23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
December 22, 2024
in Ulas Pentas
Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni

1 Adegan pada salah satu Karya berjudul Ksatria Sundara | Dok. Mpu Kuturan TV, 2024

MAHASISWA Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) STAHN Mpu Kuturan Singaraja mementaskan 15 karya seni di Gedung Sasana Budaya Singaraja, 20 Desember 2024 dalam acara projek Ujian Akhir Semester (UAS) yang mengintegrasikan 5 mata kuliah menjadi satu tugas.

Prodi yang baru saja terakreditasi ini tentu sudah mampu menawarkan ruang sebagai solusi terhadap permasalahan yang sering dihadapi mahasiswa tentang kebanyakan projek matakuliah yang berbeda-beda pada setiap mata kuliahnya. Selain itu acara ini mampu membaca kebutuhan masyarakat pengguna khususnya kebutuhan guru-guru seni budaya di sekolah-sekolah yang sering melibatkan mahasiswa dalam pencitpaan karya tari, musik, drama dan seni rupa seperti prakarya yang menuntuk keterampilan praktek dari guru seni budaya.

Guru seni budaya di sekolah-sekolah sudah pasti dihadapkan pada kewajiban membelajarkan materi-materi umum tentang empat aspek seni yang menjadi mata pelajaran (mapel) pokok seni budaya, yaitu seni tari, seni musik seni drama dan seni rupa. Namun faktanya bahwa tidak mungkin guru mampu menguasai keempat mapel itu, karena Sebagian besar guru pasti memiliki bidang keahliannya masing-masing. Kecuali guru seni yang berada di Sekolah kesenian, pasti sudah ditempatkan pada jurusan yang sesuai dengan bidang keahliannya.

Belajar Mengenal Seluruh Aspek Seni dan Pengayaan Keahlian

Pembacaan terhadap kebutuhan dunia kerja guru seni budaya yang harus mengajar empat materi pokok seni budaya itu tentu mewajibkan mahasiswa bekerja keras untuk mempelajari materi pokok tersebut. Mahasiswa tidak bisa hanya memahami satu bidang saja, mahasiswa belajar untuk mempelajari pengetahuan dasar dengan harapan dapat mengenal seluruh aspek seni tersebut. Walaupun pada prakteknya di lapangan projek siswa di dalam kelas tentu memiliki modul-modul ajar yang sudah memuat tahapan teknis dan konten mata pelajaran tersebut.

Mahasiswa Semester 3 kelas A dan B Menyajikan Karya Seni | Dok. Mpu Kuturan TV, 2024

Apa yang dipentaskan oleh mahasiswa semester 3, tentu tidak dapat menjadi ukuran bahwa mahasiswa sudah menguasai empat bidang seni tersebut. Tetapi proses ini adalah belajar mengenal seluruh aspek seni  yang di ajarkan berupa pengetahuan dasar tari, musik, drama dan seni rupa.

Semisal pada pentas karya mahasiswa ini, mahasiswa semester 3 menampilkan Tabuh Telu Sekar Gadung, dan Tabuh Kreasi  sebagai wujud project mata kuliah seni karawitan, serta karya drama Parodi Raja Pala Menolak Duda (IIIA) dan Mpu Kuturan (IIIB) sebagai wujud project mata kuliah seni Teater.

Kondisi berbeda dan kerja kreatif yang lebih besar harus dilakukan apabila masuk pada sekolah kejurusan bidang seni budaya, di sana menuntut kerja mahasiswa yang lebih proaktif mengembangnkan potensi diri  untuk pengayaan keahlian.

Urgensi pembelajaran seni seperti ini dalam koteks pendidikan di Indonesia tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pada bab 1 Ketentuan Umum Pasal 1, ayat 1 bahwa yang dimaksud pendidikan  adalah usaha belajar sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belaja dan proses pemebelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangankan potensi dirinya.

Penampilan salah satu karya Mahasiswa Semester 5 berjudul Malini Suara | Dok. Mpu Kuturan TV, 2024

Pentas karya mahasiswa semester 5 adalah bentuk pembuktian proses kreatif yang menunjukan keahlian pada masing-masing mahasiswa. Melalui mata kuliah seni Teater dan karawitan  Mahasiswa semester lima setiap orangnya membuat karya baru yang merupakan bentuk integrasi matakuliah Kompisisi Seni, Manajemen Seni dan Kritik seni.

Proses perkuliahan ini merupakan tahapan pengayaaan  keahlian diri, sehingga dosen pengampu mata kuliah mengarahkan mahasiswa untuk membuat komposisi seni sesuai bidang keahliannya. Karena pada semester sebelumnya mahasiswa di wajibkan untuk mengenal seluruh kesenian baik secara teori maupun praktek.

