15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritus Siat Sampian dalam Tari Kreasi “Nampyog” Karya Pande Nova | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 28, 2025
in Panggung
Ritus Siat Sampian dalam Tari Kreasi “Nampyog” Karya Pande Nova   |   Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

KETIKA sinar lampu masih samar-samar, mereka berjalan perlahan, tanpa musik, hanya kidung yang mereka lantunkan bersama. Setibanya di depan panggung, barulah lamat-lamat terdengar suara gamelan, dan Tari Kreasi “Nampyog” pun dimulai.

Itulah yang dilakukan oleh Pande Kadek Nova Dwi Damayanthi, mahasiswi UPMI Bali yang akrab disapa Pande Nova asal Kemenuh, Gianyar ini menciptakan Tari Kreasi“Nampyog”, yang terinspirasi dari ritus siat sampian. Garapan tersebut dipentaskan perdana pada Gelar Karya Seni Mahasiswa yang diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali).

Tari Kreasi “Nampyog” mendapat urutan ketiga dari 13 penampil dalam Gelar Karya Seni Mahasiswa yang dilaksanakan pada 20 Januari 2025, di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar. Pergelaran tersebut merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester Ganjil di Semester VII.

Pande Kadek Nova Dwi Damayanthi | Foto: dok. Pande Nova

Tak hanya menyajikan gerakan-gerakan estetis, tari kreasi “Nampyog” itu juga mengedukasi para penonton tentang tradisi siat sampian. Tarian tersebut menunjukkan bagaimana tradisi siat sampian itu dilakukan.

Siat sampian merupakan tradisi unik yang rutin dilaksanakan di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Nampyog/Nampiog sendiri merupakan salah satu rangkaian dari pelaksanaan tradisi tersebut, yaitu kegiatan menari berkeliling pura sebanyak sebelas kali, searah jarum jam dari kanan ke kiri.

“Saya memilih tradisi siat sampian sebagai ide garapan karena menurut saya, tradisi ini sangat unik dan masyarakat yang terlibat dalam tradisi ini begitu menikmati ketika melakukan siat sampian. Selain itu, meskipun termasuk tradisi sakral, tetapi pelaksanaannya begitu asyik dan menggembirakan. Karena itulah saya tergerak untuk mengangkat tradisi ini sebagai garapan yang berjudul Nampyog,” jelas Pande Nova.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Siat sampian berasal dari kata ‘siat’ yang berarti ‘perang’ dan ‘sampian’ yang berarti rangkaian janur yang dipakai sebagai sarana upacara. Sampian yang digunakan dalam tradisi siat sampian ini adalah sampian dangsil/sampian jerimpen.

Ritus ini digelar setiap setahun sekali, yaitu bertepatan dengan Purnama Jiyestha–bulan ke-11 dalam kalender Bali, atau sekitar bulan Mei pada kalender Masehi yang bertepatan dengan bulan penuh (purnama).  

Siat sampian dimaknai sebagai simbol perlawanan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan). Sampian sendiri merupakan simbol senjata Dewa Wisnu, yaitu cakra. Dengan dilaksanakannya tradisi siat sampian, masyarakat desa Bedulu berharap agar senantiasa dilimpahkan ketenteraman, kerukunan, dan kedamaian.

Pande Nova mengatakan, tidak sembarang orang bisa terlibat dalam tradisi siat sampian, meskipun orang tersebut penduduk dari desa Bedulu. Jumlah pengayah (peserta) siat sampian ini juga berbeda-beda. Jumlah pengayah laki-laki biasanya lebih banyak, bisa mencapai ratusan, sedangkan pengayah perempuan kurang lebih hanya puluhan orang. Peserta yang sudah terpilih harus lascarya (ikhlas menjalaninya).

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Dara kelahiran 25 November 2002 itu juga mengungkapkan, sebelum menggarap tari “Nampyog”, ia melakukan observasi dengan mengamati langsung rangkaian upacara siat sampian tersebut. Selain itu, ia juga membaca berbagai literatur terkait dengan pelaksanaan tradisi khas desa Bedulu itu.

