13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Sastra dan Seni Rupa

Hartanto by Hartanto
September 16, 2025
in Ulas Rupa
Seni Sastra dan Seni Rupa

Don Quixote karya Salvador Dali

SESUNGGUHNYA sangatlah menarik diskusi yang diinisiasi oleh perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio pada 1 Juni 2025 lalu. Diskusi berlangsung sore hari di Sawidji Studio. ‘Senyawa’ antara sastra dan senirupa sebenarnya sudah berlangsung lama dan bukan hal baru. Kendatipun demikian, perbincangan semacam ini tetap menarik bagi saya.

Salvador Dalí pernah membuat karya rupa (saya selalu keberatan menyebut ilustrasi) untuk karya sastra. Ketika itu, Dalí berkarya atas dasar karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll. Dalam prosesnya, ia menginterpretasikan kisah tersebut melalui lensa surealis yang khas—misalnya, dengan memadukan elemen-elemen aneh dan bentuk-bentuk abstrak yang mengubah cara kita memandang realitas. Pendekatan Dalí dalam menggabungkan unsur sastra dengan ekspresi visual ini menunjukkan betapa lintas batas antara sastra dan seni lukis dapat menghasilkan interpretasi yang baru dan memukau.

Menurut ‘pembacaan’ saya, manakala Dali berkarya rupa untuk “Alice’s Adventures in Wonderland”, tampak Dalí mengeksplorasi berbagai medium seni yang mengandung unsur naratif, sehingga karyanya tidak semata-mata terbatas pada konsep lukisan tradisional, tetapi juga melintasi batasan-batasan disiplin seni. Keterlibatannya dalam proyek-proyek lintas disiplin ini mengilhami banyak seniman dan pengamat seni untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara teks dan visual secara mendalam.

Contoh lain karya Dali dalam merespon karya sastra klasik lainnya, yang cukup terkenal adalah  karya rupanya yang merespon “Divine Comedy”  karya Dante Alighieri. Dalí awalnya diminta oleh pemerintah Italia untuk membuat karya rupa dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, tetapi proyek ini akhirnya tidak digunakan secara resmi. Meskipun begitu, karya yang ia buat tetap menjadi bagian penting dari interpretasi visual terhadap karya sastra klasik.

Dalí juga mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote”karya Miguel de Cervantes, di mana ia menggunakan teknik yang lebih eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam kisah tersebut. Pendekatan Dalí terhadap karya sastra, selalu mencerminkan gaya surealisnya yang khas, dengan simbolisme yang kaya dan interpretasi yang sering kali menggugah imajinasi.

Tidak  hanya Dali, Pablo Picasso juga terinspirasi membuat karya rupa sketsa  Don Quixote pada tahun 1955. Karya Pablo Picasso ini tentang pahlawan sastra Spanyol dan sahabat karibnya, Sancho Panza. Sketsa ini ditampilkan pada jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18-24 Agustus untuk merayakan ulang tahun ke-350 bagian pertama Don Quixote karya Cervantes. Bagian pertama ditulis tahun 1605 yang kedua ditulis tahun 1615.

Mengutip dari https://www.pablopicasso.org/, Lukisan tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, dan keledainya Dapple, matahari, dan beberapa kincir angin. Garis-garis tebal, hampir seperti coretan, yang menyusun figur-figur tersebut tampak mencolok dengan latar belakang putih polos. Sosok-sosok tersebut hampir singkat dan cacat, serta dramatis.

Sancho Panza menatap Don Quixote yang tinggi, memanjang, dan kurus kering. Terlihat, ia sedang menatap ke depan. Don Quixote dan Rocinante berdiri dengan gagah, tetapi tampak agak lelah. Sosok yang dilukis dengan sapuan kuas tebal itu tampaknya telah diubah beberapa kali karena Picasso melukis badan, lengan, dan bahu Don Quixote, dengan apik.

Selain berkarya untuk karya sastra Don Quixote, Picasso juga berkarya seri sketsa berdasarkan mitos “metamorphosis” karya Ovid. Dunia mitologi Yunani-Romawi tampaknya memukau Picasso. “Metamorfosis” adalah puisi dalam bahasa Latin, yang terdiri dari 15 buku. Ini, merupakan cerita dari mitologi Yunani dan Romawi, yang ditulis dalam bentuk syair. Ovid menggambarkan secara khusus cinta para dewa.