Mencipta Untuk Menemukan Jati Diri

Sebagai prodi yang baru berdiri 2 tahun, tentu tidak mudah bersaing dengan prodi-prodi sejenis yang jauh lebih dulu berdiri dan menyelami dunia pendidikan seni. Tetapi kondisi itupun tak menjadi batu sandungan, melainkan menjadi pemantik semangat untuk terus mencari difrensiasi  dan keunggulan dibadingkan prodi lain sehingga kita tidak perlu mengikuti jalan yang sama untuk mengejar tetapi harus menemukan jalan yang berbeda dan menemukan keunggulan.

Tidak mudah! iya. Ini memang tidak mudah, karena paradigma sosio-kultural masyarakat Buleleng khususnya di singaraja tentu selalu menjadikan pola pembelajaran seni pada kamus-kampus tenar di Bali menjadi patron. Termasuk pentas karya mahasiswa ini, tentu citra yang terbangun sama polanya dengan kampus seni pada umunya.

Dalam posisi ini kelompok dosen pengampu mata kuliah sudah memahami input dari mahasiswa prodi PSBKH yang Sebagian besar mengarah pada proses kreatif seni yang cenderung fokus pada praktek artistik seni tradisi. Kekuatan keseniman mereka tumbuh di banjar/desa dan diberbagai sanggar-sanggar seni. Sehingga tugas kampus harusnya lebih mudah secara praktek didalam kelas.

Apakah kampus akan menjadi sama seperti balai banjar atau sanggar?

Ya jelas pasti tidak, balai banjar dan sanggar sudah menjadi laboratorium kesenian bahkan tempat kampus menguji praktek kesenian yang tumbuh secara natural (tanpa interpensi kurikulum pemerintah). Kampus harus ambil posisi yang berbeda, karena seperti Prof Stela (sapaan akrab Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Riset dan Teknoloi) memandang perguruan tinggi adalah tempat creating knowledge (membuat/menemukan pengetahuan). Artinya mahasiswa tidak diminta untuk mengulang perlakuan kerja kreatif di banjar atau di sanggar, melainkan di ajak untuk menemukan pengetahuan mendalam dibalik proses kreatif kesenian, seniman masyarakat seni.

Prodi PSBKH mencoba membangun ruang yang disebut oleh Triyanto (2017) dalam bukunya Spirit Ideologis Pendidikan Seni bahwa seni memiliki peran penting dalam melihat  peradaban bangsa serta seni memberi ruang, waktu dan kesempatan bagi para pelakunya untuk melakukan aktiviatas kreatif dan apresiatif yang memberi ruang kebebasan mengembangkan berbagai potensi artistiknya untuk menciptakan berbagai kreasi seni, termasuk memberi ruang gelar diskusi seni, membangun ruang “debat” yang memfasilitasi dialektika dan problematika seni yang faktual.

Pentas Karya Mahasiswa kemarin tak ubahnya  pentas-pentas karya mahasiswa di kampus seni lainnya. Prodi belum memfasilitasi penarasian gagasan karya yang dibuat mahasiswa, sehingga yang terjadi hanya pentas semata tanpa adanya pendiskusian gagasan termasuk proses kreatifnya. Yang terjadi, ketika mahasiswa diminta untuk menjelaskan gagasan karyanya ataupun melakukan kritik terhadap karya orang lain sebagian besar belum siap.

Sesi Foto bersama antara dosen dan mahasiswa semester 3 sebelum pentas karya mahasiswa dimulai | Dok. Mpu Kuturan TV, 2024

Dalam rangka menemukan jati diri, maka prodi PSBKH harus menentukan ideologi yang menjadi dasar pengelolaan dan pengembangan kurikulum prodi. Apakah berbasis pada ideologi seni yang bersifat komunal yang tumbuh dalam sistem pewarisan seni di desa-desa, atau berbasis pada ideologi seni individual yang menubuh pada setiap figur seniman atas kepentingan peseorangan yang bersifat psikis.

Seperti ungkapannya Salam (2003)  pada buku berjudul Justifikasi Pendidikan Seni di Sekolah Umum mencatat pentinya pendidikan seni di sekolah yang didasari dua pertimbangan pokok yaitu pertimbangan kepentingan masyarakat (sosial and cultural justification) dan alasan berdasarkan kepentingan perseorangan yang bersifat kejiwaan atau fisik (personal justification).

Bagi saya, kedua tawaran ini tidak perlu dipilih tetapi sudah dapat dijadikan sebagai ideologi pengelolaan prodi PSBKH karena melihat kontur berkesenian orang Buleleng pada dasarnya sangat komunal, disisi lain pun paradigma individual secara beriringan terbangun pada sosok pelaku seninya. Termasuk istilah dangin enjung, dauh enjung yang berkelindang ditengah praktek seni di Bali Utara sampai saat ini.Sependek pemahaman saya dalam mempelajari istilah ini, bagi saya dangin enjung dan dauh enjung merupakan ideologi berkesenian pelaku seni pada masanya sesuai dengan  kebudayaan yang memengaruhinya.

