14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semester 7, Masa Tua Mahasiswa, Masa-masa Menakutkan…

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

 

SEMESTER 7 itu adalah masa-masa tua bagi mahasiswa dan menakutkan. Benarkah?

Semester 7 adalah semester tua. Jika semester 7 dikatakan tua, maka semester 1 dikatakan semester muda. Tua memang menakutkan, dan muda itu masa bersenang-senang. Begitukah?

Apa sih yang membuat ketakutan mahasiswa di semester 7? Apakah karena takut skripsi? Atau takut karena tidak ada pasangan saat wisuda? Bisa jadi keduanya.

Semester 1

Mari kita bahas satu per satu dahulu, pada saat kita memulai masuk ke jenjang perkuliahan, sebuah jenjang yang berbeda dengan waktu masih SMA.

Ketika kita baru memulai di semester muda, yang dimaksud adalah semester 1, maka kita berpikir ini masih permulaan, jadi baru masa-masa perkenalan kampus, dosen, dan lain sebagainya. Bahkan ini jenjang perkenalan ke kakak tingkat yang jenis kelaminnya berlawanan hingga muncul kisah-kisah asmara yang mendebarkan, layaknya FTV.

Bukankah begitu? Jawabannya pasti ada yang iya, ada juga yang tidak, tergantung semua niat dari diri sendiri. Begitulah singkat cerita di awal semester 1.

Semester 2

Lanjut kita ke semester 2, apakah masih bisa dikatakan semester muda? Iya bisa-bisa saja. Tapi ada  hal yang membedakan semester 1 dan di semester 2. Yakni pola pikir, dan tingkah laku kita,

Ketika kita baru beranjak di semester 1 kita baru melakukan tahap adaptasi, mungkin saja tingkah laku kita sebagian masih di bilang kekanak-kanakan, belum dewasa. Ketika beranjak ke semester 2, kita mulai mengerti situasi dan kondisi di kampus. Dan semakin mengerti juga kita akan tujuan kita menjadi mahasiswa, semakin mengerti tingkah laku kita yang baik dan yang buruk.

Semester 3, 4, 5, 6

Untuk semester 3, semester 4, semester 5, dan semester 6 pun akan sama seperti itu, karena kita lebih mengenal jati diri kita sebagai mahasiswa, tanggung jawab kita semakin banyak, karena semakin besar semester kita maka semakin banyak pula tugas-tugas yang diberikan oleh dosen sesuai mata kuliahnya. Bahkan sampai ada mahasiswa yang bermalam di kampus.

Menurut hasil penelitian penulis dari salah seorang temannya yang sering bahkan hampir setiap hari bermalam di kampus itu dikarenakan sedang mengerjakan tugas yang membutuhkan konektivitas jaringan internet. Biasa, mahasiswa itu sukanya mencari yang gratis. Tapi bukan begitu juga maksudnya, karena kita membayar uang gedung, maka kita berhak menggunakan fasilitas yang memadai di kampus, salah satunya, ya Wi-Fi.

Semester 7

Kita sekarang beranjak ke semester 7, sesuai dengan judul tulisan ini. “Mengapa harus takut dengan semester 7? Bukankah sama saja dengan semester sebelumnya?”

Jika dikatakan sama dengan semeseter sebelumnya, mungkin tidak juga. Karena akan banyak faktor yang menyebabkan tidak sama. Sebenarnya apa sih yang membuat takut mahasiswa di semester 7?

Jika kita lihat di kurikulum mata kuliah untuk semester 7, ada yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata)” dan Skripsi. Jika mahasiswa disuruh memilih salah satu saja di antara 2 mata kuliah tersebut mungkin saja akan banyak yang memilih KKN saja.

Mengapa begitu? Jika didefinisikan kegiatan KKN adalah mahasiswa akan ditempatkan di desa-desa terpelosok atau terpencil yang kehidupannya dikatakan masih sangat jauh dari kota, Apa tujuan mahasiswa diberikan KKN? Salah satunya, mahasiswa menyalurkan atau memberikan ilmu yang didapat di kampus kepada masyarakat desa, dengan cara mahasiswa memberikan inovasi-inovasi baru untuk membangun di desa tersebut lebih maju.

Lantas, Mengapa mahasiswa tidak banyak yang memilih skripsi jika memang disuruh memilih diantara kedua pilihan tersebut?

Mata kuliah skripsi kita dapatkan di semester 7. Sebenarnya apa artinya skripsi? Skripsi itu adalah suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian yang membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan aturan-aturan yang berlaku.

Skripsi ini menentukan lama atau tidaknya mahasiswa akan mendapat gelar S1. Sehingga semester 7 inilah yang terkadang membuat pikiran tidak karuan bahkan stress. Bahkan kerap ada berita tentang mahasiswa bunuh diri karena skripsi, Mengerikan, bukan?

Menuju Stres Skripsi

Apa saja faktor-faktor yang membuat mahasiswa begitu lama mengerjakan skripsi, bahkan bisa sampai bunuh diri?

