4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritus Siat Sampian dalam Tari Kreasi “Nampyog” Karya Pande Nova | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 28, 2025
in Panggung
Ritus Siat Sampian dalam Tari Kreasi “Nampyog” Karya Pande Nova   |   Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

KETIKA sinar lampu masih samar-samar, mereka berjalan perlahan, tanpa musik, hanya kidung yang mereka lantunkan bersama. Setibanya di depan panggung, barulah lamat-lamat terdengar suara gamelan, dan Tari Kreasi “Nampyog” pun dimulai.

Itulah yang dilakukan oleh Pande Kadek Nova Dwi Damayanthi, mahasiswi UPMI Bali yang akrab disapa Pande Nova asal Kemenuh, Gianyar ini menciptakan Tari Kreasi“Nampyog”, yang terinspirasi dari ritus siat sampian. Garapan tersebut dipentaskan perdana pada Gelar Karya Seni Mahasiswa yang diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali).

Tari Kreasi “Nampyog” mendapat urutan ketiga dari 13 penampil dalam Gelar Karya Seni Mahasiswa yang dilaksanakan pada 20 Januari 2025, di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar. Pergelaran tersebut merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester Ganjil di Semester VII.

Pande Kadek Nova Dwi Damayanthi | Foto: dok. Pande Nova

Tak hanya menyajikan gerakan-gerakan estetis, tari kreasi “Nampyog” itu juga mengedukasi para penonton tentang tradisi siat sampian. Tarian tersebut menunjukkan bagaimana tradisi siat sampian itu dilakukan.

Siat sampian merupakan tradisi unik yang rutin dilaksanakan di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Nampyog/Nampiog sendiri merupakan salah satu rangkaian dari pelaksanaan tradisi tersebut, yaitu kegiatan menari berkeliling pura sebanyak sebelas kali, searah jarum jam dari kanan ke kiri.

“Saya memilih tradisi siat sampian sebagai ide garapan karena menurut saya, tradisi ini sangat unik dan masyarakat yang terlibat dalam tradisi ini begitu menikmati ketika melakukan siat sampian. Selain itu, meskipun termasuk tradisi sakral, tetapi pelaksanaannya begitu asyik dan menggembirakan. Karena itulah saya tergerak untuk mengangkat tradisi ini sebagai garapan yang berjudul Nampyog,” jelas Pande Nova.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Siat sampian berasal dari kata ‘siat’ yang berarti ‘perang’ dan ‘sampian’ yang berarti rangkaian janur yang dipakai sebagai sarana upacara. Sampian yang digunakan dalam tradisi siat sampian ini adalah sampian dangsil/sampian jerimpen.

Ritus ini digelar setiap setahun sekali, yaitu bertepatan dengan Purnama Jiyestha–bulan ke-11 dalam kalender Bali, atau sekitar bulan Mei pada kalender Masehi yang bertepatan dengan bulan penuh (purnama).  

Siat sampian dimaknai sebagai simbol perlawanan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan). Sampian sendiri merupakan simbol senjata Dewa Wisnu, yaitu cakra. Dengan dilaksanakannya tradisi siat sampian, masyarakat desa Bedulu berharap agar senantiasa dilimpahkan ketenteraman, kerukunan, dan kedamaian.

Pande Nova mengatakan, tidak sembarang orang bisa terlibat dalam tradisi siat sampian, meskipun orang tersebut penduduk dari desa Bedulu. Jumlah pengayah (peserta) siat sampian ini juga berbeda-beda. Jumlah pengayah laki-laki biasanya lebih banyak, bisa mencapai ratusan, sedangkan pengayah perempuan kurang lebih hanya puluhan orang. Peserta yang sudah terpilih harus lascarya (ikhlas menjalaninya).

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Dara kelahiran 25 November 2002 itu juga mengungkapkan, sebelum menggarap tari “Nampyog”, ia melakukan observasi dengan mengamati langsung rangkaian upacara siat sampian tersebut. Selain itu, ia juga membaca berbagai literatur terkait dengan pelaksanaan tradisi khas desa Bedulu itu.

