6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Wayan Paing by Wayan Paing
February 2, 2018
in Opini

Foto: Kardian Narayana

.
BATUK bukan kata yang mengejutkan. Kita terbiasa dengar batuk dan mengalami batuk. Karena terbiasa batuk bukanlah hal yang bikin panik, justru memberi petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan.

Jika batuk mendera anak kita dalam rentang waktu yang lama, mungkin muncul rasa khawatir. Namun situasi itu masih dapat dikatakan sesuatu yang normal dan wajar. Cemas kadang dibutuhkan agar kita tetap merasa waspada.

Ketika mendengar kata Gunung Agung “batuk-batuk”, beragam tanggapan dan ekspresi muncul. Tentu karena banyak dari kita belum tahu dan belum terbiasa sehingga tak tahu apa yang harus kita lakukan.

Ketika gunung terbesar di Pulau Bali itu mulai menunjukkan aktivitas, dengan gejala erupsi berupa gempa yang tak berkesudahan, masyarakat yang berlokasi dekat dengan puncak Gunung Agung mulai merasa resah. Karena sebagian besar dari warga di sekitar gunung itu baru pertama kali mengalaminya.

Keresahan tersebut diperparah oleh asap dan abu kebakaran di lereng gunung yang disangka abu vulkanis. Salah sangka itu memicu kepanikan yang luar biasa. Bukan hanya masyarakat awam, pihak-pihak pengambil keputusan pun terkesan kelabakan.

Begitu dinyatakan status keaktifan Gunung Agung meningkat ke level awas, masyarakat jadi kalang kabut. Gema kepanikan begitu terasa di seantero Karangasem bahkan seluruh Bali. Banyak warga berebut keluar dari wilayah yang dianggap berbahaya dengan melajukan mobil dan sepeda motor.

Bersamaan pula ada upaya sanak famili di luar zona berbahaya menjemput saudaranya yang berada di kawasan berbahaya. Ini menyebabkan jalan-jalan menjadi macet parah oleh lalu-lalang kendaraan. Belum lagi kejadian tersebut terjadi di malam hari.

Tentu saja kita menanggapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Semua manusia punya naluri dan usaha untuk menyelamatkan diri dari bencana. Secara alamiah semua manusia dan hewan melakukan tindakan tersebut.

Yang kemudian menjadikannya tidak wajar adalah ketika usaha untuk menyelamatkan diri itu malah membahayakan diri juga. Kemacetan dan resiko mobilitas yang tergesa-gesa tidak kurang dampak buruknya dari bencana yang hendak dihindari.

Di samping itu, masyarakat yang berada di zona aman ikut-ikutan panik. Ada beberapa daerah yang direkomendasikan sebagai tempat evakuasi jika erupsi terjadi, malah masyarakatnya ikut mengungsi. Para pengungsi yang datang dari daerah yang benar-benar rawan menjadi bingung setibanya di tempat relokasi. Penyebabnya, walau dinyatakan aman, melihat masyarakat tempat tersebut ikut mengungsi, menimbulkan keraguan, apakah tempat yang direkomendasikan tersebut benar-benar aman atau tidak.

Hal ini diperparah oleh media sosial. Media yang seyogyanya membantu dalam mempercepat akses penyebaran informasi yang baik, malah menjadi bagian dari pemicu kepanikan itu sendiri. Berita-berita hoax beredar. Dan tak henti-hentinya pula, sentuhan share merajalela. Dalam hitungan detik puluhan bahkan ratusan berita yang tidak benar beredar. Panik dan panik adalah satu-satunya hal yang kemudian tercipta.

Tanpa berusaha mencari kambing hitam di tengah kepanikan tersebut, tidak ada salahnya jika momen ini dijadikan pijakan untuk mulai berbenah. Seorang pakar pendidikan bahkan sudah mengusulkan agar materi mengenai bencana mulai dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

Tujuannya, agar kita semua mengenal dan membiasakan diri berhadapan dengan bencana alam yang selalu mengancam di sekitar kita. Bukan hanya mengenai bencana Gunung Agung yang efeknya tentu saja paling besar, tapi juga bencana-bencana yang kerap terjadi. Longsor, pergerakan tanah, banjir, dan angin puting beliung adalah sedikit contohnya.

Pertanyaan kemudian muncul adalah bukankah informasi mengenai bencana erupsi Gunung Agung sudah banyak yang tersebar luas? Banyak berita, foto, video dan bahkan lontar mengenai dampak erupsi Gunung Agung terdahulu dengan gampang bisa diakses. Mulai dari media massa, elektronik dan media sosial, setiap saat dan di setiap tempat bisa kita dapatkan dengan mudah. Apakah ini belum cukup?

Tentu saja kita tidak bisa mengelak. Dari banyaknya sumber dan media yang ada, semua itu bisa dikatakan cukup. Masalahnya adalah kita mendapatkan informasi mengenai hal tersebut setelah bencana begitu dekat dan kepanikan terlanjur terjadi. Atau dengan kata lain kita baru berusaha mendapatkan pemahaman mengenai dampak erupsi Gunung Agung setelah ancaman erupsi tersebut tersaji di depan mata kita.

Belum lagi minat baca masyarakat masih amat rendah. Jangankan lontar, bahkan buku-buku cerita bergambar yang biasa berisi informasi-informasi tentang pengetahuan gunung api jarang dibaca. Buku-buku semacam itu sudah banyak beredar. Tapi, mau apa lagi, kita mungkin akan membaca ketika bencana sudah begitu dekat, saking dekatnya justru membacapun tak akan sempat.

Pada saat luang saja kita jarang membaca, apalagi pada saat panik.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan menimpa generasi-generasi kita ke depan. Perlu adanya upaya sistematis yang dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar. Dengan pemahaman yang benar, cara yang diambil dalam menghadapi bencana akan lebih baik dan “kepanikan yang sia-sia” tidak lagi terjadi.

Beranjak dari itu, tentunya tidak berlebihan jika budaya literasi, budaya membaca, budaya berpikir, makin digalakkan. Jangan hanya membaca label di minimarket tentang kenaikan harga-harga barang, tapi baca juga tentang ilmu alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

Selain itu, dengan pengalaman ini, upaya untuk membuat kajian dan analisis tertulis mengenai dampak dan upaya-upaya penyelamatan diri jika Gunung Agung meletus segera diupayakan. Istilahnya mungkin bisa dikerenkan, yakni upaya literasi erupsi Gunung Agung dari masa ke masa perlu disusun.

Hasil dari literasi inilah yang harus disebarkan dan diwariskan kepada generasi agar kebal dalam menghadapi bencana. Agar upaya menyelamatkan diri ketika bencana itu terjadi bukan merupakan tindakan yang malah membahayakan diri.

Lalu, Gerakan Literasi Nasional, khususnya di Bali, apa kabar? Jika kabarnya masih belum jelas, maka gerakan itu sebaiknya digenjot terus, terutama gerakan membaca tentang cerita-cerita alam bagi warga yang berada di daerah-daerah yang berisiko terkena bencana alam.

Membaca bisa menyelamatkan diri dari ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan bisa menimbulkan kepanikan, dan kepanikan bisa menimbulkan kesalahan dalam melangkah dan menyelamatkan diri. (T)

Tags: erupsiGunung AgungLiterasi
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Nunung Noor El Niel# Puisi: Jemari Waktu, Igauan Selembar Daun

Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co