26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
February 15, 2025
in Cerpen

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AKU memang remaja yang selalu terobsesi dengan mawar merah dan kupu-kupu. Mereka adalah bagian dari identitasku, motif mawar dan kupu-kupu menghiasi setiap pakaian yang kupakai, mulai dari gaun, kemeja, hingga jaket. Kamar tidurku pun tak kalah, dindingnya dihiasi lukisan kupu-kupu, sedangkan gorden dan sprei penuh dengan gambar mawar merah. Semua orang di sekitarku tahu, itulah aku: gadis yang hidup dalam dunia mawar dan kupu-kupu.

Namun, ada satu hal yang orang lain selalu anggap aneh tentangku, aku tidak pernah menyukai mawar asli, apalagi yang palsu. Setiap kali ada yang memberiku buket bunga mawar, aku merasa marah dan sedih bersamaan. Bagiku, mawar kering yang mati di tangkainya sendiri lebih terhormat daripada mawar yang harus layu di dalam vas. Sedangkan mawar palsu, menurutku, hal itu hanya kebohongan yang berbahaya. Mereka mungkin tak bernyawa, tetapi debu yang melekat pada mereka bisa membunuhku. Aku punya alergi debu yang parah, dan itu cukup untuk membuatku benci pada semua yang palsu.

Rumahku berada di atas bukit, dengan taman yang dipenuhi mawar merah yang tumbuh subur. Pada suatu sore yang sepi, aku duduk di teras belakang, menikmati mawar-mawarku yang hampir mekar sempurna. Saat itu, kakak laki-lakiku bergabung denganku. Hubungan kami tak terlalu akur, tetapi aku tahu dia sangat menyayangiku.

“Jangan terlalu terobsesi dengan mawar dan kupu-kupu. Coba cari hal lain yang bisa membuatmu bahagia,” nasihatnya.

“Bukankah aku tak pernah merepotkanmu?” tanyaku, merasa tersinggung.

“Justru aku ingin direpotkan. Aku ingin kamu mengandalkanku. Kita bisa pergi bersama, membeli buku atau bersepeda,” katanya dengan nada penuh perhatian.

“Tidak. Aku lebih suka di rumah. Aku nyaman di sini.”

Dia tersenyum kecil, lalu berkata, “Baik. Tapi jangan menyesal jika kelak aku menikah dan tinggal jauh darimu.”

Hatiku mencelos mendengar kata-katanya. Setelah itu, rasa cemas mulai menguasai diriku. Setiap kali perasaan itu muncul, aku merasa seperti ada yang mencabik-cabik dadaku, dan aku mulai menyakiti diri sendiri untuk mengecoh nyeri itu. Luka di tubuh terasa lebih ringan dibanding luka di hati.

Namun, lambat laun obsesiku pada mawar dan kupu-kupu memudar. Aku mulai mencari perhatian kakakku, berharap dia masih bisa menjadi sosok yang selalu ada untukku. Aku memintanya menemaniku bersepeda atau membeli buku, tapi dia selalu sibuk. Alasan demi alasan keluar dari mulutnya hingga aku melihat dia pulang bersama seorang perempuan cantik yang diakuinya sebagai pacar. Perasaan cemburu yang luar biasa muncul di dadaku. Aku merasa tersisih, terlupakan. Dalam sekejap, aku memutuskan untuk kabur dari rumah.

Aku berjalan tanpa tujuan, menyusuri jalan setapak di perkebunan teh. Langit mulai berwarna oranye saat aku tiba di sebuah sungai yang airnya berwarna merah jambu. Di tepi sungai itu, aku duduk di atas batu besar dan merendam kakiku di air yang sejuk. Rasanya damai.

“Kamu siapa?” Seorang lelaki tiba-tiba mengejutkanku. Dia sudah duduk di sebelahku, entah sejak kapan.

Aku menoleh, dan mataku bertemu dengan sosok lelaki yang tampak sempurna. Matanya cokelat besar, rambutnya ikal berwarna abu-abu. Ada sesuatu yang memikat dari senyumannya yang begitu hangat. Aku terpana.

Tanpa menunggu jawabanku, dia meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah gubuk kecil di dekat sungai. Begitu masuk ke dalam, aku terkejut. Gubuk itu tampak seperti istana yang luas dan mewah. Aku tak bisa berhenti mengagumi segala sesuatu di dalamnya.