Tari kreasi yang sudah digarapnya sedari awal Desember 2024 itu bekerja sama dengan Sanggar Tapak Dara, Sanggar Sekar Rahayu, I Ketut Agus Putra Hanugraha selaku komposer, serta Widekoleh Fasion yang telah merancang properti dan kostum.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Prosesi siat sampian dilakukan oleh para Premas (pengayah istri), dan Parekan (pengayah lanang). Para Premas adalah wanita-wanita terpilih yang sudah menopause. Sebelum prosesi siat sampian dimulai, para Premas akan menarikan Tari Rejang Sutri. Mereka mengenakan kebaya putih, kamen hitam, selendang putih, dengan bunga pucuk arjuna sebagai hiasan rambut.

Pelaksanaan tradisi siat sampian diawali dengan persembahyangan bersama. Setelah itu, para Premas akan melakukan prosesi nampyog/nampiog (gerak tari sederhana yang terdiri dari nyambung, ngober, dan ngampig) sembari berjalan mengitari areal pura sebanyak tiga kali.

Setelah itu, Premas bersama Parekan (pengayah lanang berpakaian serba putih) berpegangan tangan satu dengan lainnya, berjalan mengitari areal pura sebanyak tiga kali sembari melakukan gerakan ngombak. Setelah semua prosesi ini dilaksanakan, disertai dengan sorakan, semua Premas langsung mengambil sampian yang telah disediakan, dan mereka pun saling pukul atau saling lempar. Setelah para Premas, dilanjutkan dengan para Parekan melakukan hal yang sama, mengambil sampian dan saling pukul, begitulah siat sampian dilakukan.

Dalam Tari Kreasi “Nampyog” juga demikian, Pande Nova dan para penari pendukungnya menampilkan bagaimana para Premas dan Parekan memasuki areal upacara. Kemudian melakukan persembahyangan, menarikan Tari Rejang Sutri, melaksanakan prosesi nampyog, hingga melakukan siat sampian. Yang berbeda hanyalah dari segi kostum dan tata rias. Karena ini adalah sebuah seni pertunjukan, maka kostum dan tata riasnya juga didesain khusus.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

Bagi Pande Nova, tantangan yang dihadapi ketika awal-awal menggarap tarian ini adalah bagaimana mengakali agar seluruh prosesi siat sampian yang kompleks itu bisa direpresentasikan dan dikemas menjadi sebuah tarian dengan durasi 10 menit. Selain itu, kesulitan lainnya adalah menyepakati waktu latihan, mengingat para pendukungnya juga memiliki kesibukan masing-masing.

Kendati mengangkat ritus yang berbau sakral, Pande Nova mengaku tidak mengalami hambatan di luar nalar maupun mengalami hal-hal mistis.  “Yang pasti tidak ada hal-hal supranatural yang terjadi. Karena sebelum mulai menggarap dan latihan, kami selalu berdoa serta memohon restu agar ‘beliau’ senantiasa menyertai kami sampai akhir pementasan,” ucapnya.

Pementasan Tari “Nampyog” | Foto: tatkala.co/Dede

“Saya sangat bersyukur karena garapan ini bisa dipentaskan dengan sukses dan tidak ada halangan. Saya juga sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung garapan ini. Mulai dari keluarga, penari pendukung, kawan-kawan, dan masih banyak lagi,” ujarnya dengan raut wajah lega dan bahagia.

Sebagai mahasiswa semester akhir, Pande Nova amat bertekad untuk menjadi pendidik dan pelaku seni yang sukses kelak.

“Setelah lulus, saya akan tetap berusaha menjadi pendidik yang baik, menjadi guru yang sukses di bidang seni budaya. Sekaligus menggali hal-hal unik dari berbagai tradisi yang ada di Bali untuk diperkenalkan kepada peserta didik. Supaya mereka tahu, bahwa Bali mempunyai beragam budaya dan tradisi yang patut dilestarikan,” tandas calon sarjana pendidikan itu. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Legong Kreasi “Umarani Kidul” karya Devia Pratiwi dan Dilema Tentang Magis-Mistik | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali
Kebebasan Ekspresi dalam Lintas Semester dan Mata Kuliah | Dari Gelar Karya Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024
Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji
Tags: mahasiswaSeniseni mahasiswaseni pertunjukanseni tariUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ucapan Terima Kasih sebagai Cerminan Peradaban dan Kehalusan Budi 

Next Post

Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Menabur Doa pada Ramalan Ular Kayu   |   Cerita Imlek dari Klenteng Ling Gwan Kiong Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co