26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
April 15, 2025
in Opini
Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MENYOROTI berbagai peristiwa di Bali belakangan ini, utamanya soal kemacetan dan masalah-masalah sosial lainnya, mendapat tanggapan di media sosial yang kalau diperhatikan bisa membuat kita mengelus dada. Pasalnya, walaupun tidak semua, tapi seringkali masalah-masalah itu dikomentari dengan unsur SARA.

Pengguna Medsos, dengan latar belakang dan usia yang berbeda, dengan mudah men-judge kejadian-kejadian itu dengan mengaitkan pelaku dengan latar suku dan agama tertentu. Dan akan mendapat respon yang berbeda ketika kejadian yang kebetulan pelakunya bagian dari umat mayoritas di Bali.

Kejadian yang cukup viral terakhir, saat video Hari Raya Nyepi di kampung Loloan, Jembrana, beredar di medsos. Hujatan dan cacian memenuhi kolom-kolom komentar. Apalagi beberapa pejabat turut me-repost video tersebut dengan narasi yang agitatif dan propaganda.

Namun, terlepas dari bagaimana kejadian yang sebenarnya, menarik untuk diperhatikan respon Bupati dan Wakil Bupati Jembrana yang justru “membela” komunitas Muslim di Kampung Loloan.

Paling tidak ada dua alasan kenapa respon dari pemimpin di Jembrana itu jadi menarik.

Pertama, karena responsif sebagai Pimpinan Daerah untuk membela warganya ketika dihujat habis-habisan oleh netizen se-Bali. Pembelaan ini tentu sebagai upaya peredaman konflik yang mungkin bisa terjadi secara lebih terbuka, karena yang akan hidup sehari-hari adalah warga Jembrana, bukan mereka yang menghujat di luar Jembrana.

Bahkan hujatan netizen diarahkan ke Bupati dan Wakil Bupati sampai pada hal yang personal. Secara pribadi, saya salut dengan dua pimpinan Jembrana ini, rela menjadi tameng untuk warganya dengan tidak melihat latar agama tertentu. Membela di sini bukan membenarkan kejadian tersebut, tapi mereka berdua ingin menyelesaikan dengan kearifan lokal Jembrana.

Kedua, dua pimpinan ini yang asli putra daerah, sejak kecil bergaul dengan berbagai komunitas Muslim di Bali Barat. Mereka tahu betul bagaimana Muslim di Jembrana ini berkembang bukan baru setahun dua tahun, tapi sudah ratusan tahun.

Muslim Loloan, dan Jembrana secara umum tidak mengenal istilah Mudik saat lebaran, kenapa? Karena mereka sudah turun temurun lahir di Bali. Tindakan mereka berdua sebagai penguasa di Jembrana, juga sebagai kelanjutan dari penguasa zaman kerajaan kepada Muslim.

Bagaimana kebijakan Raja-raja di Bali dulu terhadap umat Muslim?

Nengah Bawa Atmadja dalam bukunya “Genealogi Keruntuhan Majapahit; Islamisasi, Toleransi dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali (2010), Pada Abad ke 16 dan Setelahnya”, Raja-raja di Bali menerapkan kebijakan yang disebut dengan Politik Karantinaisasi bagi penduduk Muslim.

Ada beberapa alasan dengan kebijakan ini:

Pertama untuk mencegah timbulnya konflik antara penduduk Islam dengan Hindu Bali yang disebabkan oleh latar belakang perbedaan agama dan kebudayaan.

Kedua, meminimalisir kemungkinan adanya Islamisasi yang dilakukan oleh umat Islam terhadap orang Bali.

Ketiga, memeberikan rasa aman secara sosiologis, kultural, keagamaan, dan psikologis sebab dalam perkampungan yang berpola karantinaisasi, mereka (Muslim) dapat mengembangkan identitasnya secara bebas tanpa didominasi maupun dihegemoni oleh etnik Bali.

Keempat, etnik Bali Hindu yang berada di sekitarnya bisa mempertahankan identitasnya, tanpa ada perasaan dirongrong oleh Islam.

Kebijakan kerajaan seperti ini adalah jalan tengah ketika Raja tidak bisa sepenuhnya menghadang Muslim. Sebab tenaga-tenaga Muslim bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kerajaan, seperti kontak perdagangan dengan kerajaan di luar Bali, juga sebagai pasukan utama saat terjadi peperangan. Penguasa saat itu berupaya untuk tidak tejadi benturan pada ranah kultural, tapi memiliki kesetiaan yang sama saat struktural kerajaan memanggil.

Dengan begitu, terbentuklah perkampungan Muslim seperti Loloan di Jembrana, Pegayaman di Buleleng, Kepaon dan Serangan di Denpasar, dan Gelgel di Klungkung.

Kembali pada kejadian di Kampung Loloan, mereka sudah terbiasa, sebagaimana kampung-kampung muslim lainnya di Bali,  saat Hari Raya Nyepi menutup perbatasan perbatasan kampung agar warga tidak keluar ke kampung Hindu di kanan kirinya. Jadi tindakan menutup kampung ini adalah untuk menghormati saudara Hindu yang sedang beribadah.

Kenapa tidak diam di rumah? Karena di dalam kampung semuanya beragama Islam, sehingga tidak ada yang merasa diganggu ketika keluar rumah.

Kenapa baru dipermasalahkan sekarang? Sebenarnya bukan dipermasalahkan, tapi karena video yang disebar melalui medsos dengan narasi yang liar, membuat netizen turut menghujat. Karena model kampung tua seperti Loloan, tidak bisa disamakan dengan model pemukiman modern yang lintas etnik dan agama. Bagi mereka yang paham akan kesejarahan ini, tidak akan serta menghujat, karena masing masing wilayah memiliki kearifan lokal, dengan pendekatan penyelesaian secara lokal pula.

Kedepan, ancaman narasi egosentris dan propaganda berbasis SARA sepertinya masih terus mengemuka. Banyak yang mengatakan permasalahan utama sebenarnya adalah ruang ekonomi yang semakin kompetitif, sehingga isu “penduduk asli” versus “pendatang” dimunculkan, yang berarti “asli” yang berhak dan “pendatang” tidak berhak. Dan hampir semua permasalahan di Bali, kalau lihat di kolom komentar medsos, diarahkan kepada pendatang. Jika diartikan lebih khusus lagi, “asli” adalah Hindu dan “pendatang” adalah Islam.

Jika narasi seperti ini terus mengemuka, keharmonisan kedua agama yang sudah terjalin ratusan tahun, akan terkoyak oleh generasi yang tidak mengenal masa lalu. Semoga saja tidak. [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali
Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan
Tags: Hari Raya NyepiIslam di BalijembranaKampung Loloan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Next Post

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co