25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 22, 2025
in Cerpen
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

POHON ASAM JAWA itu dikenal sebagai pohon yang angker oleh penduduk sekitar. Tak seorang pun manusia yang nekad lewat di bawahnya pada tengah malam. Apalagi ketika malam purnama kedua belas sampai kelima belas. Konon ada yang pernah bilang kalau ada penjual bakso keliling, Pak Paijo namanya. Malam itu, Pak Paijo baru mau pulang habis dari menjajakan dagangan baksonya. Tapi, pas lewat di bawah pohon itu, ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya.

“Pak Jo, baksonya, Pak Jo!” suara seorang perempuan.

Pak Paijo yang malam itu dagangan baksonya masih tinggal separo pun berhenti karena ada orang yang mau membeli. Hati laki-laki paro baya itu girang tak kepalang. Paling tidak malam ini harus balik modal. Sebab akan banyak tagihan yang harus ia lunasi bulan ini. Lalu laki-laki itu menghentikan gerobak dorongnya tepat di bawah pohon tersebut. Tak lama setelah itu, ada seorang gadis yang sangat cuantik berbaju putih panjang sampai mata kaki dan rambutnya juga panjang. Gadis itu menghampiri Pak Paijo sambil membawa mangkuk beling. Tanpa merasa curiga, pedagang bakso itu melayani gadis itu. Padahal kondisi jalan kampung malam itu sepi sekali. Tak ada seorang pun penarik becak yang standby di dekat simpang jalan tersebut.

“Wangi banget, Mbak,” ramah Pak Paijo mengajak gadis itu ngobrol untuk menikam sepi.

“Iya, Pak, baru pulang dari pesta pernikahan,” jawab itu gadis ramah pula.

Pak Paijo yang habis meletakkan cilok daging, siomay goreng, mi bulat, saus, kecap asin dan sayur seledri di mangkuk, lantas menuangkan kuah kaldu yang diambil dari dandang besar yang menguapkan asap.

“Dari tadi saya sudah menunggu Pak Jo lewat. Saya mencoba menunggu tukang bakso yang lain, tapi nggak ada yang lewat sini.”

“Mereka lewatnya muter, Mbak.”

“Oh ya? Kenapa, Pak?”

“Katanya mereka habis diganggu sama Kuntilanak yang nungguin pohon ini,” jawab Pak Jo.

“Benarkah? Mana ada kuntilanak di sini, Pak. Buktinya saya sama sekali nggak takut keluar rumah sendirian ke sini.”

“Oh iya, kayaknya saya baru pertama kali melihat mbak. Mbak warga baru ya? Tapi kok kenal sama saya?”

“Saya sudah lama tahu kalau Pak Jo jualan bakso keliling,” ujar gadis itu.

“Oh ya? Memangnya mbaknya tinggal di mana?” Pak Jo menyerahkan mangkuk pada gadis itu.

“Di sini.”

“Di mana?”

“Di atas pohon asam ini.”

“Berarti mbak kun… kuntil… kuntilanak!”

“Iya. Hihihihihihihi… Hihihihihihi.” Kuntilanak itu terkikik-kikik. Dan Pak Paijo yang melihat kuntilanak itu terbang ke atas pohon, langsung kabur terbirit-birit meninggalkan gerobak baksonya.

Sejak itulah kuntilanak penunggu pohon asam jawa itu terkenal sehingga membuat ‘rumah’nya menjadi angker dan tak ada seorang pun yang berani lewat.

Selain dihuni oleh sosok kuntilanak cantik, pohon tersebut juga dihuni oleh sosok pocong yang sering berdiri di tengah jalan. Kadang ia keluar pada jam-jam sekitar pukul dua dini hari. Adalah Mbah Supik manusia yang sering melihatnya. Pocong tersebut tidak loncat-loncat macam di film bioskop, atau ngesot melainkan terbang. Setelah terbang ia akan berdiri di tengah jalan untuk menakut-nakuti orang yang menuju pasar. Tapi sejak seringnya pocong meneror warga, jadi tukang becak yang mengantar penjual sayur atau buah ke pasar memilih jalan memutar.

