27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
April 19, 2025
in Esai
Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

PEMAHAMAN dan penguasaan literasi pada masa kini, menjadi bagian penting dari perubahan zaman. Seyogianya, penguatan dan edukasi literasi tidak hanya bergantung pada lembaga pendidikan formal. Tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sepele, mengingat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu deras. Kemajuan iptek ini menjadi pergerakan simultan yang membawa dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Sementara, gejala yang muncul kian menggerus akar-akar literasi kita. Benarkah kita sedang mengalami darurat literasi?

Apakah karena pemahaman dan penguasaan literasi di masyarakat begitu rendah, sehingga komunikasi dan informasi di pelbagai sektoral, sering mengalami interaksi sosial yang salah? Lantas, bagaimana kalau ini terjadi di dunia pendidikan? Maka tentu akan berimbas pada kehidupan sosial, meski ini begitu subjektif dan tidak bisa dijadikan ukuran normatif. Tidak bisa lagi, kita hanya mengandalkan lembaga pendidikan semata, demi mencukupi kebutuhan literasi kepada anak. Harus ada cara inklusif (termasuk keseluruhan) untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab sosial.

 Tentu kita sangat prihatin, dengan meningkatnya jumlah kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Apakah nilai-nilai budaya semakin terkikis, hingga menjadi dampak sebab-akibat dari persoalan ini. Tentu banyak aspek yang memengaruhi kasus-kasus semacam ini. Tetapi persoalan penting yang kita hadapi adalah meluruskan tujuan pendidikan demi terwujudnya cita-cita mencerdaskan anak bangsa.

Bergesernya tantangan zaman, tentu membawa perubahan dalam etika dan estetika sosial. Ini akan memunculkan gesekan-gesekan teori, yang berpotensi pada aspek budaya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa budaya (termasuk tradisi lokal) menjadi fundamen dalam membangun kerangka kebangsaan. Apakah sejauh ini nilai-nilai dasar dari cerminan kehidupan sosial tetap terawat, sesuai dengan diksi norma-norma falsafah negara! Atau karena konsepsi pemikiran manusia dihadapkan pada situasi yang lebih kritis? Kian derasnya arus utama (mainstream) globalisasi yang memicu tumbuhnya karakter-karakter baru.

Jika kita telisik persoalan-persoalan sosial, ada banyak residu membekas dan menumpuk  yang kemudian memunculkan persoalan baru. Sehingga salah satu dampak sosial, sangat rentan dengan kondisi psikologis yang membenturkan karakter lingkungan. Antara pendidik dan peserta didik; antara lingkungan formal dengan lingkungan non-formal yang memiliki basis karakter berbeda. Maka disini, makna tekstual dari pengurangan kekerasan (moderasi) harus ada titik temu.

Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan bermartabat, kita juga membutuhkan ekonomi yang kuat. Apakah pendidikan bermartabat itu bisa tumbuh secara alami, dan membiarkan larut dalam proses alam yang mampu mengatasi problematik dari transformasi, transisi dan edukasi dalam sistem pendidikan? Tentu tidak! Konteks ini tentu membutuhkan penataan instrumen infrastruktur dan suprastruktur yang berbasis anggaran, serta regulasi yang bagus.

Persoalan yang dihadapi dan terus mengganjal, adalah bagaimana sistem pendidikan berjalan sesuai dengan fungsinya dan asas-asasnya. Di sini tentu harus ada metode dan konsep desain yang bagus agar nilai-nilai pendidikan tetap berada pada pilihan-pilihan yang melahirkan konsep-konsep budaya. Ada stigma, bahwa kehilangan bahasa akan berdampak pada hilangnya tradisi (budaya). Jika tradisi hilang, itu artinya nilai-nilai sosial pendidikan tidak lagi bermartabat. Penawaran konsep deep learning harus diartikan sebagai sebuah cara atau metode yang menjadi alat bantu dalam pendidikan. Bukan instrumen yang sejajar dengan kurikulum.

Dalam profesi keguruan, tentu hal-hal terkait kekerasan harus dihindari dan ditekan seminimal mungkin, mengingat lembaga pendidikan formal selalu dianalogikan sebagai tempat untuk melahirkan kaum intelektual dan berakhlak. Sungguh ironis dan miris, jika angka kekerasan di lingkungan pendidikan terus meningkat. Munculnya skeptisisme dengan alibi pembenaran akibat transformasi peradaban yang kian maju. Sehingga esensi peradaban menjadi ambivalen maknanya.

