbagai bidang seni.


Dalam sebuah kesempatan, saya sempat mempertanyakan mengapa senirupa tak dimasukkan dalam perhargaan seni semacam Nobel atau Pulitzer pada almarhum penyair Frans Nadjira. Kendati kualitas penghargaan juga terbilang relative, namun Nobel dan Pulitzer terbilang cukup popular dan prestisius. Ketika itu, saya sempat mempertanyakan bahwa sesungguhnyalah karya senirupa tak jauh berbeda dengan seni sastra. Keduanya sama-sama medium ekspresi dari produk pemikiran senimannya.
Kita bisa mengambil contoh karya visual, lukisan Picasso, yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini memenuhi kriteria Nobel yang antara lain ; menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pengetahuan, sains, dan humanism. Karya ini memuat konten yang cukup genial dari Picasso. Dunia, memahami dan mengakui ‘kelebihan’ dari karya rupa ini.
Guernica dianggap sebagai pernyataan antiperang paling kuat dalam seni modern. Tokoh-tokoh utama – seorang wanita dengan lengan terentang, seekor banteng, seekor kuda yang menderita – disempurnakan dalam sketsa demi sketsa. Kemudian dipindahkan ke kanvas yang luas, yang juga dikerjakan ulang beberapa kali. Warna gelap dan tema monokrom digunakan untuk menggambarkan masa-masa sulit, dan penderitaan yang sedang dialami. Picasso mengungkapnya sebagai tindakan brutal dan penghancuran diri dan mengecamnya sebagai tindakan fasisme. Karya tersebut tidak hanya berupa laporan atau lukisan praktis, tetapi juga tetap menjadi gambaran politik yang sangat kuat dalam seni modern saat itu. Sejak awal, Picasso memilih untuk tidak menggambarkan kengerian Guernica dalam istilah realis atau romantis.

Sayang, penghargaan Nobel hanya ada lima kategori: Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Ada pula penghargaan Economic Sciences, yang didirikan pada tahun 1968 oleh bank sentral Swedia. Kriteria penting dari Penghargaan Nobel adalah, pemenang harus memiliki pencapaian luar biasa yang memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti penelitian inovatif, penemuan teknologi baru, atau kontribusi sosial yang berdampak luas.
Masih menurut penilaian subyektif saya, Guernika memenuhi kriteria ini. Kemudian, bagi karya sastra – karya juga harus memiliki dampak besar dalam dunia sastra dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan, kemanusiaan, atau budaya. Oleh karenanya, banyak pemenang Nobel Sastra adalah penulis yang mengangkat isu sosial, politik, atau kemanusiaan dalam karya mereka. Pada kesempatan lain, saya ingin menggali lebih dalam hubungan antara Guernica, Spanyol dan Hindia Belanda (Pra Indonesia).
Memang, ada banyak penghargaan seni rupa terkenal di dunia yang memberikan apresiasi kepada seniman visual atas kontribusi mereka. Namun, menurut subyekjtif penilaian saya, popularitasnya tak sebanding dengan Nobel dan Pulitzer. Misalnya penghargaan Turner Prize – Penghargaan seni kontemporer yang diberikan setiap tahun oleh Tate Britain di Inggris, khusus untuk seniman asal Britania Raya. Selain itu ada juga Praemium Imperiale – Penghargaan internasional yang diberikan oleh Japan Art Association untuk berbagai disiplin seni, termasuk seni rupa.


Yang cukup popular dan prestisius adlah Venice Biennale Golden Lion – Penghargaan utama dalam Venice Biennale yang merupakan salah satu pameran seni kontemporer paling bergengsi di dunia. Ada juga Hugo Boss Prize – yang diberikan oleh Guggenheim Museum kepada seniman kontemporer yang menunjukkan inovasi luar biasa dalam seni visual, dan masih ada beberapa penghargaan seni visual lainnya.
Penghargaan-penghargaan internasional untuk karya seni rupa ini juga menjadi topik dialog saya dengan Bang Frans Nadjira. Namun, Perbincangan saya dan bang Frans Nadjira waktu itu, terputus, karena wartawan senior almarhum Mahar Effendi datang bersama putranya. Bang Mahar bersiap therapy pada bang Frans, itu dilakukannya setiap hari. Rasa penasaran saya tersebut mengendap puluhan tahun, dan teman-teman yang saya ajak mendiskusikan hal ini, punya penilaian yang berbeda-beda. Tak ada kesimpulan pasti yang kudapati. Sampai pada acara diskusi 1 Juni 2025 lalu, penjelasan Prof. Darma Putra juga tak bisa saya ‘cerna’ dengan baik. Persoalannya sederhana, saya sedikit mengalami ‘gangguan’ pendengaran. Sehingga saya gagal menangkap ‘esensi’ pembicaraan (mohon maaf sebesar-besarnya Prof.). Saya tidak tahu, apakah tindakan anestesi selama 8 jam, membuat pendengaran saya terganggu, atau saya yang kurang rajin membersihkan telinga, entahlah.