Nah, apakah ini jati diri Prodi PSBKH? Saya tidak langsung menjustifikasi segala hal yang saya tawarkan ini sebagai jati diri prodi apalagi ideologi.

Sebagai bandingan saya berdiskusi dan membaca beberapa artikel. Diskusi saya dengan Kadek Anggara Rismandika memberi pandangan bahwa dangin enjung dan dauh enjung belum tepat jika disebut ideologi, baginya ini adalah konseptual berpikir kreatif pelaku seni pada masanya.

Made Pasca Wirsutha atau yang lebih dikenal di atas panggung seni dengan nama Dek Kocok mengungkapkan dalam artikel di Koran Buleleng yang terbit pada tanggal 14 Juli 2019 bahwa seniman asal Buleleng ini menyebutkan perbedaan tabuh dan tari antara gaya Buleleng Dangin Enjung dan Dauh Enjung hanya terletak pada karakter dari tabuh dan gerakan tari yang diciptakan.

Sedangkan Ketut Pany Riyandhi (Pany) dalam tulisan Jaswato di tatkala.co tanggal 5 Juni 2024 memandang pembacaan terhadap dangin enjung dan dauh enjung tidak cukup hanya mengkomparasikan antara sosok seniman atau merujuk pada geografis suatu tempat saja seperti Desa Kedis dan Jagaraga.  

Pandangan ketiga kawan saya ini, baik pandangan Anggara, Dek Kocok dan Pany saling berkelindan satu sama lain. Sehingga untuk menjadikan sebuah istilah sebagai pijakan ideologi pengelolaan prodi yang akan menjadi jati diri (identitas), saya pikir tulisan saya terlalu gegabah. Perlu mengadakan diskusi terpumpun lebih mendalam untuk merumuskannya kembali. Namun sebagai tawaran saya tetap mendorong prodi PSBKH untuk memiliki ideologi pengelolaan prodi  yang merujuk pada jastifikasi sosial dan justifikasi personal.  

Menjalin Jejaring Seni

Momen pentas itu tentu kesempatan mahasiswa tidak hanya untuk mengekpsresikan diri dalam konteks pembuktian proses kreatif di dalam kelas, tetapi pada proses ini mahasiswa bekerja dalam tim antar angkatan, membangun komunikasi lintas lembaga untuk mengerjakan tata kelola produksi seni. Termasuk membuktikan kemampuannya dalam membangun komunikasi dengan komunitas atau sanggar seni di luar kampus yang akan dilibatkan sebagai pendukung karya.

Kenapa jejaring menjadi penting? Pada penelitian yang saya lakukan pada tahun 2017 yang fokus meneliti pembangunan relasi organisasi seni Papermoon Puppet Theatre sebuah teater company yang berbasis di Jogja, saya bekerja sejak 2015 mengikuti jejak Papermoon, dan sepanjang tahun 2016 saya aktif melihat kerja-kerja Papermoon di studio maupun dalam gelaran pesta boneka internasional.

Melalui penelitian ini saya menemukan bahwa organisasi seni pertunjukan wajib mengedepankan empat variabel penting dalam pembangunan jejarin seni, pertama membuat karya seni yang berkualitas dari hati sebagai modal “promosi” diri; kedua kepercayaan (trust), karena apabila sudah memiliki karya yang berkualitas maka masyarakat trust kepada pelaku seni; ketiga membangun satekholder baru.

Bagi pelaku seni tidak cukup dengan satu jejaring saja, pelaku seni lalu membutuhkan ruang ekspresi yang lebih banyak. Maka sudah menjadi keharusa untuk membangun jejaring baru dengan membuat atau dantang ikut event seni berskala nasional bahkan internasional, sehingga tumbuh jejaring baru itu; keempat investasi stakeholder yang diimplementasikan pada tindakan berkomunikasi setiap saat bahkan setiap moment penting yang berhubungan dengan jejaring yang sudah terbangun melalui media sosial.

Sekali lagi ini tidak mudah, perlu adanya Kerjasama tim yang solid di dalam prodi PSBKH termasuk pelibatan dan kesadaran mahasiswa secara masif, berani bekerja di luar kebiasaan, dan termasuk menjaga konsistensi, sehingga yang kita impikan pada Visi prodi yang kreatif, jujur dan unggul serta bertanggung jawab itu akan terwujud.

Tidak ingin rasanya mengakhiri tulisan ini di tengah rintik hujan tipis sepanjang hari di kota Singaraja ini.  Tapi karena teman hidup saya terus memanggil manggil, jadi saya putuskan untuk mengakhirinya dengan…

Tancab Kayonan
Salam budaya
Cinta Budaya, cinta Indonesia [T]

  • BACA juga artikel sejenis:
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan
Tags: kesenian baliMonologpendidikan seniSTAHN Mpu KuturanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Next Post

Ibuku Adalah Ibu Pertiwi-ku

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Ibuku Adalah Ibu Pertiwi-ku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co