Dengan berbagai kasus per kasus yang terjadi, muncul pertanyaan apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kini? Persoalan ini tentu harus dilihat dalam perspektif luas. Tidak semata karena sistem pendidikan berbasis kurikulum kemudian dianggap biang masalah, tanpa ada analisis sebab-akibat yang konkret. Jika kita mengamati perubahan ini, adanya gejala sosial yang menjadi efek negatif pertentangan tanpa disadari oleh masyarakat pengguna sosial media. Hampir setiap hari kita temukan fenomena sosial yang buruk. Tidak jarang terjadi pertengkaran dalam jejaring sosial, yang disebabkan karena kedua belah pihak tidak paham dengan apa yang dipertentangkan. Sebagian besar masyarakat masih rendah dalam memahami literasi digital yang digunakan dalam berinteraksi.

Masyarakat begitu mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang tidak valid dan tidak akurat. Situasi ini terus berjalan tanpa ada edukasi yang baik. Persoalan ini akan terus berlangsung, jika tidak ada penanganan yang tepat dan lebih serius. Fenomena sosial yang senantiasa menggerus akar-akar tradisi, akan menimbulkan kerusakan budaya. Maka, diperlukan sinergitas kuat antara pendidikan formal dan non-formal. Harus ada keseimbangan, dan tidak semata-mata semua beban tanggung jawab dibebankan kepada lembaga pendidikan formal. Di sini, peran keluarga dan lingkungan sosial juga memengaruhi tujuan yang diinginkan. Terjadinya trauma sosial itu karena beberapa faktor yang berjalan mengiringinya.

Munculnya fenomena baru pada jejaring sosial, yang seolah-olah menjadi tradisi kesehari-harian, di mana kerap kali terjadi pertengkaran antara kedua belah pihak yang sama-sama tidak paham dengan akar permasalahannya. Masing-masing tidak memiliki kemampuan analisis sebab-akibat tentang apa yang dipertentangkan. Meski ini sangat prismatik jika diasumsikan sebagai tradisi.

Dalam edukasi pengetahuan, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam memahami literasi digital. Bisa jadi, ini salah satu faktor yang memengaruhinya. Kemudian menjadi sebuah simpulan-simpulan individu sebagai alibi pembenaran. Dan pada titik tertentu, menggumpal menjadi residu sosial, yang berpotensi menggerus akar-akar edukasi. Khususnya untuk memperkuat simpul-simpul literasi.

Sejatinya metode pembelajaran bermuara pada aspek-aspek pedagogis dan penilaian. Yang harus diingat adalah fokus pada pengembalian pendidikan yang bermartabat, tidak semata-mata kualitas materi pelajaran (kognitif). Sebab pembentukan karakter positif bagi peserta didik juga harus sejalan dan sejajar. Apakah memang ada yang salah dalam kurikulum pendidikan, sehingga sampai kini terus memicu polemik yang tidak kunjung selesai.

Maka, jika ditelisik secara sederhana, harus ada penanganan yang serius (preventif), terhadap tumbuhnya trauma sosial. Mungkin diperlukan sebuah kebijakan yang cukup radikal, tidak sekadar terjebak dalam sebuah revolusi logika. Pembatasan penggunaan jejaring sosial bagi peserta didik, dan mengalihkan perhatian pendidikan yang berbasis kemampuan literasi, untuk kembali pada konsep tekstual (buku cetak), agar peserta didik mampu membentuk karakter pribadinya secara alamiah. Tidak bergantung pada pembentukan karakter yang hanya berorientasi pada identifikasi sosial.

Tentu hal ini perlu kajian dan riset mendalam, mengingat kemajuan iptek sebagai pemicu kehidupan sosial tidak bisa dikendalikan secara drastis. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya juga membawa virus-virus baru yang bisa berdampak pada penurunan kualitas psikologis manusia. Misalnya hal-hal yang terselubung antara mitos dan fakta, hingga menjadi penyakit sosial. Misalnya hal-hal yang akan terjadi dengan kondisi-kondisi menakutkan, kemudian menjadi trauma sosial. Seperti munculnya skizofrenia, distopia, dan lainnya. [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor; Adnyana Ole

BACA puisi dan esai lain dari penulis VITO PRASETYO

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan
Sastra dalam Stereotip Modern
Tags: Pendidikantrauma sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Next Post

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat  Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! -- Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co