24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semester 7, Masa Tua Mahasiswa, Masa-masa Menakutkan…

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

 

SEMESTER 7 itu adalah masa-masa tua bagi mahasiswa dan menakutkan. Benarkah?

Semester 7 adalah semester tua. Jika semester 7 dikatakan tua, maka semester 1 dikatakan semester muda. Tua memang menakutkan, dan muda itu masa bersenang-senang. Begitukah?

Apa sih yang membuat ketakutan mahasiswa di semester 7? Apakah karena takut skripsi? Atau takut karena tidak ada pasangan saat wisuda? Bisa jadi keduanya.

Semester 1

Mari kita bahas satu per satu dahulu, pada saat kita memulai masuk ke jenjang perkuliahan, sebuah jenjang yang berbeda dengan waktu masih SMA.

Ketika kita baru memulai di semester muda, yang dimaksud adalah semester 1, maka kita berpikir ini masih permulaan, jadi baru masa-masa perkenalan kampus, dosen, dan lain sebagainya. Bahkan ini jenjang perkenalan ke kakak tingkat yang jenis kelaminnya berlawanan hingga muncul kisah-kisah asmara yang mendebarkan, layaknya FTV.

Bukankah begitu? Jawabannya pasti ada yang iya, ada juga yang tidak, tergantung semua niat dari diri sendiri. Begitulah singkat cerita di awal semester 1.

Semester 2

Lanjut kita ke semester 2, apakah masih bisa dikatakan semester muda? Iya bisa-bisa saja. Tapi ada  hal yang membedakan semester 1 dan di semester 2. Yakni pola pikir, dan tingkah laku kita,

Ketika kita baru beranjak di semester 1 kita baru melakukan tahap adaptasi, mungkin saja tingkah laku kita sebagian masih di bilang kekanak-kanakan, belum dewasa. Ketika beranjak ke semester 2, kita mulai mengerti situasi dan kondisi di kampus. Dan semakin mengerti juga kita akan tujuan kita menjadi mahasiswa, semakin mengerti tingkah laku kita yang baik dan yang buruk.

Semester 3, 4, 5, 6

Untuk semester 3, semester 4, semester 5, dan semester 6 pun akan sama seperti itu, karena kita lebih mengenal jati diri kita sebagai mahasiswa, tanggung jawab kita semakin banyak, karena semakin besar semester kita maka semakin banyak pula tugas-tugas yang diberikan oleh dosen sesuai mata kuliahnya. Bahkan sampai ada mahasiswa yang bermalam di kampus.

Menurut hasil penelitian penulis dari salah seorang temannya yang sering bahkan hampir setiap hari bermalam di kampus itu dikarenakan sedang mengerjakan tugas yang membutuhkan konektivitas jaringan internet. Biasa, mahasiswa itu sukanya mencari yang gratis. Tapi bukan begitu juga maksudnya, karena kita membayar uang gedung, maka kita berhak menggunakan fasilitas yang memadai di kampus, salah satunya, ya Wi-Fi.

Semester 7

Kita sekarang beranjak ke semester 7, sesuai dengan judul tulisan ini. “Mengapa harus takut dengan semester 7? Bukankah sama saja dengan semester sebelumnya?”

Jika dikatakan sama dengan semeseter sebelumnya, mungkin tidak juga. Karena akan banyak faktor yang menyebabkan tidak sama. Sebenarnya apa sih yang membuat takut mahasiswa di semester 7?

Jika kita lihat di kurikulum mata kuliah untuk semester 7, ada yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata)” dan Skripsi. Jika mahasiswa disuruh memilih salah satu saja di antara 2 mata kuliah tersebut mungkin saja akan banyak yang memilih KKN saja.

Mengapa begitu? Jika didefinisikan kegiatan KKN adalah mahasiswa akan ditempatkan di desa-desa terpelosok atau terpencil yang kehidupannya dikatakan masih sangat jauh dari kota, Apa tujuan mahasiswa diberikan KKN? Salah satunya, mahasiswa menyalurkan atau memberikan ilmu yang didapat di kampus kepada masyarakat desa, dengan cara mahasiswa memberikan inovasi-inovasi baru untuk membangun di desa tersebut lebih maju.

Lantas, Mengapa mahasiswa tidak banyak yang memilih skripsi jika memang disuruh memilih diantara kedua pilihan tersebut?

Mata kuliah skripsi kita dapatkan di semester 7. Sebenarnya apa artinya skripsi? Skripsi itu adalah suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian yang membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan aturan-aturan yang berlaku.

Skripsi ini menentukan lama atau tidaknya mahasiswa akan mendapat gelar S1. Sehingga semester 7 inilah yang terkadang membuat pikiran tidak karuan bahkan stress. Bahkan kerap ada berita tentang mahasiswa bunuh diri karena skripsi, Mengerikan, bukan?

Menuju Stres Skripsi

Apa saja faktor-faktor yang membuat mahasiswa begitu lama mengerjakan skripsi, bahkan bisa sampai bunuh diri?

