2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
April 19, 2025
in Esai
Pendidikan Bermartabat untuk Mengatasi Trauma Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

PEMAHAMAN dan penguasaan literasi pada masa kini, menjadi bagian penting dari perubahan zaman. Seyogianya, penguatan dan edukasi literasi tidak hanya bergantung pada lembaga pendidikan formal. Tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sepele, mengingat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu deras. Kemajuan iptek ini menjadi pergerakan simultan yang membawa dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Sementara, gejala yang muncul kian menggerus akar-akar literasi kita. Benarkah kita sedang mengalami darurat literasi?

Apakah karena pemahaman dan penguasaan literasi di masyarakat begitu rendah, sehingga komunikasi dan informasi di pelbagai sektoral, sering mengalami interaksi sosial yang salah? Lantas, bagaimana kalau ini terjadi di dunia pendidikan? Maka tentu akan berimbas pada kehidupan sosial, meski ini begitu subjektif dan tidak bisa dijadikan ukuran normatif. Tidak bisa lagi, kita hanya mengandalkan lembaga pendidikan semata, demi mencukupi kebutuhan literasi kepada anak. Harus ada cara inklusif (termasuk keseluruhan) untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab sosial.

 Tentu kita sangat prihatin, dengan meningkatnya jumlah kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Apakah nilai-nilai budaya semakin terkikis, hingga menjadi dampak sebab-akibat dari persoalan ini. Tentu banyak aspek yang memengaruhi kasus-kasus semacam ini. Tetapi persoalan penting yang kita hadapi adalah meluruskan tujuan pendidikan demi terwujudnya cita-cita mencerdaskan anak bangsa.

Bergesernya tantangan zaman, tentu membawa perubahan dalam etika dan estetika sosial. Ini akan memunculkan gesekan-gesekan teori, yang berpotensi pada aspek budaya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa budaya (termasuk tradisi lokal) menjadi fundamen dalam membangun kerangka kebangsaan. Apakah sejauh ini nilai-nilai dasar dari cerminan kehidupan sosial tetap terawat, sesuai dengan diksi norma-norma falsafah negara! Atau karena konsepsi pemikiran manusia dihadapkan pada situasi yang lebih kritis? Kian derasnya arus utama (mainstream) globalisasi yang memicu tumbuhnya karakter-karakter baru.

Jika kita telisik persoalan-persoalan sosial, ada banyak residu membekas dan menumpuk  yang kemudian memunculkan persoalan baru. Sehingga salah satu dampak sosial, sangat rentan dengan kondisi psikologis yang membenturkan karakter lingkungan. Antara pendidik dan peserta didik; antara lingkungan formal dengan lingkungan non-formal yang memiliki basis karakter berbeda. Maka disini, makna tekstual dari pengurangan kekerasan (moderasi) harus ada titik temu.

Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan bermartabat, kita juga membutuhkan ekonomi yang kuat. Apakah pendidikan bermartabat itu bisa tumbuh secara alami, dan membiarkan larut dalam proses alam yang mampu mengatasi problematik dari transformasi, transisi dan edukasi dalam sistem pendidikan? Tentu tidak! Konteks ini tentu membutuhkan penataan instrumen infrastruktur dan suprastruktur yang berbasis anggaran, serta regulasi yang bagus.

Persoalan yang dihadapi dan terus mengganjal, adalah bagaimana sistem pendidikan berjalan sesuai dengan fungsinya dan asas-asasnya. Di sini tentu harus ada metode dan konsep desain yang bagus agar nilai-nilai pendidikan tetap berada pada pilihan-pilihan yang melahirkan konsep-konsep budaya. Ada stigma, bahwa kehilangan bahasa akan berdampak pada hilangnya tradisi (budaya). Jika tradisi hilang, itu artinya nilai-nilai sosial pendidikan tidak lagi bermartabat. Penawaran konsep deep learning harus diartikan sebagai sebuah cara atau metode yang menjadi alat bantu dalam pendidikan. Bukan instrumen yang sejajar dengan kurikulum.

Dalam profesi keguruan, tentu hal-hal terkait kekerasan harus dihindari dan ditekan seminimal mungkin, mengingat lembaga pendidikan formal selalu dianalogikan sebagai tempat untuk melahirkan kaum intelektual dan berakhlak. Sungguh ironis dan miris, jika angka kekerasan di lingkungan pendidikan terus meningkat. Munculnya skeptisisme dengan alibi pembenaran akibat transformasi peradaban yang kian maju. Sehingga esensi peradaban menjadi ambivalen maknanya.