Sejak pamornya naik daun sebagai pohon paling angker di kampung, pohon asam tersebut pun mengalahkan tempat-tempat paling keramat lainnya. Konon lagi, pohon tersebut memang angker dari dulu pada masa penjajahan Belanda. Penghuninya lagi, selain kedua penghuni di depan tadi juga ada Bujuk Parseh. Bujuk Parseh adalah sosok jin yang memiliki tubuh setinggi 20 meter dan bisa menyusut sampai sekecil batang korek api. Ia memiliki mata merah, berbulu lebat, sepasang tanduk, dan taring yang runcing. Ia sering muncul pas malam Jumat Legi. Dan untuk membujuk Bujuk Parseh tak mengamuk, kadang ada warga kampung yang meletakkan sesaji di bawah pohon tersebut.

“Apa ini?” kata Rido, anak Pak Paijo saat melihat aneka tujuh macam jenis jajanan pasar, nasi putih dan telur rebus serta kemenyan.

***

Malam harinya, Rido menjerit-jerit sambil kejang-kejang. Ayahnya, Pak Paijo dan istrinya tampak ketakutan disertai kepanikan melihat anaknya macam kerasukan setan. Oleh Pak RT, sebaiknya Rido dibawa ke rumahnya Mbah Sudadi.

“Saya yakin kalau Rido itu ketempelan Bujuk Parseh, Pak Jo,” ujar Pak RT berpendapat.

“Benarkah, Pak RT?” Pak Paijo agak ragu.

“Coba saja sampeyan bawa berobat ke rumahnya Mbah Sudadi. Siapa tahu benar ketempelan,” kata Pak RT lagi berspekulasi.

Mbah Sudadi atau orang-orang kampung sering memanggilnya Ki Sudadi adalah seorang dukun terkenal. Konon, dulu, ia pernah mendapat hadiah dari Bujuk Parseh berupa keris keramat seukuran jari telunjuk. Ia juga pernah mendapat batu akik kecubung hijau saat sedang tirakat dekat pohon asam itu. Pernah juga ia telah berhasil mengambil tali pocong dari pocong penghuni pohon, dan bulu milik kuntilanak (entah bulu bagian mana). Kepada orang-orang ia mengatakan bahwa pohon asam jawa peninggalan Belanda itu sangat angker karena dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang diketuai oleh Bujuk Parseh. Karena Ki Sudadi telah dianggap memiliki penerawangan yang bisa menembus alam setan dan jin, maka mereka pun mengimaninya bahkan sering minta tolong pada laki-laki tua tersebut.

“Assalamualaikum.” Ki Sudadi mengucap salam pada makhluk yang merasuki tubuh Rido.

Tak ada jawaban. Rido malah mengamuk dan meronta-ronta mau melepaskan diri.

“Kenapa dengan anak saya, Ki?”

“Anak Pak Jo kerasukan rohnya Bujuk Parseh.”

Istri Pak Jo menangis.

“Apakah anak saya bisa disembuhkan, Ki?”

“Bisa. Tapi, kata Bujuk, beliau akan meninggalkan tubuh Rido asal sampeyan mau memberinya sesajen.”

Pak Jo pun menyetujui permintaan Bujuk Parseh. Sajennya antara lain, ayam panggang utuh, sayurannya urap-urap, telur rebus tujuh butir, nasi putih satu tampah, kopi, dua pak rokok cap Koboy atau tembakau dua tampang, dan dupa cap Dewa-Dewi. Lantas sajen tersebut diserahkan ke Ki Sudadi.

Entah percaya apa tidak, setelah dupanya dibakar oleh dukun berkedok ustadz itu, Rido pun sembuh. Dan sejak itu, orang-orang semakin mengeramatkan pohon asam jawa tersebut, dan juga kepada Ki Sudadi sebagai perantaranya.

Setelah sembuh, Rido mengajak temannya ke rumah Ki Sudadi untuk meminta tolong agar menemukan dompetnya yang hilang.

