3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semester 7, Masa Tua Mahasiswa, Masa-masa Menakutkan…

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

 

SEMESTER 7 itu adalah masa-masa tua bagi mahasiswa dan menakutkan. Benarkah?

Semester 7 adalah semester tua. Jika semester 7 dikatakan tua, maka semester 1 dikatakan semester muda. Tua memang menakutkan, dan muda itu masa bersenang-senang. Begitukah?

Apa sih yang membuat ketakutan mahasiswa di semester 7? Apakah karena takut skripsi? Atau takut karena tidak ada pasangan saat wisuda? Bisa jadi keduanya.

Semester 1

Mari kita bahas satu per satu dahulu, pada saat kita memulai masuk ke jenjang perkuliahan, sebuah jenjang yang berbeda dengan waktu masih SMA.

Ketika kita baru memulai di semester muda, yang dimaksud adalah semester 1, maka kita berpikir ini masih permulaan, jadi baru masa-masa perkenalan kampus, dosen, dan lain sebagainya. Bahkan ini jenjang perkenalan ke kakak tingkat yang jenis kelaminnya berlawanan hingga muncul kisah-kisah asmara yang mendebarkan, layaknya FTV.

Bukankah begitu? Jawabannya pasti ada yang iya, ada juga yang tidak, tergantung semua niat dari diri sendiri. Begitulah singkat cerita di awal semester 1.

Semester 2

Lanjut kita ke semester 2, apakah masih bisa dikatakan semester muda? Iya bisa-bisa saja. Tapi ada  hal yang membedakan semester 1 dan di semester 2. Yakni pola pikir, dan tingkah laku kita,

Ketika kita baru beranjak di semester 1 kita baru melakukan tahap adaptasi, mungkin saja tingkah laku kita sebagian masih di bilang kekanak-kanakan, belum dewasa. Ketika beranjak ke semester 2, kita mulai mengerti situasi dan kondisi di kampus. Dan semakin mengerti juga kita akan tujuan kita menjadi mahasiswa, semakin mengerti tingkah laku kita yang baik dan yang buruk.

Semester 3, 4, 5, 6

Untuk semester 3, semester 4, semester 5, dan semester 6 pun akan sama seperti itu, karena kita lebih mengenal jati diri kita sebagai mahasiswa, tanggung jawab kita semakin banyak, karena semakin besar semester kita maka semakin banyak pula tugas-tugas yang diberikan oleh dosen sesuai mata kuliahnya. Bahkan sampai ada mahasiswa yang bermalam di kampus.

Menurut hasil penelitian penulis dari salah seorang temannya yang sering bahkan hampir setiap hari bermalam di kampus itu dikarenakan sedang mengerjakan tugas yang membutuhkan konektivitas jaringan internet. Biasa, mahasiswa itu sukanya mencari yang gratis. Tapi bukan begitu juga maksudnya, karena kita membayar uang gedung, maka kita berhak menggunakan fasilitas yang memadai di kampus, salah satunya, ya Wi-Fi.

Semester 7

Kita sekarang beranjak ke semester 7, sesuai dengan judul tulisan ini. “Mengapa harus takut dengan semester 7? Bukankah sama saja dengan semester sebelumnya?”

Jika dikatakan sama dengan semeseter sebelumnya, mungkin tidak juga. Karena akan banyak faktor yang menyebabkan tidak sama. Sebenarnya apa sih yang membuat takut mahasiswa di semester 7?

Jika kita lihat di kurikulum mata kuliah untuk semester 7, ada yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata)” dan Skripsi. Jika mahasiswa disuruh memilih salah satu saja di antara 2 mata kuliah tersebut mungkin saja akan banyak yang memilih KKN saja.

Mengapa begitu? Jika didefinisikan kegiatan KKN adalah mahasiswa akan ditempatkan di desa-desa terpelosok atau terpencil yang kehidupannya dikatakan masih sangat jauh dari kota, Apa tujuan mahasiswa diberikan KKN? Salah satunya, mahasiswa menyalurkan atau memberikan ilmu yang didapat di kampus kepada masyarakat desa, dengan cara mahasiswa memberikan inovasi-inovasi baru untuk membangun di desa tersebut lebih maju.

Lantas, Mengapa mahasiswa tidak banyak yang memilih skripsi jika memang disuruh memilih diantara kedua pilihan tersebut?

Mata kuliah skripsi kita dapatkan di semester 7. Sebenarnya apa artinya skripsi? Skripsi itu adalah suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian yang membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan aturan-aturan yang berlaku.

Skripsi ini menentukan lama atau tidaknya mahasiswa akan mendapat gelar S1. Sehingga semester 7 inilah yang terkadang membuat pikiran tidak karuan bahkan stress. Bahkan kerap ada berita tentang mahasiswa bunuh diri karena skripsi, Mengerikan, bukan?

Menuju Stres Skripsi

Apa saja faktor-faktor yang membuat mahasiswa begitu lama mengerjakan skripsi, bahkan bisa sampai bunuh diri?

