10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 23, 2024
in Esai
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Desain fasilitas turisme kontemporer menyasar pasar masyarakat lokal dan wisatawan domestik

SEBENTAR lagi tahun akan berganti dan kita akan memasuki tahun 2025. Dalam rentang dua belas bulan ini, arsitektur di Bali bergerak menuju ke arah heterogenitas. Meskipun arsitektur tradisional ataupun bangunan-bangunan dengan tema-tema lokalitas masih bertahan, tetapi ruang-ruang hidup kita telah mulai dimasuki oleh bentuk-bentuk baru yang tidak berasal dari masa lalu.

Secara visual, Bali saat ini menjadi gambaran atas keberagaman penduduk yang menghuninya. Kira-kira, seperti apa wujud ruang fisik kita di masa yang akan datang?

Akankah heterogenitas akan semakin meluas ataukah akan ada gerakan untuk mengarahkan bentuk-bentuk bangunan agar mengikuti norma tertentu?

Untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa datang, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di masa lampau. Memperhatikan lagi pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui dalam hal pembangunan akan memberikan kita kerangka berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Satu hal yang pasti, arsitektur tidak berjalan di ruang hampa. Banyak hal-hal di luar bidang ini yang memberi pengaruh terhadap perkembangannya.

Desain arsitektur bambu sedang disukai oleh pasar | Foto: Gede Maha Putra

Setengah abad lampau, tepatnya di tahun 1974, pemerintah sempat mengeluarkan peraturan yang bertujuan untuk mengelola bentuk-bentuk fisik yang akan dibangun agar sejalan dengan tradisi yang sudah diwarisi sejak ribuan tahun. Peraturan tersebut melarang bangunan didirikan melebihi ketinggian pohon kelapa. Secara visual, bangunan-bangunan baru dianjurkan untuk menerapkan arsitektur tradisional Bali. Selain itu, semua aktivitas fisik disarankan untuk menghormati kelestarian lingkungan. Ini menyebabkan bangunan-bangunan untuk tampil dalam tema yang sama yaitu yang bersumber dari tradisi membangun lokal. Peraturan ini sepertinya bukan hanya keinginan dari pemerintah semata tetapi ada dukungan bahkan dorongan yang sangat kuat dari kalangan investor.

Mungkin kita bertanya kenapa investor justru mendoronga agar Bali mempertahankan budayanya?

Kita tarik lagi garis ke belakang, ke satu abad lampau. Saat itu, Bali mulai dikenalkan kepada dunia internasional sebagai daerah yang eksotik, mistik, dihuni oleh penduduk yang mengembangkan kebudayaan klasik saat jaman sudah bergerak sangat modern. Imaji tersebut tersebar luas melalui berbagai publikasi termasuk brosur-brosur Bali Hotel milik pemerintah kolonial.

Puncaknya, tahun 1931, saat pemerintah kolonial membawa misi kesenian Bali ke pentas dunia pada pameran kolonial internasional. Pada pameran tersebut, pavilion Hindia Belanda dibangun dengan imaji arsitektur Bali yang kuat. Dua buah meru tumpang sebelas mengapit sebuah kori agung yang menjadi gerbang utama. Di halaman pavilion, para penari asal Desa Peliatan mementaskan aneka tarian tradisional yang dianggap unik sekaligus aneh namun mengundang penasaran pengamat kulit putih.

Sejak saat itu, pemerintah ingin mempertahankan Bali sebagai Bali dengan berbagai upaya. Terbukti, kebertahanan tersebut mengundang banyak turis untuk datang.

Saat pemerintah memutuskan untuk menjadikan Bali sebagai pusat pengembangan pariwisata bagian tengah, sebuah studi besar dilakukan melibatkan konsultan internasional.

Dalam laporannya yang diterbitkan tahun 1971, konsultan tersebut meramalkan bahwa budaya Bali akan pudar seiring dengan kemajuan jaman dan pembangunan kepariwisataan. Ini bukan hal baik bagi investasi sehingga upaya untuk mempertahankan kebudayaan untuk mendatangkan keuntungan ekonomi harus dilakukan. Para investor lalu menganjurkan agar ada kebijakan yang dapat menjamin Bali tidak akan berubah agar investasi mereka aman. Dari sinilah muncul peraturan daerah nomer 2,3, dan 4 ahun 1974.