Picasso membuat karya rupa ini pada tahun 1930, setelah diminta oleh penerbit Swiss Albert Skira. Dalam satu bulan, ia menghasilkan tiga puluh ‘cukilan’, yang dicetak oleh Louis Fort. Tema Metamorfosis sejajar dengan kehidupan Picasso, sosok wanita itu pasti terinspirasi oleh kehidupan pendamping dan inspirasinya saat itu: Marie-Thérèse Walter. Kekhasan cetakan ini terletak pada kesederhanaannya. Dalam beberapa goresan, Picasso menelusuri jalinan tubuh dan garis yang membangkitkan kembali seni menggambar yang lebih klasik, yang sudah dapat diamati sejak tahun 1920-an.

Begitulah hubungan sastra dan senirupa yang memang sudah terjalin sejak lama. Keduanya, sama-sama media komunikasi – verbal dan visual. Di Bali sendiri, sudah sering karya sastra ‘bersenyawa’ dengan karya rupa. Misalnya, ‘senyawa’ antara karya rupa pelukis Made Gunawan dan puisi-puisi penyair Sahadewa pada buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa ini dengan ‘Pasatmian”.

Semantara itu, perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ juga pernah berkolaborasi dengan penulis Ni Made Sri Andani. Buku Karya alih media itu bertajuk “Sang Inisiator”. Selain itu, Perupa Suklu dan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi juga melakukan ‘senyawa karya’ pada buku berjudul “Nawa Sena”. Suklu menamai kolaborasi itu sebagai ‘intermingle’, sedangkan Gung Mas panggilan akrab AA Sg Masruscitadewi – memberi istilah ‘Lango’. Yang terakhir, penyair Tan Lioe Ie mengistilahkan dengan “eksphrasis”, pada karya-karya puisinya yang terstimulasi dari karya senirupa dan karya seni yang lain. Dan masih banyak lagi kolaborasi alih wahana karya rupa dan Sastra dengan berbagai bidang seni.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat mempertanyakan mengapa senirupa tak dimasukkan dalam perhargaan seni semacam Nobel atau Pulitzer pada almarhum penyair Frans Nadjira. Kendati kualitas penghargaan juga terbilang relative, namun Nobel dan Pulitzer terbilang cukup popular dan prestisius. Ketika itu, saya sempat mempertanyakan bahwa sesungguhnyalah karya senirupa tak jauh berbeda dengan seni sastra. Keduanya sama-sama medium ekspresi dari produk pemikiran senimannya.

Kita bisa mengambil contoh karya visual, lukisan  Picasso, yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini memenuhi kriteria Nobel yang antara lain ; menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pengetahuan, sains, dan humanism. Karya ini memuat konten yang cukup genial dari Picasso. Dunia, memahami dan mengakui ‘kelebihan’ dari karya rupa ini.

Guernica dianggap sebagai pernyataan antiperang paling kuat dalam seni modern.  Tokoh-tokoh utama – seorang wanita dengan lengan terentang, seekor banteng, seekor kuda yang menderita – disempurnakan dalam sketsa demi sketsa. Kemudian dipindahkan ke kanvas yang luas, yang juga dikerjakan ulang beberapa kali. Warna gelap dan tema monokrom digunakan untuk menggambarkan masa-masa sulit, dan penderitaan yang sedang dialami. Picasso mengungkapnya sebagai tindakan brutal dan penghancuran diri dan mengecamnya sebagai tindakan fasisme. Karya tersebut tidak hanya berupa laporan atau lukisan praktis, tetapi juga tetap menjadi gambaran politik yang sangat kuat dalam seni modern saat itu. Sejak awal, Picasso memilih untuk tidak menggambarkan kengerian Guernica dalam istilah realis atau romantis.

Sayang, penghargaan Nobel hanya ada lima kategori: Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Ada pula penghargaan Economic Sciences, yang didirikan pada tahun 1968 oleh bank sentral Swedia. Kriteria penting dari Penghargaan Nobel adalah, pemenang harus memiliki pencapaian luar biasa yang memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti penelitian inovatif, penemuan teknologi baru, atau kontribusi sosial yang berdampak luas.