Menurut hasil survey penulis ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa setres dengan skripsi yang pertama sulitnya menentukan judul skripsi, mahasiswa banyak bingung karena belum mengetahui judul skripsi apa yang akan dibuat.

Faktor pertama, karena kurangnya pemahaman tentang metodologi penelitian.  Artinya sebelum menentukan judul skripsi mahasiswa harus melakukan suatu penelitian dengan tujuan mahasiswa tersebut mampu memahami masalah yang ada, dapat memecahkan masalah tersebut dan dapat mengantisipasi masalah.

Karena mahasiswa tersebut belum benar-benar memahami masalah yang ada dalam penelitian itu maka mahasiswa akan sulit menentukan judul skripsi.

Faktor kedua, mendapatkan dosen pembimbing yang tidak sesuai. Artinya apa? Dosen pembimbing sangatlah perlu dan memang harus ada ketika kita mengerjakan skripsi, fungsinya adalah dosen pembimbing akan membimbing kita bagaimana cara pembuatan skripsi hingga selesai, bukankah akan dipermudah jika ada dosen pembimbing?

Menurut hasil survei kecil-kecilan, ada dosen pembimbing sulit untuk ditemui mahasiswanya yang ingin bimbingan skripsi dengan berbagai alasan. Bukan hanya itu saja. Ketika mahasiswa mengikuti bimbingan, kadang menurut pemikiran dosen pembimbing isi skripsi itu tidak sesuai dengan hasil bimbingan, maka mahasiswa harus memperbaikinya dan menge-print ulang kembali skripsi tersebut. Stres bukan?

Faktor ketiga, mahasiswa yang malas. Artinya, ada mahasiswa yang memang pemalas dari sononya. Namun ada juga karena mahasiswa tiba-tiba jadi malas. Misalnya karena sering melakukan print ulang hasil skripsinya akibat terlalu banyak yang direvisi oleh dosen pembimbing, akhirnya mahasiswa tersebut sering mengulurkan waktu untuk mengerjakannya. Ia malas karena aktivitasnya monoton: bimbingan-revisi-bimbingan-revisi, begitu seterusnya.

Faktor keempat, masalah biaya. Karena seringnya menge-print ulang revisi yang cukup banyak berlembar-lembar, maka akan semakin banyak pula biaya yang dihabiskan oleh mahasiswa tersebut. Itulah beberapa faktor yang dialami mahasiswa saat mengerjakan skripsi, akibatnya banyak mahasiswa yang stress dan putus asa.

Solusi agar Tak Sress

Ada beberapa solusi agar mahasiswa tidak setres dalam mengerjakan skripsi, yaitu:

(1) Temukan minat terbesarmu, artinya tanyakan dalam hati apa sebenarnya minat yang anda inginkan, caranya bisa dengan mencari tema skripsi dari mata kuliah apa yang paling disukai dan mudah dipahami,

(2) Kenali karakter dosen pembimbing, semakin anda mengetahui seperti apa karakter dosen tersebut maka anda harus belajar untuk mendekati dosen pembimbing tersebut dan sampaikan keinginan anda terkait skripsi yang akan dibuat,

(3) Buatlah timeline yang spesifik, artinya anda menargetkan skripsi diselesaikan dalam satu semester, jadi langkah pertama yaitu Bab pertama ditentukan pada bulan kedua, Bab kedua ditentukan pada bulan ke empat dan begitu seterusnya sampai tiba jadwal sidang skripsi. Semakin spesifik timeline yang dibuat, maka beban skripsi semakin ringan,

(4) Membagi waktu 24 jam menjadi tiga bagian, artinya bagian 8 jam pertama bagi mahasiswa yang suka berorganisasi silahkan melakukan kegiatan organisasi, bagian 8 jam kedua gunakan untuk membuat skripsi, bagian 8 jam ketiga gunakan untuk anda beristirahat, dengan begitu dalam sehari anda dapat merasakan istirahat yang cukup agar kondisi badan tetap sehat,

(5) Akrab dengan senior di kampus, artinya perbanyak kenalan kakak tingkat anda yang telah lulus wisuda, agar anda bisa mendapat tips-tips dalam pembuatan skripsi dan berbagi pengalaman ketika kakak tingkat anda mengerjakan skripsi hingga selesai.

Itulah beberapa solusi agar mahasiswa tidak mudah putus asa atau tidak stres dalam mengerjakan skripsi. Dan kesimpulannya adalah jangan jadikan skripsi itu beban bagi mahasiswa, jadikan skripsi itu tantangan yang akan berbuah kebahagiaan. Jika revisi mulai menghilangkan semangatmu, maka ingatlah perjuangan orangtuamu yang dapat mengantarmu sampai ke perguruan tinggi dan ingin melihatmu lulus. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikanSkripsi
Share69702TweetSendShareSend
Previous Post

Julio Saputra, Peraih Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co