Desain arsitektur Amandari Hotel di Ubud yang dibangun akhir tahun 1980-an | Foto: Gede Maha Putra

Meskipun sukses menata pembangunan dalam beberapa hal, Perda ini menimbulkan multitafsir. Bahkan intelektual Bali pun menunjukkan jika masih ada banyak persoalan dalam penerapannya sehingga sepuluh tahun setelah dikeluarkan, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Sabha Arsitektur Bali. Pertemuan kaum terpelajar ini mengeluarkan sebuah rekomendasi yang disebut sebagai Rumusan Arsitektur Bali.

Ruang fisik dengan karakter Bali tetap muncul di tengah multitafsir tersebut karena aktor yang mendukung pembangunan masih menginginkan Bali tetap Bali. Para pengusaha perhotelan dan restaurant pada masa itu masih memiliki obsesi untuk ‘menjual’ Bali seperti apa yang pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial di tahun 1930-an yaitu Bali yang autentik.

Untuk menciptakan autentisitas ini, Bali cukup beruntung karena didatangi oleh arsitek-arsitek yang memiliki visi yang sama yaitu menghadirkan eksotika Bali jaman dahulu. Jadilah kita melihat bangunan rumah tinggal di Batujimbar yang mirip dengan Bale Agung di desa Bali Timur. Kita juga melihat hotel-hotel yang menggunakan tektonika lokal di mana tukang-tukang terbaik yang ada di pulau terlibat penuh dalam pengerjaannya seperti Oberoi di Seminyak, Amandari di Ubud, Four Seasons di Jimbaran dan hotel lainnya.

Selain proyek milik swasta, pembangunan di Bali sejak masa awal Orde Baru juga dipenuhi oleh BUMN dan perwakilan pemerintah pusat yang membuka cabang di Bali. Perlu juga disebut pemerintah daerah turut membangun kantor-kantor. Arsitek yang mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan badan usaha milik negara ini umumnya datang dari Jakarta dan Bandung. Mereka memiliki latar belakang pendidikan modern.

Desain Gedung Kantor Bank Indonesia (sekarang kantor OJK) dengan desain modern tetapi dibungkus ornamen tradisional | Foto: Gede Maha Putra

Sebagain besar tahap desain dari proyek-proyek tersebut sudah dikerjakan di Jakarta atau Bandung. Desainnya tentu saja sangat modern pada masa itu. Sebut saja gedung Bank Indonesia (kini Gedung OJK) di Jl. WR. Supratman, Gedung Bank Mandiri di dekat Lapangan Puputan Badung, Gedung Kantor PLN di Jl. PB. Sudirman, Gedung Keuangan Negara (GKN) dan Gedung TVRI yang keduanya ada di Renon.

Secara fungsi, mereka tidak memiliki kewajiban untuk tampil tradisional atau menciptakan imaji eksotik. Akan tetapi, karena peraturan sudah ditetapkan, maka ada upaya untuk membuat gedung-gedung tersebut tampil lokal. Dari sini mulai muncul bata merah yang berfungsi sebagai penghias wajah bangunan. Ornamen-ornamen paras ditempatkan dalam skala dan proporsi yang berbeda dengan yang tradisional. Singkatnya, arsitektur tradisional menjadi ‘baju‘ bagi desain yang sosoknya sangat modernis.

Dari dua kelompok contoh tersebut kita melihat bagaimana lokalitas dalam arsitektur dilihat dan dihadirkan pada bangunan kontemporer. Di bidang pariwisata, yang ditampilkan bukan hanya wujud fisik tetapi juga ambience atau atmosfernya sementara pada bangunan-bangunan pemerintah, unsur lokal hadir sebagai wujud fisik terutama wajah atau fasad.