“Ini rumahmu?” tanyaku kagum.

Dia hanya tersenyum dan mengajakku duduk di meja makan yang penuh dengan bunga dan buah-buahan. Semuanya terlihat begitu indah, meski aneh karena bunga-bunga itu bisa dimakan. Rasa manis memenuhi mulutku saat mencicipinya

“Aku punya banyak bunga di sini, termasuk mawar merah. Tapi, aku tidak pernah memetiknya. Bunga-bunga itu lebih baik mati di tempat mereka tumbuh daripada layu di dalam vas,” katanya.

Kata-katanya menyentuh hatiku. Pemikirannya begitu mirip dengan pikiranku sendiri tentang mawar. Aku merasa semakin terpikat olehnya. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tinggal bersamanya. Hari-hari berlalu dengan indah. Setiap pagi, kami bangun bersama untuk menyambut matahari yang terbit di balik bukit.

Namun, pada suatu pagi, semua berubah. Aku menemukannya duduk diam di bangku belakang rumah. Matanya terpejam, tubuhnya dingin dan kaku. Bibirnya yang biasanya selalu tersenyum kini tampak beku. Aku mencoba mencium bibirnya, berharap menemukan sisa kehangatan di sana. Tapi, tidak ada. Tidak ada yang tersisa.

Di tangannya, ada sebatang mawar merah yang mekar sempurna, dengan akar yang masih penuh tanah. Pemandangan itu membuat dadaku nyeri. Nyeri yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tubuhku gemetar, telingaku berdengung. Lalu, aku melihat lebah-lebah berputar di atas kepalaku. Setelah itu, semuanya gelap.

Ketika aku terbangun, aku berada di kamarku sendiri. Kamar yang penuh dengan gambar mawar merah dan kupu-kupu. Semua tampak normal, seolah-olah kejadian di rumah gubuk itu hanyalah mimpi. Tapi, rasa nyeri di dadaku tetap ada. Aku meraba tanganku dan mendapati bekas goresan yang kutahu tidak ada sebelumnya. Aku mencoba menceritakan kejadian itu kepada kakakku, tetapi dia tidak percaya dan hanya menatapku dengan bingung.

Hari demi hari berlalu, dan aku mulai meragukan diriku sendiri. Apakah semua itu hanya khayalan? Atau apakah aku benar-benar telah tinggal di rumah gubuk itu dengan lelaki misterius yang sempurna? Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban.

Suatu malam, saat bulan purnama, aku memutuskan untuk kembali ke sungai merah jambu itu. Aku ingin mencari kebenaran. Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang sama, melewati perkebunan teh yang sunyi. Tapi, ketika aku sampai di sana, gubuk itu tidak ada.

Hanya ada batu besar di tepi sungai. Aku duduk di atasnya, mengingat setiap detail dari kejadian itu. Dan saat itulah, aku menyadari sesuatu yang mengerikan.

Sungai yang dulu berwarna merah jambu kini tampak merah pekat, seperti darah. Perlahan-lahan, aku melihat bayangan lelaki itu muncul dari permukaan air, tersenyum padaku dengan mata kecokelatan yang sama.

“Aku sudah menunggumu,” bisiknya.

Aku ingin berteriak, tapi suaraku tertahan. Tubuhku kaku, tak bisa bergerak. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berkata, “Aku tidak pernah hidup. Aku hanyalah cerminan dari obsesimu. Sekarang, waktunya kau tinggal bersamaku, selamanya.”

Tiba-tiba, aku merasa ditarik ke dalam air. Tubuhku tenggelam dalam kegelapan, dan saat itulah aku sadar, aku tidak pernah benar-benar bisa lari dari obsesiku terhadap mawar dan kupu-kupu. Mereka bukan sekadar hiasan. Mereka adalah bayangan dari sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang kini telah mengambil alih diriku.

Di dalam air itu, di antara bayangan-bayangan, aku melihat sosok kakakku. Dia memegang buket mawar merah, yang layu. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Next Post

PULAU MPU KUTURAN & DANG HYANG NIRARTHA DIJARAH

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PULAU MPU KUTURAN & DANG HYANG NIRARTHA DIJARAH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co