5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
April 19, 2025
in Esai
Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

PEMAHAMAN dan penguasaan literasi pada masa kini, menjadi bagian penting dari perubahan zaman. Seyogianya, penguatan dan edukasi literasi tidak hanya bergantung pada lembaga pendidikan formal. Tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sepele, mengingat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu deras. Kemajuan iptek ini menjadi pergerakan simultan yang membawa dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Sementara, gejala yang muncul kian menggerus akar-akar literasi kita. Benarkah kita sedang mengalami darurat literasi?

Apakah karena pemahaman dan penguasaan literasi di masyarakat begitu rendah, sehingga komunikasi dan informasi di pelbagai sektoral, sering mengalami interaksi sosial yang salah? Lantas, bagaimana kalau ini terjadi di dunia pendidikan? Maka tentu akan berimbas pada kehidupan sosial, meski ini begitu subjektif dan tidak bisa dijadikan ukuran normatif. Tidak bisa lagi, kita hanya mengandalkan lembaga pendidikan semata, demi mencukupi kebutuhan literasi kepada anak. Harus ada cara inklusif (termasuk keseluruhan) untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab sosial.

 Tentu kita sangat prihatin, dengan meningkatnya jumlah kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Apakah nilai-nilai budaya semakin terkikis, hingga menjadi dampak sebab-akibat dari persoalan ini. Tentu banyak aspek yang memengaruhi kasus-kasus semacam ini. Tetapi persoalan penting yang kita hadapi adalah meluruskan tujuan pendidikan demi terwujudnya cita-cita mencerdaskan anak bangsa.

Bergesernya tantangan zaman, tentu membawa perubahan dalam etika dan estetika sosial. Ini akan memunculkan gesekan-gesekan teori, yang berpotensi pada aspek budaya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa budaya (termasuk tradisi lokal) menjadi fundamen dalam membangun kerangka kebangsaan. Apakah sejauh ini nilai-nilai dasar dari cerminan kehidupan sosial tetap terawat, sesuai dengan diksi norma-norma falsafah negara! Atau karena konsepsi pemikiran manusia dihadapkan pada situasi yang lebih kritis? Kian derasnya arus utama (mainstream) globalisasi yang memicu tumbuhnya karakter-karakter baru.

Jika kita telisik persoalan-persoalan sosial, ada banyak residu membekas dan menumpuk  yang kemudian memunculkan persoalan baru. Sehingga salah satu dampak sosial, sangat rentan dengan kondisi psikologis yang membenturkan karakter lingkungan. Antara pendidik dan peserta didik; antara lingkungan formal dengan lingkungan non-formal yang memiliki basis karakter berbeda. Maka disini, makna tekstual dari pengurangan kekerasan (moderasi) harus ada titik temu.

Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan bermartabat, kita juga membutuhkan ekonomi yang kuat. Apakah pendidikan bermartabat itu bisa tumbuh secara alami, dan membiarkan larut dalam proses alam yang mampu mengatasi problematik dari transformasi, transisi dan edukasi dalam sistem pendidikan? Tentu tidak! Konteks ini tentu membutuhkan penataan instrumen infrastruktur dan suprastruktur yang berbasis anggaran, serta regulasi yang bagus.

Persoalan yang dihadapi dan terus mengganjal, adalah bagaimana sistem pendidikan berjalan sesuai dengan fungsinya dan asas-asasnya. Di sini tentu harus ada metode dan konsep desain yang bagus agar nilai-nilai pendidikan tetap berada pada pilihan-pilihan yang melahirkan konsep-konsep budaya. Ada stigma, bahwa kehilangan bahasa akan berdampak pada hilangnya tradisi (budaya). Jika tradisi hilang, itu artinya nilai-nilai sosial pendidikan tidak lagi bermartabat. Penawaran konsep deep learning harus diartikan sebagai sebuah cara atau metode yang menjadi alat bantu dalam pendidikan. Bukan instrumen yang sejajar dengan kurikulum.

Dalam profesi keguruan, tentu hal-hal terkait kekerasan harus dihindari dan ditekan seminimal mungkin, mengingat lembaga pendidikan formal selalu dianalogikan sebagai tempat untuk melahirkan kaum intelektual dan berakhlak. Sungguh ironis dan miris, jika angka kekerasan di lingkungan pendidikan terus meningkat. Munculnya skeptisisme dengan alibi pembenaran akibat transformasi peradaban yang kian maju. Sehingga esensi peradaban menjadi ambivalen maknanya.