Desain fasilitas turisme kontemporer menyasar pasar masyarakat lokal dan wisatawan domestik | Foto: Gede Maha Putra

Bagaimana dengan masa yang akan datang? Kita perlu lihat tipe aktivitas ekonomi yang berlangsung di Bali. Dari sini kita bisa mempertanyakan siapa yang mau membelanjakan uangnya di Bali? Dan, siapa yang bisa membaca situasi pasar wisata yang berkembang lalu mensponsori pembangunan di Bali? Suka atau tidak, aktivitas pelesiran masih akan menjadi primadona di masa depan.

Tipe aktivitas ekonomi pariwisata di masa datang nampaknya bukan yang mengutamakan eksotika Bali atau imaji Bali masa lampau. Hal itu disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, wisatawan yang menginginkan Bali yang autentik semakin tergerus. Jumlahnya memang masih ada tetapi proporsinya bisa jadi tidak lagi banyak. Kini wisatawan yang datang lebih beragam mulai dari yang ingin mengunjungi beach club dengan musik hingar bingarnya sampai mereka yang datang untuk menyepi melakukan yoga di kedalaman hutan-hutan di Ubud yang semakin terbatas.

Di antara dua spektrum wisatawan tersebut ada juga wisatawan yang sebenarnya adalah orang Bali sendiri yang menjadi pelancong di pulaunya sendiri. Kelompok terakhir ini ingin berkunjung ke tempat wisata yang menawarkan sensasi yang berbeda, sensasi non tradisional.

Kebutuhan orang Bali yang ingin berwisata di Bali telah memunculkan fasilitas wisata kuliner, ngopi-ngopi di Kintamani dan berbagai tempat, hingga wisata ala Swiss di daerah pegunungan Bedugul atau wisata salju yang sudah mulai hadir. Selain masyarakat Bali, ada juga wisatawan domestik yang menyukai fasilitas serupa. 

Desain kontemporer tempat ngopi di pelosok Ubud | Foto: Gede Maha Putra

Proporsi wisatawan lokal dan domestik yang membelanjakan uangnya pada jenis-jenis usaha yang bersifat kuliner akan semakin banyak di masa depan. Demikian juga wisatawan yang memilih untuk berwisata dengan cara menghabiskan waktu sambil bersantai dengan musik berdentam di tepian pantai. Wisata-wisata ini mempertemukan sesama wisatawan dengan kebutuhan yang sama. Hal ini berbeda dengan masa 50-an tahun yang lampau saat wisatawan memiliki ketertarikan untuk berinteraski dengan masyarakat lokal dengan bedayanya.

Dari kemungkinan-kemungkinan yang diuraikan tersebut, maka dapat diramalkan bahwa arsitektur lokal akan semakin menurun popularitasnya. Penurunan ini tidak memiliki kaitan dengan kualitas arsitektur tradisional atau modern tetapi lebih ditentukan oleh kehendak pasar. Kerja-kerja pasar yang bertugas untuk melipatgandakan modal membelokkan, jika tidak mendikte, arah pembangunan arsitektur kepada failitas yang melayani kebutuhan terkini para wisatawan. Karena kebutuhan wisatawan tidak terletak pada eksotika budaya lokal, maka ini akan berimbas pada wujud arsitekturnya yang juga tidak mengarusutamakan budaya setempat.

Jadi, seperti apa arsitektur di Bali di masa yag akan datang? Sejarah membuktikan bahwa pasar adalah pembentuk utama dari wujud-wujud bangunan sejak tahun 1970-an di pulau yang dianggap sebagai pelabuhan terakhir budaya klasik Jawa ini. Meramal masa depan arsitektur berarti juga membayangkan kondisi pasar di masa yang akan datang. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Tags: arsitekturarsitektur baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Next Post

Kepemimpinan “Punyan”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

by Dede Putra Wiguna
June 8, 2026
0
Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber...

Read moreDetails

Maraknya Pernikahan Anak, Kontrasepsi di Kalangan Remaja Sudah Mendesak?

by Putu Arya Nugraha
June 7, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua...

Read moreDetails

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
0
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang:...

Read moreDetails

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
0
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang....

Read moreDetails

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
0
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

Read moreDetails

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
0
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

Read moreDetails
Next Post
Kepemimpinan “Punyan”

Kepemimpinan “Punyan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia
Pameran

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022
Panggung

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co