Tari kreasi yang sudah digarapnya sedari awal Desember 2024 itu bekerja sama dengan Sanggar Tapak Dara, Sanggar Sekar Rahayu, I Ketut Agus Putra Hanugraha selaku komposer, serta Widekoleh Fasion yang telah merancang properti dan kostum.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Prosesi siat sampian dilakukan oleh para Premas (pengayah istri), dan Parekan (pengayah lanang). Para Premas adalah wanita-wanita terpilih yang sudah menopause. Sebelum prosesi siat sampian dimulai, para Premas akan menarikan Tari Rejang Sutri. Mereka mengenakan kebaya putih, kamen hitam, selendang putih, dengan bunga pucuk arjuna sebagai hiasan rambut.

Pelaksanaan tradisi siat sampian diawali dengan persembahyangan bersama. Setelah itu, para Premas akan melakukan prosesi nampyog/nampiog (gerak tari sederhana yang terdiri dari nyambung, ngober, dan ngampig) sembari berjalan mengitari areal pura sebanyak tiga kali.

Setelah itu, Premas bersama Parekan (pengayah lanang berpakaian serba putih) berpegangan tangan satu dengan lainnya, berjalan mengitari areal pura sebanyak tiga kali sembari melakukan gerakan ngombak. Setelah semua prosesi ini dilaksanakan, disertai dengan sorakan, semua Premas langsung mengambil sampian yang telah disediakan, dan mereka pun saling pukul atau saling lempar. Setelah para Premas, dilanjutkan dengan para Parekan melakukan hal yang sama, mengambil sampian dan saling pukul, begitulah siat sampian dilakukan.

Dalam Tari Kreasi “Nampyog” juga demikian, Pande Nova dan para penari pendukungnya menampilkan bagaimana para Premas dan Parekan memasuki areal upacara. Kemudian melakukan persembahyangan, menarikan Tari Rejang Sutri, melaksanakan prosesi nampyog, hingga melakukan siat sampian. Yang berbeda hanyalah dari segi kostum dan tata rias. Karena ini adalah sebuah seni pertunjukan, maka kostum dan tata riasnya juga didesain khusus.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Bagi Pande Nova, tantangan yang dihadapi ketika awal-awal menggarap tarian ini adalah bagaimana mengakali agar seluruh prosesi siat sampian yang kompleks itu bisa direpresentasikan dan dikemas menjadi sebuah tarian dengan durasi 10 menit. Selain itu, kesulitan lainnya adalah menyepakati waktu latihan, mengingat para pendukungnya juga memiliki kesibukan masing-masing.

Kendati mengangkat ritus yang berbau sakral, Pande Nova mengaku tidak mengalami hambatan di luar nalar maupun mengalami hal-hal mistis.  “Yang pasti tidak ada hal-hal supranatural yang terjadi. Karena sebelum mulai menggarap dan latihan, kami selalu berdoa serta memohon restu agar ‘beliau’ senantiasa menyertai kami sampai akhir pementasan,” ucapnya.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

“Saya sangat bersyukur karena garapan ini bisa dipentaskan dengan sukses dan tidak ada halangan. Saya juga sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung garapan ini. Mulai dari keluarga, penari pendukung, kawan-kawan, dan masih banyak lagi,” ujarnya dengan raut wajah lega dan bahagia.

Sebagai mahasiswa semester akhir, Pande Nova amat bertekad untuk menjadi pendidik dan pelaku seni yang sukses kelak.

“Setelah lulus, saya akan tetap berusaha menjadi pendidik yang baik, menjadi guru yang sukses di bidang seni budaya. Sekaligus menggali hal-hal unik dari berbagai tradisi yang ada di Bali untuk diperkenalkan kepada peserta didik. Supaya mereka tahu, bahwa Bali mempunyai beragam budaya dan tradisi yang patut dilestarikan,” tandas calon sarjana pendidikan itu. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Legong Kreasi “Umarani Kidul” karya Devia Pratiwi dan Dilema Tentang Magis-Mistik | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali
Kebebasan Ekspresi dalam Lintas Semester dan Mata Kuliah | Dari Gelar Karya Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024
Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji
Tags: mahasiswaSeniseni mahasiswaseni pertunjukanseni tariUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ucapan Terima Kasih sebagai Cerminan Peradaban dan Kehalusan Budi 

Next Post

Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co