Dengan berbagai kasus per kasus yang terjadi, muncul pertanyaan apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kini? Persoalan ini tentu harus dilihat dalam perspektif luas. Tidak semata karena sistem pendidikan berbasis kurikulum kemudian dianggap biang masalah, tanpa ada analisis sebab-akibat yang konkret. Jika kita mengamati perubahan ini, adanya gejala sosial yang menjadi efek negatif pertentangan tanpa disadari oleh masyarakat pengguna sosial media. Hampir setiap hari kita temukan fenomena sosial yang buruk. Tidak jarang terjadi pertengkaran dalam jejaring sosial, yang disebabkan karena kedua belah pihak tidak paham dengan apa yang dipertentangkan. Sebagian besar masyarakat masih rendah dalam memahami literasi digital yang digunakan dalam berinteraksi.

Masyarakat begitu mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang tidak valid dan tidak akurat. Situasi ini terus berjalan tanpa ada edukasi yang baik. Persoalan ini akan terus berlangsung, jika tidak ada penanganan yang tepat dan lebih serius. Fenomena sosial yang senantiasa menggerus akar-akar tradisi, akan menimbulkan kerusakan budaya. Maka, diperlukan sinergitas kuat antara pendidikan formal dan non-formal. Harus ada keseimbangan, dan tidak semata-mata semua beban tanggung jawab dibebankan kepada lembaga pendidikan formal. Di sini, peran keluarga dan lingkungan sosial juga memengaruhi tujuan yang diinginkan. Terjadinya trauma sosial itu karena beberapa faktor yang berjalan mengiringinya.

Munculnya fenomena baru pada jejaring sosial, yang seolah-olah menjadi tradisi kesehari-harian, di mana kerap kali terjadi pertengkaran antara kedua belah pihak yang sama-sama tidak paham dengan akar permasalahannya. Masing-masing tidak memiliki kemampuan analisis sebab-akibat tentang apa yang dipertentangkan. Meski ini sangat prismatik jika diasumsikan sebagai tradisi.

Dalam edukasi pengetahuan, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam memahami literasi digital. Bisa jadi, ini salah satu faktor yang memengaruhinya. Kemudian menjadi sebuah simpulan-simpulan individu sebagai alibi pembenaran. Dan pada titik tertentu, menggumpal menjadi residu sosial, yang berpotensi menggerus akar-akar edukasi. Khususnya untuk memperkuat simpul-simpul literasi.

Sejatinya metode pembelajaran bermuara pada aspek-aspek pedagogis dan penilaian. Yang harus diingat adalah fokus pada pengembalian pendidikan yang bermartabat, tidak semata-mata kualitas materi pelajaran (kognitif). Sebab pembentukan karakter positif bagi peserta didik juga harus sejalan dan sejajar. Apakah memang ada yang salah dalam kurikulum pendidikan, sehingga sampai kini terus memicu polemik yang tidak kunjung selesai.

Maka, jika ditelisik secara sederhana, harus ada penanganan yang serius (preventif), terhadap tumbuhnya trauma sosial. Mungkin diperlukan sebuah kebijakan yang cukup radikal, tidak sekadar terjebak dalam sebuah revolusi logika. Pembatasan penggunaan jejaring sosial bagi peserta didik, dan mengalihkan perhatian pendidikan yang berbasis kemampuan literasi, untuk kembali pada konsep tekstual (buku cetak), agar peserta didik mampu membentuk karakter pribadinya secara alamiah. Tidak bergantung pada pembentukan karakter yang hanya berorientasi pada identifikasi sosial.

Tentu hal ini perlu kajian dan riset mendalam, mengingat kemajuan iptek sebagai pemicu kehidupan sosial tidak bisa dikendalikan secara drastis. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya juga membawa virus-virus baru yang bisa berdampak pada penurunan kualitas psikologis manusia. Misalnya hal-hal yang terselubung antara mitos dan fakta, hingga menjadi penyakit sosial. Misalnya hal-hal yang akan terjadi dengan kondisi-kondisi menakutkan, kemudian menjadi trauma sosial. Seperti munculnya skizofrenia, distopia, dan lainnya. [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor; Adnyana Ole

BACA puisi dan esai lain dari penulis VITO PRASETYO

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan
Sastra dalam Stereotip Modern
Tags: Pendidikantrauma sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Next Post

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat  Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! -- Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co