24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjawab Stigmatisasi Masa Aksi Kurang Baca

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
May 30, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

SEBELUM memulai pembahasan lebih jauh, marilah kita sejenak mencurahkan doa sembari mengenang kembali rangkaian kebiadaban yang terjadi pada masa-masa Reformasi, terutama Tragedi Trisakti yang baru saja kita peringati pada 12 Mei lalu, beserta tragedi-tragedi lain yang menyertainya. Pada masa itu, telah terjadi penghilangan paksa, pembantaian, penembakan, pemerkosaan, dan pembakaran—semuanya merupakan kekerasan struktural, manifestasi dari arogansi kekuasaan yang enggan tumbang.

Meskipun kebiadaban itu terekam jelas dalam sejarah dan menjadi trauma yang belum sembuh, penyelesaiannya justru bernasib serupa dengan tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya: terabaikan dan terus-menerus menjadi bualan kosong para penguasa. Lebih menyakitkan lagi, sebagian dari mereka yang kini berkuasa justru merupakan artefak hidup dari rezim yang dulu ditumbangkan.

Dalam situasi demikian, satu-satunya jalan yang masih bisa memberi harapan—di luar penyelesaian yang adil—adalah dengan terus merawat ingatan dan kemuakan terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan. Upaya ini telah kita saksikan dalam bentuk Aksi Kamisan, yang secara konsisten dihelat oleh para penyintas dan mereka yang bersolidaritas. Setiap Kamis, mereka berdiri di depan Istana, dan juga di ruang-ruang publik penting di berbagai daerah, untuk memastikan tragedi itu tidak membeku dalam kenangan, melainkan tetap hidup dalam ruang publik sebagai bentuk perlawanan terhadap lupa.

Dalam konteks demokrasi, Aksi Kamisan merupakan bentuk nyata dari hak untuk berserikat, berekspresi, dan menyampaikan pendapat. Jika kita masih memaknai demokrasi sebagai kekuasaan rakyat, maka ketiga hak tersebut harus terus dijaga dan dijalankan. Apabila penguasa memiliki panggung megah untuk mengoperasikan penindasan secara sistemik dan epistemik melalui berbagai intrik, maka rakyat pun berhak memiliki panggung serupa untuk membongkar segala bentuk ketidakadilan—salah satunya melalui aksi massa.

Aksi massa, baik sebagai diksi maupun praktik, memang kerap tidak disukai oleh penguasa. Namun, aksi massa adalah manifestasi hak rakyat dalam lanskap demokrasi, dan ia akan terus hadir selama penguasa tidak bekerja berdasarkan nurani. Tan Malaka menyatakan bahwa aksi massa dapat berupa protes, boikot, dan mogok. Dalam perspektif anarkisme, aksi massa bahkan dapat mencakup sabotase, insureksi terorganisir, dan okupasi ruang. Bahkan, kekuasaan pun bisa menggunakan aksi massa, dengan menciptakan kerumunan untuk menciptakan polarisasi dan konflik.

Namun, ketika aksi massa bergulir di ruang publik, tidak semua orang bersikap mendukung. Perbedaan pendapat adalah hal lumrah dalam demokrasi, asalkan masih dalam koridor yang etis. Persoalan muncul ketika ketidaksetujuan terhadap aksi dibalut dengan upaya pembentukan opini negatif melalui stigmatisasi. Aksi massa kerap dicap sebagai ancaman keamanan, seolah-olah selalu berpotensi menciptakan kekacauan. Padahal, stigma ini kerap mengabaikan represivitas aparat terhadap massa aksi.

Ada pula stigma bahwa aksi digerakkan oleh pihak-pihak tertentu, dan bahwa peserta aksi bukan berasal dari masyarakat setempat. Stigma semacam ini mereduksi moral dan etika solidaritas, seolah-olah keberpihakan hanya sah jika berbasis kedekatan geografis. Dari sisi ekonomi, massa aksi sering dituduh sebagai bayaran, yang bergerak hanya demi konsumsi dan uang transportasi. Tuduhan ini merendahkan integritas mereka sebagai warga negara yang menyuarakan keresahan. Sementara dari sisi intelektualitas—yang menjadi pokok sorotan tulisan ini—aksi massa sering digambarkan sebagai kerumunan orang yang bodoh dan kurang membaca.

Stigmatisasi intelektual ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang menafikan kapasitas berpikir rakyat. Membaca atau tidak membaca seharusnya bukan ukuran utama dalam menentukan sah tidaknya seseorang untuk terlibat dalam aksi. Dalam sistem demokrasi, aksi adalah hak semua warga negara, terlebih ketika nilai, prinsip, dan ruang hidup mereka diganggu oleh penindasan. Tuduhan bahwa massa aksi tidak membaca sering kali datang dari arogansi intelektual yang merasa paling tahu, dan secara tersirat ingin memonopoli kebenaran.

Faktanya, tak sedikit aksi massa yang pro terhadap kekuasaan justru sangat jauh dari budaya literasi. Banyak di antara mereka bahkan tidak memahami substansi tuntutan yang mereka serukan. Kita bisa mengingat bagaimana massa aksi yang mendukung RUU TNI atau usulan perpanjangan masa jabatan presiden gagal menjelaskan argumen mereka ketika ditanya, bahkan lebih memilih menghindar.

Meski demikian, mereka pun tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Gerakan tandingan yang pro kekuasaan sering kali dibentuk secara instan, dengan prinsip “yang penting massa terkumpul”, tanpa konsolidasi mendalam. Oleh karena itu, kita sebagai sesama rakyat tidak boleh saling menghakimi.

Soal “membaca”, seharusnya tidak dimaknai semata-mata sebagai aktivitas membaca buku atau kajian ilmiah yang berat. Literasi dalam gerakan justru banyak terjadi melalui ruang-ruang penyadaran, seperti konsolidasi, diskusi, agitasi, dan perjumpaan yang membentuk pemahaman kolektif. Dalam dinamika aksi, hasil kajian kerap disampaikan dengan cara yang disesuaikan dengan situasi dan kapasitas anggota, agar setiap individu paham akan apa yang sedang mereka perjuangkan.

Membaca secara tekstual memang membutuhkan waktu dan ruang yang ideal. Tetapi dalam konteks aksi massa, yang sering bergerak secara responsif terhadap momentum, membaca dapat dilakukan melalui berbagai metode yang interaktif dan komunikatif. Yang terpenting adalah dorongan untuk memahami dan bergerak, bukan sekadar kemampuan menyerap teks secara akademik.

Maka, menghakimi massa aksi atas dasar “kurang membaca” adalah bentuk kekerasan intelektual yang menutup kemungkinan solidaritas dan justru memperkuat dominasi epistemik dari kelas penguasa. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi
Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik
Tags: aksi massaLiterasiReformasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PENJARA: Penyempurnaan Jiwa dan Raga

Next Post

Melahirkan Guru, Melahirkan Peradaban: Catatan di Masa Kolonial

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Melahirkan Guru, Melahirkan Peradaban: Catatan di Masa Kolonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co