Menurut saya, analisis unsur-unsur bahasa visual dalam seni rupa bisa membuka banyak pemahaman tentang bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Sebab, seni visual juga memiliki sarana ‘daya ungkap’, yang sering saya sebut sebagai ‘kosa rupa’, ini bisa kita padankan dengan ‘kosa kata’. .Ada beberapa unsur utama yang biasanya dianalisis: bisa kita mulai dari Garis. Unsur ini Menciptakan bentuk, arah, dan gerak. Garis bisa tegas, lembut, putus-putus, melingkar, dan masing-masing memberikan nuansa berbeda.
Selanjutnya,Warna – yang berfungsi menyampaikan emosi, kontras, harmoni, atau fokus visual. Kombinasi warna juga bisa menciptakan makna simbolik tergantung konteks budaya. Kemudian, Bentuk dan bidang – dua dimensi atau tiga dimensi, abstrak atau realistik; bentuk menentukan struktur utama karya seni. Unsur yang lain adalah Tekstur – bisa nyata (fisik) atau semu (ilusi visual). Tekstur memberikan sensasi sentuhan secara visual. Tak jauh berbeda dengan penciptaan Ruang – Ilusi kedalaman dan perspektif.
Ruang bisa padat, sempit, terbuka, atau berlapis-lapis. Lalu Gelap-terang (value) – Kontras antara terang dan gelap acap dilakukan perupa untuk menciptakan dramatisasi, kedalaman, atau penekanan visual. Yang tak kalah pentingnya adalah Komposisi atau tata letak– Ini adalah bagaimana semua unsur diatur dalam karya, termasuk keseimbangan, irama, penekanan, dan harmoni. Seperti sudah saya sebut di atas tadi, bahasa visual ini lah acap saya sebut sebagai ‘kosa rupa’. Ini bisa diartikan sebagai ‘kosakata’ dalam seni rupa, – yang digunakan seniman untuk menyampaikan ide, emosi, dan pesan tanpa perlu kata-kata (bahasa verbal).
Atas dasar inilah, hingga kini saya tetap mempertanyakan soal penghargaan terhadap karya seni rupa. Sebab, menurut pemahaman saya – senirupa maupun seni sastra memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda, dan perbedaan itu membuat keduanya memiliki kekuatan unik masing-masing. Keduanya, sama-sama wahana ekspresi atau bisa disebut sebagai produk intelektualitas senimannya.
Senirupa mengkomunikasikan ide atau gagasan, pesan, imajinasi dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur seperti yang sudah saya sebut diatas. Karena pendekatannya yang tidak bergantung pada bahasa, karya seni rupa seringkali dapat langsung dirasakan dan diresapi oleh orang dari berbagai latar belakang budaya. Misalnya, bentuk dan warna dalam sebuah lukisan bisa membangkitkan reaksi emosional yang hampir instingtif, tanpa perlu diterjemahkan melalui kata-kata. Hal ini membuat perspektif yang disajikan oleh senirupa sering dianggap lebih “universal” atau mudah diakses secara lintas budaya . Mengutip dari buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim ia mengatakan ; “Sangat penting, individu mengeksplorasi bagaimana memahami dan memproses informasi visual dalam seni dan desain”.

Di sisi lain, sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur cerita yang kompleks. Karya sastra memiliki kekuatan untuk menyelami lapisan-lapisan makna yang mendalam, menggunakan simbolisme dan kiasan yang dapat menuntut pembaca untuk melakukan interpretasi secara intelektual dan kontekstual. Walaupun penggunaan bahasa dapat menjadi penghalang bagi beberapa orang—terutama jika ada keterbatasan dalam penerjemahan atau pemahaman konteks budaya—sastra justru menawarkan kekayaan perspektif yang mengungkap nuansa mendalam tentang realitas kehidupan dan pengalaman manusia.

Jadi, apakah senirupa memiliki perspektif yang lebih luas dan universal dibanding sastra? Secara teknis, seni rupa memang cenderung memiliki keunggulan dalam hal penyampaian pesan secara instan dan non-verbal, yang memungkinkan resonansi emosional secara langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kekayaan sastra yang mampu menggali kompleksitas pikiran dan budaya secara mendalam. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda: senirupa menyampaikan kesan secara visual dan intuitif, sementara sastra menantang pembacanya untuk aktif menginterpretasikan makna di balik kata-kata. Dalam konteks ini, “luas” dan “universal” bukanlah kategori yang mutlak, melainkan bergantung pada bagaimana masing-masing individu berinteraksi dengan medium seni dan pengalaman pribadi yang mereka bawa . Dan yang juga menarik, manakala terjadi ‘senyawa’ kedua bidang seni ini. Penggabungan bahasa verbal dan bahasa visual.
Pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab, biarlah terus berkembang di dalam tempurung kepala ku. Agar aku juga kian paham tentang ‘perbedaan’ yang bisa jadi mengandung ‘persamaan’ dalam hal-hal yang hingga saat ini belum terpikirkan. Karena seni, sebagai kekayaan produk budaya dalam masyarakat adalah sesuatu yang unik dan dinamis. Sebab, setiap masyarakat memiliki nilai, simbol, dan perspektif estetika yang unik dan variatif. Sebagai produk budaya, seni juga mengalami dinamika adaptasi di tengah perkembangan zaman. Banyak seniman modern yang menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer sehingga identitas suatu budaya tetap hidup meskipun dihadapkan pada arus globalisasi. Adaptasi ini memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang termanifestasi dalam seni tetap relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas, baik secara lokal maupun global.
(Pemisahan antara persepsi visual dan pemikiran logis adalah kesalahpahaman. Melihat, bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat. “Visual Thinking” oleh Rudolf Arnheim)
- Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber
Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole



