Dengan berbagai kasus per kasus yang terjadi, muncul pertanyaan apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kini? Persoalan ini tentu harus dilihat dalam perspektif luas. Tidak semata karena sistem pendidikan berbasis kurikulum kemudian dianggap biang masalah, tanpa ada analisis sebab-akibat yang konkret. Jika kita mengamati perubahan ini, adanya gejala sosial yang menjadi efek negatif pertentangan tanpa disadari oleh masyarakat pengguna sosial media. Hampir setiap hari kita temukan fenomena sosial yang buruk. Tidak jarang terjadi pertengkaran dalam jejaring sosial, yang disebabkan karena kedua belah pihak tidak paham dengan apa yang dipertentangkan. Sebagian besar masyarakat masih rendah dalam memahami literasi digital yang digunakan dalam berinteraksi.

Masyarakat begitu mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang tidak valid dan tidak akurat. Situasi ini terus berjalan tanpa ada edukasi yang baik. Persoalan ini akan terus berlangsung, jika tidak ada penanganan yang tepat dan lebih serius. Fenomena sosial yang senantiasa menggerus akar-akar tradisi, akan menimbulkan kerusakan budaya. Maka, diperlukan sinergitas kuat antara pendidikan formal dan non-formal. Harus ada keseimbangan, dan tidak semata-mata semua beban tanggung jawab dibebankan kepada lembaga pendidikan formal. Di sini, peran keluarga dan lingkungan sosial juga memengaruhi tujuan yang diinginkan. Terjadinya trauma sosial itu karena beberapa faktor yang berjalan mengiringinya.

Munculnya fenomena baru pada jejaring sosial, yang seolah-olah menjadi tradisi kesehari-harian, di mana kerap kali terjadi pertengkaran antara kedua belah pihak yang sama-sama tidak paham dengan akar permasalahannya. Masing-masing tidak memiliki kemampuan analisis sebab-akibat tentang apa yang dipertentangkan. Meski ini sangat prismatik jika diasumsikan sebagai tradisi.

Dalam edukasi pengetahuan, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam memahami literasi digital. Bisa jadi, ini salah satu faktor yang memengaruhinya. Kemudian menjadi sebuah simpulan-simpulan individu sebagai alibi pembenaran. Dan pada titik tertentu, menggumpal menjadi residu sosial, yang berpotensi menggerus akar-akar edukasi. Khususnya untuk memperkuat simpul-simpul literasi.

Sejatinya metode pembelajaran bermuara pada aspek-aspek pedagogis dan penilaian. Yang harus diingat adalah fokus pada pengembalian pendidikan yang bermartabat, tidak semata-mata kualitas materi pelajaran (kognitif). Sebab pembentukan karakter positif bagi peserta didik juga harus sejalan dan sejajar. Apakah memang ada yang salah dalam kurikulum pendidikan, sehingga sampai kini terus memicu polemik yang tidak kunjung selesai.

Maka, jika ditelisik secara sederhana, harus ada penanganan yang serius (preventif), terhadap tumbuhnya trauma sosial. Mungkin diperlukan sebuah kebijakan yang cukup radikal, tidak sekadar terjebak dalam sebuah revolusi logika. Pembatasan penggunaan jejaring sosial bagi peserta didik, dan mengalihkan perhatian pendidikan yang berbasis kemampuan literasi, untuk kembali pada konsep tekstual (buku cetak), agar peserta didik mampu membentuk karakter pribadinya secara alamiah. Tidak bergantung pada pembentukan karakter yang hanya berorientasi pada identifikasi sosial.

Tentu hal ini perlu kajian dan riset mendalam, mengingat kemajuan iptek sebagai pemicu kehidupan sosial tidak bisa dikendalikan secara drastis. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya juga membawa virus-virus baru yang bisa berdampak pada penurunan kualitas psikologis manusia. Misalnya hal-hal yang terselubung antara mitos dan fakta, hingga menjadi penyakit sosial. Misalnya hal-hal yang akan terjadi dengan kondisi-kondisi menakutkan, kemudian menjadi trauma sosial. Seperti munculnya skizofrenia, distopia, dan lainnya. [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor; Adnyana Ole

BACA puisi dan esai lain dari penulis VITO PRASETYO

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan
Sastra dalam Stereotip Modern
Tags: Pendidikantrauma sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Next Post

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat  Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! -- Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co