Masih menurut penilaian subyektif saya, Guernika memenuhi kriteria ini. Kemudian, bagi karya sastra – karya juga  harus memiliki dampak besar dalam dunia sastra dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan, kemanusiaan, atau budaya. Oleh karenanya, banyak pemenang Nobel Sastra adalah penulis yang mengangkat isu sosial, politik, atau kemanusiaan dalam karya mereka. Pada kesempatan lain, saya ingin menggali lebih dalam hubungan antara Guernica, Spanyol dan Hindia Belanda (Pra Indonesia).

Memang, ada banyak penghargaan seni rupa terkenal di dunia yang memberikan apresiasi kepada seniman visual atas kontribusi mereka. Namun, menurut subyekjtif penilaian saya, popularitasnya tak sebanding dengan Nobel dan Pulitzer. Misalnya penghargaan Turner Prize – Penghargaan seni kontemporer yang diberikan setiap tahun oleh Tate Britain di Inggris, khusus untuk seniman asal Britania Raya. Selain itu ada juga Praemium Imperiale – Penghargaan internasional yang diberikan oleh Japan Art Association untuk berbagai disiplin seni, termasuk seni rupa.

Yang cukup popular dan prestisius adlah Venice Biennale Golden Lion – Penghargaan utama dalam Venice Biennale yang merupakan salah satu pameran seni kontemporer paling bergengsi di dunia. Ada juga Hugo Boss Prize – yang diberikan oleh Guggenheim Museum kepada seniman kontemporer yang menunjukkan inovasi luar biasa dalam seni visual, dan masih ada beberapa penghargaan seni visual lainnya.

Penghargaan-penghargaan internasional untuk karya seni rupa ini juga menjadi topik dialog saya dengan Bang Frans Nadjira. Namun, Perbincangan saya dan bang Frans Nadjira waktu itu, terputus, karena wartawan senior almarhum Mahar Effendi datang bersama putranya. Bang Mahar bersiap therapy pada bang Frans, itu dilakukannya setiap hari. Rasa penasaran saya tersebut mengendap puluhan tahun, dan teman-teman yang saya ajak mendiskusikan hal ini, punya penilaian yang berbeda-beda. Tak ada kesimpulan pasti yang kudapati. Sampai pada acara diskusi 1 Juni 2025 lalu, penjelasan Prof. Darma Putra juga tak bisa saya ‘cerna’ dengan baik. Persoalannya sederhana, saya sedikit mengalami ‘gangguan’ pendengaran. Sehingga saya gagal menangkap ‘esensi’ pembicaraan (mohon maaf sebesar-besarnya Prof.). Saya tidak tahu, apakah tindakan anestesi selama 8 jam, membuat pendengaran saya terganggu, atau saya yang kurang rajin membersihkan telinga, entahlah.

Menurut saya, analisis unsur-unsur bahasa visual dalam seni rupa bisa membuka banyak pemahaman tentang bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Sebab, seni visual juga memiliki sarana ‘daya ungkap’, yang sering saya sebut sebagai ‘kosa rupa’, ini bisa kita padankan dengan ‘kosa kata’. .Ada beberapa unsur utama yang biasanya dianalisis: bisa kita mulai dari Garis. Unsur ini Menciptakan bentuk, arah, dan gerak. Garis bisa tegas, lembut, putus-putus, melingkar, dan masing-masing memberikan nuansa berbeda.

Selanjutnya,Warna – yang berfungsi menyampaikan emosi, kontras, harmoni, atau fokus visual. Kombinasi warna juga bisa menciptakan makna simbolik tergantung konteks budaya. Kemudian, Bentuk dan bidang – dua dimensi atau tiga dimensi, abstrak atau realistik; bentuk menentukan struktur utama karya seni. Unsur yang lain adalah Tekstur – bisa nyata (fisik) atau semu (ilusi visual). Tekstur memberikan sensasi sentuhan secara visual. Tak jauh berbeda dengan penciptaan Ruang – Ilusi kedalaman dan perspektif.