Menurut hasil survey penulis ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa setres dengan skripsi yang pertama sulitnya menentukan judul skripsi, mahasiswa banyak bingung karena belum mengetahui judul skripsi apa yang akan dibuat.

Faktor pertama, karena kurangnya pemahaman tentang metodologi penelitian.  Artinya sebelum menentukan judul skripsi mahasiswa harus melakukan suatu penelitian dengan tujuan mahasiswa tersebut mampu memahami masalah yang ada, dapat memecahkan masalah tersebut dan dapat mengantisipasi masalah.

Karena mahasiswa tersebut belum benar-benar memahami masalah yang ada dalam penelitian itu maka mahasiswa akan sulit menentukan judul skripsi.

Faktor kedua, mendapatkan dosen pembimbing yang tidak sesuai. Artinya apa? Dosen pembimbing sangatlah perlu dan memang harus ada ketika kita mengerjakan skripsi, fungsinya adalah dosen pembimbing akan membimbing kita bagaimana cara pembuatan skripsi hingga selesai, bukankah akan dipermudah jika ada dosen pembimbing?

Menurut hasil survei kecil-kecilan, ada dosen pembimbing sulit untuk ditemui mahasiswanya yang ingin bimbingan skripsi dengan berbagai alasan. Bukan hanya itu saja. Ketika mahasiswa mengikuti bimbingan, kadang menurut pemikiran dosen pembimbing isi skripsi itu tidak sesuai dengan hasil bimbingan, maka mahasiswa harus memperbaikinya dan menge-print ulang kembali skripsi tersebut. Stres bukan?

Faktor ketiga, mahasiswa yang malas. Artinya, ada mahasiswa yang memang pemalas dari sononya. Namun ada juga karena mahasiswa tiba-tiba jadi malas. Misalnya karena sering melakukan print ulang hasil skripsinya akibat terlalu banyak yang direvisi oleh dosen pembimbing, akhirnya mahasiswa tersebut sering mengulurkan waktu untuk mengerjakannya. Ia malas karena aktivitasnya monoton: bimbingan-revisi-bimbingan-revisi, begitu seterusnya.

Faktor keempat, masalah biaya. Karena seringnya menge-print ulang revisi yang cukup banyak berlembar-lembar, maka akan semakin banyak pula biaya yang dihabiskan oleh mahasiswa tersebut. Itulah beberapa faktor yang dialami mahasiswa saat mengerjakan skripsi, akibatnya banyak mahasiswa yang stress dan putus asa.

Solusi agar Tak Sress

Ada beberapa solusi agar mahasiswa tidak setres dalam mengerjakan skripsi, yaitu:

(1) Temukan minat terbesarmu, artinya tanyakan dalam hati apa sebenarnya minat yang anda inginkan, caranya bisa dengan mencari tema skripsi dari mata kuliah apa yang paling disukai dan mudah dipahami,

(2) Kenali karakter dosen pembimbing, semakin anda mengetahui seperti apa karakter dosen tersebut maka anda harus belajar untuk mendekati dosen pembimbing tersebut dan sampaikan keinginan anda terkait skripsi yang akan dibuat,

(3) Buatlah timeline yang spesifik, artinya anda menargetkan skripsi diselesaikan dalam satu semester, jadi langkah pertama yaitu Bab pertama ditentukan pada bulan kedua, Bab kedua ditentukan pada bulan ke empat dan begitu seterusnya sampai tiba jadwal sidang skripsi. Semakin spesifik timeline yang dibuat, maka beban skripsi semakin ringan,

(4) Membagi waktu 24 jam menjadi tiga bagian, artinya bagian 8 jam pertama bagi mahasiswa yang suka berorganisasi silahkan melakukan kegiatan organisasi, bagian 8 jam kedua gunakan untuk membuat skripsi, bagian 8 jam ketiga gunakan untuk anda beristirahat, dengan begitu dalam sehari anda dapat merasakan istirahat yang cukup agar kondisi badan tetap sehat,

(5) Akrab dengan senior di kampus, artinya perbanyak kenalan kakak tingkat anda yang telah lulus wisuda, agar anda bisa mendapat tips-tips dalam pembuatan skripsi dan berbagi pengalaman ketika kakak tingkat anda mengerjakan skripsi hingga selesai.

Itulah beberapa solusi agar mahasiswa tidak mudah putus asa atau tidak stres dalam mengerjakan skripsi. Dan kesimpulannya adalah jangan jadikan skripsi itu beban bagi mahasiswa, jadikan skripsi itu tantangan yang akan berbuah kebahagiaan. Jika revisi mulai menghilangkan semangatmu, maka ingatlah perjuangan orangtuamu yang dapat mengantarmu sampai ke perguruan tinggi dan ingin melihatmu lulus. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikanSkripsi
Share69702TweetSendShareSend
Previous Post

Julio Saputra, Peraih Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co