PENDIDIKAN yang dijalankan di sebuah negara tidak terlepas dari kebijakan politik penguasa. Terjadinya suksesi kepemimpinan melalui proses Pemilu telah melahirkan perubahan kebijakan seperti yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto yang membagi Kemendikbudristekdikti menjadi 3 : Kemendikdasmen, Kemendiktisaintek, dan Kemenbud. Sesuai dengan namanya, Kemendikdasmen mengurus Pendidikan Dasar dan Menengah yang dipercayakan kepada Prof. Dr. Abdul Mu’ti untuk mewujudkan Visi Presiden Prabowo yaitu Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045. Visi Prabowo dilengkapi dengan dokumen misi yang disebut astacita. Misi yang terkait dengan bidang Pendidikan adalah memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda,dan penyandang disabilitas.
Kehadiran Prof. Dr. Abdul Mu’ti sebagai Mendikdasmen menjadi antitesis dengan Nadiem Makarim. Abdul Mu’ti yang relatif tua malang melintang di dunia pendidikan sedangkan Nadiem Makarim yang muda malang melintang di dunia pergojekan berbasis aplikasi. Program Nadiem seperti gojek mengangkut penumpang silih berganti nyaris tanpa jeda. Selama lima tahun, Nadiem meluncurkan 26 episode Merdeka Belajar, dengan aneka Gerakan : Guru Penggerak, Sekolah Penggerak, Komunitas Penggerak.
Sementara itu, usia Abdul Mu’ti yang relatif tua tiada kehilangan semangat. Belum seminggu dilantik (20 Oktober 2024), ia mencanangkan Bulan Guru Nasional selama November 2024. Lalu, meluncurkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia menuju Indonesia Emas. Ketujuh kebiasaan itu adalah bangun pagi, berdoa, berolahraga, makan sehat bergizi, bermasyarakat (sosialisasi), gemar belajar, tidur cepat (isirahat yang cukup). Selanjutnya, Program Guru Penggerak akan diubah menjadi Pendidikan Kepemimpinan Sekolah (PKS) dan Pengawas Sekolah menjadi Pendamping Sekolah dengan titik fokus pada kepemimpinan pembelajaran sekaligus menjadi mitra dialog bagi Kepala Sekolah dan guru mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran. Ujungnya, meningkatkan hasil belajar mewujudkan Pendidikan bermutu untuk semua.
Di luar itu, Abdul Mu’ti juga melakukan percepatan sertifikasi pendidik bagi guru melalui piloting Pendidikan Profesi Guru (PPG) I,II, III yang menjangkau 606.601 dengan kelulusan mencapai 598.558 (98.59%). Dalam sejarah PPG, ini adalah rekor tertinggi dan tercepat dalam waktu sebulan meluluskan guru bersertifikasi sebanyak 598.558 orang. Hal ini mengingatkan kita akan proyek Guru Kilat masa peralihan orde lama ke orde baru. Kala itu, banyak tamatan SD yang dilatih menjadi guru dan berhasil menamatkan banyak siswa berprestasi.
Pertanyaannya, mengapa zaman Nadiem tidak memprioritaskan serdik bagi guru yang jelas tujuannya untuk menyejahterakan? Bukankah kesejahteraan guru berelasi dengan semangat kerja guru yang mahakompleks itu? Terlepas dari interogasi itu, kita apresiasi langkah Prof. Abdul Mu’ti melakukan percepatan PPG dengan penguatan materi Bimbingan Konseling dan Penguatan Nilai Karakter. Sebelum filoting PPG ini terlaksana, diperkirakan 1,7 juta guru belum tersertifikasi, sedangkan 1,3 juta guru sudah tersertifikasi. Terjadi kesenjangan yang menganga antarguru serdik dan nonserdik. Kesenjangan itu juga mencerminkan disharmoni Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Amanat Undang-Undang itu, 10 tahun sejak diundangkan, semua guru sudah wajib berserdik. Jadi, hampir 10 tahun terjadi kesenjangan tekstual yang paradoks dengan slogan bidang manajemen : “Kerjakan apa yang ditulis, tulis apa yang dikerjakan”.
Kesenjangan antara guru berserdik dengan guru nonserdik memengaruhi pendapatan. Belum lagi guru yang bertugas di Sekolah Swasta. Kebijakan menempatkan guru ASN di sekolah swasta perlu dikembalikan agar sekolah swasta dan sekolah negeri menjadi mitra yang mutualistik dalam satu tujuan : mencerdaskan kehidupan bangsa. Demikian juga dalam perlakuan serdik agar sama rata sama rasa. Guru berserdik mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG) sebesar 1 kali gaji pokok dan dibayar setiap 3 bulan, walaupun sering terlambat. Namun, guru umumnya sabar menunggu karena mereka berkeyakinan pasti dibayar cepat atau lambat. Ibarat “Celeng Galungan Celeng Kuningan”, begitu guru sering menghibur diri.