Menurut hasil survey penulis ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa setres dengan skripsi yang pertama sulitnya menentukan judul skripsi, mahasiswa banyak bingung karena belum mengetahui judul skripsi apa yang akan dibuat.

Faktor pertama, karena kurangnya pemahaman tentang metodologi penelitian.  Artinya sebelum menentukan judul skripsi mahasiswa harus melakukan suatu penelitian dengan tujuan mahasiswa tersebut mampu memahami masalah yang ada, dapat memecahkan masalah tersebut dan dapat mengantisipasi masalah.

Karena mahasiswa tersebut belum benar-benar memahami masalah yang ada dalam penelitian itu maka mahasiswa akan sulit menentukan judul skripsi.

Faktor kedua, mendapatkan dosen pembimbing yang tidak sesuai. Artinya apa? Dosen pembimbing sangatlah perlu dan memang harus ada ketika kita mengerjakan skripsi, fungsinya adalah dosen pembimbing akan membimbing kita bagaimana cara pembuatan skripsi hingga selesai, bukankah akan dipermudah jika ada dosen pembimbing?

Menurut hasil survei kecil-kecilan, ada dosen pembimbing sulit untuk ditemui mahasiswanya yang ingin bimbingan skripsi dengan berbagai alasan. Bukan hanya itu saja. Ketika mahasiswa mengikuti bimbingan, kadang menurut pemikiran dosen pembimbing isi skripsi itu tidak sesuai dengan hasil bimbingan, maka mahasiswa harus memperbaikinya dan menge-print ulang kembali skripsi tersebut. Stres bukan?

Faktor ketiga, mahasiswa yang malas. Artinya, ada mahasiswa yang memang pemalas dari sononya. Namun ada juga karena mahasiswa tiba-tiba jadi malas. Misalnya karena sering melakukan print ulang hasil skripsinya akibat terlalu banyak yang direvisi oleh dosen pembimbing, akhirnya mahasiswa tersebut sering mengulurkan waktu untuk mengerjakannya. Ia malas karena aktivitasnya monoton: bimbingan-revisi-bimbingan-revisi, begitu seterusnya.

Faktor keempat, masalah biaya. Karena seringnya menge-print ulang revisi yang cukup banyak berlembar-lembar, maka akan semakin banyak pula biaya yang dihabiskan oleh mahasiswa tersebut. Itulah beberapa faktor yang dialami mahasiswa saat mengerjakan skripsi, akibatnya banyak mahasiswa yang stress dan putus asa.

Solusi agar Tak Sress

Ada beberapa solusi agar mahasiswa tidak setres dalam mengerjakan skripsi, yaitu:

(1) Temukan minat terbesarmu, artinya tanyakan dalam hati apa sebenarnya minat yang anda inginkan, caranya bisa dengan mencari tema skripsi dari mata kuliah apa yang paling disukai dan mudah dipahami,

(2) Kenali karakter dosen pembimbing, semakin anda mengetahui seperti apa karakter dosen tersebut maka anda harus belajar untuk mendekati dosen pembimbing tersebut dan sampaikan keinginan anda terkait skripsi yang akan dibuat,

(3) Buatlah timeline yang spesifik, artinya anda menargetkan skripsi diselesaikan dalam satu semester, jadi langkah pertama yaitu Bab pertama ditentukan pada bulan kedua, Bab kedua ditentukan pada bulan ke empat dan begitu seterusnya sampai tiba jadwal sidang skripsi. Semakin spesifik timeline yang dibuat, maka beban skripsi semakin ringan,

(4) Membagi waktu 24 jam menjadi tiga bagian, artinya bagian 8 jam pertama bagi mahasiswa yang suka berorganisasi silahkan melakukan kegiatan organisasi, bagian 8 jam kedua gunakan untuk membuat skripsi, bagian 8 jam ketiga gunakan untuk anda beristirahat, dengan begitu dalam sehari anda dapat merasakan istirahat yang cukup agar kondisi badan tetap sehat,

(5) Akrab dengan senior di kampus, artinya perbanyak kenalan kakak tingkat anda yang telah lulus wisuda, agar anda bisa mendapat tips-tips dalam pembuatan skripsi dan berbagi pengalaman ketika kakak tingkat anda mengerjakan skripsi hingga selesai.

Itulah beberapa solusi agar mahasiswa tidak mudah putus asa atau tidak stres dalam mengerjakan skripsi. Dan kesimpulannya adalah jangan jadikan skripsi itu beban bagi mahasiswa, jadikan skripsi itu tantangan yang akan berbuah kebahagiaan. Jika revisi mulai menghilangkan semangatmu, maka ingatlah perjuangan orangtuamu yang dapat mengantarmu sampai ke perguruan tinggi dan ingin melihatmu lulus. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikanSkripsi
Share69702TweetSendShareSend
Previous Post

Julio Saputra, Peraih Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Kuota Internet adalah Nyawa dan “Understanding Media” Marshall McLuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co