Ruang bisa padat, sempit, terbuka, atau berlapis-lapis. Lalu Gelap-terang (value) –  Kontras antara terang dan gelap acap dilakukan perupa untuk menciptakan dramatisasi, kedalaman, atau penekanan visual. Yang tak kalah pentingnya adalah Komposisi atau tata letak– Ini adalah bagaimana semua unsur diatur dalam karya, termasuk keseimbangan, irama, penekanan, dan harmoni. Seperti sudah saya sebut di atas tadi, bahasa visual ini lah acap saya sebut sebagai ‘kosa rupa’. Ini bisa diartikan sebagai ‘kosakata’ dalam seni rupa, – yang digunakan seniman untuk menyampaikan ide, emosi, dan pesan tanpa perlu kata-kata (bahasa verbal).

Atas dasar inilah, hingga kini saya tetap mempertanyakan soal penghargaan terhadap karya seni rupa. Sebab, menurut pemahaman saya – senirupa maupun seni sastra memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda, dan perbedaan itu membuat keduanya memiliki kekuatan unik masing-masing. Keduanya, sama-sama wahana ekspresi atau bisa disebut sebagai produk intelektualitas senimannya.

Senirupa mengkomunikasikan ide atau gagasan, pesan, imajinasi dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur seperti yang sudah saya sebut diatas. Karena pendekatannya yang tidak bergantung pada bahasa, karya seni rupa seringkali dapat langsung dirasakan dan diresapi oleh orang dari berbagai latar belakang budaya. Misalnya, bentuk dan warna dalam sebuah lukisan bisa membangkitkan reaksi emosional yang hampir instingtif, tanpa perlu diterjemahkan melalui kata-kata. Hal ini membuat perspektif yang disajikan oleh senirupa sering dianggap lebih “universal” atau mudah diakses secara lintas budaya . Mengutip dari buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim ia mengatakan ; “Sangat penting, individu mengeksplorasi bagaimana memahami dan memproses informasi visual dalam seni dan desain”.

Di sisi lain, sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur cerita yang kompleks. Karya sastra memiliki kekuatan untuk menyelami lapisan-lapisan makna yang mendalam, menggunakan simbolisme dan kiasan yang dapat menuntut pembaca untuk melakukan interpretasi secara intelektual dan kontekstual. Walaupun penggunaan bahasa dapat menjadi penghalang bagi beberapa orang—terutama jika ada keterbatasan dalam penerjemahan atau pemahaman konteks budaya—sastra justru menawarkan kekayaan perspektif yang mengungkap nuansa mendalam tentang realitas kehidupan dan pengalaman manusia.

Jadi, apakah senirupa memiliki perspektif yang lebih luas dan universal dibanding sastra? Secara teknis, seni rupa memang cenderung memiliki keunggulan dalam hal penyampaian pesan secara instan dan non-verbal, yang memungkinkan resonansi emosional secara langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kekayaan sastra yang mampu menggali kompleksitas pikiran dan budaya secara mendalam. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda: senirupa menyampaikan kesan secara visual dan intuitif, sementara sastra menantang pembacanya untuk aktif menginterpretasikan makna di balik kata-kata. Dalam konteks ini, “luas” dan “universal” bukanlah kategori yang mutlak, melainkan bergantung pada bagaimana masing-masing individu berinteraksi dengan medium seni dan pengalaman pribadi yang mereka bawa . Dan yang juga menarik, manakala terjadi ‘senyawa’ kedua bidang seni ini. Penggabungan bahasa verbal dan bahasa visual.

Pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab, biarlah terus berkembang di dalam tempurung kepala ku. Agar aku juga kian paham tentang ‘perbedaan’ yang bisa jadi mengandung ‘persamaan’ dalam hal-hal yang hingga saat ini belum terpikirkan. Karena seni, sebagai kekayaan produk budaya dalam masyarakat  adalah sesuatu yang unik dan dinamis. Sebab, setiap masyarakat memiliki nilai, simbol, dan perspektif estetika yang unik dan variatif. Sebagai produk budaya, seni juga mengalami dinamika adaptasi di tengah perkembangan zaman. Banyak seniman modern yang menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer sehingga identitas suatu budaya tetap hidup meskipun dihadapkan pada arus globalisasi. Adaptasi ini memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang termanifestasi dalam seni tetap relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas, baik secara lokal maupun global.

(Pemisahan antara persepsi visual dan pemikiran logis adalah kesalahpahaman. Melihat, bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat. “Visual Thinking” oleh Rudolf Arnheim)

  • Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Salvador DalisastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selain Perut Kembung, Telat Makan Bisa Menyebabkan Obesitas — Lho, Kok?

Next Post

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co