Sementara itu guru ASN yang belum Serdik, hanya diganjar tunjangan tambahan penghasilan (Tamsil) melalui skema pembiayaan APBN sebesar Rp 250.000,00 sebulan dibayarkan setiap 3 bulan sekali dan sering pula terlambat turunnya. Sebagai seorang guru yang baru 35 tahun mendidik, saya tak tahu mengapa TPG dan Tamsil guru di bawah Kemendikdasmen (dulu ; Kemedikbud Ristekdikti) sering terlambat cairnya, padahal guru di bawah Departemen Agama, TPG-nya cair setiap bulan. Begitu pula dosen di Perguruan Tinggi, Tunjangan Serdos-nya lancar jaya setiap bulan.
Dalam Rakernas Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) di Bandung pada Juni 2024, saya sudah mengusulkan kepada Kementerian agar TPG guru melekat pada gaji setiap bulan sehingga guru aman, nyaman, dan tenang bertugas di tengah kompleksitas persoalan siswa yang dihadapi dengan aneka variable yang memengaruhinya. Belum lagi, ketenangan guru terusik, mana kala ada tokoh masyarakat melakukan intervensi berlebihan yang sesungguhnya bukan menjadi ranahnya. Viralnya guru dipermalukan di depan muridnya adalah luka hati yang dipendam oleh guru dan berpengaruh pada kesehatan mental sang guru. Inilah paradok Pendidikan. Di satu sisi guru diminta menjadikan sekolah sebagai taman yang menyenangkan dan menenangkan, di sisi lain penjaga taman (baca: guru) diperlakukan tidak nyaman. Lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan tenang perlu dukungan tri pusat Pendidikan termasuk para tokoh, di bidang apa pun mereka ditokohkan. Jangan sampai terjadi relasi kuasa yang hegemonis, dengan semangat raja tak pernah salah. Kata-kata raja adalah titah, tabu dibantah dan wajib dilaksanakan.
Namun, perlu diingat, ini zaman Kemerdekaan Bung, bukan zaman kerajaan. Zaman NKRI yang diperjuangkan kaum intelektual literat dan banyak di antara mereka juga berasal dari keluarga raja-raja yang tersebar di berbagai wilayah Nusaantara. Justru mereka melepaskan keningratannya bersatu padu merakyat memperjuangkan Indonesia yang merdeka. Kelahiran NKRI melalui proses panjang kaum ningrat yang merakyat perlu direfleksikan oleh para pemimpin dari segala tingkatan agar para pahlawan yang telah gugur itu tenang dalam tidur nyenyak damai dalam keabadian dipelukan Pertiwi.
Bersyukurlah kaum raja itu meleburkan diri dalam NKRI yang wajib hukumnya ditegakkan. Maka tokoh yang merajakan diri perlu berguru padanya. Berguru pada para pendiri bangsa yang literat, religius, nasionalis berintegritas. Embrio mereka telah lahir melalui Budi Utomo yang mengutamakan keluhuran budi sejak 1908, kemudian ditegakkan melalui semangat Sumpah Pemuda 1928 yang melepaskan kesukuan melebur dalam persatuan tanah air, kebangsaan, dan kebahasaan yang meng-Indonesia. Selanjutnya, mendobrak mengenyahkan penjajah di muka bumi Indonesia tercinta yang melahirkan mutiara literasi yang visioner sebagai janji Kemerdekaan yang dituangkan dalam Mukadimah (Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945).
Rumusan Pembukaan UUD 1945 adalah hasil renungan mendalam pejuang pemikir, pemikir pejuang dengan bacaan yang luas dan mendalam. Buah dari Pendidikan yang dilakoni dengan kesadaran belajar suntuk membaca nasib rakyat yang diwakilinya. Tiba-tiba saja, saya terngiang dengan ucapan Presiden Mauritius, sebuah negara kecil di Afrika Dr. Ameenah Gurib-Fakim yang terkenal dengan ucapannya, “Dunia politik yang memilihku, bukan saya yang memilihnya”. Di bidang Pendidikan, ia berujar, “Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu dengan bom Molotov, cukup dengan merendahkan kualitas pendidikannya…”.
Pemimpin yang dilahirkan melalui dunia politik seyogyanya menjadikan Pendidikan sebagai panglima dengan memuliakan guru di garda depan sebagaimana Dr. Ameenah Gurib-Fakim. Negara-negara maju, seperti Amerika dan Jepang juga menempatkan Pendidikan sebagai program prioritas pembangunan. Investasi di bidang Pendidikan adalah investasi tampan bak tabungan masa depan, bukanlah investasi instan. Ibarat membaca buku, ia harus membuka halaman demi halaman tanpa loncatan agar tidak gagal faham. Begitu pula seyogyanya pembangunan dilaksanakan dengan pondasi literasi yang kokoh melalui Pendidikan yang bermutu untuk semua. Semoga Tahun 2025 menjadi fajar baru bagi dunia Pendidikan Indonesia. Guru makin bersinar dan berpijar menerangi jiwa anak negeri di tengah tantangan yang tidak mudah. Inilah renungan untuk membaca arah Pendidikan lima tahun ke depan. Selamat Tahun Baru 2025. Semoga semua hidup berbahagia. [T]
BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT





