“Dompetnya warna apa, Nak?” tanya dukun yang katanya bisa menembus alam Nasut itu, tapi tidak tahu warna dompet yang hilang. Dunia ini memang aneh.

“Hitam, Mbah,” jawab Rido.

“Oh, dompetmu sudah ditemukan oleh orang lain, tapi diambilnya.”

Setelah minta tolong, kedua remaja itu pulang. Dan ketika sudah agak jauh dari rumah dukun kampung itu, Rido mengajak temannya duduk di pos ronda.

“Lha wong dompetku tidak hilang dibilang diambil orang.” Ia mengeluarkan dompet warna cokelat dari saku celananya.

“Jadi…”

“Iya. Jadi, dukun tadi bohong. Dia telah menipu banyak orang. Kenapa? Karena rata-rata orang Islam kampung ini pengetahuan agamanya dangkal. Dan rata-rata mereka banyak yang tidak sekolah.”

Terjadi keributan yang luar biasa saat ada orang dari kota hendak menumbangkan pohon asam jawa itu, karena rencananya mau menjadikan halaman rumah tua tersebut sebagai taman. Adalah Ki Sudadi yang memberinya peringatan agar jangan memotongnya sembarangan.

“Pohon ini adalah rumahnya Bujuk Parseh.”

“Siapa Bujuk Parseh, Pak?”

“Sosok yang diutus untuk menjaga kampung ini. Dia bilang kalau sampeyan nekad mau menebangnya, maka dia akan memberikan bala.”

“Allah saja tidak memberikan bala kepada manusia apalagi Bujuk, Pak.”

“Dasar sampeyan Salafi! Wahabi sampeyan kalau tidak percaya pada Bujuk Parseh!”

“Otoritasnya Bujuk Parseh itu setingkat apa, Pak? Nabi Muhammad?”

Mendidih kepala Ki Sudadi.

“Di atasnya Nabi Muhammad ada seorang utusan yang lebih tinggi lagi. Namanya Khalifatul fil ardhi.”

“Bukankah Khalifatul fil ardhi itu Nabi Muhammad, Pak? Jangan ngarang-ngarang, Pak.”

Muntab Ki Sudadi dengan orang itu.

Lalu, orang tersebut memanggil alat-alat berat untuk menggusur para makhluk antah-berantah yang menghuni pohon asam jawa itu tanpa izin.

***

Tapi apa yang terjadi?

Kampung kami tidak apa-apa. Tidak ada bala dari Bujuk Parseh yang katanya sangat marah karena ‘rumah’nya mau digusur. Tidak ada protes baik dari kuntilanak maupun pocong yang juga tidak memiliki surat izin tinggal di bumi. Setelah selesai ditebang hingga ke akar-akarnya, di tanah bekas pohon tua macam pohon gotik itu dibangun sebuah taman yang indah. Bahkan rumah gedong bekas peninggalan Belanda tersebut juga direnovasi hingga tak ada kesan seram lagi.

Bahkan setelah itu, jalan kampung kembali mulai dilewati oleh warga. Tidak hanya siang hari, juga ketika larut malam. Kenapa begitu? Sebab soal kuntilanak itu hanyalah karangan Pak Paijo. Begitu juga dengan pocong. Tak ketinggalan pula dengan Bujuk Parseh yang hanya tokoh fiktif karangan Ki Sudadi yang sejak dulu memang sering bujuk’i (mengibuli/ menipu dengan cara licik, Jawa) para warga yang tak berpendidikan, juga menghilang begitu saja.

Sementara Mbah Sudadi sendiri, sejak itu sudah mulai sepi tamu. Siang-malam ia membebat kepalanya dengan seutas kain. Karena makin sepi job, lelaki tua itu pun ditemukan di pinggir rel kereta api dalam keadaan tak bernyawa.

Lalu, apakah benar Rido telah kesurupan Bujuk Parseh? Ternyata tidak. Ia memang memiliki penyakit aneh macam orang ayan, dan ia akan kejang-kejang dalam waktu lima menit apabila penyakitnya kumat. [T]

2024

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Rencana Bermain

Next Post

Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co